NovelToon NovelToon
Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
​Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
​"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
​Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
​Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Adnan meletakkan mangkuk yang kini telah kosong ke atas nampan.

Ia mengambil selembar tisu dan dengan sangat hati-hati mengusap sisa sedikit kuah di sudut bibir Kinan.

Gerakannya begitu santun, seolah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga di dunia.

"Selesai," ucap Adnan lembut.

Ia merapikan letak selimut Kinan, memastikan istrinya itu merasa hangat dan nyaman.

Kinan menatap Adnan dengan tatapan yang masih menyimpan sisa-sisa kegelisahan.

"Mas, apa Mas benar-benar harus keluar sekarang? Aku takut."

Adnan menggenggam tangan Kinan sejenak, memberikan kehangatan melalui telapak tangannya.

"Jadwal mengajar di aula besar sudah dimulai. Mas tidak bisa meninggalkan tanggung jawab itu, karena di sanalah Mas harus mulai memberikan pengertian kepada mereka. Tapi jangan khawatir, Bibi akan menjagamu di sini. Pintu kamar ini sudah Mas kunci dari dalam, hanya Bibi yang punya kuncinya."

Kemudian Adnan berdiri, merapikan sorban dan jubah putihnya yang tampak bercahaya terkena sinar matahari pagi.

Ia terlihat begitu gagah, namun juga tampak memikul beban yang sangat berat di pundaknya.

"Mas mengajar dulu ya. Kamu istirahat dulu. Jangan pikirkan apa pun, cukup pikirkan bagaimana caramu untuk sembuh," lanjut Adnan.

Kinan hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan. Ia melihat sosok suaminya itu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, Adnan sempat menoleh sekali lagi dan melempar senyum yang paling menenangkan yang pernah Kinan lihat sepanjang hidupnya.

Cklek.

Pintu tertutup dan terkunci. Suasana kamar kembali sunyi, hanya menyisakan aroma kayu cendana yang menenangkan.

Kinan menyandarkan kepalanya di bantal, menatap botol infus yang menetes perlahan.

Di luar sana, ia mulai mendengar suara riuh para santri yang menyambut kehadiran Adnan di aula.

Kinan memejamkan mata, namun telinganya menangkap suara sayup-sayup dari balik jendela.

Rupanya, tidak semua santri berada di aula. Beberapa santriwati, termasuk Fauziah, masih berdiri tak jauh dari jendela kamar Adnan.

"Lihat saja, dia pasti sedang berlagak sakit agar dikasihani Ustadz," bisik sebuah suara tajam yang Kinan kenali sebagai suara Fauziah.

"Kita lihat saja berapa lama Ustadz Adnan bisa bertahan dengan wanita seperti dia sebelum seluruh pondok ini hancur."

Kinan meremas ujung selimutnya. Air matanya menetes lagi.

Ia sadar, meski ia sudah berada di dalam kamar yang aman, badai di luar sana baru saja akan mencapai puncaknya.

Aula besar Pondok Pesantren Al-Hidayah pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Meskipun ratusan santri duduk bersila memenuhi ruangan, suasana senyap mencekam.

Tidak ada riuh rendah hafalan ayat atau diskusi ringan.

Semua mata tertuju pada satu titik: kursi kayu di depan tempat Adnan biasanya mengajar.

Saat Adnan melangkah masuk, suara gesekan jubahnya di lantai terdengar begitu jelas.

Ia duduk dengan tenang, membuka kitab kuning di hadapannya, lalu mengucap salam.

"Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh."

Jawaban salam dari para santri terdengar hambar, penuh keraguan.

Adnan menyadarinya, namun ia tetap tersenyum tipis.

Ia baru saja akan memulai penjelasan bab tentang Thaharah (Penyucian), ketika sebuah suara melengking memotong keheningan.

"Ustadz," Fauziah berdiri di barisan santriwati. Wajahnya yang biasanya teduh kini tampak tegang dengan mata yang sembab.

"Sebelum kita memulai pelajaran tentang kesucian, bolehkah kami bertanya tentang satu hal yang mengganjal di hati kami semua?"

Adnan meletakkan pembatas kitabnya. "Silakan, Fauziah."

"Kami belajar di sini untuk menjaga diri, menjaga pandangan, dan menjauhi maksiat. Namun, pagi ini kami melihat bahwa Ustadz membawa wanita dari tempat yang paling kotor ke rumah suci ini," suara Fauziah bergetar, penuh sindiran yang tajam.

"Bagaimana kami bisa belajar tentang kesucian dari seseorang yang justru membawa noda ke dalam kamarnya?"

Bisik-bisik mulai pecah seperti lebah. Beberapa santri putra mengangguk setuju, sementara yang lain menunduk tak berani menatap Adnan.

"Apakah pesantren ini sekarang menjadi tempat penampungan bagi orang-orang yang sudah terbiasa berbuat noda, Ustadz? Ataukah gelar 'Ustadz' sudah tidak lagi memerlukan martabat?" lanjut Fauziah dengan kalimat yang kian menyudutkan.

Adnan tidak marah dan tidak pula menunjukkan raut tersinggung.

Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang, seolah ia sudah menduga badai ini akan datang.

"Fauziah, dan anak-anakku semua. Kalian benar. Kita belajar di sini untuk menjaga kesucian. Tapi, pernahkah kalian bertanya, untuk apa cahaya diciptakan jika bukan untuk menerangi kegelapan?"

Adnan bangkit dari duduknya sambil menatap satu per satu muridnya.

"Jika seorang dokter hanya mau mengobati orang yang sehat, maka dia bukan dokter, dia hanyalah seorang teman bagi orang sehat. Begitu pula dakwah. Jika kita hanya merangkul mereka yang sudah saleh, lalu siapa yang akan membimbing mereka yang tersesat dan ingin pulang?"

Ia berjalan ke arah jendela yang menghadap ke arah kamarnya, tempat Kinan sedang terbaring.

"Wanita yang kalian sebut noda itu, adalah wanita yang dipilih Allah untuk menguji nurani kita. Dia datang dengan luka, mencari perlindungan di rumah Allah. Jika kita yang mengaku ahli agama justru melempari batu dan mencaci, maka sebenarnya siapa yang sedang bernoda? Pakaiannya yang belum sempurna, atau hati kita yang merasa sudah paling suci hingga berani menghakimi?"

Fauziah terdiam, wajahnya memerah. Ia ingin membantah, namun wibawa dalam suara Adnan seolah membungkam lidahnya.

"Saya tidak membawa noda," tegas Adnan.

"Saya membawa seorang hamba Allah yang sedang merangkak mencari cahaya. Dan saya, sebagai suami dan guru kalian, memilih untuk menjadi jalan baginya. Jika kalian keberatan belajar dengan saya karena hal ini, pintu pesantren selalu terbuka bagi kalian untuk mencari guru yang sesuai dengan standar kesucian kalian. Tapi selama saya di sini, pesantren ini adalah rumah bagi setiap jiwa yang ingin bertaubat."

Keheningan kembali jatuh, kali ini lebih berat karena rasa malu yang mulai merayap di hati para santri.

"Ayo, saatnya kita belajar lagi," ucap Adnan dengan nada suara yang kembali teduh, seolah badai ketegangan yang baru saja terjadi telah menguap tertiup angin.

Kemudian ia kembali membuka kitabnya, jemarinya membalik halaman dengan tenang, memberikan teladan tentang kesabaran seorang guru di hadapan murid-muridnya yang masih bergejolak.

Sementara itu, di dalam kesunyian kamar, Kinan berjuang melawan rasa pusing yang masih berdenyut di kepalanya.

Dengan tangan kanan yang gemetar, ia memegang pinggiran tempat tidur, berusaha bangkit.

Selang infus yang terpasang di tangan kirinya terasa sedikit menarik kulitnya, namun rasa ingin tahu dan kegelisahannya jauh lebih kuat.

Kinan berhasil duduk di tepi ranjang. Matanya menyisir setiap sudut kamar yang luas itu.

Perhatiannya kemudian tertambat pada sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan yang tertata sangat rapi.

Di sana, terdapat beberapa bingkai foto kayu yang tampak sudah tua namun dirawat dengan sangat baik.

Dengan langkah gontai dan menyeret tiang infus, Kinan mendekati meja tersebut.

Ia terpaku melihat foto-foto di dalamnya. Hampir semuanya menunjukkan sosok Adnan muda bersama seorang wanita paruh baya berwajah sangat lembut dan bercahaya.

Wanita itu mengenakan kerudung sederhana dengan senyum yang begitu tulus dan ia adalah sosok mendiang ibu Adnan.

Kinan menyentuh kaca salah satu bingkai foto itu dengan ujung jarinya.

Dalam foto itu, Adnan tampak menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu sambil memegang sebuah benda, jam tangan.

Jam tangan yang sama dengan yang dikembalikan Kinan.

"Jadi, ini Beliau..." bisik Kinan lirih.

Ia menatap wajah ibu Adnan lama-lama. Ada rasa hangat sekaligus perih yang menjalar di hatinya.

Ia merasa sangat kecil di hadapan kesucian cinta ibu dan anak ini. Namun, ia juga melihat ada kemiripan antara tatapan mata wanita di foto itu dengan tatapan mata Adnan pagi ini.

Tiba-tiba, pandangan Kinan beralih ke sebuah bingkai foto lain yang diletakkan sedikit terpisah.

Di sana, Adnan tampak berdiri sendirian di depan aula pesantren, namun di bawah bingkai tersebut ada sebuah catatan kecil yang ditulis tangan.

"Waktu adalah milik Allah, dan setiap detiknya adalah kesempatan untuk kembali."

Kinan meremas ujung jubah yang ia kenakan. Air matanya menetes pelan mengenai kaca bingkai foto.

Ia merasa seolah-olah mendiang ibu Adnan sedang menatapnya, bukan dengan kemarahan karena jamnya dibawa oleh wanita "kotor", melainkan dengan syukur karena benda itu telah menjadi jalan hidayah.

Saat Kinan sedang tenggelam dalam lamunannya.

Ia mendengar suara langkah kaki terdengar dari balik pintu.

1
falea sezi
kapok laki. kok gampang bgt esmosi
falea sezi
cerai aja beres athar ini ttep blooonn
Rosmazita Imah
macam tu la. kena bertegas
Dar Pin
haduh kenapa Adnan terus yg salah sebagai seorang istri meskipun atas nama keselamatan dan mendesak harusnya tetap membangunkan suaminya beda KL suaminya nggak dirumah sebenernya ini mau dibuat pisah apa gimana ya Thor maaf bukanya membela Adnan dan seharusnya pamannya menghubungi Adnan dulu bukan Kinan bagaimanapun itu tengah malam aku rasa bukan hanya Adnan yg marah semua suami jg akan emosi 😄
Dar Pin
semoga cepat hamil biar nggak kesepian ya Thor 👍
Dar Pin
kadang kita hanya mengingat kesalahan seseorang tapi lupa kebaikannya ayo Kinan lapangkan hatimu kasihan Adnan dia jg banyak berkorban buat kamu diusir dr pondok dilempari batu semua demi kamu jg rela meninggalkan pondo jg keluarga bahkan ayahnya semua demi kamu 💪
Dar Pin
bagus kak ceritanya setiap masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin komunikasi dan bicara dr hati kehati lebih baik dari kata perceraian 👍
Mrs. Ketawang
Adakalanya seorg yg pintar memberi tausiah atopun nasehat kpd org lain tp lupa akan hidupnya yg trkadang tdk sesuai dg lisannya🙏🏻
ustadz jg manusia bysa😁
Rosmazita Imah
kenapa up 2 kali benda part yang sama
my name is pho: maaf kak ada kesalahan tekhis.
🙏🙏
yang bab 31 ketinggalan 🤭🙏
total 1 replies
Astrid Kucrit
lah, di ulang kak?
my name is pho: maaf kak ada kesalahan tekhis.
bab 31 ketinggalan
total 1 replies
falea sezi
Kinan jangan2 masih perawan
Dar Pin
begitu dong Adnan turunkan ego masing masing untuk menyelesaikan masalah yg terpenting komunikasi 💪
Mrs. Ketawang
gongnya ... nanti saat MP trnyata Kinan masih mnjaga satu"nya kesuciannya mski Kinan bkerja d club mlm...
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅
Dar Pin
jangan kasih cobaan yg lebih LG dong Thor Adnan udah berusaha menyembuhkan luka istrinya tidak ada manusia yg sempurna beri kesempatan yg kedua buat adnan
tiara
Athar membuat Kinan berusaha menerima Adnan kembali,semoga tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan mereka
gaby
Maaf sekedar masukan, ga di terima jg gapapa. Masa sih Adnan ga dapet hukuman apa2?? Kesalahannya fatal loh, menuduh istri berbuat zina & mengabaikan istri demi wanita lain. Kalo di telaah bukankah Adnan yg berbuat Zina dgn Fauziah. Zina itu ga mesti berhubungan intim, lewat mata & sentuhan aja bisa di bilang zina. Bukankah Adnan merangkul Faiziah wkt tersiram kuah panas, bukankah Adnan menerima ajakan Wanita lain lalu meninggalkan istri. Ko enak bgt jadi Adnan, setelah kesalahan fatal yg membuat istrinya luka secara fisik & mental tp di lupakan aja kesalahannya yg di sengaja. Jujur aq jd kehilangan minat bacanya kalo Adnan ga di hukum. Ga mesti cerai, seenggaknya menjauhlah dr adnan sementara. Biar sama2 introspeksi diri. Rendah bgt harga diri wanita, di fitnah & di lukai secara fisik tp cm bisa diem aja.
my name is pho: sabar kak nanti ada hukumannya
total 1 replies
Rosmazita Imah
adnan jangan sia2kan lagi peluang yang di berikan
Rosmazita Imah
semoga athar akan menjadi penghubung hubungan kinan dan adnan ke arah yg lebih baik.
gaby
Yah, kirain ibunya Athar doang yg meninggal, ternyata ayahnya jg. Coba kalo ayahnya duda, siapa tau cocok sm Kinan😄😄
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Rosmazita Imah
so sad for both of u
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!