"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Sangkar Emas Mahendra
Malam di Villa Black Diamond masih menyisakan aroma mesiu dan ketegangan yang pekat. Meskipun Hendrawan dan Angelica telah digelandang oleh polisi, Clarissa tahu betul bahwa ini hanyalah kemenangan kecil di babak pembuka. Di dunia ini, uang bisa membeli kebebasan, dan Hendrawan memiliki gunung emas untuk itu.
Clarissa duduk di tepi ranjang besar di kamar utama Devan. Ia sudah berganti pakaian dengan kemeja putih milik Devan yang kebesaran—karena gaun hijaunya telah robek saat insiden tadi. Kemeja itu menutupi hingga paha, namun tetap memperlihatkan leher jenjang dan bahu ringkih tubuh Lestari.
Cklek.
Devan masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat dan kotak P3K. Pria itu sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang maskulin.
"Minum ini," perintah Devan singkat. Nadanya dingin, tapi matanya memancarkan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.
"Aku tidak butuh susu, Devan. Aku butuh jawaban. Bagaimana dengan sidik jari itu? Polisi pasti akan mengejarku ke sini," ujar Clarissa, mengabaikan susu itu.
Devan meletakkan nampan dengan suara denting yang tegas. Ia berlutut di depan Clarissa, meraih pergelangan kaki gadis itu yang sedikit lecet. Dengan telaten, ia mulai mengoleskan salep.
"Tim pengacaraku sedang mengurusnya. Kita akan mengklaim bahwa sidik jari itu ada di sana karena kau adalah mantan pelayan di K-Corp yang sering membersihkan mobil CEO. Itu celah hukum yang mudah," ucap Devan tanpa mendongak. "Yang lebih penting sekarang adalah keselamatanku... maksudku, keselamatanmu."
Clarissa tertegun. "Kau hampir salah bicara, Tuan Mahendra."
Devan menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata Clarissa. Jarak mereka sangat dekat. "Aku tidak peduli kau Clarissa atau Lestari. Di mata hukum, kau adalah milikku sekarang. Aku sudah mendaftarkanmu sebagai asisten pribadi khusus di bawah perlindungan diplomatik Mahendra Group. Polisi tidak bisa menyentuhmu tanpa izin dariku."
"Kau menjadikanku tahanan dalam sangkar emas?" Clarissa menyipitkan mata, insting CEO-nya merasa terancam.
"Aku menjadikanku istrimu jika itu perlu untuk melindungimu," balas Devan cepat, suaranya berat dan penuh penekanan.
Clarissa terdiam. Jantungnya berkhianat, berdetak dua kali lebih cepat. Ia baru saja ingin membalas saat ingatannya kembali pada memori asing yang muncul tadi.
"Devan, lupakan soal itu sebentar," Clarissa merogoh saku kemeja yang ia kenakan (yang ternyata milik Devan semalam) dan mengeluarkan kunci perak kecil yang sempat ia amankan. "Tadi, saat aku berhadapan dengan Hendrawan, aku melihat sesuatu. Memori milik Lestari."
Mata Devan tertuju pada kunci itu. "Kunci apa ini?"
"Ayah Lestari... dia bukan sekadar satpam yang tewas kecelakaan. Dia menyimpan sesuatu di sebuah gudang tua di pinggiran pelabuhan. Kunci ini adalah kuncinya. Di memori itu, ayah Lestari menangis dan memohon agar Lestari tidak pernah membuka rahasia ini kecuali dia sudah menemukan orang yang bisa dipercaya."
Devan mengambil kunci itu, memperhatikannya dengan teliti di bawah lampu kamar. "Ini kunci model lama, tapi buatan Jerman. Sangat aman. Jika ayah Lestari menyembunyikan ini, berarti apa yang ada di dalam gudang itu jauh lebih berharga daripada seluruh saham K-Corp."
"Atau jauh lebih berbahaya," tambah Clarissa. "Devan, apakah Mahendra Group punya proyek di pelabuhan lima tahun lalu?"
Pertanyaan Clarissa membuat suasana mendadak membeku. Devan berdiri, membelakangi Clarissa. Bahunya tampak kaku.
"Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Devan dingin.
"Karena dalam memori itu, aku melihat logo Mahendra Group di truk yang menabrak ayah Lestari. Bukan truk K-Corp," suara Clarissa bergetar.
Jika benar keluarga Devan terlibat dalam kematian ayah Lestari, maka hubungan mereka akan menjadi tragedi. Clarissa (dalam tubuh Lestari) kini memikul dendam pemilik tubuh asli. Di sisi lain, dia adalah Clarissa yang mulai mencintai Devan.
Devan berbalik, wajahnya gelap. "Lima tahun lalu, pamanku yang memegang kendali logistik di pelabuhan. Dia sudah dipecat karena kasus korupsi. Jika kau menuduh keluargaku..."
"Aku tidak menuduh, Devan. Aku mencari kebenaran!" Clarissa berdiri, menantang dominasi Devan. "Identitas Lestari adalah kunci untuk menghancurkan Hendrawan dan Kenzo. Tapi jika kebenaran itu juga mengarah padamu, apa yang akan kau lakukan?"
Devan melangkah maju, memojokkan Clarissa hingga punggung gadis itu menyentuh dinding kamar. Ia mengunci tubuh Clarissa dengan kedua tangannya.
"Jika keluargaku bersalah, aku sendiri yang akan menyerahkan mereka padamu," bisik Devan di depan bibir Clarissa. "Tapi sebagai gantinya, jangan pernah pergi dariku. Gunakan aku, manfaatkan kekuasaanku, habiskan uangku untuk balas dendammu. Tapi tetaplah di sisiku."
Tangan Devan merayap ke pinggang Clarissa, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Clarissa bisa merasakan gairah dan rasa posesif yang luar biasa dari pria ini.
"Kau sangat licik, Devan Mahendra," bisik Clarissa, meskipun tangannya kini justru melingkar di leher Devan.
"Hanya kepadamu, Ratu," jawab Devan sebelum menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya. Ciuman yang penuh dengan haus akan kepemilikan.
Di tengah momen panas itu, ponsel Devan yang tergeletak di meja berbunyi. Sebuah notifikasi berita mendesak muncul.
[BREAKING NEWS: Paman Hendrawan Dibebaskan dengan Jaminan. Polisi Menyatakan Bukti Video Rekaman Tidak Sah karena Dianggap Rekayasa Digital AI.]
Clarissa dan Devan melepaskan ciuman mereka. Mereka saling pandang dengan napas memburu.
"Dia sudah keluar," desis Clarissa. "Baru satu jam dan dia sudah bisa memanipulasi hukum."
"Bukan cuma itu," Devan menunjuk ke layar televisi yang tiba-tiba menyala sendiri (diretas).
Muncul wajah Hendrawan yang sedang tersenyum sinis di depan kerumunan wartawan.
"Saya memaafkan gadis bernama Lestari itu. Dia pasti sedang stres karena kehilangan pekerjaannya di K-Corp. Sebagai bentuk keprihatinan, saya mengundang Lestari dan Tuan Devan untuk makan malam di kediaman Wijaya besok malam. Kita akan membicarakan 'warisan' yang ditinggalkan Clarissa untuk kita semua."
"Itu jebakan," ucap Devan.
"Memang," Clarissa menyeringai, matanya berkilat penuh tekad CEO-nya yang dulu. "Tapi itu juga kesempatan. Dia ingin membicarakan warisan? Baiklah. Aku akan datang sebagai pewaris yang sah, meskipun dunia mengenalku sebagai pelayan."
Clarissa menggenggam kunci perak itu erat-erat. "Besok malam, kita tidak hanya akan makan malam. Kita akan mengambil kembali istanaku."
Namun, di luar villa, di balik kegelapan malam, sosok misterius yang memegang kunci serupa kembali muncul. Ia mengangkat sebuah foto lama. Foto itu memperlihatkan Clarissa, Angelica, dan seorang anak laki-laki yang wajahnya sengaja dicoret.
"Dua kunci untuk satu kebenaran. Mari kita lihat, siapa yang akan mati lebih dulu... Kakak tersayang, atau kekasih barumu?"