Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Luka, Antiseptik, dan Ratu Sang Iblis
Sinar matahari pagi perlahan merayap naik menembus dinding kaca raksasa penthouse, menyiramkan cahaya keemasan yang pucat ke atas karpet tebal di ruang tengah. Di sanalah mereka berdua masih duduk bersimpuh. Isakan tangis Nadin Kirana telah mereda, menyisakan napas yang sedikit tersengal dan getaran pelan di bahunya.
Nadin perlahan melonggarkan pelukannya dari leher Gilang Mahendra. Dia menarik tubuhnya mundur sedikit agar bisa menatap wajah pria itu dengan lebih jelas. Di bawah cahaya pagi, luka-luka di wajah Gilang terlihat jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Sudut bibir pria itu membengkak dengan warna keunguan yang pekat, dan ada robekan kecil di pelipis kirinya yang darahnya sudah mulai mengering.
Melihat wajah tampan yang biasanya selalu terlihat sempurna dan tidak tersentuh itu kini babak belur demi keluarganya, dada Nadin kembali berdesir perih.
"Anda harus diobati, Gilang," bisik Nadin dengan suara serak. Tangannya yang gemetar terangkat, ingin menyentuh luka di pelipis pria itu, namun dia menghentikan gerakannya di udara karena takut memberikan rasa sakit tambahan.
Gilang menatap tangan Nadin yang menggantung di udara, lalu tangan besar Gilang terulur menangkap jemari wanita itu. Pria itu menempelkan telapak tangan Nadin ke pipinya yang tidak terluka, memejamkan mata sesaat untuk menikmati kehangatan sentuhan Nadin.
"Duduklah di sofa," perintah Gilang pelan. Pria itu membuka matanya, menatap Nadin dengan sorot kepemilikan yang sangat dalam. "Aku akan menyuruh pelayan membawakan kotak obat."
"Biar saya yang mengambilnya," potong Nadin cepat. Dia menarik tangannya dengan lembut. "Saya tahu di mana pelayan menyimpan kotak pertolongan pertama. Anda duduklah di sofa. Anda kehilangan banyak tenaga."
Tanpa menunggu bantahan dari Gilang, Nadin berdiri. Kakinya masih terasa sedikit kebas karena terlalu lama berlutut, namun dorongan untuk merawat pria ini mengalahkan rasa lelahnya. Dia berjalan setengah berlari menuju lorong dapur, membuka salah satu laci kabinet kayu di sana, dan mengambil kotak obat berukuran besar berwarna putih.
Saat Nadin kembali ke ruang tengah, Gilang sudah duduk bersandar di atas sofa kulit. Pria itu telah melepaskan kaus hitamnya yang kotor oleh darah dan debu, melemparkannya begitu saja ke lantai. Dada telanjang Gilang kini terekspos sepenuhnya. Nadin menahan napasnya saat melihat beberapa memar berukuran besar berwarna biru kemerahan menghiasi tulang rusuk bagian kiri pria itu. Bastian dan anak buahnya pasti menyerang Gilang dengan sangat brutal semalam.
Nadin duduk di sebelah Gilang, meletakkan kotak obat itu di atas meja kaca. Dia membuka kotaknya, mengeluarkan kapas, cairan antiseptik, salep pereda memar, dan beberapa lembar plester luka.
"Ini mungkin akan sedikit perih," ucap Nadin pelan. Dia menuangkan cairan antiseptik ke atas gumpalan kapas putih.
"Lakukan saja," jawab Gilang datar. Pria itu memutar tubuhnya sedikit agar menghadap Nadin sepenuhnya. Kedua lengannya disandarkan pada bagian atas sofa.
Nadin mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak mereka kini sangat dekat hingga Nadin bisa merasakan hawa panas yang memancar dari kulit dada pria itu. Nadin menahan napasnya, lalu menempelkan kapas basah itu dengan sangat hati-hati ke atas luka robek di pelipis Gilang.
Otot rahang Gilang menegang sesaat, namun pria itu tidak mengeluarkan suara rintihan sedikit pun. Mata hitam Gilang justru menatap lurus ke dalam mata Nadin, tidak berkedip sama sekali. Tatapan itu terasa sangat berat, seolah Gilang sedang berusaha menguliti setiap lapisan emosi yang ada di dalam kepala Nadin saat ini.
"Kenapa Anda pergi sendirian ke gudang itu, Gilang?" tanya Nadin untuk memecah keheningan yang mencekik di antara mereka. Dia membuang kapas yang kotor, mengambil kapas baru, dan mulai membersihkan luka di sudut bibir pria itu. "Anda memiliki ratusan anak buah. Dimas bisa saja mengerahkan seluruh tim keamanan untuk menyerbu tempat itu tanpa Anda harus turun tangan langsung dan terluka seperti ini."
"Bastian bukan pria bodoh yang akan menyerah hanya karena digertak oleh anak buah," jawab Gilang dengan suara yang sangat rendah. Hembusan napas pria itu menerpa dagu Nadin. "Bastian ingin menghancurkan egoku. Dia ingin melihatku memohon. Jika aku mengirim Dimas, Bastian akan menggunakan ayahmu sebagai perisai hidup dan membunuhnya di tempat. Satu-satunya cara untuk membuat Bastian lengah adalah dengan datang sendirian dan menantangnya secara langsung."
Tangan Nadin terhenti di udara. Jantungnya berdetak sangat kencang. "Anda mempertaruhkan nyawa Anda sendiri demi ayah saya?"
Gilang mengangkat tangan kanannya yang lecet, menangkup sisi wajah Nadin. Ibu jari pria itu mengusap tulang pipi Nadin yang masih basah oleh sisa air mata.
"Sudah kubilang, Nadin. Aku melakukan ini bukan demi ayahmu," desis Gilang. Mata pria itu menyala oleh obsesi yang sangat kelam. "Aku melakukan ini demi dirimu. Kau mengira Bastian bisa menyelamatkanmu dariku. Kau mengira Bastian lebih kuat dariku. Aku harus menghancurkan pemikiran itu secara langsung di depan mata kepala Bastian sendiri. Aku harus menunjukkan padanya bahwa dia tidak akan pernah bisa menyentuh apa yang sudah menjadi milikku."
Nadin menelan ludahnya yang terasa kering. Dia kembali melanjutkan membersihkan luka Gilang untuk mengalihkan rasa gugupnya. Setelah luka di wajah selesai dibersihkan dan diberi plester, pandangan Nadin turun ke arah dada dan tulang rusuk Gilang.
Nadin mengambil salep pereda memar dari dalam kotak obat. Dia memeras sedikit salep bening itu ke ujung jarinya yang ramping, lalu menempelkannya perlahan ke atas memar kebiruan di tulang rusuk Gilang.
Seketika itu juga, dada Gilang naik turun dengan cepat. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena sentuhan jari Nadin yang sangat lembut dan hati-hati di kulitnya. Sentuhan itu menciptakan aliran listrik yang menjalar langsung ke pusat sarafnya. Gilang menatap leher jenjang Nadin yang menunduk, mengawasi setiap pergerakan wanita itu dengan gairah yang mulai bangkit kembali mengalahkan rasa lelahnya.
Nadin mengusap salep itu dengan gerakan melingkar yang sangat pelan. Dia bisa merasakan otot-otot perut Gilang mengeras di bawah sentuhannya.
"Luka di tangan Anda," gumam Nadin, mencoba mengalihkan pikirannya dari ketegangan fisik yang mulai memanas di udara. Dia meraih tangan kanan Gilang yang penuh lecet dan mulai mengusapkan antiseptik di sana. "Apakah Bastian juga terluka parah?"
"Bastian harus menjalani operasi rahang pagi ini," jawab Gilang dengan nada sangat dingin dan tanpa penyesalan. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya. "Dan dia kehilangan tiga gigi depannya. Dia tidak akan bisa tersenyum karismatik di depan media selama berbulan-bulan."
Nadin tersentak pelan mendengar detail kekerasan tersebut, namun entah mengapa, tidak ada rasa simpati sedikit pun di dalam hatinya untuk Bastian. Pria itu pantas mendapatkannya. Bastian telah mencoba memanipulasinya dan nyaris membuat ayahnya terbunuh.
"Lalu bagaimana dengan polisi?" tanya Nadin dengan nada khawatir. Dia meletakkan kapas dan menutup kotak obat. "Jika Bastian terluka parah, dia bisa melaporkan Anda atas tuduhan penyerangan. Dan Anda juga meretas sistem perusahaannya dengan virus. Ini bisa menjadi masalah hukum yang sangat besar bagi Mahendra Corp."
Gilang meraih pergelangan tangan Nadin, menarik wanita itu hingga Nadin jatuh dan duduk di atas pangkuan pria itu. Nadin terkesiap pelan, namun dia tidak melawan sama sekali. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu telanjang Gilang untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Bastian tidak akan berani melaporkan apa pun pada polisi," bisik Gilang dengan penuh keyakinan. Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Nadin, menahan wanita itu erat-erat di atas pangkuannya. "Gudang bawah tanah itu adalah properti ilegal yang digunakan perusahaannya untuk menyekap para pemilik lahan yang tidak mau menjual tanah mereka. Jika polisi menyelidiki penyerangan itu, rahasia kotor perusahaannya akan terbongkar. Bastian akan lebih memilih mengunci mulutnya rapat-rapat."
"Dan virus yang saya masukkan ke komputer Anda kemarin?" tanya Nadin pelan, rasa bersalah kembali menyelimuti nada suaranya.
"Virus itu sudah menghancurkan seluruh cadangan data server Wirawan Group sejak tadi malam," jelas Gilang. Mata pria itu tidak berkedip menatap Nadin. "Mereka kehilangan data vendor, data tender masa depan, dan akses perbankan mereka dibekukan secara otomatis oleh sistem keamanan bank karena terdeteksi adanya peretasan massal. Perusahaan Bastian saat ini sedang berada dalam kondisi lumpuh total."
Mendengar penjelasan itu, Nadin baru benar-benar menyadari betapa mengerikannya kekuatan pria yang sedang memangkunya ini. Gilang Mahendra bukan hanya seorang pebisnis. Pria ini adalah seorang ahli strategi perang yang bisa menghancurkan kerajaan musuhnya hanya dalam waktu semalam, tanpa perlu mengangkat senjata api sama sekali.
Dan Nadin telah menyerahkan dirinya secara penuh kepada monster ini.
Suara ketukan pelan dari arah pintu utama penthouse membuyarkan gejolak pikiran Nadin. Dimas melangkah masuk setelah mendapatkan akses hijau dari sistem keamanan. Asisten setia itu terlihat sangat rapi dalam balutan jas hitamnya, seolah dia tidak baru saja ikut serta dalam penyerbuan berdarah beberapa jam yang lalu.
Melihat posisi Nadin yang duduk di atas pangkuan tuannya, Dimas segera menghentikan langkahnya dan menundukkan pandangannya ke arah karpet.
"Mohon maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Mahendra," lapor Dimas dengan suara datar dan profesional. "Saya baru saja mendapatkan laporan dari rumah sakit. Operasi penyelamatan Tuan Herman Kirana berjalan lancar. Beliau sudah melewati masa kritis dan saat ini sedang dalam pengaruh obat penenang di ruang isolasi khusus. Kondisinya stabil."
Mendengar laporan itu, tubuh Nadin langsung melemas karena lega yang luar biasa. Beban raksasa yang menimpa dadanya sejak kemarin siang akhirnya terangkat sepenuhnya. Ayahnya selamat.
"Terima kasih, Dimas. Tolong pastikan penjagaan di rumah sakit itu diperketat. Tidak boleh ada satu orang pun yang bisa menemui ayah saya tanpa seizin Tuan Mahendra," ucap Nadin secara otomatis. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, sebuah bukti betapa cepatnya dia beradaptasi dengan kenyataan barunya. Nadin kini menempatkan kekuasaan Gilang sebagai pelindung utamanya.
Mendengar instruksi Nadin yang sangat tegas itu, Gilang tersenyum puas. Pria itu menatap Dimas.
"Kau dengar apa yang dikatakan oleh ratuku, Dimas?" perintah Gilang dengan suara bariton yang berat. Penggunaan kata ganti itu membuat jantung Nadin berdebar sangat kencang. "Laksanakan perintahnya. Dan siapkan jadwal rapat darurat dengan seluruh kepala divisi Mahendra Corp siang ini. Kita akan melancarkan serangan akhir untuk menghancurkan Wirawan Group mumpung mereka sedang lumpuh."
"Baik, Tuan Mahendra. Saya akan segera menyiapkannya. Permisi," Dimas membungkuk hormat lalu berbalik dan keluar dari penthouse dengan cepat.
Kini hanya tersisa mereka berdua kembali di ruang tengah yang sepi. Cahaya matahari pagi sudah semakin terang, menyinari setiap sudut ruangan yang mewah tersebut.
Gilang menatap wajah Nadin lekat-lekat. Tangan pria itu membelai punggung Nadin dari balik gaun katun yang tipis, memberikan sentuhan yang membuat bulu kuduk Nadin meremang.
"Ayahmu sudah aman. Adikmu akan segera mendapatkan transplantasi ginjalnya," bisik Gilang pelan. Hembusan napas pria itu menerpa telinga Nadin. "Sekarang, tidak ada lagi beban di pundakmu. Tidak ada lagi rahasia di antara kita. Tidak ada lagi orang yang bisa memanipulasimu."
Nadin menganggukkan kepalanya perlahan. Dia menatap lurus ke dalam mata gelap Gilang. Rasa takut yang selama ini mengikatnya telah lenyap, digantikan oleh sebuah kepastian yang sangat kuat. Dia tahu siapa pria ini. Dia tahu kekejaman apa yang bisa dilakukan oleh Gilang. Namun, Nadin juga tahu bahwa selama dia memihak pada pria ini, seluruh dunia akan bertekuk lutut di bawah kakinya.
"Saya mengerti, Gilang," ucap Nadin dengan suara yang sangat jernih dan mantap. Dia meletakkan telapak tangannya di dada Gilang, tepat di atas letak jantung pria itu. "Saya tidak akan pernah meragukan Anda lagi. Saya akan menjadi apa pun yang Anda inginkan."
"Apa pun?" tantang Gilang. Alis pria itu terangkat sebelah. Gairah yang sedari tadi ditahannya kini mulai mengambil alih seluruh akal sehatnya.
"Apa pun," jawab Nadin tanpa ragu.
Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan menabrakkan bibirnya ke bibir Gilang. Kali ini, bukan Gilang yang memulai. Nadin yang mengambil inisiatif. Ciuman itu tidak dipenuhi oleh rasa takut atau keputusasaan seperti malam-malam sebelumnya. Ciuman itu adalah sebuah pernyataan penyerahan diri yang absolut dan sukarela.
Gilang menggeram rendah, menyambut ciuman itu dengan rasa lapar yang mematikan. Tangan pria itu mencengkeram pinggang Nadin, memperdalam ciuman mereka hingga Nadin kesulitan bernapas. Gilang mengabaikan rasa perih di sudut bibirnya yang terluka. Rasa darah yang samar-samar terasa di lidah mereka justru menambah intensitas ciuman tersebut, seolah menyegel perjanjian baru di antara mereka.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Gilang berdiri dari sofa, menggendong Nadin dengan sangat mudah seolah wanita itu tidak memiliki berat sama sekali. Pria itu berjalan panjang menuju kamar utama, menendang pintu hingga terbuka, dan membawa Nadin menuju ranjang raksasa di tengah ruangan.
Pagi itu, di dalam sangkar emas yang dipenuhi cahaya matahari, tidak ada lagi perlawanan. Nadin telah membuang seluruh masa lalunya, memeluk kegelapan yang ditawarkan oleh Gilang Mahendra, dan mengubah dirinya menjadi ratu yang siap berdiri berdampingan dengan sang iblis untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan mereka. Perjalanan panjang dari kebencian menuju obsesi yang mematikan akhirnya mencapai titik puncaknya, mengikat dua jiwa yang rusak dalam sebuah hubungan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun.