NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASIH INGAT SUDAH MENIKAH ?

Melihat Deya yang semakin menatapnya tajam, membuat Rico seperti orang yang kehilangan akal saja. Ia tidak tahu harus berkata apa, yang di tahu hanya kekhawatiran akan istrinya itu.

Sedangkan Deya menatap Rico seperti Elang yang sedang mengintai mangsanya, ia begitu kesal dengan sang suami yang sudah beberapa minggu ini tidak ada kabar.

“Kamu tuh kemana aja sih ? Ku kira sudah lupa kalau udah menikah” Tanya Deya dengan nada kesal namun menyiratkan kecemasan.

Rico tertawa, karena ocehan sang istri. “Aku nggak kemana-mana De. Aku kerja.”

“Iya masa kerja sampai nggak bisa hubungi gini sih, nggak tau apa kita hampir aja di apa-apa in sama orang.”

“Iya aku tahu De, aku tau itu, tapi aku harus gimana ? Aku sedang jauh dari kamu sekarang, kamu kira aku disini tenang-tenang aja. Aku mikirin kamu. Emang beberapa minggu ini jaringan lagi susah. Makanya nggak bisa tahu tentang kamu. Ada yang luka ?”

“Nggak ada, Syukur ada Siska yang ngawasin aku. Terima kasih ya.”

“Aku sudah menduganya De, mereka nggak akan berhenti buat ganggu aku dan ayah melalui orang-orang terdekat kami.”

“Kapan pulang ?”

Terdengar helaan nafas berat dari Rico. “Belum tau, yang sabar ya.” Rico menenangkan Deya sembari memperhatikan raut wajah lelah sang istri.

“Tadi aku ke toko. Ramai banget tau. Aku aja sampai kaget ku kira orang lagi ada demo di toko ku.” Cerita Deya yang diakhiri dengan nada bercanda.

Senyum lembut Rico berikan untuk sang istri. “Berarti banyak dong pemasukannya hari ini ?”

“Iyaaa, Alhamdulillah lumayan. Tadi juga ada Siska.”

“Aku memang meminta Diana untuk menyuruh Siska buat ngawasin kamu. Maaf ya aku belum bisa apa-apa untuk saat ini. Aku usahakan kerjaan ku cepat selesai biar segera pulang.”

Deya hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Sebenarnya Deya ingin sekali menceritakan tentang pesan misterius yang menuduhnya perempuan perusak dan munafik, tapi tak ingin semakin memperkeruh suasana, ia khawatir Rico akan bertindak jauh untuknya. Dengan adanya Siska saja sudah membuat Deya merasa tak nyaman

Selebihnya mereka saling menceritakan hal -hal yang bisa membuat mereka semakin dekat, dan sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya. Hingga tak ada yang tahu siapa lebih dulu memejamkan mata, namun sambungan video itu tak terputus hingga esoknya.

***

Senin kembali menyapa, entah kenapa Deya sangat malas untuk bekerja hari ini. Setelah sambungan video itu terputus ia mulai merasa sepi lagi. Ternyata itu berdampak pada moodnya pagi itu.

“Harus banget ya kerja hari ini ?” tanyanya pada diri sendiri.

Namun sejurus kemudian ia mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga untuk menuju meja makan. Pandangannya tertuju pada salah satu pintu kamar yang terbuka. Kamar yang sering digunakan oleh Rico.

Langkahnya menuju depan pintu kamar tersebut, dan ia mendapati bi Tum sedang membersihkan barang-barang yang sering di gunakan oleh Rico. Termasuk figura dan beberapa helai baju yang menggantung dan tersusun rapi di lemari.

“Bi Tum ngapain ?”

“Mbak De, ini lagi membersihkan kamar yang sering dipake den Rico toh. Barang-barangnya mau tak rapikan ke kamar atas.” Jelasnya yang bermaksud untuk memindahkan semua barang Rico ke kamar Deya.

“Haaa, siapa yang nyuruh bi Tum ?”

“Ngga ada si mbak, masa den Rico udah nikah tapi barang-barangnya nggak sekamar sama mbak De toh.”

Deya gelagapan mencari alasan agar barang-barang Rico tak dipindahkan. “Bi, biarin aja dulu disini ya, nanti kalau Rico sudah pulang biar nanti saya sortir barang-barang apa aja yang masih diperluin.” Deya menutupi alasan sebenarnya dengan alasan lain.

“Ya wes lah mbak De.” Pasrah bi Tum.

Deya hanya mengangguk kikuk dan meninggalkan bi Tum.

***

Sementara di kediaman Handoko, pagi ini di isi dengan perbincangan antara Diana dengan kedua orang tuanya.

“Ana, kok ibu merasa ada yang aneh ya di rumah abangmu ?” Ani membuka percakapan di meja makan itu.

“Apa ?” Tanya Diana yang sibuk dengan makanannya.

“Kamu perhatikan nggak sih, nggak ada satupun foto abang mu dan istrinya yang terpajang di sudut manapun rumah mereka.”

“Iya kan mungkin belum sempat kali bu. Kan ibu tau sendiri mbak De pagi kerja, libur pun dia isi dengan ke toko fotocopy nya. Abang juga entah kapan pulang kan.” Jelasnya Diana.

“Iya sih, tapi masa untuk sekedar pajang foto aja mereka nggak bisa.”

“Buuu, jangan terlalu ikut campur untuk urusan rumah tangga mereka.” Lerai Handoko di sela kunyahannya.

“Hmm, tapi Ana juga agak aneh sih sebenarnya bu.”

“Aneh kenapa ?” Tanya Handoko penasaran.

“Dih, tadi aja bilang jangan terlalu ikut campur, terus sekarang ?” Cibir Ani pada sang suami.

“Iya kan cuma pengen tau aja bu.” Handoko membela diri.

“Pas Ana sama Dira nginap malam itu, nggak liat satu barang pun dikamar itu yang punya abang. Sementara kita tahu kan setelah menikah abang bawa hampir semua barang-barangnya ke rumah itu, masa iya abang bawa semua ke tempat kerjanya.” Diana menyimpulkan sendiri.

“Masa sih Na ?” Handoko sampai menghentikan sarapannya.

Diana yang melihat raut wajah penasaran sang ayah sontak menatap dengan bingung. “Ih, ayah mah nggak percaya ih.”

“Udahlah kita sarapan aja dulu.” Lerai Ani, padahal sebenarnya ialah yang membuka percakapan.

Setelah sarapan, Diana memilih segera berangkat ke kampus untuk menemui dosen yang membimbingnya menyusun tugas akhir. Sedangkan Ani masih termenung di atas kursi meja makan. Ia Nampak memikirkan sesuatu.

“Ibu kenapa, kok pagi-pagi melamun ?” Tanya Handoko yang bersiap untuk menuju Perkebunan.

“Ibu takut, pernikahan abang tak seperti yang diharapkannya.” Ani menjawab tanpa melihat sang suami.

“Bu, jangan berpikir yang tidak-tidak. Ibu percaya kan sama abang, iya ibu juga harus percaya pada menantu ibu. Ayah melihat Deya perempuan yang baik dan sopan. Perkara mereka sekamar atau tidak, itu bukan urusan kita bu.” Ucap Handoko menenangkan sang istri.

Ani menarik nafas dalam, “Aku seorang ibu yah, wajar aku khawatir padanya. Apalagi dia telah mengubur dan mengorbankan segalanya untuk hidup kita. Bahkan hingga kini, ibu hanya menginginkan dia mendapatkan yang terbaik untuk menemani hidupnya.”

“Jadi menurut ibu, Deya tidak baik ?” Handoko bertanya dengan kening yang berkerut.

“Entahlah.”

“Jika Deya perempuan yang tidak baik, apa mungkin abang mengejarnya hingga dapat ? Karena dia adalah perempuan baik, sehingga abang begitu menginginkannya bu.” Handoko kembali menjelaskan panjang lebar pada sang istri. “Ayah ke Perkebunan dulu, mang Dadang lagi nggak enak badan jadi ayah pergi sendiri.”

“Ikut.”

“Ayo lah kalau gitu. Sekalian kita jalan-jalan.” TimpaL Handoko yang begitu senang karena hari ini sang istri ikut bersamanya.

Sepasang suami istri yang berada dalam mobil itu sedang asyik bersanda gurau, tanpa mereka sadari bahaya sedang menuju ke arah mereka.

1
Kamila
bagus karya mu KK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!