"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh
Meira membuka pintu kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk mandi. Tubuhnya terpaku di ambang pintu ketika melihat seorang wanita berdiri membelakanginya di ruang tengah. Wanita itu sibuk mengelilingkan pandangannya. Melihat-lihat sekeliling rumah milik Nenek Ayara.
"Ma-ma?" Meira mendekat dan berdiri tepat di hadapan wanita itu.
Wanita itu tiba-tiba saja berbalik, membuat Meira secara spontan mundur satu langkah. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Wanita itu masih tidak bicara apa-apa. Ia berjalan mendekati Meira, kemudian menyentuh kedua bahunya lembut. Sebelah tangannya kini bergerak membelai pipi Meira yang terasa dingin.
"Meira, Mama disini sayang."
Untuk waktu yang cukup lama, Meira belum juga berhasil menemukan kesadarannya sendiri. Semua ini terlalu mengejutkan baginya. Benarkah yang dihadapannya sekarang adalah Mama nya? Berarti selama ini Mama nya masih hidup?
Wanita itu menampilkan senyuman lebarnya. Senyuman yang selama ini Meira rindukan. Digenggamnya erat tangan Meira.
"Mama?"
Meira memberanikan diri menyentuh wajah Mamanya, kemudian membekap mulutnya sendiri, menahan luapan bahagia.
Ini benar-benar Mama nya.
Akhirnya, penantiannya selama enam tahun berbuah juga. Mama nya sudah kembali. Meira sungguh senang luar biasa saat ini.
"Meira.."
"Iya, Ma, ini Meira. Meira kangen banget sama Mama." Meira berseru riang. Kemudian memeluk wanita di hadapannya erat sekali.
"Meira Adisty, lo dengar gue gak?"
Meira mengangguk kuat-kuat ketika merasakan guncangan tubuhnya semakin kencang.
Lalu, entah apa yang terjadi. Meira merasa guncangan itu terlalu kuat. Sampai, sedetik kemudian ia menemukan dirinya sudah berdiri di ruang tengah bersama dengan Ayara di hadapannya. Kedua tangan Ayara berada di bahu Meira. Sedangkan posisi tangan Meira memeluk tubuhnya sendiri.
"Lo kenapa sih, Mei?" tanya Ayara dengan wajah khawatir.
Meira mengerjapkan matanya beberapa kali hingga kesadarannya mulai normal kembali. Kepalanya celingukan ke belakang tubuh Ayara, seperti mencari sesuatu.
"Ayara? Sejak kapan kamu disini, Mama mana?" katanya bingung.
Ayara yang kelihatannya sudah bingung malah ditambah bingung dengan pertanyaan dari Meira. Apa yang ia maksud? Mama siapa?
"Maksud lo apa, harusnya gue yang tanya, lo kenapa keluar dari kamar mandi langsung bengong begitu?" Ayara melepaskan pegangannya pada bahu Meira.
Meira terdiam mendengar perkataan Ayara. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa detik yang lalu, ketika tiba-tiba Mama nya mendatanginya. Hal itu sangat terasa nyata baginya, sampai Meira tidak sadar kalau kejadian tadi hanyalah sebuah halusinasi semata.
"Meira, lo denger gue kan?"
Meira terkesiap. "I-iya, Ra, aku denger kok." katanya lesu. Hatinya perih saat mengingat hal yang baru saja terjadi. Matanya terasa memanas, namun berusaha ditahan untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Gue bawa anak kelas, mereka mau rundingin tugas proyek buat akhir semester. Tolong bikinin minuman dong, gue mau ganti baju dulu." Ayara menggeser badannya sedikit dan menunjuk keberadaan teman-teman kelasnya di ruang tamu menggunakan dagunya.
Meira mengangguki. "Oh, oke." suaranya terdengar serak.
Ayara mengacungkan jempol sambil berucap 'oke', setelahnya ia langsung berlari kecil menuju kamar.
Meira membuang napas kasar sejenak, lalu menyimpan handuk yang telah digunakan pada tempat semula. Kakinya berjalan gontai ke arah dapur.
Beberapa saat setelah sampai di dapur, Meira tidak langsung menuruti perintah Ayara untuk membuat minuman. Tetapi ia malah berdiri di depan wastafel, menatap hampa keran yang menempel di atasnya. Sekarang matanya terasa memanas, siap menumpahkan isinya.
"Kenapa Mama ninggalin Meira..." kedua tangan Meira tumpukan pada wastafel itu, air matanya menetes ketika ia menundukkan kepalanya.
"Meira kangen Mama.." air mata Meira mengalir semakin deras, hingga menimbulkan isakan kecil.
"Heh, ngapain lo disini? Ngintipin Meira, ya?!"
Meira terkejut, ia langsung mengusap air mata di pipinya cepat dan menengokkan kepala pada sumber suara. Matanya menangkap Ayara dan Ilham yang berdiri tak jauh darinya.
"Sembarangan lo, siapa juga yang ngintip." sahut Ilham gugup.
Ayara tidak percaya begitu saja. Ia menyipitkan mata menatap Ilham curiga. Hal ini membuat Ilham perlu menegaskan sekali lagi alasannya berada di dapur.
"Gue tadi mau ke toilet. Karena nggak tau letak toiletnya dimana, jadinya gue nyasar kesini." jelas Ilham, kali ini lebih detail.
Ayara menatap Ilham beberapa saat, kemudian bersuara. "Oke, gue percaya. Toilet sebelah sana, dari ruang tengah lo harusnya ke kanan bukan ke kiri." ujar Ayara yang langsung mendapat anggukan dari Ilham.
"Okey, Sorry." Ilham mengacungkan jempolnya lalu berjalan menjauh dari Ayara dan Meira.
"Ada-ada aja tuh orang." Ayara menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Oh iya, Mei, gue boleh pinjam hp lo bentar gak, mau order makanan nih. Hp gue lowbat soalnya." Perhatian Ayara beralih pada Meira yang masih berdiri tegak di depan wastafel.
Keningnya berkerut melihat mata Meira yang memerah. "Lo nangis?"
Kepala Meira menggeleng. "Nggak tadi mataku gak sengaja kena sabun, abis cuci piring." ia beralasan.
Ayara mengalihkan pandangannya ke arah wastafel yang terlihat kosong, tidak ada piring satupun disana. Piring yang ada di rak samping wastafelnya juga terlihat kering, tidak ada tanda-tanda selesai tercuci.
"Hp-ku ada di kamar, kamu ambil aja. Aku lanjut buat minuman." katanya mengalihkan pembicaraan.
Meira bergerak tidak lama berselang. Ia berjalan ke arah rak lemari hendak mengambil gelas, sambil memperhatikan Ayara yang ternyata sudah berjalan menjauh. Entah Ayara percaya atau tidak dengan alasannya, Meira tak terlalu memperdulikan. Harapannya saat ini hanyalah kehadiran Mamanya. Bukan dalam ilusi seperti yang dirasakannya tadi. Tapi di dunia nyata. Meira ingin Mamanya kembali ke kehidupannya.
Dibukanya pintu lemari es, kemudian mengambil teko berisi air perasan jeruk disana. Meira menuangkannya ke dalam enam buah gelas dengan hati-hati. Setelah selesai, ia memindahkan gelas itu ke atas nampan satu persatu.
"Biar aku bantu."
Meira terkejut ketika merasakan ada uluran tangan dari arah samping.
"Eh? Kamu bukannya tadi ke toilet?" tanya Meira bingung melihat keberadaan Ilham.
Ilham tersenyum tipis. "Udah selesai, sekarang aku mau bantu kamu, sini." cowok itu meraih nampan berisi empat gelas lalu membawanya keluar dari dapur, diikuti oleh Meira di belakang.
"Oh iya, Mei, kita satu kelompok, lho." kata Ilham di sela perjalanan menuju ruang tamu.
"Beneran? Cuma berdua?"
"Nggak—"
"DORR!" seru Haris di balik tembok, hendak mengagetkan Ilham.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰