Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengejaran Tanpa Suara
Dua minggu setelah operasi yang merenggut separuh kekuatannya, Ara akhirnya diizinkan pulang. Namun, ia tidak pulang ke rumah besar keluarga Wren, melainkan ke sebuah apartemen kecil yang ia sewa sendiri sebelum insiden parkiran itu terjadi. Ia menolak tawaran Alaska untuk tinggal di penthouse-nya, dan tentu saja, ia mengabaikan kunci rumah yang diberikan Devan.
Pagi itu, suasana kantor firma hukum Ara masih sepi. Ara melangkah perlahan, satu tangannya masih sering menyentuh perutnya yang terkadang masih terasa berdenyut jika ia berjalan terlalu cepat. Di depan pintu ruangannya, ia menemukan sebuah tas pendingin (cooler bag) berwarna abu-abu elegan dengan kartu kecil tanpa nama.
"Lagi?" gumam Ara.
Ini adalah hari kelima sejak ia kembali bekerja. Di dalamnya selalu ada bubur gandum halus, sup kaldu tulang yang kaya nutrisi, dan jus buah yang tidak asam. Semua disesuaikan dengan diet ketat pasca-operasi lambung.
"Ra, kau sudah datang?" Alaska muncul dari balik lorong, membawa buket bunga matahari yang cerah. Ia mengernyit melihat tas pendingin itu. "Siapa yang mengiriminya kali ini? Apa itu dari si 'Dokter Robot'?"
Ara membuka tas itu, menemukan menu hari ini: Sup Ayam Jahe dengan tekstur yang sangat lembut. "Tidak ada nama, Al. Tapi rasanya... familiar."
"Familiar karena itu adalah resep diet medis yang hanya diketahui oleh ahli gizi rumah sakit... atau dokter yang terlalu terobsesi padamu," Alaska mendengus, ia duduk di kursi depan meja kerja Ara. "Kenapa tidak kau buang saja? Aku bisa memesankan katering bintang lima untukmu setiap jam."
"Jangan, Al. Mubazir," jawab Ara pelan. Ia menyuap sesendok sup hangat itu. Rasa hangatnya menjalar, menenangkan lambungnya yang sensitif. "Rasanya tidak seperti makanan restoran. Rasanya seperti... makanan yang dimasak dengan sangat teliti. Suhu airnya, takaran garamnya... semuanya presisi."
Di Sisi Lain Kota...
Di dapur rumahnya yang biasanya hanya berisi alat-alat sterilisasi, Devan berdiri mengenakan celemek di depan kompor. Di sampingnya bukan lagi mikroskop, melainkan timbangan digital kecil untuk mengukur kalori dan kadar keasaman makanan.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari asisten Ara yang ia bayar diam-diam untuk memberikan laporan.
Asisten Ara: "Dokter, Ibu Arabella sudah memakan supnya. Dia menghabiskannya setengah porsi hari ini. Kondisinya tampak lebih baik, meskipun tadi sempat meringis sebentar."
Devan menghela napas lega. Ia mencatat di sebuah buku khusus: Hari ke-5, dosis jahe ditingkatkan, respons positif. Kurangi tekstur serat besok.
"Dokter Devan?" seorang kolega forensik meneleponnya. "Kau tidak ke laboratorium hari ini? Ada kasus baru yang butuh ketelitianmu."
"Aku sedang sibuk dengan 'kasus' yang lebih mendesak, Hendra," jawab Devan sambil mencuci panci kecilnya. "Kirimkan saja datanya ke email. Aku akan memeriksanya malam nanti."
"Kau benar-benar berubah, Dev. Dari membedah mayat jadi membedah resep bubur," goda rekannya itu sebelum menutup telepon.
Pertemuan yang Tak Terduga
Sore harinya, Ara keluar dari kantornya dengan langkah sedikit terburu-buru karena hujan mulai turun. Ia bermaksud mencari taksi, namun sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah Devan yang tampak lebih manusiawi, tanpa tatapan dingin yang biasanya menghunus.
"Mas... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ara, ia memeluk tasnya erat, ada rasa was-was yang masih tersisa di perutnya.
"Hujan, Ara. Kau tidak boleh kedinginan, itu akan membuat otot perutmu kaku lagi," Devan keluar dari mobil, membawa payung besar dan melindunginya di atas kepala Ara. Ia tidak berani mendekat lebih dari satu meter, menghormati jarak yang Ara minta.
"Aku bisa pesan taksi online," tolak Ara halus.
"Taksi akan lama di jam seperti ini. Masuklah, aku hanya akan mengantarmu sampai lobi apartemen. Aku tidak akan turun, aku janji," suara Devan terdengar memohon.
Ara terdiam sejenak. Dinginnya angin sore mulai menembus blazernya. Akhirnya, ia mengangguk dan masuk ke kursi belakang—bukan kursi depan di samping Devan.
Keheningan di dalam mobil terasa berat. Devan sesekali melirik dari spion tengah, memperhatikan wajah Ara yang masih sedikit pucat.
"Supnya... apa cocok di lidahmu?" tanya Devan tiba-tiba.
Ara tersentak. Jadi benar. "Jadi itu darimu? Mas, kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Kau mengurus dirimu sendiri sampai lambungmu berlubang, Ara," suara Devan sedikit meninggi, namun segera ia redam. "Maaf. Aku tidak bermaksud membentak. Aku hanya... aku hanya ingin memastikan kau tetap hidup. Aku tidak bisa tidur memikirkan apakah kau sudah makan atau belum."
"Kenapa baru sekarang?" tanya Ara, suaranya parau. "Kenapa perhatian ini tidak ada saat aku duduk menunggumu di meja makan selama lima tahun? Kenapa kau baru repot memasak saat aku sudah tidak punya nafsu makan lagi?"
Pertanyaan itu seperti tamparan bagi Devan. Ia mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Karena aku bodoh, Ara. Karena aku dulu menganggap kehadiranmu adalah sesuatu yang permanen, sesuatu yang akan selalu ada tanpa perlu kurawat. Aku terbiasa dengan kematian, sampai aku lupa bagaimana cara menghargai kehidupan yang ada di depanku."
Mobil berhenti di lobi apartemen Ara. Hujan masih deras.
"Terima kasih untuk tumpangannya... dan makanannya," ucap Ara. Saat ia hendak membuka pintu, Devan memanggilnya lagi.
"Ara."
Ara menoleh.
"Aku akan terus mengiriminya. Kau boleh membuangnya, kau boleh memberikannya pada orang lain, tapi aku akan tetap mengirimnya. Itu adalah caraku untuk tetap bernapas di dunia yang sudah tidak ada kaunya lagi."
Ara tidak menjawab. Ia keluar dari mobil dan berlari masuk ke lobi. Sesampainya di unit apartemennya, ia bersandar di balik pintu, memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia benci betapa konsistennya Devan sekarang, dan ia benci betapa sup hangat tadi terasa seperti pelukan yang selama ini ia idamkan.
Di bawah sana, Devan masih memarkir mobilnya selama satu jam, menatap jendela apartemen Ara yang menyala, memastikan wanita itu benar-benar aman sebelum ia kembali ke rumahnya yang kosong.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/