Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Cemburu Sang Predator
Sanatorium pribadi itu kini tak lagi terasa seperti benteng pertahanan, melainkan sebuah rumah yang hangat. Namun, bagi Aruna, ada satu gairah yang kembali membara: mimpinya yang sempat terputus tujuh tahun lalu. Sesuai janji Dante, Aruna akhirnya kembali ke bangku universitas untuk menyelesaikan gelar Bioteknologinya.
Pagi itu, suasana di lobi Sanatorium sedikit berbeda. Aruna berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja flanel kebesaran dan celana jins yang membuatnya tampak seperti mahasiswi berusia dua puluh satu tahun, bukan wanita yang telah melewati badai kehidupan bersama seorang bos mafia.
"Kau yakin ingin memakai itu?" suara berat dan rendah bergema dari arah tangga.
Aruna menoleh. Dante berdiri di sana, mengenakan jubah mandi sutra hitamnya, memegang cangkir espresso. Matanya yang abu-abu menyipit, menatap pakaian Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa? Ini pakaian standar mahasiswi, Dante," ujar Aruna sambil tersenyum, ia mendekati Dante dan merapikan kerah jubah pria itu.
Dante meletakkan cangkirnya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Aruna, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Terlalu terbuka," gumamnya, padahal kemeja Aruna tertutup rapat hingga kancing paling atas.
Aruna tertawa kecil, ia bisa merasakan detak jantung Dante yang stabil namun kuat. "Kau posesif sekali. Aku hanya pergi ke laboratorium, bukan ke pesta dansa."
Dante tidak menjawab, ia justru menunduk dan mengecup leher Aruna, meninggalkan tanda merah kecil yang tersembunyi di balik kerah kemejanya. "Itu agar mereka tahu kau sudah ada yang memiliki."
Aruna tiba di kampus dengan dikawal oleh Marco yang mengemudikan SUV hitam legam. Meskipun Dante ingin mengirim sepuluh pengawal, Aruna bersikeras hanya ingin Marco yang mengantarnya agar tidak terlalu mencolok.
Suasana kampus begitu riuh. Suara tawa mahasiswa, diskusi di selasar, dan aroma buku-buku tua membuat Aruna merasa hidup kembali. Di laboratorium Bioteknologi, ia bertemu dengan kelompok praktikumnya. Salah satunya adalah Reno, seorang mahasiswa tingkat akhir yang cerdas, ramah, dan memiliki senyum yang sangat menawan.
"Aruna? Wah, aku tidak menyangka rekan timku secantik ini," ujar Reno saat mereka mulai mempersiapkan mikroskop.
Aruna tersenyum sopan. "Terima kasih, Reno. Mohon bantuannya ya, aku sudah lama tidak menyentuh alat-alat ini."
Reno sangat membantu. Berkali-kali ia mendekat untuk menunjukkan cara kalibrasi lensa, membuat jarak di antara mereka cukup dekat. Aruna tidak merasa ada yang salah, baginya ini hanyalah profesionalisme kampus. Namun, ia tidak menyadari bahwa di seberang gerbang kampus, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap sedang mengawasi setiap gerakannya.
Saat jam istirahat, Aruna duduk di kantin bersama Reno untuk mendiskusikan laporan praktikum. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama "Dante" muncul di layar.
"Halo?"
"Siapa pria yang sedang duduk di depanmu, Aruna?" suara Dante di seberang sana terdengar sangat dingin, jenis suara yang biasanya ia gunakan sebelum memerintahkan Marco untuk menghabisi seseorang.
Aruna tersentak, ia spontan melihat sekeliling. "Kau mengawasiku?!"
"Aku melindungimu. Jawab pertanyaanku. Kenapa dia tertawa sambil menyentuh tanganmu?"
Aruna melihat ke arah tangannya. Reno memang sempat menyentuh jarinya saat mereka memperebutkan buku catatan tadi. "Dante, dia hanya teman sekelompok. Jangan konyol. Dia sedang mengajariku tentang struktur enzim."
"Aku bisa membelikanmu seluruh laboratorium dan profesor terbaik dunia untuk mengajarimu di rumah. Kau tidak perlu pria berambut acak-acakan itu untuk melakukannya," desis Dante.
"Dante Valerius, berhenti bersikap seperti anak kecil! Aku akan meneleponmu nanti setelah kuliah selesai!" Aruna mematikan telepon dengan kesal, meskipun di dalam hatinya, ada rasa geli dan hangat melihat sisi cemburu pria sedingin Dante.
Sore harinya, saat Aruna melangkah keluar dari gerbang kampus, ia terkejut melihat Dante sudah berdiri di samping mobil, bukan lagi Marco. Dante mengenakan setelan jas abu-abu gelap, kacamata hitam, dan aura yang begitu mendominasi hingga mahasiswa yang lewat spontan memberi jalan seolah seorang raja sedang melintas.
Reno, yang kebetulan berjalan di samping Aruna, ikut terpaku. "Aruna... itu kakakmu?"
Sebelum Aruna sempat menjawab, Dante sudah melangkah maju. Ia merangkul bahu Aruna dengan sangat posesif, lalu menatap Reno dari balik kacamata hitamnya dengan tatapan yang sanggup membekukan darah.
"Aku suaminya," ujar Dante dengan suara berat yang penuh penekanan. Sebenarnya mereka belum menikah, tapi Dante tidak peduli dengan detail teknis itu sekarang.
Reno menelan ludah, wajahnya pucat pasi. "O-oh, maaf. Saya Reno, teman sekelompok Aruna."
Dante tidak menjabat tangan Reno yang terulur. Ia hanya menarik Aruna masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil terasa sangat panas karena kecemburuan yang meluap-luap.
"Kau keterlaluan, Dante," ujar Aruna, mencoba menahan tawa. "Kau hampir membuat Reno jantungan."
Dante melepas kacamatanya, matanya yang abu-abu berkilat tajam. Ia menyudutkan Aruna ke kursi mobil, mengunci tubuh wanita itu dengan lengannya yang kuat. "Aku tidak suka cara dia menatapmu. Aku tidak suka ada pria lain yang menghirup udara yang sama denganmu dalam jarak sedekat itu."
"Dante... dia cuma teman kuliah," bisik Aruna, tangannya merayap ke dada Dante, merasakan jantung pria itu berdegup kencang karena emosi.
"Kau milikku, Aruna. Sejak malam di RS Medika itu, kau sudah menjadi milikku sepenuhnya. Jangan pernah berharap aku akan membagi perhatianmu dengan bocah kampus itu," Dante menunduk, mencium Aruna dengan sangat dalam, sebuah ciuman yang menuntut kepatuhan sekaligus menunjukkan betapa takutnya ia kehilangan Aruna.
Aruna membalas ciuman itu, menyadari bahwa di balik kekejaman Dante sebagai bos mafia, ada seorang pria yang sangat rapuh dan takut kehilangan cintanya.
Malam harinya, di Sanatorium, suasana kembali tenang. Dante membantu Aruna belajar di perpustakaan. Ia duduk di kursi besar, membiarkan Aruna duduk di pangkuannya sambil membaca buku tebal bioteknologi.
Leonardo dan Nadia sudah tidur. Hanya ada suara api di perapian.
"Dante," panggil Aruna pelan.
"Hmm?" Dante menciumi bahu Aruna sambil membantunya membalik halaman buku.
"Terima kasih sudah membiarkanku kuliah. Aku tahu itu sulit bagimu untuk melepas kendali."
Dante menghela napas, ia membenamkan wajahnya di leher Aruna. "Aku akan melakukan apa pun agar kau bahagia, Aruna. Selama kau ingat jalan pulang ke pelukanku."
Aruna tersenyum, ia menutup bukunya dan berbalik untuk memeluk leher Dante. Di bawah cahaya lampu temaram, mereka menghabiskan malam dengan membicarakan masa depan—bukan tentang darah atau uang, tapi tentang impian-impian kecil yang mulai mereka bangun bersama. Dante Valerius yang kejam kini telah benar-benar takluk di bawah jemari Aruna Salsabila.