Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Permainan Dimulai
Namun belum sempat ia bicara, Wina lebih dulu menggeleng pelan. “Ibu tidak mau mengganggu kalian yang pengantin baru…”
“Enggak kok, Bu!” potong Zelia cepat. “Mana ada kami terganggu dengan kehadiran Ibu.”
Are menutup mata sepersekian detik. "Gadis ini benar-benar…"
Zelia menoleh padanya dengan senyum manis yang jelas penuh maksud. “Iya 'kan, Sayang?”
Tatapan itu seperti jebakan yang sudah disiapkan rapi.
“Kamu juga senang 'kan kalau Ibu tinggal bareng kita?”
Are menatapnya beberapa detik. Lalu menatap ibunya. Tak mungkin ia berkata tidak. Dan akhirnya ia hanya bisa mengangguk pelan. “Tentu,” ucapnya singkat.
Lagi dan lagi… ia tak bisa membantah.
Wina tersenyum lega, matanya tampak berkaca-kaca. “Terima kasih…”
Namun dalam hati, Are justru terdiam. "Kalau ibu tinggal bersama kami…"
Tatapannya kembali jatuh pada Zelia yang tampak begitu puas.
Itu artinya…
Mereka harus benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri.
Termasuk…
Tidur sekamar.
Sudut bibir Zelia terangkat tipis seolah tahu persis apa yang baru saja ia lakukan.
Dan kali ini…
Are merasa dirinya benar-benar dijebak.
***
Are dan Zelia akhirnya pulang. Di dalam mobil, keheningan sempat menggantung sebelum akhirnya Are membuka suara.
“Kau tahu apa yang kau lakukan tadi?”
Zelia menoleh santai. “Apa?”
“Tentang ibuku yang kau ajak tinggal bersama kita.”
“Ohh…” gumam Zelia ringan, kembali menggeser layar ponselnya. “Tentu saja tahu. Kita jadi menantu dan anak yang baik karena mengurus orang tua.”
Are menghela napas pelan. Entah menahan kesal… atau justru gemas. “Apa kamu gak mikir… apartemenmu cuma punya dua kamar?”
Zelia menoleh lagi, alisnya sedikit terangkat.
“Kalau ibuku tinggal bersama kita,” lanjut Are pelan, “…itu artinya—”
“Ya kita tinggal satu kamar,” potong Zelia santai kembali menatap layar ponselnya.
Rem mobil diinjak sedikit lebih keras dari biasanya. Are menepikan mobil di pinggir jalan.
Zelia akhirnya mengangkat wajah dari ponselnya, menatap ke luar sebentar sebelum beralih ke Are dengan kening berkerut. “Kenapa berhenti di sini?”
Are menoleh. Tatapannya lebih tajam dari biasanya. “Kita cuma suami istri kontrak. Satu tahun,” katanya pelan tapi tegas. “Tapi kamu ngaku di depan ibuku sebagai istriku. Bahkan mengajaknya tinggal bersama kita.”
Ia menatap lurus ke matanya. “Kau masih waras, 'kan?”
Zelia mengangguk mantap tanpa ragu. “Tentu saja.”
Are terdiam sejenak, lalu melepas sabuk pengamannya. Ia mendekat. Jarak mereka menyusut perlahan, cukup untuk membuat napas Zelia tertahan tanpa sadar.
“Yakin mau tidur satu kamar denganku?”
Zelia kembali mengangguk, tetap terlihat tenang meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari seharusnya.
“Yakin.”
Are makin mendekat. Tatapannya turun sedikit, suaranya merendah hampir seperti bisikan. “Kamu gak takut…?”
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Udara di dalam mobil terasa jauh lebih sempit.
Zelia bisa merasakan hangat napas Are yang begitu dekat. Namun tiba-tiba Are berhenti. Tatapannya berubah, seolah tersadar pada sesuatu. Ia mundur perlahan lalu kembali duduk tegak, menatap ke depan.
“Kita harus ingat batas,” katanya rendah.
Zelia terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Batas itu ada kalau kita mau menjaganya.”
Are mencengkeram setir lebih kuat. Namun… ia sendiri tidak yakin apakah dirinya masih ingin menjaga batas itu.
Mobil kembali melaju, tapi suasana di dalamnya tak lagi sama.
***
Keesokan harinya
Ponsel di meja kerja Zelia bergetar pelan, memecah keheningan pagi yang biasanya terasa terkontrol.
Nama Direktur Legal muncul di layar.
Zelia mengangkatnya cepat. “Ya.”
Suara di seberang terdengar lebih kaku dari biasanya.
“Bu… kami baru menerima gugatan resmi dari Fero Group. Mereka mengaktifkan klausul pelanggaran kontrak kerja sama.”
Jantung Zelia seperti terhenti sepersekian detik. “…Gugatan?” ulangnya pelan.
“Iya, Bu. Nilai penalti yang mereka ajukan sangat besar. Mereka juga meminta pembekuan beberapa proyek utama.”
Mendadak ruangan terasa lebih sempit. Namun suara Zelia tetap stabil.
“Kirimi saya semua dokumennya. Sekarang.”
“Sudah kami kirim ke email Anda, Bu.”
Zelia membuka tablet di depannya. Matanya bergerak cepat membaca ringkasan dokumen.
Angka penalti. Klausul eksklusivitas. Timeline pelanggaran. Dadanya mulai terasa sesak.
Ini jelas bukan sekadar tekanan bisnis. Ini serangan. Dan dia tahu siapa dalangnya. Namun saat bicara kembali, suaranya tetap tenang.
“Kumpulkan semua direksi. Kita adakan rapat darurat satu jam lagi.”
“Baik, Bu.”
Panggilan terputus.
Zelia menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya sedikit gemetar sebelum akhirnya ia mengepalkannya di atas meja.
“Cepat sekali…” gumamnya lirih.
Are yang sejak tadi duduk di sofa di sudut ruangan memerhatikan tanpa banyak bicara.
Tatapannya tajam, membaca perubahan kecil di ekspresi Zelia yang berusaha ia sembunyikan.
“Apa yang terjadi?” tanyanya tenang.
Zelia menarik napas dalam sebelum menatapnya. “Fero menggugat perusahaan. Mereka aktifkan penalti kontrak.”
Are tidak langsung bereaksi. Hanya bangkit pelan dan mendekat. “Seberapa besar?”
Zelia menyebutkan angkanya.
Alis Are langsung berkerut tipis. “Itu bukan mau menekan,” katanya pelan. “Itu mau melumpuhkan.”
Zelia mengangguk pelan, kepanikan mulai terlihat di matanya. “Direksi pasti akan memanfaatkannya untuk menjatuhkan aku. Ini bisa jadi alasan mereka bilang aku gagal sebelum enam bulan.”
Ruangan hening beberapa detik.
Lalu Are mengulurkan tangan. “Boleh lihat kontraknya?”
Zelia menyerahkan tablet tanpa bicara. Are membaca dengan fokus penuh. Halaman demi halaman. Ekspresinya tetap datar… sampai akhirnya berhenti di satu bagian. Matanya menyipit tipis.
“…Menarik.”
Zelia langsung menatapnya. “Apa?”
“Kamu sadar siapa yang menyetujui kontrak ini pertama kali?”
Zelia mengangkat pandangannya. “Direksi lama.”
Are menggeleng tipis. “Lebih spesifik.”
Zelia terdiam sebentar, lalu menjawab, “Ayahku.”
Nada suaranya datar… tapi ada sedikit ketegangan di sana.
Are mengangguk pelan. “Klausul penalti setinggi ini jarang disetujui tanpa alasan besar,” katanya. “Apalagi untuk kerja sama jangka panjang.”
Zelia menyilangkan tangan di dada, mencoba tetap terlihat tenang. “Kontrak itu dibuat sebelum aku jadi CEO. Aku bahkan belum terlalu terlibat waktu itu.”
Are menatapnya beberapa detik, lalu berkata lebih pelan. “Justru itu yang membuatku curiga.”
Zelia mengernyit. “Curiga apa?”
Are tidak langsung menjawab. Ia mengambil tablet, membuka kembali halaman klausul penalti, lalu menunjukkannya.
“Kontrak ini sangat menguntungkan pihak Fero kalau terjadi konflik,” katanya. “Terlalu menguntungkan.”
Zelia menatap angka penalti itu lagi. Kali ini lebih lama.
Are melanjutkan, suaranya tetap tenang tapi lebih dalam. “Kontrak ini, seolah dibuat bukan untuk kerja sama… tapi untuk skenario kalau kerja sama itu gagal.”
Jantung Zelia berdetak sedikit lebih cepat. “Banyak kontrak punya penalti,” bantahnya pelan.
“Benar,” kata Are. “Tapi jarang yang seperti jebakan.”
Zelia mencoba menertawakan kecil, meski terdengar sumbang. “Kamu terlalu paranoid.”
Namun Are tidak ikut tertawa. Tatapannya justru semakin tajam. “Aku cuma tidak percaya kebetulan,” katanya.
Zelia menatapnya, mencoba membaca maksud di balik kalimat itu. “Menurutmu ini disengaja?” tanyanya akhirnya.
Namun ia tidak yakin, apakah ia siap mendengar jawabannya.
...✨“Saat kontrak berubah jadi senjata, yang dipertaruhkan bukan cuma perusahaan… tapi hati.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu