Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu, Arthur menyandarkan punggungnya di tembok samping gerbang sekolah. Entah apa alasannya, Arthur sendiri tidak tahu jelas. Namun, hingga saat ini dia masih belum pergi padahal teman-temannya sudah pulang semua.
Hampir seluruh murid telah keluar dari sekolah, menyisakan beberapa murid yang sedang mengobrol ringan. Arthur melihat jam tangannya, lalu melihat motor Seyra yang masih tenang di parkiran.
"Apa dia belum balik?" gumam Arthur heran.
Hingga suara teriakan dari beberapa murid menggema di halaman. Arthur menoleh, dan betapa terkejutnya dia begitu melihat tubuh Valeri tergeletak berlumuran darah, wajahnya hancur tak dikenali. Di punggung gadis itu, terdapat bom yang menghitung mundur.
Semua berteriak histeris. Mereka berlari menuju gerbang sekolah, saling berebut satu sama lain. Arthur mencoba menghubungi nomor Seyra, tetapi gadis itu tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Sial, dia di mana sih?" Arthur terus mencoba menghubungi Seyra.
Hingga dia melihat Seyra berlari di lorong, pupil matanya melebar. "Seyra! Menjauh!" pekik Arthur.
Akan tetapi Seyra tidak mendengar. Dia berlari ke arah Valeri, mengabaikan darah yang menetes di pahanya.
"VALERI!" teriak Seyra histeris.
Air mata mengalir di pipi gadis itu, napasnya terengah-engah. Begitu tiba di sisi tubuh Valeri, dia memeluk tubuh kakaknya itu, meraung memanggil nama yang sudah tidak akan menjawab.
"Val, bangun! Valeri!" Seyra melihat bom yang menyisakan waktu dua menit lagi.
Seyra melepas tubuh Valeri. Dia membongkar tasnya dan mencari alat untuk memotong kabel. Dia berniat menjinakkan bom tersebut.
Saat Seyra sedang sibuk mencari tang potong kecil dan obeng yang selalu dia bawa ke mana-mana, tiba-tiba Arthur muncul dan menepuk pundaknya pelan, membuat gadis itu menoleh.
"Kita harus pergi, Sey," ajak Arthur cemas.
Seyra menggeleng. "Nggak, lo pergi saja. Gue harus nolongin Valeri!"
"Seyra! Valeri sudah meninggal. Lo mau berbuat apa? Lo mau mati bareng dia?!" bentak Arthur. Dia melihat waktu di bom itu tinggal 57 detik.
Raut wajah Seyra berubah dingin. Dia menatap Arthur tajam. "Pergi, Ar. Jangan peduli sama gue."
"Seyra, lo—"
"Apa?" Bulir kristal jatuh membasahi kedua pipinya. "Gue tahu, Ar. Gue cuma… cuma nggak mau tubuh Valeri hancur di… di sini."
Arthur tertegun. Ini pertama kalinya dia melihat gadis itu menangis seputus asa ini. Dia kembali melihat waktu yang tersisa—40 detik.
"Sey, gue juga tahu lo berniat baik. Tapi waktunya nggak bakal cukup. Tolong ngerti," ujar Arthur serak, lalu menarik Seyra menjauh dengan paksa.
Semua orang dan guru yang masih ada di sekolah segera menjauh. Detik berikutnya, ledakan besar terjadi. Suara dentuman menggema, tanah bergetar, serpihan beterbangan.
"Valeri! Nggak, Valeri!" Seyra memberontak dalam pelukan Arthur.
Tangisnya pecah tanpa bisa dibendung. Kejadian mengerikan itu membuat semua orang mengalami syok berat.
Arthur memeluk erat tubuh Seyra. Dadanya terasa nyeri melihat gadis itu dalam keadaan seperti ini.
"Sey, tenang… kita harus pergi dari sini," bisiknya lembut, berusaha menenangkan Seyra yang terus meronta.
Namun Seyra seperti tidak bisa mendengar apa pun. Rasa kehilangan dan kepedihan menyelimutinya seperti kabut hitam yang pekat. Genggamannya pada baju Arthur semakin kuat, seolah dia sedang mencengkeram sisa kewarasannya.
"Ar… kenapa ini bisa terjadi? Kenapa Valeri harus… harus…" Suaranya tercekat, napasnya tersengal.
Arthur menatap sekeliling. Sekolah yang dulu ramai dan penuh tawa kini berubah menjadi tempat penuh kepanikan dan kehampaan. Suara sirine polisi terdengar mendekat. Beberapa wartawan televisi muncul, mulai meliput kejadian mengerikan itu.
"Kita harus keluar dari sini, Sey. Ini bukan tempat yang aman lagi," kata Arthur, berusaha tetap tenang meskipun tangannya gemetar.
Dengan berat hati, Seyra mengangguk perlahan, meskipun air matanya masih mengalir.
"Tapi Valeri… dia… dia nggak bisa pergi seperti ini," ucapnya bergetar. "Dia nggak pantas mendapatkan akhir seperti ini."
Arthur merasakan hatinya ikut hancur. "Gue janji, kita bakal cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita bakal ungkap semuanya. Tapi sekarang kita harus selamat dulu," ujarnya tegas.
Mereka mulai bergerak menjauh dari lokasi ledakan menuju motor Arthur yang terparkir di sebelah sekolah. Setiap langkah terasa berat bagi Seyra. Bahkan luka di pahanya tidak lagi terasa sakit. Sesak di dadanya jauh lebih menyiksa.
Arthur menggenggam tangan Seyra erat. "Ayo pulang."
"Motor gue?"
Arthur berdecak sebal, lalu menuju parkiran dan membawa motor Seyra keluar gerbang. Para polisi sedang berusaha menjinakan bom meski waktu terus mepet, para murid dan guru sudah di evakuasi menjauh dari sekolah itu.
"Ayo." Ajak Arthur.
Seyra tidak menjawab. Pikirannya kosong. Saat keduanya berhasil menjauh suara ledakan akhirnya muncul, entah berapa korban jiwa yang terkena ledakan itu Seyra sama sekali tidak bisa menebaknya. Dalam hitungan menit, hidupnya berubah selamanya dan dia gagal melindungi sang tokoh antagonis.
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ngebut aq bacanya thor🤣