NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 Jejak Kebohongan

Malam turun perlahan di Bandung, membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam rumah besar yang dulu terasa hangat, Rania duduk sendirian di ruang kerja pribadinya. Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan wajahnya di permukaan kaca—wajah seorang perempuan yang sedang belajar berdiri kembali di atas puing-puing kepercayaannya sendiri.

Di hadapannya, sebuah laptop terbuka. Layar ponsel tergeletak di sampingnya, menyala tanpa suara. Notifikasi pesan yang masuk sejak sore tadi sengaja ia abaikan. Ia butuh fokus. Bukan untuk menangis. Bukan untuk marah. Tapi untuk mengingat.

Rania menarik napas panjang.

Ini bukan lagi tentang rasa sakit.

Ini tentang kebenaran.

Ia membuka folder baru di laptopnya dan memberi nama sederhana: BUKTI.

Tangannya sempat ragu beberapa detik sebelum mengklik folder itu. Ada perasaan ganjil—seolah dengan membuka folder tersebut, ia secara resmi mengakui bahwa pernikahannya memang telah runtuh. Namun rasa ragu itu segera ia singkirkan.

Ia sudah terlalu lama menutup mata.

Langkah pertama datang dari hal yang paling sederhana.

Riwayat Percakapan.

Rania mengambil ponsel Arga yang masih terhubung ke akun keluarga—Arga selalu ceroboh soal teknologi. Ia membuka aplikasi pesan yang jarang ia periksa sebelumnya. Nama Maya muncul berkali-kali di layar.

Awalnya, pesan-pesan itu tampak biasa. Obrolan pekerjaan. Diskusi ringan tentang rumah makan. Candaan kecil yang sekilas terlihat tidak berbahaya.

Namun Rania tidak berhenti di permukaan.

Ia menggulir ke atas.

Dan ke atas.

Sampai tanggal-tanggal yang berdekatan dengan hari-hari Arga pulang larut, dengan alasan rapat atau lembur.

Di sanalah semuanya mulai berubah.

Kalimat-kalimat pendek yang terlalu akrab. Emoji yang seharusnya tidak dikirimkan kepada rekan kerja. Panggilan sayang yang disamarkan dalam candaan.

“Aku kangen suasana kemarin.”

“Kalau Rania tidak ada, mungkin kita bisa lebih bebas.”

Rania memejamkan mata sejenak.

Dadanya sesak, namun tangannya tetap bergerak cepat. Ia mengambil tangkapan layar satu per satu, menyimpannya rapi dengan tanggal dan jam yang jelas.

Ia belajar untuk tidak bereaksi—hanya mencatat.

Lalu ia menemukan pesan yang membuat jemarinya gemetar.

“Tenang saja. Semua aset atas nama Rania. Dia tidak akan curiga.”

Air mata jatuh satu, lalu berhenti.

Bukan karena luka sudah sembuh—melainkan karena amarah mulai mengambil alih.

Rekening Bank.

Langkah berikutnya lebih menyakitkan.

Rania membuka akses rekening bersama dan rekening perusahaan yang selama ini ia percayakan kepada Arga untuk dikelola. Ia mencetak mutasi transaksi tiga bulan terakhir.

Satu transaksi mencolok muncul berulang kali.

Transfer ke rekening atas nama Maya A.

Jumlahnya tidak besar satu per satu. Lima juta. Tujuh juta. Sepuluh juta. Namun jika dijumlahkan—

Lebih dari seratus juta rupiah.

Tanggal-tanggal transfer itu bertepatan dengan liburan singkat Arga, pembelian tas bermerek, dan renovasi kecil di rumah kontrakan yang—baru sekarang Rania sadari—disewa Maya.

“Jadi selama ini…” gumam Rania lirih, “aku yang membiayai pengkhianatan ini.”

Ia memindai semua bukti transfer, menyimpannya dalam folder terpisah.

BUKTI KEUANGAN.

Malam semakin larut, namun Rania tidak berhenti.

Ia membuka email lama, mencocokkan jadwal perjalanan dinas Arga dengan unggahan media sosial Maya. Foto-foto yang dulu tidak ia pikirkan kini terasa seperti tamparan keras.

Pantai yang sama. Hotel yang sama. Sudut kafe yang sama.

Hanya berbeda waktu unggah.

Rania menyusun semuanya seperti puzzle—dan gambar yang terbentuk terlalu jelas untuk disangkal.

Kesaksian.

Keesokan harinya, Rania melangkah keluar rumah dengan tujuan baru. Ia mendatangi rumah makan di Jalan Sudirman lebih awal dari biasanya. Para karyawan terlihat terkejut melihat kehadirannya.

Seorang pelayan perempuan muda menghampirinya dengan ragu. “Bu Rania?”

Rania tersenyum tipis. “Iya. Kita bisa bicara sebentar?”

Mereka duduk di sudut ruangan. Perlahan, Rania mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana—tanpa tekanan.

“Pak Arga sering ke sini dengan siapa?”

Pelayan itu saling pandang dengan rekannya sebelum menjawab pelan. “Sering dengan Bu Maya, Bu. Hampir setiap malam.”

“Dan mereka…?”

“Kami tidak berani bilang, Bu. Tapi… mereka sering masuk ke ruangan kantor belakang. Berjam-jam.”

Rania mengangguk. “Terima kasih sudah jujur.”

Ia mencatat nama mereka, tanggal, dan jam. Ia tidak memaksa. Tidak mengancam.

Ia hanya mengumpulkan kebenaran.

Seorang koki senior bahkan menyerahkan sesuatu yang tak terduga—rekaman CCTV yang belum sempat dihapus.

Di layar kecil itu, terlihat jelas Arga menggenggam tangan Maya. Terlihat ciuman singkat di lorong dapur. Terlihat kebohongan yang selama ini dibungkus rapi.

Rania menatap layar itu lama.

Tidak ada air mata.

Yang ada hanya kejelasan.

Dokumentasi.

Malam itu, kembali di rumah, Rania menyusun semua bukti dalam satu folder besar. Ia memberi label dengan rapi:

Bukti Percakapan

Bukti Transfer

Bukti Foto & Media Sosial

Bukti Rekaman CCTV

Daftar Saksi

Ia mencetak semuanya. Menyimpannya dalam map cokelat tebal.

Saat map itu tertutup, Rania menyadari sesuatu.

Ia tidak lagi gemetar.

Ia tidak lagi ragu.

Yang tersisa hanyalah seorang perempuan yang akhirnya memilih berpihak pada dirinya sendiri.

Rania berdiri di depan cermin. Wajahnya tampak lelah—namun matanya tidak lagi kosong. Ada nyala kecil di sana. Nyala yang tidak akan padam.

“Ini bukan balas dendam,” katanya pelan pada bayangannya sendiri. “Ini keadilan.”

Di luar, hujan mulai turun.

Dan di dalam rumah itu, Rania tahu—

ia tidak lagi sendirian dalam kegelapan.

Ia sudah membawa cahaya berupa kebenaran.

Dan cahaya itu…

akan segera menyilaukan mereka yang selama ini bersembunyi di balik kebohongan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!