“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#10
“Terimkasih ya.”
“Sama-sama. Terus gimana sama pak ustad?’’
“Udah ditangani sama dokter di sini. Semoga aja racun ularnya belum menyebar ke mana-mana.”
“Iya, semoga aja.”
“Oh iya, kamu Ayunda ya?”
Ayunda merasa heran darimana dokter itu tahu namanya.
“Kenalkan. Saya Andreas.” Andreas mengulurkan tangannya.
“Salam kenal, Dok.” Menyambut uluran tangan Andreas.
“Kamu kenapa jarang sekali terlihat? Saya waktu itu cuma melihat kamu di jendela. Selebihnya saya tidak pernah melihat kamu lagi kecuali hari ini.”
“Maksdunya, dok?’’ Tanya Ayunda heran.
Bagaimana orang ini tahu aku tidak pernah keluar rumah? Masa iya dia selalu mencari keberadaanku sih?
“Nggak, kan beberapa gadis di sini kadang suka ngintip kami diam-diam. Tapi saya perhatiin kamu gak pernah sama sekali?”
“Buat apa?’
“Yaaa, kalau itu saya juga gak tau kenapa merka suka kadang mengintip. Padahal kan kalau mau berobat tinggal datang saja.”
“Bagi merka kalian itu harapan. Tapi bagi saya tidak.”
“Wah, kayaknya punya dendam pribadi ya sama profesi dokter? Pernah diperlakukan gak baik ya saat berobat?”
Ayunda menggelengkan kepala.
“Terus, kenapa dong?”
Gadis itu merasa tidak nyaman dengan rasa ingin tahu Andreas akan kehidupannya.
“Kita mau menunggu pak ustad sampai sembuh apa gimana, dok?” Tanya ayunda mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh, enggak. Kita bisa pulang sekarang.”
“Mari kalau begitu,” ajak ayunda ketus.
Melihat mimik wajah ayunda yang dingin bahkan terlihat kesal. Andreas tidak berani menyapanya lagi. Dia memilih untuk mengobrol bersama rekan nya yang lain. Meski sesekali Andreas mengintip dari spion tengah mobil.
‘’Sekali lagi terimkasih ya.”
‘’Sama-sama.”
“Ayunda, nanti kapan-kapan boleh gak saya dan yang aibnya maen ke imah kamu?”
“Dokter diundang ke sini dengan biaya yang tidak sakit bukan untuk main ke rumah gadis, tai untuk bekerja. Mengobati orang-orang sakit di desa ini.”
Andreas dan rekan nya saling melirik.
“Wanita ini kenapa? Jutek banget perasaan.”
“Mungkin sedang patah hati makanya dia sentimen sama kita.”
“Serem ya lihat tatapan matanya. Datar tapi kok kayaknya yang nyesek aja gitu lihatnya. Dia kayak punya dendam sama kita, padah kita gak kenal sama dia.”
“Mungkin dia dendam sama teman sejawat kita. Udahlah ayo kembali ke camp.”
Andreas tersenyum tipis saat dia kembali menuju camp pengobatan.
Bodoh banget kamu, Zay. Benar-benar bodoh.
...***...
Pengobatan gratis itu sudah berlangsung sepekan lamanya. Selama itu pula camp pengobatan tidak pernah sepi. Ada saja pasien yang datang meski hanya sekedar sakit kepal biasa.
Selain pengobatan, merka juga melakukan penyuluhan pada warga tentang cara hidup yang sehat, dan bagaimana melakukan pertolongan pertama pada orang yang digigit ular.
Sementara para dokter wanita mengadakan penyuluhan pada anak-anak kecil dan remaja wanita di sana.
“Kakak dokter tanya sekali lagi yaaa. Boleh enggak kita minum minuman yang berwarna setiap hari?’
“Tidaaaak.”
“Boleh nggak kita makan ciki setiap hari?’
“Tidaaaak.”
“Pinter. Kalau jajan ciki tiap hari nanti akan apa?”
“Uangnya habiiiiis.”
“Ehhh, kok itu.”
“Hahahahah”
“Bener tapi gak bener juga.”
Keseruan dokter-dokter cantik itu bersama anal-anak membuat hati Ayunda kembali merasakan sesuatu. Dia yang kebetulan lewat saat itu, berhenti untuk sesaat dan melihat kegiatan tersebut.
Sore hari pun tiba. Kabut kembali menyelimuti desa tersebut. Dan ya, meski musim hujan sudah berlalu, kabut tetap saja ada meski tidak setebal saat musim hujan datang.
Namun, bagi para dokter yang notabene tinggal di kota dengan suhu panas, merka akan merasa sangat kedinginan.
“Untung ya merka tinggal di rumah Herman, jadi gak akan terlalu kedinginan. Coba kalau tinggal di rumah penduduk yang lain? Kasian anak-anak itu.”
“Mereka tinggal di sana, Ma?” Tanya Ayunda.
“Tadinya sih nggak. Merka sudah di sediakan rumah sama panitia cuma katanya airnya kadang macet, terus kan dingin juga karena rumahnya masih bilik.”
Ayunda mengangguk. “Kenapa harus di sana?”
“Om Herman yang menawarkan. Kebetulan zayan juga datang tadi siang.”
Tangan ayunda yang hendak masuk ke dalam mulut mengantarkan nasi dan daging yan, terhenti. Nunung dan Pak Mul saling menatap.
“Udah, Ma. Gak apa-apa kok. Santai aja.”
“Maaf ya, neng.”
Ayunda melanjutkan makan nya sampai habis. Setelah makan malam selesai, ayunda membantu ibunya merapikan rumah. Mencuci piring dan menutup tirai rumah. Memeriksa setiap pintu untuk memastikan sudah terkunci atau belum.
Dirasa semuanya sudah sesuai, ayunda kembali ke dalam kamarnya. Kali ini dia tidak belajar mengetik atau belajar dari media sosial lainnya. Pikiran Ayunda terganggu karena berita kedatangan zayan.
dia meras gelisah takut bertemu dengan laki-laki yang pernah dicintainya selama beberapa tahun itu.
“Kalau ketemu, aku harus gimana? Mana besok udah terlanjur menerima undangan penyuluhan remaja.”
Ayunda benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak malam itu. Hingga dia bangun kesiangan karena tidurnya lelap menjelang subuh.
Bolak balik membuka lemari. Mencari pakaian yang pantas untuk dikenakan. Mencoba ini dan itu tapi tetap saja ayunda merasa kurang pas. Lelah dengan sikapnya sendiri, ayunda marah tidak karuan.
Dadanya bergemuruh dan wajahnya memerah. Dia merasa sangat sulit untuk memantaskan diri berhadapan dengan dokter-dokter wanita itu.
“Bodo lah.”
Ayunda memakain baju seadanya dengan membiarkan rambutnya tergerai begitu saja. Tanpa riasan make up sedikitpun. Hanya parfum dan lotion tubuh.
Syifa sahabatnya sudah menunggu di depan rumah, juga beberapa gadis lainnya. Mereka berjalan menuju aula pertemuan desa. Di sana sudah ada tiga dokter wanita yang akan memberikan penyuluhan. Ayunda merasa lega karena hanya ada mereka bertiga. Tidak dengan yang lain.
Kedatangan merka disambut hangat oleh tiga dokter tersebut yang juga ditemani noleh ibu-ibu kader dan ibu-ibu PKK. Berhubung ini penyuluhan tentang wanita, maka merka pun diikut sertakan hadir.
Acara pertama dimulai dengan sambuta, pembukaan, perkenalan dan baru ke acara inti.
Saat materi yang disampaikan sudah setengah jalan, tiba-tiba para gadis yang hadir sedikit riuh dan saling berbisi. Ayunda yang saat itu sedang fokus mendengarkan arteri pun merasa terusik. Dia menikah ke belakang dan melihat para dokter pria datang bersama dengan Zayan.
Deg!
Ayunda langsung memalingkan wajahnya karena tidak ingin bertemu pandang dengan Zayan.
Hati para gadis itu berdebar melihat dokter-dokter itu datang. Sementara hati Ayunda gemetar takut jika dia sampai beratatapan dengan Zayan.
Suasana kembali tenang saat pembaca acara meminta agar para gadis yang hadir untuk diam dan lebih tenang mendengarkan materi yang sedang disampaikan.
Diam-diam ayunda mencuri pandang pada Zayan. Pria itu duduk tenang berjejer dengan semua dokter di kursi depan yang menghadap audiens.
Ayunda tersenyum sinis. Sinis pada keadaan dirinya sendiri. Dia merasa minder melihat ketimpangan yang terjadi.mereka duduk di depan dengan elegan, tenang dan rapi. Sementara Ayunda ada di barisan para wanita yang hanya lulusan sma, yang terlihat jelas sedang mengagumi para dokter pria di depan sana.
Dia merasa sangat rendah.