Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16
Gudang tua di pinggiran Amsterdam itu tidak memiliki jendela, hanya celah-celah kecil di atap seng yang membiarkan cahaya fajar yang abu-abu masuk secara paksa.
Udara di dalamnya terasa lembap, berbau kayu lapuk dan besi berkarat, sebuah kontras yang tajam dengan sterilitas laboratorium kaca di Hamburg yang baru saja mereka tinggalkan.
Di tengah ruangan, di bawah lampu kerja yang berkedip-kedip, Lukas terbaring di atas tempat tidur lipat.
Sekar duduk di sampingnya, matanya tidak pernah beralih dari monitor jantung portabel yang kini menunjukkan grafik yang semakin landai.
Bip... bip... bip... Suara itu bukan lagi sekadar indikator medis bagi Sekar; itu adalah hitung mundur menuju kehancuran total jiwanya.
Dr. Steiner berdiri di sudut, sibuk dengan tabung-tabung reaksi dan sisa serum yang sempat ia curi. Namun, gerakan tangannya melambat.
Pria tua itu tahu kapan ilmu pengetahuan harus menyerah pada takdir. Ia menatap punggung Sekar—seorang dokter bedah paling brilian yang pernah ia bimbing—yang kini tampak seperti anak kecil yang tersesat dalam duka.
"Sekar," panggil Steiner lirih. "Tekanan darahnya terus turun. Inotropik tidak lagi memberikan respon. Tubuhnya... tubuhnya sudah menolak segalanya."
Sekar tidak menoleh. Ia sedang menggenggam tangan Lukas, mengusap buku-buku jari kecil yang kini mulai mendingin. "Aku bisa mencoba dialisis darurat, Dokter. Kalau kita bisa membersihkan sisa serum itu dari darahnya, mungkin ginjalnya punya kesempatan untuk pulih."
"Sekar, lihat aku," Steiner melangkah maju, memegang bahu Sekar. "Ini bukan lagi soal kegagalan organ. Ini soal kerusakan seluler secara sistemik. Serum itu telah merobek fondasi genetiknya. Memaksanya tetap hidup hanya akan memperpanjang penderitaannya. Sebagai dokter, kau paling tahu itu. Sebagai ibunya... kau harus merelakannya."
Sekar menyentakkan bahunya, melepaskan tangan Steiner. Matanya yang berkaca-kaca akhirnya luruh juga. Bibirnya bergetar dengan hebat, suaranya lirih hampir terdengar seperti bisikkan, "Relakan? Setelah sepuluh tahun aku dibohongi? Setelah aku menyeberangi benua untuk menemukannya? Aku tidak menyelamatkannya dari tangan Von Hess hanya untuk melihatnya mati di gudang sampah ini, Dokter."
"Ibu..."
Suara itu sangat kecil, nyaris tenggelam oleh desau angin yang masuk melalui celah dinding.
Sekar segera mendekatkan wajahnya ke wajah Lukas. Mata anak itu terbuka sedikit, namun tidak ada lagi fokus di sana. Pupilnya melebar, menatap ke arah langit-langit gudang yang gelap.
"Ibu di sini, Sayang. Ibu tidak akan pergi," bisik Sekar, air matanya jatuh mengenai pipi Lukas.
"Dingin... Lukas kedinginan," gumam anak itu. Suaranya terdengar seperti daun kering yang tertiup angin.
Sekar segera melepas jaketnya, membungkus tubuh Lukas yang kecil, lalu menarik anak itu ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli pada kabel-kabel monitor yang tertarik atau selang infus yang bergeser.
Ia hanya ingin Lukas merasakan kehangatan yang seharusnya ia berikan selama sepuluh tahun yang hilang.
Di layar televisi tua yang ada di sudut gudang, berita internasional masih terus menyiarkan kekacauan di Hamburg.
Nama Sekar Wijaya terpampang besar dengan predikat "penculik". Namun, berita itu segera tergeser oleh laporan langsung dari Jakarta.
Gedung Yayasan Wijaya sedang digeledah oleh pihak berwenang. Tuan Wijaya dikabarkan dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung kedua, sementara Ibu Wijaya bungkam seribu bahasa saat digiring menuju mobil polisi.
Kerajaan yang mereka bangun di atas darah dan kebohongan itu runtuh dalam semalam.
Namun, bagian paling memilukan bagi Sekar adalah saat layar menunjukkan foto Rahman.
Pria itu tampak tenang, tangan terborgol, berjalan di antara kerumunan polisi Jerman di depan katedral tua. Rahman telah mengakui semua perbuatannya—bukan hanya penembakan di gereja, tapi juga keterlibatannya dalam menyembunyikan identitas Lukas selama bertahun-tahun.
Ia memberikan dirinya sebagai martir agar Sekar punya waktu untuk menghilang. Sekar menatap layar itu dengan tatapan kosong.
Kemenangan ini terasa begitu pahit, Rahman, batinnya. Kita menghancurkan mereka, tapi kita juga kehilangan segalanya dalam prosesnya.
Lukas mulai meracau dalam tidurnya. Ia berbicara dalam bahasa Jerman, menyebutkan tentang taman, tentang bola sepak, dan tentang rasa takut akan kegelapan.
Sekar terus membisikkan doa-doa dalam bahasa Indonesia, bahasa yang seharusnya menjadi bahasa ibu bagi Lukas.
"Tidurlah, Lukas... di sana tidak ada rasa sakit. Tidak ada jarum, tidak ada serum biru yang jahat itu," Sekar mencium kening Lukas yang kini mulai berkeringat dingin.
Lukas tiba-tiba menarik napas panjang, sebuah gasping yang menandakan otak mulai kekurangan oksigen secara kritis. Tubuhnya mengejang sesaat, lalu kembali rileks.
"Ibu... Lukas mau... ke taman..."
"Iya, Sayang. Kita sedang di jalan menuju taman itu. Lihatlah, bunganya sangat banyak. Warnanya putih, seperti sepatumu yang Ibu simpan," Sekar mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun dadanya terasa seperti dihantam godam.
Monitor di belakang mereka mengeluarkan suara nada tunggal yang panjang.
Beeeeeeeeep...
Garis hijau di layar itu menjadi datar. Statis. Mati. Sekar kehilangan dia. Putra yang selama ini sangat ia rindukan.
Sekar terdiam. Ia tidak menjerit. Ia tidak meraung. Ia hanya mendekap tubuh Lukas lebih erat, membenamkan wajahnya di leher anak itu, mencoba mencari sisa-sisa denyut nadi yang ia tahu sudah tidak ada.
Dr. Steiner menundukkan kepala, tangan tuanya membuat tanda salib. Keheningan di gudang itu terasa begitu absolut, seolah-olah seluruh dunia ikut berhenti bernapas untuk menghormati kepergian jiwa kecil yang telah menderita terlalu banyak.
"Jam lima lewat empat belas menit," Steiner berbisik sambil melihat jam tangannya. "Dia sudah tenang, Sekar."
Sekar masih tidak bergerak. Ia terus membuai tubuh Lukas, menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri seolah-olah sedang menidurkan bayi yang baru lahir. "Dia hanya tidur, Dokter. Dia hanya lelah setelah perjalanan jauh."
"Sekar, lepaskan dia..."
"TIDAK!" Sekar mendongak, matanya memancarkan kegilaan yang murni. "Dia baru saja menemukanku! Dia tidak boleh pergi secepat ini! Aku belum mengajarinya bicara bahasa kami, aku belum memperkenalkannya pada Rahman!"
Namun, saat ia menatap wajah Lukas yang kini tampak sangat damai, kemarahan Sekar perlahan memudar menjadi keputusasaan yang sunyi.
Garis-garis rasa sakit yang tadi menghiasi wajah Lukas telah hilang, digantikan oleh ketenangan yang belum pernah anak itu miliki selama di laboratorium Von Hess.
Sekar meletakkan kembali tubuh Lukas di tempat tidur. Ia mengambil kapas dan alkohol, lalu dengan sangat telaten, ia membersihkan noda darah dan bekas perekat perban di kulit Lukas.
Ia menyisir rambut hitam anak itu dengan jemarinya. Idak tangisnya semakin terdengar kasar. Berkali-kali Sekar mengucapkan hal-hal yang bahkan rasanya tidak perlu disebutkan lagi.
"Kalau kamu masih sama ibu, kita pasti melihat ayahmu."
"Ayahmu orang yang baik. Bahkan lebih baik dari seluruh pria di dunia ini, sayang. Tapi salahnya dia bodoh, jauh lebih bodoh dari anak kecil yang belum sekolah," tuturnya di sela-sela tangis.
Beberapa jam kemudian, saat matahari sudah sepenuhnya menyinari Amsterdam, Sekar berdiri di depan sebuah kotak kayu yang berisi abu jenazah Lukas.
Steiner telah membantunya melakukan kremasi darurat di fasilitas milik kenalannya yang tepercaya. Di Eropa, membawa jenazah buronan adalah hal mustahil, namun membawa sebuah guci kecil jauh lebih memungkinkan.
Sekar mengambil selembar kertas dan mulai menulis surat terakhirnya untuk Rahman.
"Rahman, saat kamu membaca ini, mungkin kamu sudah berada di balik jeruji besi, dan aku mungkin sudah menjadi hantu di antara kerumunan orang asing.
Lukas sudah pergi. Dia pergi di fajar yang paling sunyi yang pernah aku temui. Dia pergi membawa separuh dari jiwaku yang tersisa.
Kamu benar, keluarga kita adalah kutukan. Kita mencoba mencintai di tengah ladang ranjau, dan sekarang kita harus menerima bahwa yang tersisa hanyalah puing-puing.
Terima kasih telah memberiku waktu beberapa jam bersama anakku. Terima kasih telah mencoba menjadi pahlawan. Tapi Rahman, jangan pernah mencariku lagi.
Biarkan aku hidup dengan abu ini. Biarkan aku menjadi peringatan bahwa dendam, seberapa pun manisnya, selalu menuntut tumbal yang terlalu mahal."
Sekar menyerahkan surat itu kepada Steiner. "Pastikan ini sampai ke pengacaranya di Hamburg."
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Sekar?" tanya Steiner dengan cemas.
Sekar mengenakan hoodie gelap dan kacamata hitamnya. Ia menjinjing tas kecil yang berisi guci abu Lukas dan sepatu bayi putih yang selama ini ia simpan.
"Aku akan membawanya pulang, Dokter. Bukan ke rumah Wijaya, bukan ke Jakarta. Aku akan membawanya ke tempat di mana orang tuaku dimakamkan. Di sebuah desa kecil yang tidak akan pernah ditemukan oleh Von Hess atau siapa pun."
Sekar melangkah keluar dari gudang, masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang mulai memadati jalanan Amsterdam untuk memulai aktivitas pagi mereka.
Tidak ada yang mengenali bahwa wanita dengan wajah pucat dan mata hancur itu adalah dokter bedah jenius yang sedang dicari di seluruh benua.
Ia berjalan menuju kanal, berhenti sejenak di atas jembatan. Ia melihat pantulan dirinya di air yang tenang. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia telah memenangkan perangnya.
Keluarga Wijaya hancur, Von Hess jatuh, dan ia memiliki Lukas kembali. Namun, ia berdiri di sana sebagai pemenang yang tidak memiliki apa-apa lagi untuk dirayakan.
Namun, apa benar ini adalah akhirnya. Kenapa rasanya masih ada lubang yang dia lewatkan selama ini.