Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemiripan
Keesokan harinya, langit cerah tanpa awan.
Elenna berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. Gaun yang ia kenakan tidak semewah milik Lilith, namun kali ini ia memilih warna biru pucat yang bersih dan rapi. Rambutnya disisir sederhana, tanpa hiasan berlebihan.
Ia menatap bayangannya beberapa detik. Bukan mencari kecantikan. Melainkan ketenangan. Jangan berharap. Jangan takut.
Kereta membawanya menuju taman kerajaan yang terletak di sisi Istana Selatan. Gerbang besi tinggi menjulang. Lambang kerajaan terukir besar di tengahnya. Dua prajurit berdiri di kiri dan kanan pintu masuk.
Kereta berhenti.
Elenna turun sendiri.
Seorang prajurit melangkah maju, tombaknya sedikit menghalangi jalan.
“Keperluan?”
“Aku diundang oleh Yang Mulia Putri Isabella.”
Nada Elenna tenang.
Prajurit itu menatapnya dari atas ke bawah. Tatapan yang jelas meragukan.
“Nama?”
“Elenna, dari kediaman Marquess.”
Prajurit lainnya menyeringai tipis. “Kami tidak menerima pemberitahuan mengenai tamu seperti Anda.”
Seperti Anda.
Elenna merasakan sedikit panas di dadanya.
Ia sudah menduga ini tidak akan mudah.
Tanpa banyak bicara, ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan undangan bersegel emas. Ia menyerahkannya dengan gerakan mantap.
Prajurit itu membukanya, lalu membaca, dan ekspresinya seketika berubah.
Ia menunduk sedikit. “Maaf atas kelancangan kami, Nona.”
Gerbang akhirnya dibuka. Namun, bukan diawali dengan sambutan hangat. Hanya kewajiban.
Di dalam, taman kerajaan luas dan indah. Bunga-bunga tertata rapi, air mancur memantulkan cahaya siang, dan paviliun putih berdiri anggun di tengah.
Seorang pelayan wanita menyambutnya. “Tuan putri sedang sibuk saat ini. Anda diminta menunggu di paviliun.”
“Berapa lama?” tanya Elenna pelan.
“Tidak dapat dipastikan.”
Jawaban yang terlalu ringan untuk sesuatu yang disengaja.
Elenna mengangguk mengerti.
Ia duduk, dan menunggu. Semetara waktu berlalu perlahan. Angin berganti arah. Teh yang disediakan mulai mendingin. Beberapa pelayan lewat tanpa benar-benar memandangnya.
Tak ada kabar.
Tak ada pesan.
Ia tersenyum kecil dalam hati.
Jadi ini cara mereka mengujinya.
Bukan dihina.
Bukan diteriaki.
Hanya… diabaikan.
Setelah waktu berlalu cukup lama, Elenna berdiri.
Ia tidak bertanya lagi.
Ia tidak memanggil pelayan.
Ia berjalan menjauh dari paviliun, mengikuti jalan setapak kecil di sisi taman.
Jalan itu semakin menyempit. Bunga-bunga tertata berubah menjadi pepohonan liar. Tanah berbatu menggantikan ubin halus. Ia tidak tahu bahwa taman kerajaan berbatasan dengan hutan kecil di belakangnya.
Udara di sana lebih sejuk.
Lalu si balik semak-semak, terdengar suara lirih
“Miiing…”
Elenna berhenti sejenak, mencari sumber suara tersebut, dan ia menemukan di antara ranting semak berduri, terdapat seekor anak kucing kecil yang terjebak. Kakinya tersangkut cabang tipis, bulunya terseret ranting kering. Tanpa berpikir panjang, Elenna mendekat.
“Tenang… aku tidak akan menyakitimu.”
Ia berlutut, mengabaikan gaunnya yang mungkin akan kotor terkena tanah.
Tangannya perlahan melepaskan ranting satu per satu. Kucing itu menggeliat kecil, namun tidak mencakar. Beberapa detik kemudian, ia berhasil membebaskannya. Kucing kecil itu jatuh ke tanah, lalu berdiri goyah. Bulu peraknya berkilau lembut di bawah cahaya matahari yang menembus dedaunan.
Netra matanya bewarna merah. Merah yang dalam. Sama seperti warna mata Elenna. Ia terdiam sejenak, sementara
Kucing itu menatapnya beberapa detik.
Lalu dengan perlahan tapi pasti, kucing tersebut mulai mendekat, dan mulai menjilati ujung jarinya. Elenna membeku sesaat. Lalu tersenyum kecil, senyum yang benar-benar tulus yang pernah ia keluarkan.
“Kita mirip, ya?”
Kucing itu mengeong pelan, seolah menjawab. Dia mendekatkan dan menggesekkan tubuhnya ke Elenna, seolah menandai tubuh Elenna. Untuk beberapa menit, ia membiarkan diri duduk di tanah hutan itu, membiarkan kucing kecil tersebut memanjat pangkuannya.
Di sini, tidak ada tatapan meremehkan. Tidak ada ujian. Tidak ada drama. Hanya makhluk kecil yang tidak peduli pada status atau garis keturunan.
Elenna mengelus bulu peraknya perlahan.
Dan tanpa ia sadari, dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikannya.
**
Dari balkon batu putih yang tersembunyi di sisi paviliun, seseorang berdiri dalam bayangan tirai tipis. Putri Isabella tidak pernah benar-benar sibuk. Sibuk adalah dahihnya untuk mengetes Elenna.
Ia hanya menunggu.
Menunggu untuk melihat.
Sejak awal, ia telah memerintahkan para prajurit untuk tidak diberi tahu secara rinci mengenai tamu hari ini. Bukan untuk menghalangi sepenuhnya, hanya untuk memperlambat waktu, dan melihat reaksi Elenna.
Jika Elenna marah?
Jika ia tersinggung?
Jika ia pulang?
Maka Isabella akan tahu bahwa gadis itu rapuh.
Namun, dari atas, ia melihat sesuatu yang tidak ia duga.
Elenna tidak membantah.
Tidak memohon.
Tidak menunjukkan kebanggaan ketika menunjukkan undangan.
Ia hanya berdiri dengan… tenang.
Isabella mengerutkan alisnya.
Lalu ia memerintahkan pelayan untuk membuatnya menunggu.
Sengaja.
Teh dibiarkan mendingin. Jam dibiarkan berjalan. Pelayan tidak diberi instruksi lanjutan. Isabella berdiri di balik tirai, sesekali mengintip ke paviliun.
Elenna duduk dengan punggung lurus. Tidak gelisah. Tidak memainkan jari. Tidak memanggil siapa pun. Ia hanya menunggu. Seperti seseorang yang sudah terbiasa menunggu sepanjang hidupnya.
Itu membuat Isabella merasa… tidak puas.
Ia ingin melihat celah. Raut kecewa. Kemarahan kecil. Namun, yang ia lihat hanya ketenangan yang terlalu rapi. Kemudian, setelah cukup lama, Elenna berdiri.
Isabella tersenyum tipis.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Namun, Elenna tidak berjalan menuju gerbang.
Ia tidak mencari pelayan.
Ia berjalan menjauh ke sisi taman.
Isabella sedikit terkejut.
“Ke mana dia?” gumamnya pelan.
Ia memberi isyarat pada seorang pelayan.
“Awasi. Jangan terlalu dekat.”
Pelayan itu menunduk dan mengikuti dari kejauhan.
Beberapa waktu kemudian, laporan kembali.
“Tuan putri… Nona Elenna berjalan ke arah hutan kecil di belakang taman.”
“Hutan?” Isabella mengangkat alis.
Ia mendekat ke sisi balkon yang lebih terbuka. Dari sudut tertentu, sebagian hutan masih terlihat, dan di sana, ia melihat pemandangan yang tidak ia harapkan.
Elenna berlutut di tanah. Gaunnya menyentuh dedaunan. Tangannya memegang sesuatu kecil berwarna perak. Ia tidak terlihat seperti bangsawan yang sedang tersinggung.
Ia terlihat seperti… manusia.
Lembut. Tanpa topeng.
Isabella memperhatikan lebih seksama.
Anak kucing itu terlepas, lalu memanjat pangkuan Elenna, dan hal itu membuat Elenna tersenyum. Bukan senyum sosial. Bukan senyum sopan. Senyum yang tidak pernah Isabella lihat sebelumnya.
Putri itu terdiam. Ada sesuatu yang mengganggunya. Bukan karena Elenna mempermalukan dirinya. Tapi karena Elenna tidak memainkan permainan yang sama.
Ia tidak marah. Tidak tersinggung. Tidak berusaha menarik perhatian.
Ia hanya… ada..
Isabella menyilangkan tangan.
“Menarik.”
Ini bukan gadis yang mudah dijatuhkan dengan pengabaian.
Mungkin ujiannya harus dinaikkan satu tingkat. Namun, di saat yang sama, Isabella menyadari satu hal kecil yang membuatnya tidak nyaman. Elenna terlihat lebih damai sendirian di tanah hutan… daripada sebagian besar bangsawan di aula istana, dan itu membuat Isabella merasa seolah kendalinya tidak sepenuhnya utuh.