Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAAFKAN AYAH NAK
Hari ini Deya bekerja seperti biasa, rupanya Siska menepati janji. Setelah berpisah di depan kantor pagi tadi, sampai sore ini Deya tak lagi mengetahui keberdaan perempuan dengan rambut pendek itu.
Satu per satu rekan kerja Deya pamit pulang, seperti biasa Deya masih saja sibuk dengan beberapa lembar kertas yang masih setia berada di atas meja kerjanya.
“De, kamu masih lama ?” Tanya Selfi setelah mematikan komputernya.
“Lumayanlah Sel, mungkin lima belas sampai dua puluh menit lagi.”Jawabnya tanpa menoleh ke arah Selfi.
“Aku duluan yah kalau gitu, kebetulan Hendy ngajak pulang bareng nih kan searah juga kami.” Pamit Selfi dan menghilang dari balik pintu.
Kini Deya tinggal sendiri di barisan meja panjang itu, dengan beberapa rekan kerja dari divisi lain.
Tak berapa lama kemudian pekerjaan itu terselesaikan juga, ia merenggangkan otot-ototnya dan bersiap untuk pulang.
Entah dari mana Siska datang, kini tiba-tiba perempuan itu sudah berada di belakang motor Deya yang membaur dengan pengendara lain. Jalanan sore itu sedikit padat dan terjadi kemacetan di beberapa tempat. Hingga saat jalan mulai lenggang seorang pengendara dengan seorang di belakangnya menyalip Siska dan mulai mepet pada Deya. Perempuan itu mulai panik, namun berusaha untuk tetap terlihat tenang.
“Selamat sore, baru pulang yah cantik ?” Tanya yang berada di belakang. “Mau pulang kemana ?” Tanyanya kembali.
Mendengar pertanyaan itu, seperti sebuah pelecehan bagi Deya, hampir saja ia menendang roda depan motor itu, namun matanya melirik sesuatu yang timbul dari balik jaket orang yang dibelakang pengendara itu.
“Jawab dong. Kan kita tanya baik-baik.” Ucapnya salah satunya lagi.
Siska yang melihat hal tersebut, mulai tersulut emosi. Ia memilih untuk menjaga jarak aman dengan dua motor di depannya. Hingga tiba-tiba ia melihat salah satu dari mereka ingin menyentuh lengan Deya. Namun sebelum itu terjadi sebuah suara keras memekakkan telinga.
Taaaakrrr, tek tek,,,
Motor yang dikendarai oleh kedua laki-laki itu oleng ke kiri, moment itu di manfaatkan oleh Deya untuk segera kabur. Sementara keduanya terjatuh ke bahu kiri jalan. Mereka sama-sama heran akan apa yang terjadi pada motor yang ditumpangi, karena tidak ada kerusakan apapun yang terlihat.
Siska yang berada cukup jauh dibelakang memilih untuk menepi dan pura-pura untuk membantu kedua laki-laki itu.
“Kenapa pak ?” Tanyanya basa basi.
“Nggak apa-apa mbak, tadi saya kurang fokus aja makanya oleng.” Jawab yang mengendarai motor.
Kesempatan itu, Siska manfaatkan untuk melihat lebih jelas wajah-wajah orang yang mengganggu Deya. Kecelakaan yang baru saja mereka alami adalah perbuatan Siska yang melempar sesuatu pada roda belakangan mereka dan memantul ke velg.
“Oh oke pak, saya kira kenapa-kenapa atau mau saya telponkan ambulance.” Tawar Siska yang semakin jelas melihat rupa dari keduanya. Namun keduanya menolak keras. “Kalau gitu saya duluan pak.” Ujarnya kembali dan melajukan motor.
Setelah melewati mereka, Siska tersenyum sinis sembari melirik dengan ekor mata.
“Ini baru permulaan, jika kalian masih berani. Akan ku buat kalian jatuh tanpa ku sentuh.” Lirihnya pada angin.
***
Setibanya di kediaman Deya, Siska langsung mencari keberadaan Deya yang masih terlihat shock akan hal yang baru saja di alaminya. Siska melihat dada Deya naik turun dengan gelas yang berisi air di genggamannya.
“Mbak Deya nggak kenapa-kenapa ?” Tanya Siska khawatir.
Deya hanya menggeleng dan belum sanggup untuk bicara.
“Syukur mbak Deya langsung ngebut tadi.”
“Terima kasih Siska, aku nggak tau nasib ku kalau kamu nggak ada.” Ucap Deya yang sudah mulai tenang.
“Ini memang tugas saya mbak.” Perempuan itu kemudian membuka ponselnya dan mengabari seseorang.
***
Mendengar kabar tersebut, seketika Handoko dan Ani bergegas menuju kediaman Deya. Raut wajah Handoko menyiratkan kekhawatiran yang luar biasa, bagaimana tidak, Deya adalah anak satu-satunya dari sahabatnya Samsu, dan sekaligus istri yang sangat di cintai dari sang anak yang kini jauh di luar kota.
“Deya,.” Panggil Ani yang berada diambang pintu.
Deya menoleh dengan wajah yang masih cukup shock. Ani langsung memeluk sang menantu erat. “Kamu nggak kenapa-kenapa ? Ada yang luka nak ?” Tanya Ani dengan raut wajah khawatir.
“Nggak apa-apa bu, Cuma kaget aja.Mereka hampir megang saya.” Jawabnya berusaha baik-baik saja.
Handoko hanya memperhatikan sang menantu dan mengelus puncak kepala Deya. “Maaf nak, maafkan ayah. Entah siapa mereka yang ingin berbuat tidak baik pada mu nak. Melihatmu seperti ini, seakan melihat Diana saat ia juga di ancam.” Jelas Handoko dan duduk di seberang mereka.
“Besok diantar jemput sama mang Dadang yah nak.” Tutur Ani yang masih memeluknya.
“Nggak usah bu, kan ada Siska yang ngawasin saya.” Tolaknya halus.
“Selama Rico di luar kota, kamu nginap di rumah saja ya nak.” Tambah Handoko kembali.
“Nggak usah ayah, kan disini juga sama bi Tum. Lagian juga masa rumah kosong.” Tolaknya kembali pada ayah mertua.
Baik Handoko dan Ani hanya pasrah dengan keputusan Deya, sungguh benar ucapan Rico, perempuan ini memang keras kepala. Mengingat hal itu membuat Handoko tersenyum singkat. Setelah Handoko dan Ani pulang, terdengar suara dering ponsel Deya. Telepon itu dari Samsu yang tak sabaran untuk segera di angkat teleponnya.
Sama seperti Handoko dan Ani, kedua orang tua Deya juga menanyakan hal yang sama juga menawarkan dia untuk kembali saja ke rumah selama Rico masih diluar kota. Namun lagi-lagi Deya tak menyetujui dan menolaknya halus. Dengan alasan ia tak apa-apa, karena ini juga rumahnya, pun dirumah itu ia ditemani oleh bi Tum.
Malam kembali menyapa dengan membawa gelap juga dingin, beserta gemintang dan rembulan yang menggantung indah. Deya kembali membawa dirinya di atas tempat tidur dengan tubuh yang masih dibaluti mukenah.
Sesekali ia mengecek ponselnya berharap notif dari seseorang, ia mulia berfikir kenapa di saat-saat yang seperti ini, Rico terasa begitu dekat padahal sebenarnya mereka sedang berjauhan. Laki-laki itu adalah orang pertama yang ingin diajak bertukar cerita dan kabar tentang hari melelahkannya. Namun, sayang sungguh sayang, laki-laki itu ternyata juga sedang berusaha untuk mencari jaringan demi bisa bertukar kabar dengan sang istri.
Matanya yang sudah mulai di serang kantuk, perlahan mulai menyelami alam mimpi. Di antara batas sadar dan tidur. Ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Mbak De.” Panggil seseorang dari balik pintu kamar yang berada di lantai dua itu.
Tok,,tok,,tok,,
Kembali terdengar suara ketukan pintu.
“Mbak De sudah tidur ?” Kali ini Dira yang memanggil namanya.
Tanpa suara, Deya melangkahkan kakinya menuju ambang pintu. Setelah pintu itu terbuka Diana berhambur dalam pelukan sang kakak ipar.
“Mbak, aku takut mbak De kenapa-kenapa. Malam ini aku sama Dira akan menemani mbak disini. Aku takut mereka masih akan mengganggu mbak.” Tutur Diana to the point dan masih berada dalam pelukan Deya.
Deya yang menyaksikan betapa khawatirnya keluarga Rico pada dirinya, sontak membuatnya berfikir apa yang sebenarnya pernah mereka alami.