Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Sepatu yang Mulai Menganga
## Bab 3: Sepatu yang Mulai Menganga
Sore itu, langit Tanjung Balai berwarna abu-abu kusam, seolah ikut menanggung beban pikiran Rafi yang tak kunjung usai. Rafi baru saja melangkah keluar dari gerbang sekolah ketika ia merasakan sesuatu yang aneh pada kaki kanannya. Ada bunyi *klepak-klepak* yang ritmis setiap kali ia menginjak aspal panas.
Ia berhenti di bawah pohon mahoni besar, sedikit menjauh dari kerumunan siswa yang sibuk mencari angkot atau menyalakan motor. Dengan perasaan waswas, ia mengangkat kaki kanannya.
Napas Rafi tertahan. Di sana, di bagian ujung depan sepatu kets hitamnya yang sudah memudar menjadi abu-abu, sol karetnya menyerah pada gravitasi. Bagian bawah sepatu itu menganga lebar, menyerupai mulut ikan yang sedang kehausan. Benang-benang jahitan yang sudah rapuh terlihat mencuat, tak lagi mampu menahan gesekan aspal yang kejam.
"Sial," bisik Rafi. Suaranya tenggelam oleh deru mesin bus antar kota yang melintas di depannya—bus yang sama yang seharusnya membawanya ke Kisaran minggu depan.
Ia menurunkan kakinya kembali. Kini, setiap langkah terasa seperti pengkhianatan. Secara analitis, ini adalah variabel yang tidak ia masukkan ke dalam simulasi biaya semalam. Sepatu ini adalah satu-satunya sepatu yang ia miliki untuk sekolah, sekaligus sepatu yang rencananya akan ia pakai untuk bertemu Nisa. Tidak mungkin ia berjalan di Irian Supermarket dengan sepatu yang berbunyi *klepak-klepak* setiap kali melangkah. Itu bukan hanya merusak suasana, tapi secara logis akan menghancurkan martabatnya di depan Nisa dalam waktu kurang dari satu detik.
Rafi duduk di tepi trotoar, tidak peduli pada debu yang menempel di celana abu-abunya. Ia membuka tas, mengambil catatan kecil di saku belakang.
* **Saldo:** 255.000.
* **Kekurangan:** 45.000.
Sekarang, sebuah masalah teknis muncul. Ia butuh sepatu baru. Namun, harga sepatu paling murah di Pajak (pasar) Tanjung Balai setidaknya adalah 120 ribu rupiah—itu pun kualitasnya diragukan. Jika ia membeli sepatu, tabungan kencannya akan terkuras habis. Misinya akan gagal sebelum dimulai.
"Beli lem atau beli sepatu?" gumamnya, menganalisis pilihan yang ada dengan rigoritas yang menyakitkan.
Jika ia membeli lem Alteco atau lem kuning di toko bangunan, harganya hanya sekitar 10.000 rupiah. Lem itu mungkin bisa menahan sol sepatunya untuk beberapa hari ke depan. Namun, risikonya tinggi. Lem bisa lepas kapan saja, terutama jika cuaca hujan atau jika ia terlalu banyak berjalan di dalam mall nanti.
Sedangkan jika ia membeli sepatu baru, ia harus merelakan anggaran makan di Kisaran. Ia tidak mungkin membawa Nisa ke kencan tanpa makan di tempat yang layak seperti Ayam Penyet atau *food court* yang bersih. Secara struktural, kencan tanpa makan di tempat tujuan yang sudah direncanakan bukanlah kencan, melainkan penghinaan terhadap waktu yang sudah dihabiskan untuk menempuh jarak 50 kilometer.
Rafi menatap sepatunya dengan skeptis. Bagian jempol kakinya yang terbungkus kaus kaki bolong hampir terlihat dari celah sepatu itu. Kondisi masyarakat saat ini memang menuntut penampilan, meski isi dompet sedang krisis. Budaya *judgmental* di lingkungan remaja tidak mengenal ampun bagi mereka yang tampak kumal.
"Sepatu baru itu gengsi. Lem itu fungsi," pikir Rafi, mencoba menerapkan logika dingin. "Nisa nggak akan memperhatikan sol sepatu kalau aku bisa menjaga langkahku tetap tenang. Tapi Nisa pasti akan memperhatikan kalau aku nggak sanggup bayar tagihan makanan di Irian nanti."
Keputusan diambil. Gengsi harus dikalahkan oleh efisiensi anggaran.
Rafi bangkit dan berjalan dengan menyeret kaki kanannya sedikit agar solnya tidak semakin lepas. Ia menuju ke sebuah toko bangunan kecil di dekat simpang jalan. Bau semen dan tiner menyambutnya. Di rak depan, ia melihat deretan lem super.
"Bang, lem yang paling kuat buat sol karet yang mana?" tanya Rafi pada penjaga toko yang sedang asyik merokok.
"Pakai yang ini, Dek. Sepuluh ribu. Tapi harus ditekan lama ya, biar gigit," jawab penjaga itu sambil memberikan sebuah botol kecil lem cair.
Rafi mengeluarkan uang sepuluh ribu dari sakunya. Uang yang seharusnya menjadi jatah menabung hari ini. Ia menatap lem itu dengan tatapan tajam. Benda kecil ini sekarang memegang kunci keberhasilan kencannya minggu depan.
Sesampainya di rumah, Rafi tidak langsung masuk ke kamar. Ia duduk di teras belakang, mengambil selembar amplas bekas yang ia temukan di gudang. Ia mulai membersihkan permukaan sol yang akan dilem. Ia melakukannya dengan sangat teliti, hampir seperti seorang ahli bedah. Debu dan kerikil kecil ia singkirkan dengan sikat gigi bekas.
Ia mengoleskan lem itu tipis-tipis namun merata. Kemudian, ia menekan bagian itu dengan sekuat tenaga. Untuk memastikan lemnya merekat sempurna, Rafi mengambil tumpukan buku pelajaran tebal—termasuk buku Matematika Peminatan yang berat—dan meletakkannya di atas sepatu itu sebagai pemberat.
Sambil menunggu lem kering, Rafi duduk di lantai semen yang dingin. Ia memperhatikan tangannya yang terkena sedikit tumpahan lem yang mengeras.
"Sepuluh ribu melayang," batinnya.
Itu artinya, besok ia tidak hanya harus makan nasi garam, tapi ia mungkin harus membawa bekal yang lebih sedikit lagi untuk menutupi pengeluaran tak terduga ini. Secara ekonomi, margin keamanannya menyusut. Sekarang tabungannya tinggal **245.000**. Setiap rupiah menjadi semakin berharga.
Malam mulai turun. Rafi mengambil sepatunya dan mencoba memakainya. Ia berjalan perlahan di dalam kamar.
*Cek... Cek...*
Tidak ada lagi bunyi *klepak-klepak*. Lemnya bekerja. Setidaknya untuk saat ini.
Rafi mengembuskan napas panjang. Masalah fisik terselesaikan dengan biaya minimal. Namun, ia menyadari satu hal: di dunianya, segala sesuatu sangat rapuh. Hari ini sepatu, besok mungkin kuota internet, lusa mungkin ongkos bus yang tiba-tiba naik karena fluktuasi harga angkutan.
Ia kembali duduk di depan meja belajarnya, menatap celengan ayam merah yang sudah tertutup selotip hitam. Ia merasa seperti sedang membangun istana dari kartu remi di tengah badai. Satu sentuhan salah, satu pengeluaran tak terduga lagi, maka semuanya akan runtuh.
"Aku nggak boleh menyerah," katanya pada diri sendiri, meskipun suaranya terdengar tidak yakin. "Nisa harus melihatku sebagai cowok yang siap, bukan cowok yang sepatunya copot di depan eskalator mall."
Ia mengambil pulpen dan mengoreksi catatannya dengan cermat.
* **Sisa Saldo:** 245.000.
* **Kebutuhan Tambahan:** 55.000.
Targetnya menjauh, namun tekadnya tidak boleh mengendur. Rafi tahu, minggu depan ia akan berdiri di depan Nisa. Dan saat itu tiba, tidak boleh ada satu inci pun dari penampilannya yang menunjukkan betapa keras perjuangannya untuk sampai ke sana. Bahkan jika itu berarti ia harus berjalan dengan hati-hati agar lem di sepatunya tidak retak.
Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi Tanjung Balai. Rafi menatap tetesan air di jendela, berharap cuaca di Kisaran minggu depan tidak akan menguji kekuatan lem sepuluh ribunya. Secara logis, ia sudah melakukan yang terbaik. Secara perasaan, ia merasa sedang berjudi dengan nasib.
---