Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman yang Terdengar Biasa
Berita itu tidak datang dengan nada darurat.
Tidak ada breaking news. Tidak ada musik tegang. Tidak ada wajah tegang di layar televisi. Ia muncul seperti berita lain… di sela-sela laporan lalu lintas, harga kebutuhan pokok, dan cuaca akhir pekan.
Judulnya sederhana, nyaris membosankan:
“Pemerintah Umumkan Integrasi Nasional Sistem Identitas Digital Mulai Bertahap.”
Di Yogyakarta, Ari membacanya sambil duduk di warung kopi kecil dekat kosnya. Pagi masih sejuk. Beberapa mahasiswa bercanda di meja sebelah, tertawa tentang hal-hal yang terasa jauh dari berita itu. Ari menyeruput kopi pahitnya, membaca paragraf demi paragraf dengan hati-hati.
Bahasanya rapi. Terukur. Tidak ada kata yang terasa mengancam.
Integrasi.
Efisiensi.
Kemudahan akses.
Keamanan bersama.
Ari mengenali semua kata itu. Ia sudah membacanya dalam potongan-potongan kecil selama berminggu-minggu. Tapi melihatnya berdiri sebagai satu pengumuman nasional membuat dadanya mengencang.
Ia mengirim tautan berita itu ke Random tanpa komentar.
Di Bali, Yanto sedang duduk di teras rumah kontrakannya ketika notifikasi itu muncul. Ia membukanya sambil mengunyah roti tawar. Judulnya membuatnya mendengus kecil.
“Mulai bertahap,” gumamnya. “Selalu.”
Ia membaca cepat, bukan karena tidak peduli, tapi karena ia sudah hafal polanya. Setiap paragraf seperti deja vu. Ia berhenti di satu kalimat yang dicetak tebal:
“Integrasi ini bertujuan memastikan setiap warga mendapatkan layanan yang tepat, adil, dan aman.”
Yanto tertawa pendek. “Tepat menurut siapa?” katanya pada udara.
Di Jakarta, Doli membaca berita yang sama di layar laptopnya, di sela-sela mengedit naskah. Ia memperbesar teks, menyorot istilah-istilah kunci, seperti kebiasaan profesionalnya. Tidak ada yang mengejutkan secara substansi. Yang mengejutkan justru ketiadaan.
Tidak ada penjelasan tentang mekanisme keberatan.
Tidak ada contoh kasus kegagalan.
Tidak ada ruang abu-abu yang diakui.
Ia membuka dokumen kebijakan yang ia edit minggu lalu. Kalimat-kalimatnya nyaris identik. Doli menghela napas panjang.
Di Medan, Wawan melihat berita itu lewat televisi kecil di kafenya. Presenter membacanya dengan senyum netral. Grafis yang muncul bersih, penuh ikon-ikon ramah.
Wawan mematikan suara televisi.
Ia menatap layar tanpa audio, membaca teks berjalan di bawah. Kata-kata itu terasa berbeda ketika tidak disertai suara. Lebih dingin. Lebih telanjang.
Ia teringat notifikasi verifikasi usahanya yang belum juga selesai. Teringat betapa cepat layanan bisa “tertunda” tanpa penjelasan. Berita ini tidak terdengar jahat. Tapi ia tahu, yang tidak terdengar sering kali paling menentukan.
Di Surabaya, Wijaya membaca pengumuman resmi yang sama dari situs kementerian. Ia mencetaknya, seperti kebiasaannya ketika sesuatu terasa penting. Kertas itu terasa ringan di tangannya, tapi isinya berat.
Ia mengambil pulpen, mulai memberi tanda kecil di pinggir halaman.
“Bertahap.”
“Terintegrasi.”
“Penyesuaian teknis.”
Ia tahu, dalam sejarah, kata-kata seperti itu jarang netral.
Di Papua, Kusuma membaca berita itu di layar ponsel sambil duduk di pelabuhan, menunggu kerja harian berikutnya. Ia tidak membaca seluruh artikel. Ia hanya membaca judul dan beberapa kalimat awal.
Integrasi sistem identitas.
Ia tertawa kecil, getir. “Pantes,” gumamnya.
Ia mematikan layar ponsel, menyimpannya kembali ke saku. Berita itu tidak mengubah keputusannya hari ini. Ia tetap harus mengangkat karung. Tetap harus dibayar tunai. Tetap harus bergerak.
Tapi untuk pertama kalinya, ia tahu:
ini bukan sekadar nasib buruk.
Di Random, pesan-pesan mulai bermunculan.
Yanto:
Jadi ini namanya.
Doli:
Bahasanya persis dokumen yang gue edit.
Wijaya:
“Bertahap” itu kata paling berbahaya.
Wawan:
Di TV kelihatannya baik-baik aja…
Ari membaca semuanya tanpa langsung membalas. Ia merasa ada kebutuhan untuk menunggu, membiarkan masing-masing orang bereaksi dengan caranya sendiri.
Beberapa menit kemudian, sebuah video pendek mulai beredar. Potongan konferensi pers. Seorang pejabat berbicara dengan tenang, menjelaskan bahwa sistem ini akan meminimalkan kesalahan manusia dan meningkatkan akurasi layanan.
Komentar di bawah video terbelah.
Sebagian memuji.
Sebagian bertanya.
Sebagian mengejek.
Sebagian lagi menulis: “Yang penting aman.”
Kata itu lagi.
Ari akhirnya mengetik.
Ari:
Ini pertama kalinya semua potongan nyatu di satu layar.
Pesan itu tidak dijawab langsung. Tapi semua orang membacanya.
Hari itu berlalu tanpa insiden besar. Tidak ada demonstrasi. Tidak ada kegaduhan. Hanya satu pengumuman resmi yang lewat seperti angin.
Tapi bagi mereka berenam, sesuatu telah bergeser.
Bukan karena berita itu menjelaskan segalanya, melainkan karena berita itu mengonfirmasi kecurigaan mereka.
Bahwa apa yang mereka alami bukan kesalahan individu.
Bahwa “status abu-abu” bukan kecelakaan.
Bahwa dunia sedang berubah dengan bahasa yang terlalu rapi untuk dipertanyakan.
Benang merah yang masih menggelantung.
Di titik ketika kebijakan akhirnya memiliki wajah publik, dan ketika enam orang menyadari bahwa hidup mereka, pelan-pelan, sedang diselaraskan dengan sesuatu yang tidak pernah mereka setujui secara sadar.
Di sudut lain… ada kasus, ini tidak terjadi di ibu kota.
Ia muncul di kota kecil yang namanya jarang disebut media nasional. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada pejabat besar. Hanya satu antrean panjang di depan kantor layanan publik dan satu video berdurasi tiga puluh delapan detik yang direkam dengan tangan gemetar.
Video itu memperlihatkan seorang perempuan paruh baya berdiri di depan loket. Suaranya bergetar, bukan karena marah, tapi karena kebingungan.
“Data saya katanya belum sinkron,” katanya pada petugas yang wajahnya nyaris tak terlihat. “Saya cuma mau ambil obat.”
Petugas menjawab dengan nada datar. Tidak kasar. Tidak juga ramah. Kalimatnya terdengar seperti hafalan.
“Mohon menunggu proses integrasi, Bu.”
Perempuan itu terdiam beberapa detik, lalu bertanya lagi, lebih pelan.
“Menunggunya sampai kapan?”
Video berakhir di sana.
Tidak ada teriakan. Tidak ada pingsan. Tidak ada bentrok. Justru itu yang membuatnya menyebar cepat. Orang-orang menontonnya tanpa merasa sedang menyaksikan tragedi. Mereka melihatnya seperti melihat kesalahan teknis yang kebetulan terekam.
Di kolom komentar, narasinya bercabang.
“Sabar aja, Bu.”
“Pasti lagi proses.”
“Kalau datanya rapi kan nggak kejadian.”
“Ini pasti karena sistem lama.”
Di sela komentar-komentar itu, ada satu yang tenggelam cepat, hanya sempat disukai belasan orang sebelum hilang:
“Kenapa selalu warga yang disuruh nunggu?”
Di Yogyakarta, Ari menonton video itu di ponselnya sambil duduk di lantai kos. Ia memutarnya tanpa suara, berulang-ulang. Ia tidak tertarik pada argumen di komentar. Ia memperhatikan jeda di wajah perempuan itu… jeda ketika seseorang menyadari bahwa bahasa yang ia pakai tidak lagi berlaku.
Ia mengirim video itu ke Random.
Tidak lama, pesan-pesan masuk.
Doli:
Kasus kayak gini susah ditolak.
Secara prosedur, petugasnya bener.
Yanto:
Dan secara moral, semua orang pura-pura nggak liat.
Wijaya:
Dalam sejarah, momen seperti ini sering dianggap “kasus transisi”.
Wawan:
Di berita lokal udah ada klarifikasinya.
Katanya cuma miskomunikasi.
Ari membaca semuanya, lalu mengetik pelan.
Ari:
Kalau miskomunikasi terjadi berulang,
itu bukan miskomunikasi lagi.
Di Bali, Yanto membagikan video itu ke beberapa grup lain—bukan untuk memancing keributan, tapi untuk melihat reaksi. Hasilnya hampir sama. Orang-orang membela sistem dengan kalimat yang terdengar masuk akal.
“Teknologi memang butuh waktu.”
“Namanya juga perubahan.”
“Pasti nanti lancar.”
Yanto menutup ponselnya dengan perasaan hampa. Ia sadar, kebanyakan orang tidak kejam. Mereka hanya tidak merasa perlu peduli sebelum gilirannya tiba.
Di Jakarta, Doli menerima pesan dari kantornya. Sebuah memo internal singkat berjudul “Panduan Redaksional Terkait Pemberitaan Integrasi Sistem.” Isinya sederhana: hindari istilah yang memicu keresahan, tekankan manfaat jangka panjang, seimbangkan dengan kutipan resmi.
Doli membaca memo itu dua kali. Tidak ada ancaman. Tidak ada larangan. Hanya arahan.
Ia membuka naskah yang sedang ia edit, lalu menambahkan satu catatan kecil di margin, catatan yang mungkin akan dihapus editor berikutnya:
Perlu ruang untuk suara pengguna.
Di Medan, Wawan menonton video yang sama dari ponsel seorang pelanggan. Pelanggan itu tertawa kecil.
“Namanya juga sistem baru,” katanya. “Nanti juga biasa.”
Wawan tersenyum tipis, tapi tidak ikut tertawa. Ia teringat wajah Kusuma ketika bertanya soal pantas atau tidak. Ia teringat perasaan sendiri saat menerima telepon tentang verifikasi.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kalimat “nanti juga biasa” terdengar seperti ancaman yang disamarkan sebagai penghiburan.
Di Surabaya, Wijaya mencetak tangkapan layar komentar-komentar yang terbelah itu. Ia menyusunnya di meja, seperti menyusun potongan arsip. Ia tahu, di masa depan, orang akan bertanya: kenapa tidak ada yang protes sejak awal?
Jawabannya selalu sama:
...karena semuanya terlihat sementara.
Di Papua, Kusuma mendengar cerita itu dari sesama buruh pelabuhan. Seseorang memutar video itu tanpa suara, lalu menggeleng.
“Mirip-mirip,” kata orang itu singkat.
Kusuma tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat karung lagi, merasakan beban di pundaknya. Video itu tidak mengubah posisinya hari ini. Tapi ia tahu, video itu adalah bayangan dari apa yang sedang ia jalani, hanya versi yang lebih bersih, lebih sopan.
Menjelang malam, sebuah klarifikasi resmi muncul. Judulnya lebih panjang, lebih menenangkan:
“Pemerintah Pastikan Layanan Tetap Berjalan Selama Masa Integrasi.”
Di paragraf ketiga, ada kalimat yang terdengar familiar:
“Kasus-kasus yang muncul bersifat sementara dan akan terselesaikan seiring waktu.”
Ari membaca kalimat itu, lalu menutup layar.
Di Random, ia mengetik satu pesan terakhir hari itu.
Ari:
Kalau “sementara” selalu dibayar sama orang yang sama,
itu bukan transisi.
Itu pola.
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang menimpali panjang. Hanya satu emoji tanda centang biru di masing-masing nama, tanda bahwa pesan itu terbaca, dan mungkin disimpan.
Malam turun di kota-kota berbeda dengan cara masing-masing. Tidak ada sirene. Tidak ada pernyataan darurat. Tidak ada alasan untuk panik.
Dan justru karena itulah… berakhir dengan perasaan yang tidak nyaman:
…bahwa dunia tidak sedang runtuh, melainkan menjadi terlalu rapi, dan dalam kerapian itu, manusia mulai belajar menerima bahwa menunggu tanpa batas adalah harga yang wajar untuk sesuatu yang disebut kemajuan.