"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Ke esokan paginya, Keyla menatap pantulan dirinya di cermin besar lobby pusat kebugaran eksklusif di bilangan Jakarta Selatan. Ia mengenakan setelan legging dan sport bra senada warna merah muda yang tertutup jaket lari tipis. Rambutnya diikat kuda tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang halus.
"Oke, Key. Misinya simpel. Masuk, cari Om Arlan, pura-pura nggak sengaja ketemu, terus minta diajarin pake alat olah raga." gumamnya menyemangati diri sendiri.
"Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa dibantu? Mau ambil trial atau sudah member?" tanya seorang resepsionis pria bertubuh kekar.
"Pagi, Mas. Saya mau daftar member setahun. Tapi saya mau tau dulu, apa Pak Arlan Abraham latihan di sini?" tanya Keyla blak-blakan.
Resepsionis itu mengernyit. "Maksudnya Pak Arlan Dirgantara? Beliau memang member platinum kami. Tapi maaf, Kak, kami tidak bisa memberikan jadwal rutin member."
"Oh, nggak usah dikasih tau. Saya udah tau kok dia biasanya jam segini," bohong Keyla sambil menyodorkan kartu kredit milik ayahnya yang dipinjam tanpa izin. "Nih, daftarin saya sekarang. Yang paket paling mahal ya, Mas!"
Setelah proses administrasi yang menguras tabungan mentalnya selesai, Keyla melangkah masuk ke area latihan. Bau aromaterapi bercampur keringat dan suara dentingan beban menyambutnya. Matanya berpendar, mencari sosok tinggi tegap yang menghantui mimpinya semalam.
Dan di sana, di pojok ruangan dekat jendela besar, ia menemukannya.
Arlan sedang melakukan deadlift. Ia hanya mengenakan kaos kutang olahraga hitam yang memperlihatkan otot lengan dan bahunya yang kokoh dengan keringat yang membasahi keningnya, mengalir turun ke leher dan dada. Keyla menelan ludah. Pemandangan ini jauh lebih berbahaya daripada Arlan dengan setelan jas.
"Gila... itu otot atau ukiran kayu jati? Keras banget kayaknya," bisik Keyla pelan.
Keyla berjalan mendekat, mengambil sebuah dumbbell kecil berukuran dua kilogram di dekat Arlan. Ia mulai mengayunkan tangannya dengan asal-asalan sambil melirik ke arah pria itu.
Arlan baru saja menyelesaikan set terakhirnya. Ia mengambil handuk kecil, menyeka wajahnya, dan saat ia menoleh untuk mengambil botol minum, matanya menangkap sosok merah muda yang bergerak-gerak tidak jelas di sampingnya.
Arlan terdiam. Ia mengerjapkan mata, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
"Kamu lagi?" ucap Arlan.
Keyla pura-pura terkejut dan menoleh. "Lho? Om Arlan? Wah, kok bisa ketemu di sini ya? Dunia sempit banget!"
Arlan meletakkan botol minumnya, matanya menatap Keyla dengan tatapan datar yang menusuk. "Jangan bilang kamu membuntutiku sampai ke sini."
"Dih, GR banget! Aku emang pengen mulai hidup sehat, Om. Biar nanti pas nikah muda, fisikku kuat ngurus rumah tangga," jawab Keyla sambil terus mengayunkan beban kecilnya.
"Cara pegangmu salah," ucap Arlan tiba-tiba.
Keyla berhenti. "Hah? Salah gimana?"
"Kalau kamu mengayunkan beban seperti itu, yang ada punggungmu yang cidera, bukan otot lenganmu yang terbentuk," Arlan menghela napas, tampak tidak tahan melihat teknik olahraga yang hancur di depan matanya. "Berhenti sebelum kamu harus ke tukang urut."
"Ya habisnya aku nggak tau caranya. Kan aku baru pertama kali. Om mau ajarin?" Keyla memberikan tatapan memelas yang paling maut.
Arlan diam sejenak. Ia ingin sekali pergi dan mengabaikan gadis ini, tapi sifat perfeksionisnya merasa terganggu. "Berdiri tegak. Jangan ayunkan bahumu."
Keyla menurut. Arlan mendekat, meski tetap menjaga jarak. Namun, aroma parfum maskulin pria itu yang bercampur dengan aroma tubuh pria yang baru saja berolahraga membuat konsentrasi Keyla buyar.
"Pegang bebannya seperti ini," Arlan tanpa sengaja menyentuh pergelangan tangan Keyla untuk membetulkan posisi.
Sentuhan itu singkat, dingin namun terasa seperti sengatan listrik bagi Keyla. Ia menatap tangannya yang disentuh Arlan, lalu menatap wajah Arlan yang jaraknya hanya beberapa puluh sentimeter darinya.
"Om..." bisik Keyla.
Arlan sadar ia baru saja melakukan kontak fisik yang seharusnya ia hindari. Ia segera menarik tangannya kembali. "Lakukan sendiri. Aku mau lanjut ke alat lain."
"Bentar, Om! Temenin dong. Aku takut salah lagi," Keyla mengikuti Arlan seperti anak ayam mengikuti induknya.
"Keyla, dengar," Arlan berhenti mendadak, membuat Keyla nyaris menabrak punggungnya. "Ini tempat orang berlatih dengan serius. Jangan buat aku malu dengan tingkahmu yang seperti anak kecil."
"Kenapa Om selalu panggil aku anak kecil, sih! Aku udah cukup umur buat punya KTP, udah bisa ikut Pemilu!" protes Keyla dengan bibir mengerucut.
"Karena tingkahmu menunjukkan itu. Orang dewasa tauu kapan harus berhenti mengganggu orang lain," Arlan menatapnya tajam. "Kamu tau kenapa aku bercerai?"
Keyla tertegun. Ia tidak menyangka Arlan akan membuka topik itu. "Kenapa?"
"Karena mantan istriku bosan dengan pria kaku dan membosankan sepertiku. Dia bilang aku tidak punya hati. Jadi, kenapa kamu bersusah payah mengejar pria yang sudah dicap mati rasa oleh orang yang pernah hidup bersamanya selama tiga tahun?"
Suasana mendadak menjadi sangat serius di antara dentingan alat beban. Keyla menatap Arlan dengan lekat. Ada luka yang tersembunyi di balik mata dingin itu, luka yang ditutup rapat dengan keangkuhan.
"Mungkin karena dia nggak tau cara mencairkan es di hati Om," jawab Keyla pelan namun tegas. "Dia menyerah, tapi aku nggak. Karena bagian membosankan buat dia, mungkin adalah bagian stabil buat aku. Om nggak mati rasa, Om cuma takut terluka lagi, kan?"
Arlan terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras. Ia tidak suka ada orang luar, apalagi anak SMA, yang mencoba menganalisis jiwanya.
"Jangan sok tau," desis Arlan. ia mengambil tas olahraganya dan melangkah pergi tanpa pamit.
Keyla berdiri mematung di tengah keramaian gym. Ia merasa baru saja menyentuh bagian sensitif dari kehidupan Arlan. Ia sedih, tapi di sisi lain, ia senang karena Arlan mulai mau bicara lebih dari sekadar mengusirnya.
"Duda dingin yang terluka ya?" Keyla tersenyum kecil. "Tenang aja, Om Arlan. Keyla bakal jadi perban paling cantik buat luka Om."