Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: VALERIE MURKA
#
Siang itu mansion Samudera seperti medan perang. Valerie mengamuk di ruang kerjanya. Gelas wine melayang ke dinding. Pecah. Cairan merah mengalir seperti darah.
"LIMA MILIAR! LIMA MILIAR HABIS DALAM SEMALAM!"
Teriakan itu bergema sampai ke lantai bawah. Pelayan-pelayan bersembunyi. Nggak ada yang berani deket.
Arjuna duduk di sofa. Wajahnya tenang tapi mata-nya tajam. "Kau bilang bisnis ini aman. Kau bilang nggak ada yang tau."
Valerie berbalik. Napasnya tersengal. Rambut berantakan. Makeup mulai luntur karena keringat.
"Ini bukan salah gue! Ada orang... ada orang yang..."
"Yang apa?" potong Arjuna dingin. "Yang tau bisnis gelapmu? Yang berani serang gudangmu?"
Valerie terdiam. Rahangnya mengeras.
Arjuna berdiri. Berjalan mendekat. "Aku udah bilang dari dulu. Jangan main narkoba. Terlalu riskan. Tapi kau keras kepala."
"Kau... kau juga makan dari uang itu!" bentak Valerie. "Jangan sok suci!"
"Aku nggak pernah tau dari mana uangmu. Aku nggak mau tau." Arjuna menatapnya tajam. "Tapi sekarang... masalahmu jadi masalah keluarga. Polisi bakal selidik. Media bakal cium. Kalau nama Samudera tercoreng..."
"NGGAK AKAN!" teriak Valerie. "Gue akan beresin ini! Gue akan cari siapa yang lakuin! Gue akan bunuh dia!"
Arjuna menggeleng pelan. "Kau... sudah gila."
Dia berjalan keluar. Pintu ditutup keras.
Valerie berdiri sendirian. Napasnya memburu. Tangan gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena marah yang luar biasa.
Seseorang berani lawan dia.
Seseorang berani ambil apa yang jadi miliknya.
Dan pesan itu...
"Ini baru permulaan, Ibu."
Kenzo.
Pasti Kenzo.
Tapi... bagaimana? Dia harusnya udah mati. Pembunuh bayaran yang dia kirim... harusnya udah bunuh dia.
Valerie ambil handphone. Telepon seseorang. Nada dering berbunyi tiga kali.
"Halo?" suara berat menjawab.
"Komisaris Hartawan. Gue butuh bantuan lu."
Hening sebentar. "Nyonya Valerie. Ada apa?"
"Gudang gue di pelabuhan diserang. Enam orang mati. Lima miliar lenyap."
"Saya sudah dengar. Kami sedang selidiki..."
"GUE NGGAK MAU SELIDIK!" bentak Valerie. "GUE MAU LU CARI PELAKUNYA! DAN BUNUH!"
Hening lagi. Lebih lama.
"Nyonya... ini... ini nggak gampang. Ada prosedur. Ada..."
"PROSEDUR?!" Valerie tertawa sinis. "Lu udah terima berapa dari gue selama ini? Ratusan juta? Miliaran? Dan sekarang lu bilang prosedur?!"
Suara di seberang sana terdengar menelan ludah. "Baik. Saya akan mobilisasi orang. Tapi... saya butuh info. Siapa yang Nyonya curigai?"
Valerie terdiam. Menatap kertas di meja. Pesan dari pelaku.
"Kenzo. Anak tiriku."
"Kenzo? Tapi... bukankah dia..."
"DIA MASIH HIDUP!" teriak Valerie. "Dia yang lakuin ini! Gue tau! Cari dia! Bawa dia hidup-hidup ke gue! Gue mau... gue mau bunuh dia sendiri!"
"Baik, Nyonya. Kami akan cari."
"DAN CEPAT! Kalau lu nggak dapet dia dalam tiga hari... gue potong dana bulanan lu!"
Telepon diputus.
Valerie lempar handphone ke sofa. Duduk di kursi. Menutup wajah dengan tangan.
Napasnya pelan tapi dalam. Mencoba tenang.
Tapi dadanya masih sesak. Marah masih menggebu.
TOK TOK TOK.
Ketukan di pintu.
"Masuk," kata Valerie tanpa ngangkat wajah.
Pintu terbuka. Raka masuk. Wajahnya pucat. Tangan gemetar.
"Ibu..."
Valerie mengangkat wajah. Menatap Raka dengan mata merah. "Ada apa lagi?!"
"Supplier... supplier narkoba kita... dia telepon. Dia... dia minta uang ganti rugi. Atau... dia akan putus kerja sama."
Valerie berdiri cepat. Kursinya jatuh ke belakang. "BERAPA?!"
"Sepuluh miliar."
"SEPULUH MILIAR?!"
"Itu... itu nilai barang yang terbakar ditambah kompensasi risiko..."
"SIALAN!"
Valerie lempar asbak kristal ke dinding. Hancur.
Raka mundur. Takut kena.
"Ibu... tenang... kita bisa negosiasi..."
"NEGOSIASI APA?! Kalau gue nggak bayar, dia bakal sebar info ke kompetitor! Bisnis gue bisa runtuh!"
Raka diam. Nggak tau harus bilang apa.
Valerie berjalan mondar-mandir. Tangan di pinggul. Otaknya berputar cepat.
"Oke. Oke. Gue akan bayar. Tapi... bukan sekarang. Kasih waktu seminggu."
"Dia... dia nggak akan mau nungg..."
"BUAT DIA MAU!" bentak Valerie. "Bilang ke dia... kita lagi beresin masalah internal. Pelakunya akan dihukum. Uangnya akan kembali."
Raka mengangguk cepat. "Baik, Bu."
Dia berbalik mau keluar.
"Raka."
Dia berhenti. Menoleh.
Valerie menatapnya tajam. "Kau... tau di mana Kenzo sekarang?"
Raka menggeleng. "Nggak, Bu. Terakhir dia diusir... nggak ada yang tau dia ke mana."
"Cari. Pakai orang-orangmu. Pakai uang sebanyak yang kau mau. Tapi cari dia. Dan kalau ketemu..." Valerie tersenyum dingin. "Bawa ke gue. Hidup."
Raka menelan ludah. "Kalau... kalau dia melawan?"
"Bunuh."
Raka mengangguk. Keluar cepat.
Valerie berdiri sendirian lagi. Menatap jendela besar yang menghadap taman mewah.
Tapi pemandangan indah itu nggak bisa tenangkan dia.
Karena di pikirannya... cuma satu wajah.
Kenzo.
Anak tiri yang selama ini dia anggap sampah.
Anak yang dia siksa bertahun-tahun.
Anak yang harusnya udah mati.
Tapi masih hidup.
Dan sekarang... melawan balik.
"Kau... kau pikir kau bisa lawan aku?" bisik Valerie pelan. "Aku yang besarin kau. Aku yang kasih kau tempat tinggal. Dan sekarang... kau berani balas?"
Air mata keluar. Tapi bukan air mata sedih.
Air mata marah.
"Aku akan bunuh kau, Kenzo. Pelan-pelan. Menyakitkan. Sampai kau mohon mati."
***
Sementara itu. Kantor Polisi Wilayah Pusat.
Komisaris Hartawan duduk di kursi besarnya. Pria gemuk umur lima puluhan. Seragam rapi. Bintang tiga di pundak.
Di hadapannya, lima polisi. Semua anggota tim khusus. Tim yang... nggak resmi. Tim bayaran.
"Dengar baik-baik," kata Hartawan sambil nyalain cerutu. "Kita dapet job dari Nyonya Valerie. Cari orang bernama Kenzo Banyu Samudera. Anak tirinya. Umur dua puluhan. Terakhir terlihat diusir dari mansion Samudera dua minggu lalu."
Salah satu polisi angkat tangan. "Buat apa kita cari dia, Pak?"
"Dia tersangka pembakaran dan pembunuhan di gudang pelabuhan semalam. Enam korban."
"Buktinya?"
Hartawan menatap tajam. "Lu pikir gue peduli bukti? Yang penting Nyonya Valerie bilang dia pelaku. Berarti dia pelaku. Titik."
Polisi itu diam.
"Cari dia. Pakai semua cara. Informan. CCTV. Lacak rekening bank kalau ada. Kalau ketemu... bawa ke gue. Hidup lebih baik. Tapi kalau dia melawan..." Hartawan tersenyum tipis. "Tembak."
Lima polisi itu mengangguk.
"Bergerak. Sekarang."
Mereka keluar ruangan.
Hartawan bersandar di kursi. Hisap cerutunya dalam-dalam.
"Kenzo... kau anak bodoh. Kenapa lu lawan keluarga sendiri?"
Dia buka laci. Keluarin foto lama. Foto keluarga Samudera. Arjuna. Valerie. Raka. Dan... Kenzo. Masih kecil. Berdiri di pojok. Senyum tipis tapi matanya... sedih.
Hartawan menatap foto itu lama.
"Kau harusnya diam aja. Terima nasib. Hidup sebagai bayangan."
Dia bakar foto itu dengan cerutu.
"Tapi kau pilih melawan. Sekarang... kau harus mati."
***
Malam itu. Pinggiran kota.
Budi jalan sendirian. Habis beli rokok di warung kecil. Uang dua puluh juta dari job kemarin masih aman di kantongnya.
Dia siul-siul santai. Senang. Pertama kali punya uang sebanyak ini.
Tiba-tiba... mobil hitam berhenti di sampingnya.
Pintu terbuka. Tiga orang keluar. Seragam polisi. Tapi... ada yang aneh. Mata mereka dingin. Seperti pembunuh.
"Budi, kan?" tanya salah satu polisi.
Budi berhenti. Waspada. "Siapa lu?"
"Polisi. Kita mau tanya-tanya."
"Tanya apa?"
Polisi itu tersenyum. "Soal kebakaran di pelabuhan."
Wajah Budi langsung pucat.
Sial.
Dia balik badan. Mau lari.
Tapi terlambat.
Salah satu polisi udah di belakangnya. Setrum listrik ditempelkan ke punggung.
BZZZTTT!
Budi kejang. Jatuh.
Sebelum dia pingsan... dia denger suara.
"Bawa dia. Kita akan tanya... sampai dia ngomong semua."
Lalu... gelap.