Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suasana ruang makan di kediaman Mahendra pagi itu tampak berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arlan duduk di kursi utamanya, berhadapan dengan Ibu Mira dan Maura yang memamerkan senyum penuh kemenangan.
Di atas meja, tersaji berbagai hidangan. Ada nasi uduk, telur balado, hingga buah-buahan segar. Maura bahkan secara khusus meminta Bi Inah menata meja seindah mungkin, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah nyonya rumah yang sesungguhnya.
Namun, Arlan justru merasa tersiksa. Ia menatap piringnya dengan pandangan hampa. Setiap suapan nasi yang masuk ke mulutnya terasa hambar, seolah lidahnya sudah terpatri pada bumbu nasi goreng buatan Hana yang ia nikmati kemarin.
Ia mengunyah dengan lambat, dipaksakan oleh tatapan menuntut dari kedua wanita di hadapannya.
"Gimana, Ar? Masakan Bi Inah makin enak, kan? Mama yang kasih bumbunya tadi," ujar Ibu Mira sambil mengoles mentega ke rotinya.
Arlan hanya berdehem singkat. "Iya, Ma. Lumayan."
Maura menggeser piring buah ke arah Arlan. "Mas, buahnya dimakan. Aku mau kamu sehat. Oh ya, nanti pulang kantor kita mampir beli perlengkapan bayi yang kemarin aku lihat di katalog, ya?"
Arlan melirik jam tangannya dengan gelisah. Pukul 07.20 WIB. "Nanti aku usahakan, Maura. Aku banyak rapat hari ini."
Hanya butuh sepuluh menit bagi Arlan untuk menghabiskan setengah porsi makanannya sebelum ia bangkit berdiri. "Aku berangkat sekarang."
"Loh, cepat sekali, Mas?" tanya Maura heran.
"Ada berkas yang harus kupelajari sebelum rapat jam sembilan," bohong Arlan cepat. Ia segera menyambar tas kerja dan kunci mobilnya, meninggalkan kepuasan semu di wajah Maura.
Begitu SUV putihnya keluar dari gerbang rumah, Arlan menghela napas panjang. Ia merasa seperti baru saja keluar dari ruang interogasi.
Meski perutnya sudah terisi, hatinya merasa ada yang kurang. Ada sebuah ritual yang belum lengkap. Ritual yang menurutnya adalah bensin utama untuk egonya, pengakuan dari Hana.
Arlan tidak langsung menuju kantor. Ia justru memutar arah menuju gedung apartemen Hana. Baginya, sarapan di rumah hanyalah syarat agar Maura diam, tapi isi dari harinya tetaplah Hana.
Sesampainya di apartemen lantai 12, Arlan mengetuk pintu dengan percaya diri. Ketika Hana membukanya, ia tampak sudah siap berangkat dengan blazer cokelat muda yang elegan.
"Mas? Bukannya kamu bilang sarapan di rumah hari ini?" tanya Hana, alisnya bertaut.
Arlan masuk tanpa permisi, meletakkan tasnya di sofa. "Aku sudah makan di rumah, tapi hanya sedikit. Masakan di sana tidak ada yang cocok di lidahku. Han, bisakah kamu siapkan bekal makan siang untukku? Aku ingin makan masakanmu di kantor nanti."
Hana terdiam. Ada rasa muak yang perlahan merayapi dadanya. Ia memberikan kesempatan kedua pada Arlan untuk melihat sejauh mana pria ini bisa berubah, namun yang ia temukan justru keegoisan yang semakin menjadi-jadi.
"Aku mau berangkat kantor, Mas. Aku tidak punya waktu untuk membungkus bekal," jawab Hana tenang.
"Hanya sebentar, Han. Tolonglah. Aku merasa lebih bersemangat kalau makan bekal darimu," bujuk Arlan sambil mendekat.
Ia duduk di kursi meja makan, memperhatikan Hana yang dengan terpaksa mengambil kotak makan dan mengisinya dengan sisa lauk tadi pagi.
Sambil menunggu Hana, Arlan mulai bercerita. Suaranya terdengar santai, seolah ia sedang membicarakan cuaca.
"Tadi pagi Maura banyak bicara soal bayi itu. Dia mulai sibuk beli baju-baju kecil. Kamu tahu, Han? Aku sering berpikir tentang masa depan kita nanti saat bayi itu lahir."
Hana tetap diam, tangannya sibuk menutup kotak makan.
"Aku sudah memutuskan," lanjut Arlan tanpa dosa. "Meskipun Maura yang melahirkan, aku ingin kamu juga menjadi ibunya. Kamu yang paling bijak, kamu yang paling pintar mendidik. Aku ingin bayi itu nanti lebih banyak bersamamu daripada dengan Maura yang emosional. Kamu akan ikut merawatnya, kan? Kita akan menjadi keluarga besar yang harmonis."
Gerakan tangan Hana terhenti. Ia meletakkan kotak makan itu di atas meja dengan bunyi brak yang cukup keras. Ia berbalik dan menatap Arlan dengan tatapan yang bisa membakar apa saja.
"Apa kau bilang, Mas?" suara Hana bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mendidih.
Arlan tampak heran, tidak menyadari kesalahannya. "Kenapa? Itu ide bagus, kan? Kamu kan belum punya anak, jadi kamu bisa menganggap anak itu anakmu sendiri. Kamu bisa ikut memandikannya, mengajari dia banyak hal ..."
"Cukup, Mas!" bentak Hana. Suaranya menggelegar di ruangan yang sempit itu.
Arlan tersentak, ia berdiri dari duduknya. "Han, kenapa kamu tiba-tiba marah?"
"Kau benar-benar keterlaluan, Mas!" Hana melangkah maju, menunjuk dada Arlan. "Kau pikir aku ini apa? Pertama, kau menjadikanku pembantu pribadi yang harus menyiapkan makananmu setiap pagi meski kau sudah sarapan di rumah. Dan sekarang, kau ingin menjadikanku babysitter untuk anak dari jalangmu?!"
"Bukan begitu maksudku, Han. Aku ingin kamu punya peran penting ..."
"Peran penting?" Hana tertawa getir, matanya memerah menahan air mata penghinaan. "Kau menghina rahimku, kau menghina harga diriku sebagai wanita! Kau ingin aku merawat bayi yang menjadi bukti nyata pengkhianatanmu? Kau ingin aku tersenyum melihat anak dari wanita yang sudah merusak rumah tanggaku?"
Arlan mencoba meraih tangan Hana. "Hana, tenanglah. Ini demi kebaikan kita semua ..."
Hana menepis tangan Arlan dengan kasar. "Kebaikanmu! Bukan kebaikanku! Kau egois! Kau tidak pernah berubah. Kau hanya ingin semua keinginanmu terpenuhi tanpa peduli betapa hancurnya hatiku setiap kali melihat kau dan wanita itu."
Hana menyambar tasnya dan berjalan menuju pintu. "Bawa bekalmu itu! Dan jangan pernah lagi bicara soal bayi itu di depanku. Aku bukan pembantumu, dan aku bukan pengasuh anak-anakmu!"
Baaakk ...!
Hana membanting pintu apartemen, meninggalkan Arlan yang masih berdiri terpaku dengan wajah bodoh dan kotak makan di tangannya.
Di dalam lift, Hana menyandarkan kepalanya pada dinding besi yang dingin. Air matanya jatuh. Bukan karena ia masih mencintai Arlan, tapi karena ia merasa sangat kotor telah memberikan kesempatan pada pria yang begitu dangkal pemikirannya.
"Sabar, Hana ... Pria itu benar-benar ... Huuuft ..." bisiknya pada diri sendiri.
Ia segera memacu mobilnya menuju Gavriel Corp. Pikirannya kalut. Sesampainya di kantor, ia langsung masuk ke ruangannya tanpa menyapa siapapun.
Namun, ia tidak menyadari bahwa Adrian sudah menunggunya di dalam, berdiri di dekat meja kerjanya dengan segelas air mineral.
Adrian menatap wajah Hana yang sembab. Tanpa bertanya, ia tahu apa yang terjadi. "Apa yang dia lakukan, sampai membuatmu menangis?"
Hana mengusap air matanya, mencoba bersikap profesional. "Aku baik-baik saja, Adrian. Hanya sedikit emosional."
Adrian mendekat, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Hana, sampai kapan kau akan membiarkan dirimu dikonsumsi oleh keegoisannya? Kau memberinya kesempatan untuk memperbaiki, tapi dia justru menggunakannya untuk menghinamu lebih dalam."
"Aku sedang menunggu waktu yang tepat, Adrian," jawab Hana dengan suara serak.
"Kau tidak perlu melakukan itu sendirian," Adrian meletakkan tangannya di atas meja, menatap Hana dalam-dalam. "Aku bisa menghancurkan Mahendra Group dalam satu malam jika kau mengizinkannya. Dan, kau tidak perlu berpura-pura menjadi istrinya lagi."
Hana menatap Adrian. Di mata pria ini, ia melihat ketulusan yang murni, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Arlan selama lima tahun.
~~
Sementara itu, di kediaman Mahendra, Maura merasa ada yang tidak beres. Ia melihat bekal makan siang yang dibawa Bi Inah ke depan meja makan tadi pagi masih ada di dapur, tapi Arlan sudah pergi tanpa membawanya.
"Bi, Mas Arlan, bawa apa tadi?" tanya Maura curiga.
"Nggak bawa apa-apa, Non. Kata Nyonya tadi buru-buru," jawab Bi Inah takut-takut.
Maura menyipitkan mata. Ia tahu Arlan pasti singgah ke apartemen Hana. Rasa cemasnya kini berubah menjadi amarah yang gelap.
Di sisi lain, Arlan yang masih berada di apartemen Hana mulai merasa cemas. Ia melihat kotak makan di atas meja dan menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal.
"Sial," gumam Arlan. "Aku tidak bermaksud menghinanya. Aku hanya ingin kami semua bersatu."
Arlan tidak menyadari bahwa keinginannya untuk memiliki semua justru akan membuatnya kehilangan segalanya.
Hana bukan lagi air tenang yang bisa ia bendung. Hana adalah arus deras yang siap menghancurkan bendungan ego Arlan kapan saja.
Apa yang akan terjadi selanjutnya ...?
Pantengin terus kisah mereka yaaa ... Sampai jumpa di Up selanjutnya... See You ...
...----------------...
Next Episode ....