NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Kencan Dadakan

Gery perlahan keluar dari area parkir dan mendapati Vanya sudah berdiri manis di samping gerbang sekolah. Penampilannya masih rapi, tas disampirkan di bahu, dan wajahnya tampak berseri-seri terkena sinar matahari sore.

"Gimana? Nyokap jadi jemput?" tanya Gery saat motornya berhenti tepat di depan Vanya.

Vanya menggelengkan kepala pelan, senyum manisnya semakin lebar. "Enggak. Nyokap bilang dia udah percayain gue ke lo, Ger."

Vanya naik ke jok belakang dengan cekatan, lalu melanjutkan bicaranya di dekat bahu Gery. "Nyokap minta lo anterin gue pulang tiap hari dari sekarang. Biar dia bisa fokus jemput Vania yang jadwal lesnya makin padat. Lo... mau kan jadi ojek eksklusif gue?"

Gery terdiam sejenak. Permintaan ini secara tidak langsung mengubah status "kontrak" mereka menjadi rutinitas harian yang nyata. Tidak ada lagi alasan "kerja kelompok" atau "kebetulan bareng". Ini adalah mandat resmi dari otoritas tertinggi di rumah Vanya.

"Ya udah, pegangan yang kencang. Nanti jatuh, gue yang disalahin Tante," jawab Gery singkat namun tersenyum dari balik kaca helmnya.

Vanya tertawa kecil dan dengan berani melingkarkan tangannya di pinggang Gery, jauh lebih erat dari biasanya. Motor matic hitam itu pun perlahan meninggalkan gerbang sekolah, membelah kemacetan Jakarta menuju rumah mewah yang kini mulai terasa seperti rumah kedua bagi Gery.

Angin sore Jakarta menerpa wajah mereka saat motor Gery melaju santai. Di tengah perjalanan, ponsel di saku seragam Vanya bergetar. Ia membacanya sejenak, lalu menepuk bahu Gery agak keras agar suaranya terdengar di balik deru mesin.

"Ger, minggir dulu bentar!" seru Vanya.

Gery menepikan motornya di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Vanya menyodorkan ponselnya ke depan wajah Gery. Di layar tertera pesan dari Mamanya: “Kak, Mama masih di luar ada urusan mendadak sama temen kantor. Kunci rumah Mama bawa, Vania tadi dijemput asisten rumah tangga buat les tambahan. Kalian jangan pulang dulu ya.”

Gery membaca pesan itu sambil mengernyitkan dahi. "Lah, terus gimana dong? Kalau sampai rumah nyokap lo nggak ada, berarti kita cuma bisa bengong nungguin di teras?"

Vanya tidak terlihat panik, justru matanya berkilat jahil. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. "Gimana kalau kita nonton aja?"

Gery yang sedang merasa haus dan lelah setelah presentasi tadi, langsung menyahut dengan nada usil andalannya. "Nonton apaan sore-sore begini? Nonton bokep?"

Plak!

"Aduh!" Gery meringis saat jari-jari lentik Vanya dengan refleks mencubit bibirnya gemas.

"Sembarangan aja kalau ngomong lo! Mulutnya minta disekolahin banget ya!" omel Vanya, meski pipinya sedikit merona. "Kita ke Mall Central aja yuk. Biasanya ada jadwal film jam 16.50, jadi masih sempat. Kita bisa makan dulu di sana. Gimana? Daripada gembel di depan pagar rumah gue?"

Gery mengusap bibirnya yang masih terasa perih, lalu terkekeh. "Ya udah, daripada nungguin di depan rumah lo kayak pengemis sampai nyokap lo datang. Lagian gue juga lapar, nasi goreng tadi siang udah jadi tenaga pas presentasi."

"Sip! Let's go, Supir!" seru Vanya semangat sambil kembali memeluk pinggang Gery.

Gery menarik gas motor matic-nya, memutar arah menuju Mall Central. Di sepanjang jalan, suasana hati Gery mendadak berubah. Entah kenapa, rencana nonton ini terasa lebih seperti "kencan beneran" daripada sekadar menghabiskan waktu luang. Tidak ada Reno yang mengganggu, tidak ada Sammy atau Nadia. Hanya ada dia, Vanya, dan motor hitamnya di tengah hiruk-pikuk sore Jakarta.

Begitu sampai di parkiran Mall Central, Vanya turun dan langsung menggandeng lengan Gery menuju eskalator. Gery sempat tertegun melihat gandengan itu, namun ia membiarkannya, seolah-olah peran "pacar kontrak" ini sudah mulai melebur menjadi kenyataan yang tak perlu lagi diperdebatkan.

Berdiri di depan layar besar yang menampilkan daftar film, Gery dan Vanya tampak seperti pasangan pada umumnya yang sedang dilanda dilema klasik. Cahaya dari layar jadwal itu memantul di wajah mereka, menampilkan dua pilihan utama: sebuah film horor lokal yang sedang viral dan sebuah film romantis remaja.

Gery menghela napas panjang sambil memasukkan tangannya ke saku celana. "Romantis agak cringe nggak sih? Kayaknya gue bakal ketiduran kalau nonton orang nangis-nangis di layar," gumamnya jujur.

Vanya melirik poster film horor yang menampilkan wajah hantu yang hancur. "Gue sebenarnya pengen banget nonton horor sih, tapi gue takut... Kalau romantis, bener kata lo, kayaknya kurang seru."

"Jadi? Horor aja?" Gery menoleh, menatap Vanya dengan tatapan meremehkan yang jahil. "Yakin lo? Nanti di dalam malah muka ditutupin tangan atau jaket terus. Kan sayang duitnya, bayar tiket mahal-mahal cuma buat dengerin suaranya doang."

Vanya langsung membusungkan dada, mencoba terlihat berani. "Tapi gue penasaran! Kemarin Nadia bilang film horor ini bagus banget, ceritanya nggak ketebak. Masa gue kalah sama Nadia?"

Gery melirik antrean yang mulai memanjang dan sisa kursi di layar monitor yang makin menipis. "Ya sudah, ambil horor aja. Takut kelamaan mikir, kursi kosongnya habis buat jadwal sore. Nanti kalau lo takut, jangan teriak kencang-kencang ya, malu-maluin ojek lo ini."

"Dih, siapa juga yang mau teriak!" bantah Vanya sambil menarik tangan Gery menuju loket tiket.

Setelah mengantongi dua tiket di barisan tengah, mereka menyadari masih ada waktu sekitar empat puluh menit sebelum film dimulai. Cacing-cacing di perut mereka mulai melakukan demo menuntut haknya.

Mereka pun beranjak menuju food court di lantai atas. Suasana sore itu cukup ramai oleh orang-orang yang baru pulang kantor. Gery dan Vanya berkeliling sejenak sebelum akhirnya memilih meja di pojok yang agak tenang.

"Lo mau makan apa? Biar gue yang pesenin," tawar Gery sambil meletakkan tas sekolahnya di kursi.

Vanya menatap deretan stan makanan. "Gue pengen yang pedes deh, Ger. Ramen atau ayam geprek boleh."

"Oke, tunggu sini. Jangan kabur, kursi ini berharga banget di jam segini," canda Gery sebelum melangkah menuju stan makanan.

Sambil menunggu Gery, Vanya memperhatikan punggung Gery dari kejauhan. Ada perasaan hangat yang menyelinap. Sore ini terasa sangat berbeda. Meskipun awalnya karena "terpaksa" akibat rumah yang terkunci, Vanya merasa bersyukur. Ia mulai menyadari bahwa ia semakin terbiasa—dan mungkin mulai sangat menyukai—keberadaan Gery di setiap momen harinya.

Aroma bakso yang gurih dan uap pedas dari ramen menyatu di meja mereka. Gery menusuk bakso telur beranaknya yang ukurannya cukup jumbo, sementara Vanya sudah berkeringat kecil karena kuah merah ramennya.

"Sini, gue mau coba kuahnya. Beneran pedas nggak?" tanya Gery sambil menyodorkan sendoknya.

Vanya justru menggeleng, lalu mengangkat sumpitnya yang melilit mi ramen cukup banyak. "Nanggung kalau cuma kuah. Nih, buka mulut lo," perintah Vanya tanpa ragu. Gery sempat tertegun sesaat sebelum akhirnya menerima suapan itu. Rasa pedas langsung meledak di lidahnya, membuat wajahnya memerah seketika.

"Gila! Ini mah bukan ekstra pedas lagi, ini mah nyiksa diri!" keluh Gery sambil buru-buru meminum es teh manisnya.

Vanya tertawa puas melihat ekspresi Gery. "Lemah lo! Sini, gantian gue minta baksonya satu yang kecil." Gery pun menyuapkan sebutir bakso ke mulut Vanya. Momen saling cicip itu terasa begitu alami, seolah-olah mereka sudah melakukan kebiasaan itu bertahun-tahun.

Setelah perut terasa penuh dan keringat mulai mengering, mereka kembali ke area bioskop. Suasana sudah semakin ramai oleh penonton yang mengantre. Gery melangkah menuju konter camilan.

"Satu popcorn yang large ya, Mbak. Campur manis dan asin," ucap Gery. Ia tahu Vanya pasti akan butuh sesuatu untuk dikunyah (atau diremas) saat adegan seram muncul nanti.

Gery kembali menghampiri Vanya sambil memeluk ember besar berisi popcorn yang masih hangat. Belum sempat mereka mengobrol, suara lembut namun tegas menggema melalui pengeras suara di seluruh penjuru lobi bioskop.

"Mohon perhatian Anda, pintu teater tiga telah dibuka. Bagi para penonton yang telah memiliki tiket film 'Hantu Penghuni Sekolah', dipersilakan untuk memasuki ruangan. Terima kasih."

Vanya tiba-tiba berdiri tegak, wajahnya yang tadi ceria mendadak sedikit pucat. Ia menatap pintu Teater 3 yang kini dijaga oleh petugas penarik tiket. "Udah buka, Ger..." gumamnya pelan.

Gery yang menyadari perubahan raut wajah Vanya langsung tertawa kecil. "Kenapa? Nyali mulai ciut? Tenang aja, kan ada popcorn yang bisa lo lempar kalau hantunya muncul."

"Dih! Siapa yang takut!" tantang Vanya sambil mencoba berjalan tegak, meskipun tangannya secara refleks meraih ujung seragam Gery dan memegangnya erat.

Mereka pun berjalan beriringan memasuki lorong gelap menuju teater. Suasana dingin dari AC bioskop mulai menusuk kulit, menambah kesan mencekam bahkan sebelum film dimulai. Gery memimpin jalan mencari barisan kursi mereka, sementara Vanya semakin merapatkan posisinya di samping Gery.

Lampu teater sudah padam sepenuhnya, hanya menyisakan pantulan cahaya redup dari layar besar yang sedang menampilkan adegan pembuka yang sunyi dan mencekam. Gery duduk dengan santai, matanya fokus ke layar sementara tangannya sesekali merogoh ember popcorn di pangkuannya.

Namun, Vanya sepertinya punya fokus lain. Di tengah kegelapan, matanya yang usil menangkap pergerakan di barisan depan sebelah kiri yang agak tersembunyi. Ia menyenggol lengan Gery dan mendekatkan bibirnya ke telinganya Gery.

"Ger, liat disebelah kiri yang di bawah situ..." bisik Vanya pelan, suaranya mengandung nada geli yang tertahan.

Gery menoleh mengikuti arah telunjuk Vanya yang samar. Detik itu juga, matanya menangkap sepasang sejoli yang sedang asyik "beradu bibir" di tengah remangnya cahaya bioskop. Gery langsung memalingkan wajah kembali ke layar dengan ekspresi datar.

"Gila lo, jelalatan banget mata lu bisa nemu orang yang ciuman," bisik Gery balik, mencoba tetap terlihat tenang meski sebenarnya ia sedikit kaget dengan ketajaman mata Vanya.

Vanya terkekeh-kekeh pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh musik latar film yang mulai menegang. Ia menyandarkan kepalanya sedikit ke arah bahu Gery, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat berani, "Lo mau nggak... begitu sama gue?"

Deg! Jantung Gery serasa berhenti berdetak sesaat. Ia tidak menyangka pertanyaan seberani itu keluar dari mulut Vanya di tempat umum. Tanpa menoleh, Gery langsung merogoh segenggam popcorn dan menyumpalkannya ke mulut Vanya yang masih terbuka kecil karena tertawa.

"Si oneng mulai lagi! Udah jangan berisik, nonton aja yang bener," bisik Gery sambil menahan tawa dan rasa gugupnya. Vanya mengunyah popcorn itu sambil terus senyam-senyum kemenangan karena berhasil membuat Gery salah tingkah.

Namun, kesenangan Vanya tidak bertahan lama. Di layar, musik orkestra mendadak hilang. Sunyi total. Karakter utama dalam film itu perlahan membuka pintu kamar mandi yang berderit...

BRAAAKKK!

Sosok hantu dengan wajah hancur muncul tepat di depan kamera disertai suara dentuman yang menggelegar di seluruh teater.

"AAAAAA!" Vanya memekik tertahan.

Secara refleks, nyali "singa betina" itu menguap seketika. Ia langsung membenamkan wajahnya di dada Gery dan memeluk lengan cowok itu dengan sangat erat, seolah-olah Gery adalah satu-satunya pelindung dari serangan hantu di layar. Gery yang sebenarnya juga sedikit kaget, justru berakhir tertawa melihat reaksi Vanya yang sangat kontras dengan godaannya tadi.

"Tadi katanya mau 'begitu', sekarang malah peluk-peluk ketakutan," bisik Gery sambil mengusap pelan rambut Vanya yang masih bersembunyi di balik lengannya. Vanya tidak menjawab, ia hanya semakin mempererat pelukannya, tidak peduli lagi dengan gengsinya sebagai gadis paling populer di PH2.

Ketegangan di dalam teater mencapai puncaknya. Layar besar itu menampilkan adegan kejar-kejaran yang mencekam, namun Vanya sama sekali tidak melihatnya. Ia sudah menyerah total pada rasa penasaran yang tadi ia banggakan. Kepalanya terkubur rapat di bawah lengan Gery, mencari perlindungan di balik aroma parfum dan jaket cowok itu, sementara tangannya mencengkeram erat pinggang Gery seolah takut kehilangan pegangan.

Gery, di sisi lain, berusaha tetap tenang meskipun ia bisa merasakan detak jantung Vanya yang berdegup kencang di lengan kirinya. Ia sesekali tersenyum tipis, menikmati momen di mana "Singa Betina" ini berubah menjadi kucing kecil yang ketakutan.

Begitu lampu teater dinyalakan perlahan sebagai tanda film berakhir, Vanya perlahan-lahan melepaskan pelukannya. Ia menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menetralkan wajahnya yang pucat dan rambutnya yang sedikit berantakan karena terus bersembunyi.

Gery menoleh ke arahnya sambil tertawa kecil, tidak bisa menahan geli. "Gimana? Bagus kan filmnya? Bagian mana yang paling seru menurut lo? Bagian ketiak gue ya?"

Vanya langsung memberikan tatapan maut, meski matanya masih terlihat sedikit sembap karena kaget. "Diem lo, Ger! Sumpah, itu hantunya muncul mulu nggak berhenti-berhenti! Nadia bohong banget bilang itu film bagus, itu mah film penyiksaan jantung!"

Gery tertawa lebih keras sambil berdiri dan membawa ember popcorn yang sudah hampir kosong. "Makanya, kalau takut itu bilang. Untung tadi nggak pingsan lo."

"Nggak akan pingsan juga kali!" bantah Vanya sambil merapikan rok seragamnya dan buru-buru berdiri, ingin segera keluar dari ruangan yang menurutnya terkutuk itu.

Begitu keluar dari teater, mereka disambut oleh udara lobi mall yang jauh lebih terang. Gery melirik jam tangan digitalnya; jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.45. Langit di luar jendela kaca mall sudah gelap pekat.

"Ayo buruan, Ger. Udah malem banget ini, nanti nyokap gue nyariin," ucap Vanya dengan nada cemas yang baru muncul setelah rasa takut hantunya hilang.

Mereka bergegas menuju eskalator, turun ke arah basement tempat motor Gery terparkir. Suasana Mall Central masih ramai, namun pikiran mereka sudah tertuju pada perjalanan pulang. Gery menyadari bahwa meskipun rencana nonton ini berawal dari "keterpaksaan", ia merasa malam ini adalah salah satu momen paling berkesan sejak mereka kembali dari Jogja.

Sesampainya di parkiran, Gery memberikan helm kepada Vanya. "Pegangan yang bener, kita agak ngebut dikit ya biar nggak kemalaman," pesannya.

Vanya hanya mengangguk patuh, kali ini tanpa banyak bicara ia langsung naik dan memeluk pinggang Gery dengan posisi yang sangat nyaman, seolah pelukan di dalam bioskop tadi telah meruntuhkan tembok gengsi terakhir yang ia miliki.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!