SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Perseteruan Romi Dengan Devan & Shanti
Angin pagi berhembus kencang menyapu permukaan jalan, membawa aroma segar dari pepohonan yang tumbuh di pinggir trotoar. Langit teduh namun tidak mendung, sebagian besar tertutupi oleh awan putih yang lembut, membuat matahari hanya bisa menampakkan sinarnya sedikit demi sedikit seperti sedang bersembunyi—seolah malu malu kucing untuk menunjukkan diri sepenuhnya. Di kontrakan kecil di kampung Lengkong Wetan di belakang perumahan BSD yang terletak di pinggir jalan Raya Serpong, Emak Susi sudah selesai berdagang sayur di pasar bersama Romi. Keranjang-keranjang sayur yang sudah kosong tersusun rapi di sudut kamar kecil mereka, menandakan bahwa hari ini penjualan mereka cukup baik.
Setelah mereka merapihkan dan menaruh barang-barang dagangan dengan rapi, Romi langsung masuk ke kamar kecil yang menjadi kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Dia mengambil seragam SMA yang sudah dilipat rapi di atas kasur kecilnya—meskipun sudah cukup lama dipakai, seragamnya tetap terlihat bersih dan rapi karena selalu dijaga dengan baik. Romi sering terlihat kumal kusam dan rambutnya kusut saat tiba di sekolah SMA Harapan Bangsa. Hal itu tidak bisa dihindari karena rutinitasnya yang harus bangun lebih awal sekitar jam 03.00 pagi setiap hari.
Setelah subuh, Romi dan Emak Susi langsung pergi ke pasar Sewon untuk membantu berjualan sayur. Mereka berdua pergi ke pasar sebelum subuh menjelang pagi, sekitar jam 03.00, untuk membeli sayur segar langsung dari mobil truk yang membawa hasil panen dari petani sekitar. Setelah memilih dan membayar sayur-sayuran dengan harga yang sesuai, mereka kemudian menjualnya kembali ke pembeli di pasar Sewon dengan untung yang tidak terlalu besar namun cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Pulang dari Pasar biasanya sekitar jam 06.30 pagi, tepat sebelum waktu sekolah mulai.
Jarak antara kontrakan mereka dengan pasar Sewon hanya 5-7 menit jika naik ojek atau angkot, namun Romi dan Emak Susi lebih suka berjalan kaki untuk menghemat uang transportasi. Rutinitas berdagang di pasar Sewon sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka semenjak usia Romi sekitar 6 tahun—saat Bapaknya Pak Bayu Buana masih hidup dan membantu mereka berjualan. Meskipun kini hanya tinggal dia dan Emak Susi, Romi tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur bisa membantu emaaknya.
Jam sudah menunjukan pukul 07.15 WIB, sinar matahari mulai sedikit lebih terasa hangat di kulit. Romi sudah siap berangkat dan segera pamit kepada emaknya dengan penuh rasa hormat, mencium tangan Emak Susi yang kulitnya sudah mulai keriput akibat bekerja keras setiap hari.
"Kamu naik mobil angkot aja Romi, jangan jalan kaki ya sayang. Nanti kamu kecapean dan bisa jadi lesu saat belajar di kelas," tegur emak Susi dengan suara penuh kekhawatiran, tangannya masih memegang tangan Romi dengan lembut.
"Gak apa-apa emaaak, jalan kaki itu sehat untuk badan Romi lho. Selain itu bisa juga menghemat uang transportasi buat beli kebutuhan lain," jawab Romi dengan senyum hangat, mencoba membuat Emak Susi tidak terlalu khawatir.
"Tapi Rom, jarak dari kontrakan kita sampai ke sekolahmu itu sekitar 10 menit kalau kamu naik angkot lho. Sedangkan kamu hanya berjalan kaki, jadi butuh waktu sekitar 30 menit lebih atau kurang. Lumayan jauh kan? Kamu bisa saja terlambat," ucap emak Susi dengan wajah harap-harap cemas, masih kuatir Romi akan terlambat datang ke sekolah dan mendapat teguran dari guru.
"Tenang aja emak, di sekolah SMA Harapan Bangsa jadwal masuknya jam 07.45, tapi masih diperbolehkan juga jika ada siswa atau siswi yang terlambat—biasanya mereka masih ditunggu sampai jam 08.00 WIB kok. Aku sudah menghitung waktu dengan baik, pasti akan sampai tepat waktu," ucap Romi dengan penuh keyakinan, ingin membuat Emak Susi merasa tenang.
"Ya udah kalau semuanya memang sudah Romi perhitungkan dengan matang. Emak selalu mendoakan agar dirimu selamat di dunia dan di akhirat kelak... Aamiin ya robbal alamiin," ucap Emak Susi dengan suara yang sedikit bergetar, mata sudah mulai berkaca-kaca karena merasa haru melihat kesungguhan anaknya.
"Terima kasih emak atas doa yang dipanjatkan buat aku seorang. Romi berjanji akan selalu menjaga diri dan tidak akan melakukan hal yang membuat emak kecewa," ucap Romi kepada emak Susi dengan suara penuh penghargaan. Terlihat kedua belah mata Romi berkaca-kaca berlinangan air mata, merasa sangat bersyukur memiliki ibu yang selalu mencintai dan mendukungnya meskipun hidup mereka tidak mudah.
"Romi pamit emak," ucap Romi lagi sebelum mencium tangan Emak Susi untuk yang kedua kalinya.
"Ingat selalu pesan emak ya Romi. Kita hanya orang susah alias orang miskin, jadi buang jauh-jauh sifat pemarah, sifat dendam, sifat benci, sifat congkak, sifat sombong... dan juga jauhi sifat cinta kepada lawan jenis dulu ya, fokus dulu pada sekolah dan cita-citamu," ucap Emak Susi dengan suara penuh nasihat, ingin memberikan arahan terbaik untuk anaknya.
"Ya emaaak, Romi berjanji akan selalu mengingat pesan emak dan akan membuat emak serta bapak yang sudah ada di surga bangga," jawab Romi dengan tekad yang bulat, matanya menunjukkan kesungguhan yang tidak bisa diragukan lagi.
Lalu Romi membaca doa di dalam hatinya sambil mengangkat kedua tangannya sedikit ke atas. "Bismillahi tawakkaltu alallah lahaula walaquwata illabillah."
"Semoga Allah SWT melindungi Romi dari keterlambatan serta dari segala mara bahaya," ucap Romi dengan suara pelan, kemudian mengucapkan, "Aamiin."
"Emak juga bermohon kepada Allah SWT untuk menjaga kamu Romi, selalu dalam lindungan-Nya," ucap emak Susi sambil berjalan mendekati pintu kontrakan untuk melihat anaknya pergi, air matanya sudah mulai mengalir ke pipinya karena merasa sangat sayang namun bangga dengan Romi.
Kaki kekar Romi yang sudah terbiasa berjalan jauh terlihat mantab melangkah di trotoar jalan protokol. Sepatu sekolahnya yang sudah aus namun tetap kuat menginjak setiap permukaan jalan dengan mantap. Romi sudah melangkah separuh jalan menuju sekolah, melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, sehingga dia pun mempercepat langkah kakinya agar tidak terlambat sampai di sekolah.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah keluaran terbaru berwarna biru muda lewat di sebelahnya, kemudian memberi lampu sen dan berhenti tepat di depan Romi. Pintu mobil terbuka dan keluar seorang laki-laki separuh baya dengan wajah ramah yang langsung tersenyum kepada Romi.
Romi terlihat sedikit terkejut lalu langsung berlari kecil mendekatinya, wajahnya penuh dengan kegembiraan. "Paman Faizal!" teriaknya dengan senyum lebar—dia mengenali sosok laki-laki itu sebagai kakak dari Bapaknya Pak Bayu, yang jarang sekali bisa bertemu karena paman tersebut selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
"Assalamualaikum paman, bagaimana kabar paman? Paman sehat selalu ya?" ucap Romi dengan sopan, segera mencium tangan pamannya dengan penuh rasa hormat.
"Walaikumsalam Romi sayang, alhamdulilah paman baik baik dan sehat saja. Kamu mau kemana ya berjalan kaki sendirian seperti ini?" tanya Pak Faizal dengan suara ramah, melihat Romi yang sedang dalam perjalanan ke sekolah.
"Mari kita duduk di cafe itu Rom, kamu mau minum kopi atau jus buah dulu sebelum ke sekolah? Paman belikan ya," ajak Pak Faizal dengan penuh kasih sayang, menunjuk ke arah cafe kecil yang terletak di pinggir jalan.
"Mohon maaf paman, aku sudah hampir terlambat nih kalau berhenti dulu. Lain kali saja ya paman kita minum kopi di cafe itu bareng-bareng," ucap Romi dengan rasa minta maaf, tidak ingin menyia-nyiakan waktu karena sudah hampir jam masuk sekolah.
"Kalau begitu paman anter sampai ke sekolahanmu aja deh Rom. Gak usah capek-capek berjalan kaki jauh-jauh," ucap pamannya dengan suara tegas, sudah memutuskan untuk mengantar Romi agar tidak terlambat.
"Gak usah repot-repot paman, santai aja. Aku berjalan kaki agar diriku terbiasa di tempa dan menjadi lebih kuat. Jadi nanti kalau Romi sudah dewasa, sudah tidak kaget lagi kalau datang ujian dari Allah SWT," ucap Romi dengan senyum hangat, menjelaskan alasan mengapa dia lebih suka berjalan kaki.
"Masyaa Allah Tabarakallah... sungguh anak baik kamu Romi. Semoga kamu selalu amanah di jalan-Nya dan diberikan kemudahan dalam mencapai cita-citamu," ucap Pak Faizal dengan suara penuh kagum, merasa bangga dengan kepribadian Romi yang sudah sangat dewasa untuk usianya.
Akhirnya keduanya berpisah dengan senyum. Paman Faizal melanjutkan untuk berangkat ke kantornya dengan mobilnya, sementara Romi terus berjalan cepat menuju sekolah SMA Harapan Bangsa dengan langkah yang semakin mantap.
Setelah sekitar 27 menit berjalan, Romi akhirnya sampai di pintu gerbang sekolah tepat pada pukul 07.43 WIB. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan napasnya yang sedikit terengah-engah, kemudian menyeberangi halaman sekolah yang sudah mulai ramai dengan siswa dan siswi yang sedang masuk kelas.
Romi terus melangkah masuk ke dalam sekolah dengan tenang, tanpa sadar seseorang sedang memanggil-manggil namanya dari arah lorong belakang gedung.