Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Setelah perdebatan itu selesai, suasana kamar masuk ke dalam keheningan yang berat.
Nick berdiri di dekat meja beberapa saat. Ia membuka kancing mansetnya satu per satu, gerakannya cepat dan tegas, seolah masih membawa sisa emosi yang belum sepenuhnya reda.
“Aku akan mandi dulu.”
Ia langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.
Beberapa detik kemudian suara air mulai mengalir.
Tessa masih duduk di tepi ranjang.
Gaunnya masih melekat di tubuhnya, kainnya terasa berat di kulitnya, tapi ia belum punya tenaga untuk bergerak.
Pikirannya masih dipenuhi kejadian demi kejadian yang baru saja dia alami,
Semua bercampur.
Suara air dari kamar mandi terus mengalir, menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka.
Nick keluar dengan handuk di pinggangnya, Rambutnya masih basah, beberapa tetes air mengalir di sepanjang lehernya.
Ia langsung melihat Tessa yang masih duduk di tempat yang sama.
“Kau tidak akan mandi?” Tessa hanya menggeleng kecil.
“Aku nanti saja.”
Nick menatapnya beberapa saat, menilai.
“Jangan menunda hanya karena kepalamu terlalu penuh.”
Nada suaranya tidak lembut, tapi juga tidak tajam.
Lebih seperti seseorang yang terbiasa memberi instruksi.
Tessa tidak membantah.
Ia berdiri pelan, mengambil napas sebentar, lalu masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara.
Ketika ia keluar dengan sudah memakai gaun tidur pendek selutut, suasana kamar sudah berubah.
Lampu utama sudah dimatikan.
Hanya lampu kecil di sisi tempat tidur yang menyala, menyisakan cahaya hangat yang redup.
Nick sudah duduk di ranjang, bersandar pada sandaran kepala ranjang yang empuk dan lembut, Satu lutut terangkat sedikit, tangannya bertumpu di sana.
Matanya langsung terangkat ketika Tessa muncul dari kamar mandi.
“Kemari.” satu kata itu berhasil membuat tessa menegang,
Terdengar tenang, tapi tidak memberi ruang untuk ditolak.
Tessa naik ke ranjang dan duduk di sisi lain.
Ia tidak terlalu dekat.
Ada jarak kecil di antara mereka.
Nick memperhatikannya, alisnya sedikit berkerut.
“Kenapa jauh?”
“Aku tidak jauh.”
“Kau menarik diri.”
Nada suaranya mulai berubah.
Tessa menghela napas kecil.
“Aku cuma… tidak ingin membuatmu marah lagi.”
Kejujuran itu keluar begitu saja.
Dan justru membuat rahang Nick mengeras.
“Aku bukan seseorang yang harus kau takuti.”
“Iya, aku tahu.”
Hening.
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Nick menatapnya lama.
“Kalau aku keras,” katanya akhirnya, “itu karena situasinya menuntut.”
Tessa memberanikan diri menatap mata nick lurus,
“Apakah di kamar ini juga menuntut begitu?”
Pertanyaan itu disampaikan pelan.
Bukan menyerang.
Hanya ingin tahu.
Nick tidak langsung menjawab.
Ia bergeser sedikit lebih dekat, sekarang jarak di antara mereka hampir hilang.
“Aku tidak pernah membentak tanpa alasan.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak suka ketika kau melihatku seolah-olah aku orang yang salah.”
“Aku tidak melihatmu seperti itu.”
“Tatapanmu bilang sebaliknya.”
Tessa menunduk, ia memang tidak pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan.
Nick mengangkat dagunya dengan jari telunjuknya.
Gerakannya tidak kasar.
Tapi tegas.
“Lihat aku.”
Tessa perlahan menatapnya lagi.
“Aku mungkin keras,” kata Nick, suaranya lebih rendah sekarang, “tapi aku tidak pernah setengah-setengah ketika menyangkut dirimu, karena kau sekarang istriku, kau membawa separuh harga diriku, jadi jaga baik-baik,"
Nada itu berubah.
Masih dominan.
Tapi tidak lagi tajam.
“Kalau aku bilang jangan temui ayahku sendirian, itu bukan karena aku ingin mengontrol hidupmu.”
“Lalu?”
“Karena aku lebih mengenal dia.”
Nick mengusap rambutnya ke belakang dengan sedikit frustrasi.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkanmu untuk menjatuhkanku.”
Kalimat itu diucapkan lebih berat.
Tessa menghembuskan napas pelan,
“Aku tidak selemah itu…”
“Jangan membantahku." ucap nick dengan nada suaranya sedikit naik.
Beberapa detik kemudian ia menarik napas panjang, seolah menyadari dirinya hampir kembali meledak.
“Kelembutan bukan kelemahan,” katanya lebih tenang.
“Tapi di keluargaku, itu bisa jadi senjata,”
Tatapannya seperti menahan Tessa.
“Dan aku tidak mau kau terluka hanya karena kau terlalu baik.”
Kamar kembali sunyi.
Lampu redup membuat bayangan lembut di wajah mereka.
Beberapa detik berlalu sebelum Tessa akhirnya bersandar perlahan di bahu Nick.
Gerakannya sedikit ragu, takut nick tidak nyaman, tapi nick tidak menjauh.
Sebaliknya, tangannya langsung melingkar di pinggang Tessa dan menariknya sedikit lebih dekat.
Pelukannya kuat.
Terasa protektif.
“Jangan takut padaku,” katanya pelan.
Nada suaranya lebih rendah sekarang.
“Aku mungkin keras.”
Tangannya sedikit mengencang di pinggang Tessa.
“Tapi aku ada di pihakmu.”
Kalimat itu sederhana.
Tessa memejamkan mata.
Ia tidak ingin pertempuran.
Tidak ingin strategi.
Ia hanya ingin rumah yang tenang.
Dan malam itu, Ia sadar rumahnya adalah pria yang bahkan belum lama ia kenal sekarang menjadi pria yang selalu siap berperang demi dirinya.
Pagi datang perlahan.
Cahaya matahari merayap masuk melalui celah tirai.
Tessa terbangun lebih dulu.
Ia tidak langsung bergerak.
Karena lengan Nick masih melingkar erat di pinggangnya.
Tubuh pria itu menempel dari belakang, hangat dan berat. Napasnya terasa di tengkuk Tessa.
Bahkan saat tidur, pelukannya tetap seperti itu, seolah tidak ingin melepaskan.
Tessa mencoba bergerak sedikit, pelan sekali, tapi cukup untuk menganggu tidur nick.
Namun pelukan itu justru mengencang,
“Jangan lari.”
Suara Nick terdengar serak, masih dipenuhi kantuk.
“Aku cuma mau bangun…” jawab tessa setengah berbisik,
Perlahan nick membuka matanya, Tatapannya masih berat, tapi segera fokus ketika melihat wajah Tessa yang sangat dekat.
Ia diam beberapa detik.
Hanya menatap.
Tatapan Nick perlahan menyusuri wajah Tessa, dari matanya yang masih setengah terpejam, ke garis pipinya yang lembut.
Lalu tanpa sadar, pandangannya turun ke bibir Tessa.
Nick menelan ludah pelan.
Bibir Tessa yang berwarna merah muda itu sedikit terbuka karena sisa kantuk, tampak lembut dan tanpa sengaja begitu menggoda.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatapnya.
Seolah menimbang sesuatu yang tidak ia katakan.
Tessa menyadari tatapan itu.
“Kenapa?” bisiknya pelan.
Nick tidak langsung menjawab.
Tangannya terangkat, menyibakkan helai rambut yang jatuh di pipi Tessa.
Gerakannya lambat, hampir hati-hati.
Jarak di antara mereka sangat dekat sekarang.
Terlalu dekat.
Nick sempat menunduk sedikit, seolah hendak melakukan sesuatu, tapi ia menahannya,
Kendalikan dirimu, nick... Batin nick setengah frustasi,
Rahangnya menegang.
Ia menarik napas pelan, berusaha menahan diri.
Alih-alih mendekat lebih jauh, ia justru menarik Tessa ke dalam pelukannya.
Pelukan yang Kuat.
Seolah memastikan dia benar-benar ada.
Beberapa detik kemudian barulah ia melepaskannya.
“Bangun,” katanya akhirnya.
“Kita sarapan bersama.”
Nada suaranya kembali tenang.
Tapi tatapan yang tadi, belum sepenuhnya hilang.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna