Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Udara pagi di Desa Asih terasa begitu segar, namun matahari yang baru mengintip di ufuk timur sudah mulai memberikan kehangatan yang menjanjikan terik di siang hari. Di lapangan depan Balai Desa, musik senam remix yang ceria sudah berdentum keras dari sound system besar yang diletakkan di sudut. Ibu-ibu desa dengan setelan olahraga warna-warni mulai berdatangan, berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil sambil saling bertukar cerita tentang panen padi atau sekadar menu masakan hari ini.
Mika datang dengan tampilan yang jauh lebih segar. Ia mengenakan kaos putih polos yang pas di badan, celana training hitam, dan sebuah sweater berwarna lilac yang ia sampirkan dengan modis di lehernya—sebuah gaya "anak kota" yang tetap terlihat sopan. Rambutnya dikuncir kuda tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang terkena sinar matahari pagi.
Melihat kerumunan ibu-ibu yang asyik bergosip, jiwa sosial Mika mendadak bangkit. Ia merogoh tas pinggangnya dan mengeluarkan sebuah botol body lotion berukuran besar dengan aroma vanilla musk yang harumnya langsung semerbak.
"Ibu-ibu! Selamat pagi! Sini, sebelum kita senam dan kena matahari, biar tangannya nggak kasar dan tetap halus, aku kasih body lotion ya? Wangi banget lho ini," seru Mika dengan senyum lebar.
Sontak saja, kerumunan ibu-ibu itu langsung mengerumuni Mika. Siti dan Asia yang baru datang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa cepatnya Mika mengambil hati warga.
"Wah, Neng Mika pinter banget ya ngerayu. Enak bener baunya, kayak bau kue!" seru Bu RT sambil mengoleskan lotion itu ke lengannya yang kecokelatan.
"Iya, Bu. Biar kita senamnya semangat, kulitnya juga harus glowing," canda Mika yang langsung disambut tawa renyah ibu-ibu.
Sambil membagikan lotion, Mika ikut terhanyut dalam obrolan mereka. Ia mendengarkan cerita Bu Ida tentang anaknya yang baru masuk sekolah, sampai gosip tentang harga cabai yang naik. Siti dan Asia ikut bergabung, suasana menjadi sangat akrab. Mika merasa, untuk pertama kalinya, ia benar-benar diterima bukan sebagai "tamu", tapi sebagai bagian dari mereka.
Di tengah kehebohan itu, sebuah motor Ninja hitam berhenti di pinggir lapangan. Alvaro turun dengan gaya santainya. Ia memakai kaos olahraga tanpa lengan berwarna abu-abu gelap dan celana pendek selutut. Otot lengannya yang kencang terlihat jelas saat ia meregangkan tubuh.
Mika sempat melirik sejenak, lalu buru-buru memalingkan wajah saat teringat kejadian di teras rumah Alvaro tadi malam. Jantungnya berdegup tak beraturan lagi.
"Neng Mika..." Bu Ida menyenggol lengan Mika dengan genit. "Itu Pak Kades dari tadi saya perhatiin lihatin Neng terus loh. Matanya nggak lepas-lepas dari arah sini."
Mika tersedak ludahnya sendiri. "Emm... Ibu apa sih. Enggak mungkin, Bu. Dia emang lagi liatin ibu-ibu kali karena kan mau senam, ya. Kan dia harus mastiin warganya rajin olahraga."
"Ah, masa iya?" timpal Bu RT sambil terkikik. "Pak Kades itu biasanya kaku, Neng. Jarang mau senam bareng kalau nggak ada urusan penting. Tapi lihat deh, sekarang dia malah berdiri di barisan depan, tapi kepalanya nengok ke belakang terus."
Mika memberanikan diri untuk melirik ke arah barisan pria. Benar saja, Alvaro sedang berdiri tegak, namun wajahnya memang menoleh ke arah kerumunan ibu-ibu—atau lebih tepatnya, ke arah Mika. Saat mata mereka bertemu, Alvaro tidak langsung memalingkan wajah. Ia justru memberikan anggukan tipis yang nyaris tak terlihat, dengan tatapan yang seolah berkata, 'Bagus, kamu nggak telat hari ini.'
Musik senam "Maumere" mulai menghentak. Instruktur senam di depan mulai menggerakkan badan dengan lincah. Mika berusaha fokus pada gerakan tangannya, namun ia merasa sangat tidak nyaman karena ia tahu ada sepasang mata tajam yang terus mengawasinya.
Alvaro, yang biasanya terlihat sangat serius, ternyata cukup luwes mengikuti gerakan senam. Namun, setiap kali ada gerakan yang mengharuskan mereka berputar, posisi Alvaro selalu berakhir menghadap ke arah Mika.
"Aduh, Neng Mika, itu Pak Kades sengaja banget ya miring-miring gerakannya," bisik Siti yang berdiri di belakang Mika.
"Diem lo, Siti! Fokus senam!" balas Mika ketus, padahal wajahnya sudah merah padam.
Tiba-tiba, seorang gadis desa cantik bernama Lilis—yang memang dikenal sudah lama mengincar Alvaro—sengaja berpindah barisan ke dekat Alvaro. Lilis mulai melakukan gerakan senam yang dibuat-buat menjadi sangat manja, sesekali "tidak sengaja" menyentuh lengan Alvaro.
Mika yang melihat itu dari barisan ibu-ibu mendadak merasa panas. Lotion vanilla di kulitnya seolah tak mampu mendinginkan hatinya yang tiba-tiba merasa sebal.
"Ih, kecentilan banget sih itu cewek," gumam Mika tanpa sadar.
"Kenapa, Mik? Cemburu ya?" goda Asia yang berada di sisi kirinya.
"Enggak! Gerakannya salah itu, bikin mata sakit liatnya!" elak Mika sambil melakukan gerakan tangan yang sangat bertenaga, seolah-olah ia sedang meninju udara.
Setelah satu jam senam yang menguras keringat, instruktur memberikan waktu istirahat. Ibu-ibu langsung menyerbu meja air mineral. Mika yang merasa gerah segera melepas sweater lilac dari lehernya dan menggunakannya untuk mengipasi wajah.
Alvaro berjalan mendekat ke arah kerumunan ibu-ibu. Langkahnya tegap, dan keringat yang membasahi kaosnya membuat penampilannya berkali-kali lipat lebih maskulin.
"Bapak dan Ibu sekalian, terima kasih sudah hadir," suara Alvaro menggema, membuat semua orang terdiam mendengarkan. "Setelah ini, saya minta tim KKN untuk ikut saya ke balai desa. Ada data pemetaan sungai yang perlu kita diskusikan sebelum pemasangan filter tahap kedua."
Alvaro menatap Mika tepat di mata. "Mikayla, kamu bawa berkas yang saya tandatangani kemarin?"
Mika mengangguk, masih berusaha mengatur napasnya. "Bawa, Pak. Di tas saya."
"Bagus. Temui saya di ruangan lima menit lagi," perintah Alvaro. Sebelum berbalik, ia sempat melirik botol body lotion yang dipegang Mika. "Baunya harum. Tapi jangan terlalu banyak pakai parfum kalau mau ke sungai, nanti ikannya pusing."
Ibu-ibu serempak tertawa mendengar "candaan" langka dari Pak Kades mereka. Mika hanya bisa melongo. 'Dia bilang apa tadi? Ikannya pusing?'
"Tuh kan, Pak Kades perhatian banget sama detail," goda Bu Ida sambil menepuk bahu Mika. "Sana Neng, samperin. Jangan bikin Pak Kades nunggu lama-lama, nanti dia galak lagi."
Mika merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia berjalan menuju kantor Balai Desa dengan perasaan yang tidak menentu. Di belakangnya, Siti dan Asia memberikan jempol penyemangat yang sangat ingin Mika patahkan saat itu juga.
Sesampainya di depan pintu ruangan Alvaro, Mika menarik napas panjang. Ia teringat kembali kejadian di teras rumah semalam. Saat ia mengetuk pintu, ia bertanya-tanya: apakah hari ini ia akan bertemu dengan Alvaro sang Kepala Desa yang dingin, atau Alvaro yang menyeka wajahnya dengan sapu tangan semalam?
"Masuk," suara dari dalam terdengar.
Mika melangkah masuk, dan ia mendapati Alvaro sedang berdiri di depan peta besar Desa Asih, memegang sebuah penggaris panjang. Ia menoleh ke arah Mika, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia tersenyum tulus.
"Kamu pakai baju putih lagi," ucap Alvaro sambil menunjuk kaos Mika. "Siap untuk mandi lumpur lagi hari ini?"
"Nggak akan, Pak! Hari ini saya bakal lebih hati-hati!" tantang Mika sambil meletakkan mapnya di meja.
Dan di ruangan yang tenang itu, di sela-sela aroma kertas dan kopi, Mika menyadari bahwa senam pagi tadi hanyalah pemanasan untuk perjalanan perasaan yang jauh lebih melelahkan—dan menyenangkan—bersama Pak Kadesnya.