NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Akrom Kafa Bihi

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tak Terlihat

Pagi itu langit Jakarta tampak kelabu, seolah menyimpan firasat buruk. Dari jendela besar ruang kerjanya, Arkan Wijaya berdiri dengan tangan terlipat di dada, memandang lalu lintas yang mulai ramai di bawah sana. Sudah beberapa hari sejak kejadian di proyek pembangunan yang menewaskan ayah Aluna, dan suasana di rumah mereka masih terasa berat.

Di ruang makan rumah besar itu, Aluna duduk diam dengan secangkir teh yang sudah dingin. Ia hampir tidak menyentuh sarapannya.

Malam-malamnya dipenuhi bayangan terakhir ayahnya.

Kata-kata yang tak sempat diucapkan.

Penyesalan yang terus menghantui.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Arkan masuk ke ruang makan dengan kemeja kerja rapi, ekspresinya seperti biasa—dingin dan sulit ditebak.

Namun saat melihat Aluna yang pucat, matanya sedikit melembut.

“Kamu harus makan,” katanya singkat.

Aluna tidak menjawab.

Ia hanya menatap meja.

Arkan menarik kursi di depannya.

“Kalau kamu terus seperti ini, kamu akan jatuh sakit.”

Aluna akhirnya berbicara, suaranya pelan.

“Aku masih belum percaya Ayah sudah tidak ada.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Arkan tidak pandai menghadapi kesedihan orang lain.

Namun entah kenapa, melihat Aluna seperti ini membuat dadanya terasa sesak.

“Kecelakaan di proyek itu… masih sedang diselidiki,” katanya akhirnya.

Aluna mengangkat kepala.

“Apa maksudmu?”

“Polisi menemukan beberapa hal yang tidak wajar.”

Jantung Aluna berdegup lebih cepat.

“Tidak wajar?”

Arkan menatapnya serius.

“Sepertinya bukan kecelakaan biasa.”

Teh di tangan Aluna bergetar.

“Jadi… Ayahku…?”

“Aku belum bisa memastikan apa pun.”

Namun kata-kata itu sudah cukup membuat dunia Aluna kembali runtuh.

Jika ayahnya bukan meninggal karena kecelakaan…

Lalu siapa yang melakukannya?

Dan kenapa?

Di kantor pusat Wijaya Group, suasana tampak sibuk seperti biasa.

Namun di balik pintu ruang CEO, percakapan yang terjadi jauh dari kata biasa.

Bima berdiri di depan meja Arkan dengan wajah serius.

“Aku sudah mengecek laporan proyek tempat ayah Aluna bekerja.”

Arkan mengangkat alis.

“Dan?”

“Ada sesuatu yang aneh.”

Arkan bersandar di kursinya.

“Jelaskan.”

Bima meletakkan beberapa dokumen di meja.

“Beberapa hari sebelum kecelakaan, ayah Aluna sempat melaporkan adanya masalah dalam struktur bangunan.”

“Masalah?”

“Ya. Ada bahan bangunan yang kualitasnya lebih rendah dari standar.”

Mata Arkan menyipit.

“Itu berarti seseorang sengaja menggantinya.”

Bima mengangguk.

“Dan orang pertama yang menyadari itu adalah ayah Aluna.”

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

Jika ayah Aluna menemukan penyimpangan itu…

Maka sangat mungkin seseorang ingin menutup mulutnya.

Arkan mengetuk meja perlahan.

“Siapa yang bertanggung jawab atas pengadaan bahan bangunan itu?”

Bima membuka halaman terakhir dokumen.

Nama yang tertulis di sana membuat Arkan terdiam beberapa detik.

“…Rudi Santoso.”

Arkan mengerutkan kening.

Nama itu tidak asing.

Rudi adalah salah satu manajer lama di perusahaan.

Orang yang dipercaya oleh banyak orang.

Namun jika benar dia terlibat…

Ini bukan sekadar masalah proyek.

Ini bisa menjadi skandal besar.

“Terus selidiki,” kata Arkan akhirnya.

Bima mengangguk.

Namun sebelum ia pergi, ia menambahkan sesuatu.

“Ada satu hal lagi.”

Arkan menatapnya.

“Apa?”

Bima terlihat ragu sejenak.

“Beberapa saksi di lokasi proyek mengatakan mereka melihat seseorang berbicara dengan ayah Aluna sebelum kecelakaan terjadi.”

“Siapa?”

Bima menarik napas.

“Seorang wanita.”

Arkan mengerutkan kening.

“Wanita?”

“Ya.”

“Apakah mereka tahu siapa dia?”

Bima menggeleng.

“Tidak jelas. Tapi mereka bilang wanita itu terlihat sangat marah.”

Pikiran Arkan langsung memikirkan satu kemungkinan.

Clara.

Sementara itu, di sebuah kafe mewah di pusat kota, Clara duduk dengan anggun di kursi dekat jendela.

Ia mengaduk kopinya perlahan.

Di depannya duduk seorang pria paruh baya dengan wajah gelisah.

“Tenang saja,” kata Clara dengan senyum tipis.

“Tidak ada yang akan mencurigaimu.”

Pria itu berkeringat.

“Tapi… kecelakaan itu terlalu cepat terjadi. Jika mereka menyelidikinya—”

Clara memotongnya.

“Apakah ada bukti?”

Pria itu terdiam.

Clara menatapnya tajam.

“Kalau tidak ada bukti, maka tidak ada masalah.”

Ia menyesap kopinya dengan santai.

Namun matanya dipenuhi sesuatu yang gelap.

“Lagipula… pria tua itu hanya hambatan kecil.”

Pria di depannya menelan ludah.

“Kamu benar-benar tidak merasa bersalah?”

Clara tertawa pelan.

“Bersalah?”

Ia mencondongkan tubuhnya.

“Jika aku tidak melakukan apa yang perlu dilakukan, Aluna akan tetap berada di sisi Arkan.”

Matanya menyipit dingin.

“Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Malam itu, Aluna berdiri di balkon rumah besar itu.

Angin malam meniup rambutnya perlahan.

Ia memegang foto lama dirinya bersama ayahnya.

Air mata kembali mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Ayah…”

Tiba-tiba pintu balkon terbuka.

Arkan keluar.

Ia melihat Aluna yang sedang menangis.

Beberapa detik ia hanya berdiri di sana.

Lalu akhirnya ia mendekat.

Tanpa berkata apa-apa, ia berdiri di samping Aluna.

Aluna berbicara dengan suara serak.

“Arkan… kalau benar Ayahku tidak meninggal karena kecelakaan…”

Ia menatap pria itu.

“Apa kamu akan menemukan siapa yang melakukannya?”

Arkan tidak langsung menjawab.

Namun matanya tajam seperti baja.

“Aku akan menemukannya.”

Nada suaranya dingin.

Namun penuh kepastian.

Aluna menunduk lagi.

“Terima kasih…”

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Namun mereka berdua tidak tahu…

Bahwa bahaya yang lebih besar sedang mendekat.

Di tempat lain, seseorang sedang melihat foto Aluna di layar ponsel.

Pria itu tersenyum tipis.

“Jadi… ini istri Arkan Wijaya.”

Ia bersandar di kursinya.

Matanya penuh perhitungan.

“Menarik.”

Ia mengambil ponsel dan menekan sebuah nomor.

“Awasi wanita itu.”

“Jangan sampai Arkan tahu.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu menambahkan dengan suara rendah.

“Dan jika perlu… singkirkan dia.”

Pria itu menutup telepon.

Senyumnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

“Permainan ini baru saja dimulai.”

Dan tanpa disadari Aluna…

Dirinya kini menjadi target berikutnya.

End Bab 30🔥

1
jenny
aku bingung Thor...
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?
𝔅𝔩𝔞𝔠𝔨 𝔐𝔞𝔪𝔟𝔞☬♆: Coba dibaca ulang deh kak🤭
total 1 replies
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!