NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:35.2k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Setibanya di rumah, Seyra disambut oleh ibunya. Setelah dari sekolah, dia tidak langsung kembali. Dia memilih pergi ke danau bersama Arthur untuk menenangkan diri sejenak.

Namun, begitu tiba di teras rumahnya, sebuah tamparan keras mengenai pipi Seyra hingga wajahnya terhuyung ke samping.

"Ini semua salah kamu! Kenapa kamu nggak menolong Valeri, hah?!" bentak Maya.

Seyra tidak menjawab. Dia bahkan belum sempat menurunkan tasnya ketika tangan Maya kembali melayang. Rambutnya dijambak kasar, tubuhnya didorong, lalu pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun. Lewin tidak ada di rumah. Dia sedang menjemput calon ibu tiri Seyra.

Angin sore berdesir pelan, seolah berusaha meredam suasana yang membara. Setelah beberapa saat, Maya terhuyung dan duduk di kursi kayu di teras, napasnya memburu. Matanya menatap kosong halaman rumah yang biasanya dipenuhi bunga.

"Kenapa ini harus terjadi, Seyra?" Suaranya kini bergetar, dipenuhi kepedihan yang tak terbendung. "Dia masih muda… begitu banyak mimpi yang belum terwujud. Harusnya kamu menolongnya!"

Air mata mengalir di pipi Maya. Untuk sesaat, amarahnya berubah menjadi duka yang begitu dalam.

Seyra berdiri beberapa langkah darinya. Dia tetap diam. Hanya air mata yang jatuh perlahan, menjadi saksi betapa rapuhnya dirinya saat ini.

Tiba-tiba Maya menoleh dengan tatapan tajam, seolah menemukan sasaran untuk melampiaskan rasa sakitnya.

"Andai kamu nggak lahir dan nggak berada di dekat Valeri, dia pasti masih hidup! Semua karena kamu, Seyra! Kamu pembawa sial, parasit! Kenapa harus Valeri? Kenapa bukan kamu saja?!" Suaranya meninggi, setiap kata terasa seperti pisau.

Tubuh Seyra menegang. Dadanya terasa sesak.

"Ma, nggak ada yang bisa memprediksi hal ini! Aku bukan Tuhan yang bisa mengontrol apa yang akan terjadi di dunia ini!" balas Seyra, suaranya bergetar menahan emosi.

"Tapi kamu ada di sana! Harusnya kamu menolongnya, sialan!" umpat Maya.

Seyra terkekeh pelan tawa yang terdengar hampa. Dia menyeka air matanya dengan kasar.

"Mama pikir aku cuma jadi patung? Aku berusaha, Ma. Aku juga nggak mau kehilangan Valeri. Bahkan kalau bisa ditukar, lebih baik aku yang mati. Tapi aku bukan penjinak bom, aku nggak tahu caranya kalo aku tahu tanpa Mama minta aku sudah melakukannya."

"Pembohong! Kamu senang, kan? Sekarang Valeri pergi, nggak ada lagi saingan kamu buat menguasai warisan di rumah ini!" tuduh Maya tanpa ragu.

Ucapan itu menghantam lebih keras daripada tamparan sebelumnya.

Seyra merasa sesuatu di dalam dirinya retak. Selama ini dia tahu ibunya tidak pernah benar-benar menyayanginya seperti Valeri. Namun, dia tidak pernah menyangka kebencian itu sedalam ini.

Pandangan Seyra berubah kosong. Hari ini benar-benar menghancurkannya. Luka di pahanya belum sempat diobati. Bahkan saat Arthur bertanya tadi, dia tidak menjawab.

Kejadian di atap sekolah hanya diketahui oleh dia, Valeri, dan satu sosok lain yang belum dia ketahui identitasnya.

Dengan gerakan pelan, Seyra merogoh ranselnya. Dia mengeluarkan cutter kecil, lalu menyodorkannya kepada Maya.

"Kalau pikiran Mama kayak gitu… bunuh aku sekarang, Ma."

Maya terdiam. Tangannya kaku saat Seyra meraih telapak tangannya dan meletakkan cutter itu di sana.

"Bunuh aku sekarang, Ma!" bentak Seyra frustasi. Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan.

Namun Maya tidak bergerak.

Napas perempuan itu memburu. Tangannya gemetar memegang benda tajam tersebut. Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat. Entah karena marah, entah karena hancur.

Seyra berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar sendirian di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman.

***

Seyra Clara dan Valeri. Dua anak perempuan yang saat itu baru berusia lima tahun, berlari dengan langkah tergesa-gesa ke arah mobil yang baru saja berhenti di halaman rumah.

"Mama!" teriak mereka bersamaan, suara kecil penuh rindu.

Keduanya mengulurkan tangan, meminta digendong oleh Maya yang baru saja turun dari mobil. Wanita itu berjongkok, namun hanya membuka kedua tangannya untuk Valeri.

Valeri langsung memeluknya erat.

Pelukan itu berlangsung cukup lama, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Hingga akhirnya Maya melepaskan pelukannya lebih dulu.

"Mama, aku kangen," ucap Valeri manja, melingkarkan lengannya di leher Maya.

Maya tersenyum hangat. Dia mengecup pipi Valeri yang chubby dengan gemas, lalu mengangkat tubuh putri kesayangannya itu ke dalam gendongan.

"Mama juga kangen sama kamu, Val," balas Maya lembut.

Sementara itu, Seyra Clara yang sejak tadi merentangkan tangannya, kembali bersuara pelan.

"Ma… aku juga mau digendong."

Maya menoleh sekilas. Tatapannya datar.

"Kamu punya kaki, kan? Jalan sendiri saja."

Setelah mengatakan itu, Maya langsung melangkah masuk ke dalam rumah, melewati Seyra begitu saja.

Seyra terdiam.

Senyum kecil yang tadi sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia menatap punggung ibunya yang menjauh sambil menggendong Valeri.

Anak kecil itu menunduk dalam. Bibirnya bergetar menahan tangis.

"Sakit… hati aku sakit," bisiknya lirih.

***

Seyra membuka mata perlahan. Memori masa kecil yang selama ini terkubur, kembali mencuat begitu jelas di kepalanya. Setiap detailnya terasa nyata, seakan baru saja terjadi.

Dia kembali menatap Maya dengan tatapan dingin tatapan yang berbeda dari gadis kecil lima tahun yang dulu hanya bisa menangis diam-diam.

"Ayo, Ma. Bunuh aku," ucap Seyra dengan senyum hampa. "Bukannya tadi Mama bilang harusnya aku nggak pernah lahir?"

Maya terdiam. Matanya melebar mendengar ucapan putrinya. Suara Seyra yang penuh kepedihan itu seperti pisau yang menembus dadanya sendiri.

Dia ingat betul kata-kata yang terucap beberapa saat lalu. Ucapan yang lahir dari kemarahan dan rasa kehilangan. Namun melihat Seyra sekarang, semuanya terasa seperti kesalahan yang terlalu kejam untuk ditarik kembali.

"Kamu—"

"Apa?" potong Seyra. Suaranya bergetar, tetapi matanya tetap menatap lurus. "Di sini bukan cuma Mama yang kehilangan. Aku juga kehilangan!"

Air matanya kembali jatuh, tetapi kali ini dia tidak berusaha menyembunyikannya.

"Apa Mama nggak pernah sekalipun punya rasa iba untuk aku?" lanjutnya lirih namun tegas. "Sedikit saja, Ma. Pernah nggak Mama berpikir kalau sikap Mama itu bikin aku terluka?"

Hening.

Angin sore berhembus pelan, membawa suasana yang terasa berat.

"Aku selalu berusaha jadi anak yang Mama mau," suara Seyra melemah. "Tapi sejak kecil… Mama cuma melihat Valeri. Aku cuma bayangan. Bahkan waktu kita masih lima tahun pun, Mama udah pilih dia."

Maya tertegun. Ingatan tentang hari itu tentang satu anak yang dia gendong dan satu anak yang dia tinggalkan muncul tanpa diminta.

"Aku nggak pernah minta dilahirkan, Ma," bisik Seyra. "Aku cuma minta diperlakukan sebagai anak Mama juga, apa itu salah?"

Tubuh Maya gemetar. Untuk pertama kalinya, dia melihat bukan kemarahan di mata Seyra, melainkan luka yang sudah terlalu lama dipendam.

Namun rasa kehilangan atas Valeri masih menyesakkan dadanya. Dua perasaan itu bertabrakan di dalam dirinya duka dan penyesalan.

Seyra menghela napas panjang. Dadanya terasa kosong.

"Kalau Mama butuh seseorang buat disalahkan, salahkan aku," ucapnya pelan. "Tapi jangan pernah bilang aku nggak pernah berusaha untuk menyelematkan Valeri. Karena aku sudah berusaha… bahkan sampai aku sendiri hancur."

1
Whana Park
.
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
eh aron deh namanya😅 kirain xander
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bukannya xander yang celakai seorang ya thor
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, seru
Dedi Dahlia
sip lanjut senangat.,up datenya💪💪🙂🙂
falea sezi
ya masak mati lagi
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
palingan adeknya aron suka sama Arthur dan cinta di tolak makanya si alya bundir. jd dya dendam sama Arthur, weh aron cinta tidak bisa di paksakan, gilaaa memang
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
waduh thor jangan sampe terjadi apa apa sama seorang dunk
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
milik siapa thor🤭
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
cerita bagus, aq suka
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
g bisa berkata-kata thor🥺
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
elsa ini pelaku nya, dya suruh Arthur untuk di lepas
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut Thor, and semangat💪
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bener val, lupakan ozil biar ozil menyesal🤬
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
val, jadi perempuan mandiri, stop kejar kejar ozil. biar ozil yang balik kejar kami, biar dya menyesal
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
thor buat pala Arthur tau dunk prestasi anaknya kl dya lebih jago dr gio
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kasian seyra mamanya pilih kasih untuk ayahnya sayang sama dya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
hahahaha....
ngebut aq bacanya thor🤣
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
nah kan udah jatuh cinta tuh 🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Arthur ambil kesempatan dalam kesempitan, bakalan jatuh cinta beneren nih bocah sama seyra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!