Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 Jarak
Tidak semua jarak adalah perpisahan.
Sebagian jarak adalah cara paling sunyi untuk menjaga diri agar tetap di jalan-Nya.
—Celine Chadia Cendana—
“Aku harus jaga jarak,” bisiknya.
Kalimat itu keluar seperti doa yang ragu—pelan, tapi penuh beban.
Hari-hari berikutnya, jarak itu benar-benar ia bangun. Bukan dengan sikap dingin, melainkan dengan langkah mundur yang halus. Jika Aldivano hadir di satu ruang, Celine memilih berada di sisi lain. Jika ada kesempatan berbincang, ia mempersingkatnya dengan senyum sopan.
Ia seperti seseorang yang berjalan di tepi jurang—setiap langkah hati-hati, setiap napas tertahan.
Aldivano merasakannya sejak hari ketiga. Perubahan Celine tidak dramatis. Tidak ada kata-kata tajam, tidak ada penolakan terang-terangan. Namun justru itulah yang membuatnya terasa—seperti udara dingin yang merayap perlahan ke tulang.
Ia tidak lagi menemukan Celine menoleh spontan ketika namanya disebut. Tatapannya tak lagi bertahan lama. Senyum itu masih ada, tapi seperti pantulan di kaca—indah, namun tak bisa disentuh.
Calvin memperhatikan Aldivano yang lebih sering diam.
“Kamu kenapa?” tanya Calvin suatu sore.
Aldivano menatap cangkir kopinya. Uapnya naik, lalu lenyap—seperti sesuatu yang ingin ia genggam tapi tak bisa.
“Celine menjaga jarak,” jawabnya pelan.
Calvin menghela napas. “Kamu mau tanya langsung?”
Aldivano menggeleng. “Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku bertanya sekarang,” kata Aldivano, “itu bukan lagi menghormati. Itu menekan.”
Calvin terdiam.
Aldivano melanjutkan, suaranya tenang seperti danau yang menahan badai.
“Aku tidak ingin jadi alasan dia gelisah. Kalau jarak itu yang dia butuhkan untuk menjaga hatinya… aku akan berdiri di tempatku.”
Ia tidak mengejar.
Tidak mengeluh.
Tidak mengadu.
Ia membaca jarak itu seperti seseorang membaca langit—bukan untuk melawan hujan, tapi menyiapkan payung.
Malam-malam Celine menjadi lebih sunyi.
Ia sering terbangun sebelum azan Subuh, dadanya sesak seperti ada batu besar yang diletakkan tepat di atas jantung. Ia duduk di sajadah lebih lama dari biasanya, doa-doanya keluar tersendat, seperti kata-kata yang harus melewati lorong sempit.
“Ya Allah,” bisiknya, “kalau ini baik, dekatkan. Kalau ini tidak, jauhkan… tanpa membuatku kehilangan diri.”
Air matanya jatuh satu-satu. Tangisnya tidak keras, namun panjang—seperti hujan yang turun tanpa guntur.
Suatu malam, ponselnya bergetar. Panggilan video masuk.
Grandma.
Celine terdiam sejenak, lalu menjawab.
“Assalamu’alaikum, Grandma.”
“Wa’alaikumussalam, cahaya hatiku.”
Suara itu—meski datang dari ribuan kilometer jauhnya—terasa seperti pelukan. Celine menahan air matanya, namun gagal.
Grandma menatapnya lama. Wajah renta itu tenang, seperti bulan yang tak pernah lelah memantulkan cahaya.
“Kamu sedang menahan sesuatu,” kata Grandma.
Celine tertunduk. “Aku cuma… mencoba menjaga diri.”
Grandma tersenyum lembut. “Menjaga diri itu ibadah, Sayang. Tapi jangan sampai kamu menyakiti dirimu sendiri dalam prosesnya.”
“Aku takut salah langkah,” ujar Celine lirih.
Grandma mengangguk. “Takut itu wajar. Bahkan para sahabat Nabi pun takut ketika hatinya diuji.”
Ia lalu berkata pelan, namun tegas:
“Allah berfirman, ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’ (QS. Al-Baqarah: 286).
Kalau hatimu diuji, itu artinya kamu mampu melewatinya.”
Air mata Celine jatuh lagi.
“Apa aku salah menjaga jarak?” tanyanya.
Grandma tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Kalau jarak itu membuatmu lebih dekat pada Allah, maka itu bukan kesalahan.”
Hari demi hari, jarak itu mengajarkan keduanya hal yang berbeda.
Bagi Celine, jarak itu seperti puasa hati—menahan, bukan mematikan. Ia belajar bahwa mencintai bukan selalu tentang mendekat, tapi tentang tahu kapan harus berhenti.
Ia teringat satu hadits yang pernah ia baca:
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Ia menanyakan itu pada dirinya sendiri setiap malam:
Apakah perasaan ini mendekatkanku pada kebaikan, atau justru membuatku lalai?
Sementara bagi Aldivano, jarak itu adalah ujian kesabaran. Ia belajar bahwa niat baik tidak selalu langsung berbuah. Bahwa mencintai secara benar terkadang berarti menunggu dalam diam.
Ia mengingat ayat:
“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Kesabaran itu tidak mengubahnya menjadi dingin. Justru membuatnya lebih lembut—lebih berhati-hati.
Suatu sore, mereka bertemu lagi. Tak terhindarkan.
Di lorong kampus, langkah mereka berhenti bersamaan. Jarak di antara mereka cukup—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Seperti garis tipis yang tak boleh dilangkahi.
“Assalamu’alaikum,” sapa Aldivano.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Celine.
Hening sejenak.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Aldivano akhirnya.
Celine mengangguk. “Insya Allah.”
Tidak ada tuntutan. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Aldivano hanya tersenyum.
“Kalau kamu butuh ruang,” katanya, “aku mengerti.”
Kalimat itu seperti angin yang meluruhkan beban. Celine menunduk, menahan getar di dadanya.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Mereka berpisah tanpa janji. Namun di hati masing-masing, ada keyakinan kecil yang tumbuh—bahwa Allah sedang bekerja dengan cara-Nya sendiri.
Dari jarak itu, ada pelajaran yang tertinggal—seperti jejak kaki di pasir basah: Bahwa menjaga hati adalah bentuk cinta paling dewasa.
Bahwa tidak semua yang terasa indah harus segera digenggam.
Bahwa Allah seringkali menguji bukan dengan kehilangan, tapi dengan menahan.
Dan Celine belajar satu hal penting dari Grandma:
Jika suatu perasaan membuatmu lebih sering berdoa,
lebih sering menangis di hadapan Allah,
lebih sering bertanya tentang dirimu sendiri—
maka perasaan itu bukan musuh.
Ia adalah ujian.
Di malam yang sunyi, Celine menatap langit. Bintang-bintang bertaburan, seperti jawaban yang belum selesai.
“Jika ini dari-Mu,” bisiknya, “aku titipkan pada waktu-Mu.”
Dan jauh di tempat lain, Aldivano menengadah, mengucap doa yang sama—tanpa saling tahu, namun menuju arah yang serupa.
***
Malam itu tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya—atau setidaknya, begitu yang Celine kira.
Langit gelap seperti kain hitam yang dibentangkan perlahan, bintang-bintang bertaburan seolah sengaja dijauhkan satu sama lain. Angin berembus pelan, menyentuh kulitnya seperti bisikan yang tak selesai diucapkan.
Celine duduk sendirian di balkon kamarnya. Lampu kamar ia matikan, menyisakan cahaya kota yang samar—cukup untuk melihat, tapi tak cukup untuk merasa aman.
Di pangkuannya, ponsel tergeletak diam.
Terlalu diam.
Ia menatap layar itu seperti seseorang menatap pintu yang tak berani ia ketuk. Ada banyak nama di sana, banyak pesan masuk dari grup BEM, dari sahabat-sahabatnya. Namun ada satu ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapa pun.
Aldivano.
Celine menghela napas panjang. Napas itu keluar seperti beban yang terlalu lama ditahan—bergetar, berat, dan nyaris pecah.
“Apa sebenarnya yang aku jaga?” gumamnya lirih.
Pertanyaan itu jatuh di antara suara malam, tak langsung mendapat jawaban. Namun dadanya terasa sesak, seolah pertanyaan itu mengetuk dari dalam, memaksa keluar.
Ia memejamkan mata.
Dalam gelap, ingatan datang tanpa izin.
Cara Aldivano selalu menundukkan pandangan ketika berbicara terlalu lama.
Nada suaranya yang tenang, seperti laut yang tak pernah ingin menenggelamkan.
Dan jarak yang kini ia ciptakan—jarak yang awalnya terasa aman, namun lama-lama seperti tembok yang justru memantulkan kesepian.
Celine membuka mata.
“Aku bilang ini demi Allah,” katanya pada dirinya sendiri, “tapi kenapa hatiku terus bergetar?”
Pertanyaan itu menamparnya pelan, seperti ombak kecil yang berulang-ulang menghantam batu. Tidak keras, tapi konsisten. Dan justru karena itulah ia melelahkan.
Ia teringat perkataan Grandma beberapa malam lalu:
“Jujur pada Allah itu mudah, Sayang.
Yang sulit… jujur pada hati sendiri.”
Celine menelan ludah.
Selama ini ia pikir ia menjaga diri.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia berani mengakui satu hal—meski masih dalam bisikan:
Ia bukan menjauh karena tidak peduli.
Ia menjauh karena peduli terlalu dalam.
Dadanya terasa panas, seperti ada api kecil yang selama ini ia selimuti dengan doa, dengan logika, dengan dalih kebaikan. Api itu tidak padam. Ia hanya mengecil—menunggu waktu.
“Kalau aku jujur,” bisiknya gemetar, “apa aku akan kehilangan kendali?”
Tangannya meraih ponsel.
Layar menyala.
Nama itu masih tersimpan rapi. Tidak pernah dihapus. Tidak pernah diblokir. Seperti pintu yang selalu ia tutup, tapi tak pernah ia kunci.
Jarinya melayang di atas layar.
Tidak mengetik apa pun.
Tidak menelepon.
Namun kali ini, ia tidak menjauhkan tangannya.
Dan di situlah Celine sadar—jarak yang ia bangun mulai retak.
Bukan karena Aldivano memaksa.
Bukan karena siapa pun.
Melainkan karena ia lelah berpura-pura tidak merasakan apa yang jelas-jelas hidup di dadanya.
Air mata jatuh satu titik, lalu berhenti.
Celine tersenyum kecil—senyum yang bukan bahagia, tapi jujur.
“Aku belum tahu harus bagaimana,” katanya pelan, “tapi aku tahu satu hal… aku tak bisa terus lari.”
Di kejauhan, azan Isya menggema, seperti panggilan yang datang tepat waktu. Celine berdiri, menutup balkon, membawa serta ponselnya.
Sebelum melangkah ke sajadah, ia menatap layar sekali lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia menjaga jarak—
Ia tidak lagi memohon agar perasaannya dihilangkan.
Ia hanya berdoa agar diberi keberanian.
Malam itu, Celine belum jujur pada siapa pun.
Namun hatinya—
akhirnya berhenti bersembunyi.
Hujan turun tanpa peringatan.
Bukan hujan deras yang memaksa orang berlari, melainkan rintik yang jatuh perlahan, seperti ingin ditemani. Celine duduk di tepi tempat tidur, jendela kamarnya sedikit terbuka, membiarkan udara dingin menyentuh kulitnya—dingin yang terasa seperti pengingat bahwa ia masih terjaga.
Di tangannya, ponsel menyala.
Nama itu kembali muncul di layar.
Aldivano.
Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada panggilan tak terjawab. Justru itulah yang membuat dadanya terasa semakin sempit. Sunyi itu seperti ruang kosong yang terlalu luas untuk diabaikan.
Celine menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.
“Cuma satu kalimat,” gumamnya pada diri sendiri, seperti sedang membujuk anak kecil yang ketakutan.
Jarinya mulai bergerak.
Mas Aldi…
Ia berhenti.
Kursor berkedip. Satu kedipan terasa seperti satu detik yang terlalu panjang. Hatinya berdegup, tidak lagi ragu, tapi takut—takut jika setelah ini, tak ada jalan kembali ke ketenangan semu yang selama ini ia bangun.
Ia melanjutkan.
Aku cuma mau bilang—
Tangannya gemetar.
Celine memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Dadanya naik turun seperti ombak yang kehilangan pantai. Ada begitu banyak kata yang ingin keluar: tentang jarak, tentang rindu yang tak ia akui, tentang rasa aman yang justru membuatnya gentar.
Namun justru karena terlalu banyak, ia tak tahu harus memilih yang mana.
Aku ngerasa akhir-akhir ini…
Pesan itu kini tiga baris.
Belum terkirim.
Ia membayangkan wajah Aldivano saat menerima pesan ini. Tatapan tenangnya. Cara ia tidak pernah terburu-buru dalam menjawab. Dan kemungkinan—kemungkinan bahwa lelaki itu akan memahami terlalu cepat, terlalu dalam.
Celine menelan ludah.
“Kalau aku kirim,” bisiknya, “apa aku siap dengan jawabannya?”
Hujan di luar terdengar semakin jelas, seperti ribuan jari kecil yang mengetuk jendela. Celine merasa seolah malam ikut menunggu keputusannya.
Tangannya melayang ke tombol kirim.
Satu sentuhan lagi.
Namun justru di detik itulah hatinya seperti ditarik ke belakang. Bukan oleh ketakutan akan Aldivano—melainkan oleh kesadaran yang datang tiba-tiba, seperti cahaya yang menyilaukan.
Ia belum sepenuhnya jujur pada dirinya sendiri.
Bukan tentang rasa—tapi tentang kesiapan.
Celine menghapus satu baris.
Lalu satu lagi.
Hingga hanya tersisa:
Kak Aldi…
Ia menatap dua kata itu lama sekali.
Akhirnya, ia menekan hapus semua.
Layar kembali kosong.
Dan entah kenapa, air mata justru jatuh di saat tidak ada satu kata pun tersisa. Seperti hujan yang akhirnya menemukan jalan ke bumi.
“Maaf,” katanya lirih—entah pada Aldivano, atau pada dirinya sendiri.
Di tempat lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Aldivano duduk di ruang kerjanya. Ponselnya bergetar singkat.
Celine is typing…
Ia berhenti membaca berkas di hadapannya.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu tulisan itu menghilang.
Tidak ada pesan masuk.
Aldivano menatap layar ponsel cukup lama. Tidak kecewa. Tidak tersenyum. Hanya menarik napas pelan, seperti seseorang yang sudah menduga—namun tetap berharap.
“Pelan-pelan,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Aku tunggu.”
Ia meletakkan ponsel, menengadah sejenak, lalu berdoa tanpa suara.
"Sebentar lagi, Cel," gumam Aldivano disela-sela doanya.
Sementara itu, di kamar yang masih diterangi cahaya redup, Celine berbaring sambil menatap langit-langit. Dadanya masih berdebar, tapi kali ini bukan karena panik.
Melainkan karena satu kesadaran kecil yang tumbuh diam-diam:
Jika satu pesan saja bisa membuat hatinya sedemikian gaduh,
maka perasaan itu sudah terlalu nyata untuk terus disangkal.
Malam itu, pesan itu memang tidak pernah terkirim.
Namun sesuatu telah berpindah tempat—
dari sekadar rasa…
menjadi keberanian yang sedang belajar menunggu.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...