Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menahan diri
Hari-hari berlalu, kehidupan Raras kembali tenang seperti dulu. Tetapi tentang hubungannya dengan Zayn masih jalan ditempat. Tak ada kemajuan sama sekali dan Zayn semakin dingin saja.
Saat ini Raras tengah makan siang bersama sahabatnya, Gita telah kembali ke Indonesia dan akan menetap tanpa harus bolak balik lagi.
“Ada gosip apa nih selama gue gak ada?” Tanya Gita menyuapkan makannya.
“Gak ada.”
“Lesu amat lo? Mas Zayn gimana?”
“Gimana apanya?” Tanya Raras heran.
“Ya hubungan lo sama dia?”
Raras mengedikan bahu. “Gak gimana-gimana, biasa aja.”
“Hah? Gak ada kemajuan gitu? Lo serius mau gitu terus? Kalau mas Zayn gak ada pergerakan mending lo aja deh yang gerak.”
“Gerak gimana maksudnya?”
“Ya lo aja yang lebih agresif.” Bisik Gita.
“Ngaco!” Raras menabok lengan sahabatnya.
“Kok ngaco sih. Kalau kalian kaya gitu terus kapan jadinya ini ponakan gue?” Goda Gita.
Raras mendelik. “Lo aja yang bikin sendiri.”
“Sama mas Zayn? Ogah ah gue juga dingin gitu, ntar gue beku.”
“Sembarangan! Suami gue itu.” Raras menutup mulutnya keceplosan.
“Nah kan, masih diakui. Buruan makannya, ikut gue.”
“Kemana?”
“Ada deh.”
Selesai makan Raras diajak pergi kemall oleh sahabatnya. Dan yang lebih mencengangkannya lagi Gita membawa Raras masuk kedalam toko dalaman.
“Woy, ngapain ini kita kesini?” Protes Raras.
“Buruan, ikut aja.”
Gita menarik tangan Raras masuk ke dalam toko yang penuh dengan berbagai koleksi pakaian dalam dan piyama dengan desain yang menarik. Raras langsung memerah wajahnya dan ingin balik keluar.
"Gue bilang nggak mau! Malu-maluin aja," protes Raras menarik tangannya keluar dari genggaman Gita.
“Ini penting!”
"Sis, tolong bantu teman ku ini pilih yang cocok ya. Dia mau buat kejutan buat suaminya," ucap Gita sambil menunjuk ke arah Raras yang memalingkan wajah karena malu.
Pramuniaga dengan ramah mengajak Raras ke area fitting room, menyodorkan beberapa pilihan dengan desain yang elegan namun tetap sopan. "Tenang saja kak, banyak pasangan yang beli di sini untuk mempererat hubungan mereka lho. Ini bukan hal yang memalukan kok," ujar pramuniaga dengan senyum hangat.
Selain itu Gita dengan isengnya memasukan beberapa lingerie dan pakaian dalam model terbaru ke dalam belanjaan Raras, dia berharap hubungan baik sahabatnya.
Setelah selesai keduanya berjalan keluar. Raras manyun tak memperdulikan sahabatnya yang tertinggal dibelakang.
“Woy tungguin dong.”
“Malesin tau!”
“Heheh. Ya sorry, ini kan bentuk usaha juga. Jangan lupa lo pake nanti malam.”
“Ogah!”
“Terus kabarin gue gimana ekspresi mas Zayn saat lo pakai baju haram itu.”
“GITA! Sinting lo.” Teriak Raras geram.
Gita ngacir lebih dulu sambil tertawa terbahak-bahak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah sampai rumah, Raras langsung masuk kamar dan melempar tas belanjaan ke atas ranjang. Dia melihat isi tasnya dan langsung memerah wajahnya, selain piyama yang dia pilih, ada beberapa lingerie dengan desain yang jauh lebih terbuka dari yang dia bayangkan.
"Gita ini benar-benar jail banget!" gumam Raras sambil mengeluarkan satu per satu barangnya.
Menjembrengnya satu persatu sambil membayangkan dirinya memakai itu dihadapan Zayn. Kini Raras merasa otaknya telah terkontaminasi virus Gita.
Buru-buru Raras menggelengkan kepalanya, dan menyembunyikan lingerie-lingerie itu kebawah bantal.
Terdengar suara langkah mendekat disertai deheman yang khas. “Ada apa?” Tanya Zayn tiba-tiba.
“Gak ada.” Jawab Raras bingung.
“Wajah kamu merah, sakit?” Tanya Zayn memastikan.
“Eh, nggak kok.”
Zayn mengangguk, lalu masuk kedalam kamar mandi.
Raras menghela nafas lega saat pintu kamar mandi tertutup. Dia buru-buru mengambil tas belanjaan dan menyembunyikannya di dalam lemari bawah yang jarang tersentuh.
"Salah satu hari teraneh dalam hidupku..." gumamnya sambil mengusap dahinya yang tiba-tiba berkeringat.
Sementara di dalam kamar mandi, Zayn menatap wajahnya sendiri yang memerah. Dia sempat melihat lingerie yang istrinya beli tadi. Kini dia jadi membayangkan seandainya Raras memakai pakaian itu dihadapannya.
Zayn menghela nafas dan mencuci wajahnya dengan air dingin untuk menenangkan diri. Pikirannya semakin liar apalagi warna hitam adalah warna kesukaannya.
Raras berpikir suaminya semakin menjauh dan semakin mengacuhkannya. Tapi yang terjadi sebenarnya, Zayn mati-matian menahan diri. Semakin hari Zayn merasa tubuhnya semakin tak terkendali saat berdekatan dengan istrinya.
Entahlah, tapi Zayn yakin ini bukan masalah cinta. Itu hanya reaksi tubuh normal saat berdekatan dengan lawan jenis. Zayn terus menyangkal hatinya tak ingin berdekatan dengan Raras.
Bersambung....