Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pohon Cahaya Elora
Elora berjalan semakin jauh hingga gerbang besi tinggi itu tak lagi terlihat. Ia menghentikan langkah di trotoar yang masih basah oleh embun pagi. Nafasnya tertahan sesaat, lalu terlepas perlahan, seakan baru sekarang ia benar-benar diizinkan bernapas.
Tangannya menyentuh dadanya. Perih yang aneh menjalar, bukan sakit, melainkan rindu yang tak seharusnya ia rasakan.
“Aku hampir membuat kesalahan,” gumamnya lirih.
Bertahan sedikit lebih lama di rumah itu hanya akan membuatnya goyah.
Sementara itu, di dalam kediaman Arkaven, Arelion kembali ke kamar. Matanya langsung tertuju pada ranjang yang kini kosong. Namun aroma lembut itu masih tertinggal samar.
“Elora…”
Nama itu terucap begitu saja, tanpa ia sadari.
Ia mengerutkan kening. Ada rasa kehilangan yang tak masuk akal. Semalam gadis itu meringkuk di tempat tidurnya.Bahkan ia yang punya kamar harus tidur di ruang kerja.
Dan kini, kamar itu terasa terlalu sunyi.Arelion tersenyum tipis.
Di sisi lain kota, Elora menaiki taksi menuju rumah Maria. Kepalanya bersandar di kaca jendela. Kilasan di kolam renang semalam melekat jelas .
“Pangeran Lion…” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Semoga kau menemukan bahagiamu ..batinnya .
Mobil melaju, membawa Elora menjauh.
Mobil berhenti tepat di halaman kediaman Maria. Bahkan sebelum Elora sempat benar-benar menurunkan kakinya, pintu sudah dibuka kasar dari luar.
“Masuk!” bentak Maria tanpa menoleh.
Elora menunduk dan mengikuti langkah cepat wanita itu. Begitu pintu utama tertutup, suara tamparan kata-kata langsung menghantamnya.
“Kau tahu jam berapa ini?!”
“Kemana saja kau semalaman?" bentaknya lagi.
“Aku..aku tidak bermaksud—” Elora mencoba menjelaskan, namun suaranya terpotong.
“Diam!”
Maria berbalik tajam, matanya menyipit penuh kemarahan yang tak disembunyikan. “Kau pikir dengan wajah polos dan tubuh menyedihkan itu kau bisa menarik perhatian laki-laki?”
Elora terhenyak.
“Kau memang persis seperti ibumu,” lanjut Maria dengan nada dingin menusuk.
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.
Ibuku…?
Elora membeku. Jantungnya berdegup kencang, telinganya berdenging.
“Apa maksud Ibu—”
Belum sempat pertanyaannya selesai, Maria sudah menarik lengannya kasar menuju kamar kecil di sudut rumah.
“Kau tak perlu tahu apa pun,” ujar Maria sambil mendorongnya masuk.
“Malam ini kau dikurung di sini. Jangan berharap makan. Anggap saja ini hukuman agar kau tahu diri.”
Klik.
Kunci berputar.
Elora terduduk lemas di lantai dingin. Tangannya gemetar, matanya memanas, namun air mata tak juga jatuh. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Persis seperti ibumu.
“Apa maksudnya…?” bisiknya dengan suara pecah.
“Apa Ibu Maria mengenal orang tuaku? Atau… menyimpan sesuatu yang sengaja ia sembunyikan dariku?”
Ia memeluk lututnya, menatap pintu yang kini terasa seperti tembok tak tertembus. Untuk pertama kalinya, bukan hanya rindu yang menyiksa dadanya—melainkan rasa takut akan kebenaran yang perlahan ingin muncul ke permukaan.
Flashback — ON
“Kami sudah mencari Nyonya, Tuan… tapi..”
Suara itu terhenti, seolah tak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri.
Adrian berdiri terpaku. Wajahnya pucat, matanya kosong. Istri tercintanya..Alana menghilang tanpa jejak. Pergi meninggalkannya karena sebuah salah paham yang tak pernah sempat ia luruskan.
Alana adalah adik Maria, namun mereka terlahir dari ibu yang berbeda. Sejak dulu, Maria diam-diam menyukai Adrian. Namun takdir berkata lain,sejak pertemuan pertama, hati Adrian justru jatuh sepenuhnya pada Alana.
Mereka menikah.
Menjadi pasangan yang tampak sempurna..hangat, penuh cinta, dan saling percaya.
Hingga badai itu datang.
Beberapa bulan setelah pernikahan mereka, Alana melihat sesuatu yang menghancurkan segalanya. Di hadapannya, suaminya berada di satu ranjang… bersama Maria.
Dunia Alana runtuh.
Tanpa mendengar penjelasan, tanpa memberi kesempatan, Alana pergi malam itu juga. Ia menahan perih di dadanya dan rahasia besar di rahimnya. Ia sedang mengandung.
Hari berubah menjadi minggu. Minggu menjadi bulan.
Adrian mencarinya ke mana-mana, namun Alana seolah lenyap ditelan bumi.
Yang tak pernah ia ketahui Alana terbaring lemah di sebuah bangsal rumah sakit di sebuah desa terpencil .Tubuhnya rapuh, namun ia bertahan mati-matian demi janin kecil di dalam dirinya.
Beruntung, takdir mempertemukannya dengan Dokter Sarah, seorang dokter yang berhati lembut.
“Kau harus memberi tahu suamimu, Alana,” ujar Dokter Sarah pelan, saat Alana baru saja melahirkan.
“Dia berhak tahu.”
Alana menggeleng lemah. Air mata mengalir di sudut matanya.
“Tidak… Adrian tak boleh tahu. Apalagi kakakku,” suaranya gemetar.
“Aku takut… mereka akan menyakiti putriku.”
Waktu terus berjalan.
Kondisi Alana pasca melahirkan kian memburuk. Tubuhnya melemah, jiwanya terkuras. Hingga suatu hari, ia jatuh koma.
Dalam ketidaksadarannya, Alana berdiri di sebuah taman yang indah. Langkahnya terasa ringan, seolah semua rasa sakit telah lenyap. Kupu-kupu cantik berterbangan mengelilinginya.
“Aku sudah lama di sini…” bisiknya lirih.
“Elora… Ibu rindu padamu…”
Air mata Alana mengalir tanpa henti.
Karena rindu yang tak tertahankan, ia mengukir sebuah nama di batang pohon tua di taman itu..
Elora.
Nama yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup… meski tak pernah benar-benar kembali.
Flash back Off
Sementara di kediaman Arkaven ..
Pagi itu, suasana ruang kerja Tuan Arkaven terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Arelion berdiri tegak di hadapan ayahnya. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan kewaspadaan.
Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Hardik Arkaven menyilangkan tangan di dada..rahangnya mengeras.
“Kau pergi meninggalkan pesta semalam,” ucapnya tajam.
“Dan yang lebih parah..ayah melihatmu menggendong seorang perempuan.”
Arelion terdiam sejenak.
“Siapa perempuan itu?” lanjut Hardik, suaranya meninggi.
“Sejak kapan kau suka main perempuan, Arelion?”
Nada itu bukan sekadar marah. Ada kekecewaan—dan kekhawatiran yang ia coba sembunyikan.
Hardik menghela napas kasar, melangkah mendekat.
“Aku mengenalmu sejak kau lahir. Kau tidak pernah tertarik pada wanita mana pun. Dingin, tertutup, menjaga jarak.”
Ia menatap putranya dalam-dalam.
“Dan sekarang… kau menggendong seorang gadis ke kamarmu. Ke kamar yang bahkan pelayan pun tak kau izinkan masuk sembarangan.”
Arelion mengangkat pandangannya. Tatapannya tenang, namun tegas.
“Dia jatuh ke kolam, Ayah,” jawabnya singkat.
“Aku hanya menolong.”
Hardik terkekeh pendek, sinis.
“Menolong?..untuk apa kau repot-repot sementara banyak pelayan di rumah kita."
Perkataan tuan Arkaven menghantam dadanya .Bahkan ia sendiri sadar jika sikapnya lebih dari sekedar perduli .
“Kau pikir ayah mudah percaya pada alasan itu?”
Ia berbalik, berjalan ke arah jendela besar.
“Kau tahu betul situasi kita. Thomas adalah kekuatan besar kedua di perusahaan. Hubungan keluarga kita dengannya tidak boleh retak.”
Ia menoleh kembali.
“Dan Althea—perjodohan itu bukan tanpa alasan. Aku melakukannya karena aku pikir… kau terlalu dingin. Terlalu jauh dari dunia manusia.”
Arelion mengepalkan tangannya perlahan.
“Perempuan itu bukan siapa-siapa,” ucapnya akhirnya, lebih dingin dari sebelumnya.
“Dan apa pun yang Ayah lihat semalam, tidak ada hubungannya dengan urusan bisnis.”
Hardik menatapnya lama.
Ada sesuatu yang berbeda pada putranya. Bukan pembangkangan..melainkan keyakinan yang baru tumbuh. Dan itu justru membuatnya resah.
“Pastikan tidak ada yang tahu,” ujar Hardik akhirnya, nadanya menurun namun tetap mengandung ancaman.
“Satu kesalahan saja bisa menghancurkan keseimbangan yang sudah susah payah kita bangun.”
Arelion mengangguk tipis.
Namun saat ia berbalik untuk pergi, satu hal tak bisa ia sangkal
bayangan seorang gadis dengan mata berkaca-kaca kembali hadir di benaknya.
Elora.