Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Beberapa hari setelah pernikahan sederhana itu, kehidupan di Paviliun Dewa Laut terasa seperti mimpi yang manis tapi sementara. Ling Chen dan Qing Lin kini resmi suami istri, dan paviliun kecil mereka menjadi tempat penuh kehangatan baru. Setiap pagi, Qing Lin bangun lebih dulu, menyiapkan teh herbal dari rumput laut suci sambil menatap suaminya yang masih tidur. Tubuhnya yang sempurna—kulit putih mulus, pinggang ramping yang melengkung indah, dan lekuk dada yang penuh—terlihat lembut di bawah sinar matahari pagi yang menyusup melalui jendela kristal.
Ling Chen sering terbangun dengan Qing Lin sudah duduk di sampingnya, rambut panjangnya terurai seperti air terjun hitam, tangannya membelai pipi suaminya dengan lembut.
“Suamiku… mimpi apa tadi malam?” tanyanya pelan, suaranya seperti riak air yang menenangkan.
Ling Chen tersenyum, menarik Qing Lin ke pelukannya. “Mimpi tentang kau… dan Yue Yan. Kalian berdua ada di sisiku, di Kekaisaran Api Agung. Tak ada lagi perpisahan.”
Qing Lin menyandarkan kepala di dada Ling Chen, mendengar detak jantung yang selaras dengan miliknya berkat Jantung Nirwana. “Aku tak sabar bertemu dengannya. Kau bilang dia cantik dan kuat… aku ingin jadi bagian dari kebahagiaan kalian.”
Mereka sering menghabiskan waktu bersama di tepi pantai paviliun, berlatih teknik Dewa Laut Abadi yang baru. Ling Chen mengayunkan trisula, menciptakan ombak api jingga yang menyatu dengan air biru dari Qing Lin. Setiap gerakan mereka selaras, seperti tarian suami istri yang sempurna—api yang membara tapi tak membakar, air yang lembut tapi tak pernah lemah.
Bai Yue Chan sering muncul tiba-tiba, membawa camilan buah laut atau anggur manis, lalu duduk di antara mereka sambil menggoda.
“Kalian berdua makin lengket aja ya setelah menikah! Aku iri nih, kapan aku dapat pasangan yang bisa bikin ombak api bareng?” candanya sambil tertawa riang.
Qing Lin tersipu, tapi Bai Yue Chan langsung memeluknya dari belakang. “Tapi serius… aku senang kalian bahagia. Dan Chen-ge, janji ya, kalau sudah balik ke kekaisaran, kalian ajak aku kunjungan suatu hari? Aku mau lihat istri pertamamu yang legendaris itu!”
Ling Chen mengangguk, matanya penuh janji. “Pasti, Yue Chan. Kau bagian dari keluarga kami. Tak ada yang terpisah.”
Peri Qing Yi memanggil mereka bertiga ke aula utama untuk sesi terakhir sebelum keberangkatan. Di sana, dia memberikan sebuah artefak kecil berbentuk kerang mutiara—**Kerang Pelindung Laut Abadi**.
“Ini akan membuka portal kembali ke pulau ini kapan pun kalian butuhkan,” katanya. “Dan ini juga bisa membawa kalian ke Kekaisaran Api Agung dalam sekejap, asal kalian sudah cukup kuat untuk menahan tekanan ruang. Gunakan dengan bijak.”
Qing Yi menatap Ling Chen lama. “Chen… kau pergi bukan hanya untuk balas dendam atau membuktikan diri. Kau pergi untuk melindungi apa yang kau cintai. Bawa Qing Lin dengan hati-hati. Dan ingat—jika ada bahaya, pulanglah ke sini. Pulau ini selalu rumahmu.”
Ling Chen berlutut hormat. “Terima kasih atas segalanya, Guru. Aku akan kembali suatu hari, dengan Yue Yan dan mungkin… keluarga yang lebih besar.”
Qing Yi mengangguk, lalu menatap Qing Lin. “Anakku… ikutlah suamimu. Tapi jangan lupakan akar kalian di sini.”
Qing Lin membungkuk dalam. “Aku tak akan lupakan, Guru. Terima kasih telah menikahkan kami.”
Malam terakhir di pulau, mereka bertiga duduk di tepi pantai, menatap bintang dan ombak yang bergulung pelan. Bai Yue Chan menyandarkan kepala di bahu Qing Lin, air mata diam-diam mengalir.
“Aku bakal kangen kalian berdua,” bisiknya. “Jangan lupa kirim pesan lewat kerang ya… atau langsung datang bawa oleh-oleh dari kekaisaran!”
Qing Lin memeluk Yue Chan erat. “Kami janji. Kau saudariku selamanya.”
Ling Chen memeluk keduanya dari belakang. “Kita bukan berpisah. Kita hanya… melanjutkan perjalanan. Dan suatu hari, kita bertemu lagi di sini, atau di mana pun.”
Pagi berikutnya, di depan dermaga paviliun, Ling Chen dan Qing Lin berdiri berdampingan. Kerang Pelindung Laut Abadi di tangan Ling Chen bercahaya lembut. Qing Yi dan Bai Yue Chan berdiri di belakang, mata mereka penuh haru.
“Selamat jalan, anak-anakku,” kata Qing Yi. “Dewa Laut menyertai kalian.”
Bai Yue Chan berlari memeluk mereka terakhir kali, air mata mengalir deras. “Jangan lupa aku ya! Aku tunggu kalian pulang!”
Ling Chen mengangguk, suaranya tegas tapi penuh emosi. “Kami akan pulang. Janji.”
Qing Lin mencium pipi Yue Chan. “Sampai jumpa, adikku.”
Ling Chen mengaktifkan kerang. Cahaya biru menyelimuti mereka berdua, membentuk portal kecil yang berputar. Mereka melangkah masuk bersama, tangan saling bergenggam erat.
Portal menutup pelan, meninggalkan Bai Yue Chan yang menangis di pelukan Guru-nya, dan Pulau Dewa Laut yang kembali damai.
Di sisi lain portal, dunia baru menanti—Kekaisaran Api Agung, Yue Yan, Huo Zhan, dan masa lalu yang belum selesai. Ling Chen menatap Qing Lin, istri barunya, lalu ke depan.
“Kita pulang, istriku,” katanya pelan.
Qing Lin tersenyum, tangannya meremas tangan suaminya. “Pulang… ke rumah kita yang baru.”
Cahaya portal memudar, dan petualangan baru dimulai.