Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Batasan Yang Masih Dijaga
Kepergian Bu Ratna dan Tari meninggalkan keheningan sekaligus ketenangan di kediaman Daviko. Seperti badai yang baru saja berlalu, udara di dalam rumah itu terasa lebih ringan untuk dihirup.
Namun, bagi Mama Davira, ada ganjalan yang menyesakkan dada. Malam itu, di ruang tengah yang hanya diterangi lampu temaram, ia duduk berdua dengan Daviko.
"Katakan pada Mama, Dav. Apa yang sebenarnya mereka ucapkan di dalam kamar itu?" tanya Mama Davira pelan, matanya menatap lekat putranya.
Daviko sempat terdiam, jemarinya bertautan erat. Ia ragu untuk mengulang kalimat keji itu, takut luka di hati mamanya akan semakin menganga. Namun, melihat sorot mata sang mama yang menuntut kejujuran, Daviko akhirnya menceritakan semuanya.
Tentang sebutan 'anak pungut', tentang hinaan 'sampah', dan bagaimana mereka merendahkan martabat Mama Davira hanya karena asal-usul masa lalunya yang malang.
Mama Davira tertegun. Bahunya sedikit merosot, dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang mulai dimakan usia. Ternyata, rahasia yang ia simpan rapat-rapat, sebuah luka masa kecil yang sudah lama ia balut dengan kebahagiaan bersama Papa Arkaffa, kini dikoyak begitu saja oleh lisan yang penuh kedengkian.
Tanpa mereka sadari, di anak tangga paling bawah, di samping tembok ruang tengah, Saliha berdiri mematung. Niatnya untuk mengambil air minum seketika sirna. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Daviko. Jantung Saliha berdenyut nyeri, ia merasa iba sekaligus bahagia secara bersamaan.
Iba karena ternyata wanita selembut Mama Davira memiliki sejarah yang begitu perih, dan bahagia karena Mama Davira berhasil bangkit dari keterpurukan menjadi sosok yang begitu dihormati.
"Ternyata kita tidak jauh berbeda, Tante," bisik Saliha dalam hati dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Tante jauh lebih beruntung karena memiliki Pak Arkaffa yang menjaga Tante dengan seluruh jiwanya."
Keesokan harinya, suasana rumah kembali dipenuhi dengan keharuan. Papa Arkaffa dan Mama Davira terpaksa harus kembali ke kota mereka karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Di teras depan, momen perpisahan itu terasa sangat berat.
Mama Davira memeluk Saliha cukup lama, sebuah pelukan yang terasa seperti ibu kandung kepada anaknya. "Saliha, Mama titip Kaffara, ya. Jaga dia baik-baik. Dan... jaga juga dirimu sendiri," bisik Mama Davira lembut.
Saliha mengangguk. "Tentu Tante. Saya akan menjaga Kaffara semampu saya. Tante dan Om hati-hati di jalan."
Setelah mobil kedua orang tua Daviko menghilang di balik gerbang, rumah itu mendadak terasa sangat lengang. Hanya ada Daviko, Saliha, Kaffara, dan Bi Tita serta beberapa asisten rumah tangga lainnya yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Namun, kesunyian itu segera terobati dengan aroma bayi dan suara tawa kecil Kaffara dari dalam gendongan Saliha, membuat suasana rumah kembali hangat.
Daviko sering kali tertangkap basah sedang berdiri di ambang pintu, hanya untuk melihat bagaimana cara Saliha berinteraksi dengan putranya.
Saliha adalah sosok yang sangat keibuan. Ia sering mengajak Kaffara bicara, menceritakan dongeng sederhana, atau menyanyikan solawat dengan suara yang sangat merdu hingga Kaffara tertidur dengan senyum di bibir kecilnya.
Bahkan suatu kali, Daviko justru mendapati Saliha sedang berbaring di atas ranjang besar milik Daviko, tepat di samping Kaffara.
Rupanya, Kaffara saat itu sedang rewel dan hanya ingin tenang jika Saliha berada di sisinya. Saliha tampak sedang membisikkan kata-kata lembut sambil mengelus pipi bayi itu.
Posisi Saliha yang begitu dekat dengan bantalnya, dengan rambut yang sedikit tergerai, membuat jantung Daviko berdesir aneh.
Krek...
Pintu kamar berderit saat Daviko melangkah masuk. Saliha tersentak. Ia menoleh dan mendapati Daviko sudah berdiri tidak jauh dari ranjang. Dengan gerakan cepat, Saliha langsung bangkit, wajahnya pucat pasi karena merasa telah melampaui batas.
"Ma... maaf, Pak! Saya benar-benar minta maaf!" ujar Saliha dengan suara gemetar, kepalanya tertunduk dalam. "Tadi Kaffara tidak mau diam, dia hanya mau tenang kalau saya tidur di sampingnya. Saya lancang sudah berbaring di ranjang Bapak."
Saliha bersiap untuk segera menggendong Kaffara dan turun ke kamarnya di bawah. Namun suara Daviko menghentikannya.
"Tidak apa-apa, Saliha. Jangan minta maaf," kata Daviko pelan. Suaranya tidak mengandung kemarahan sedikit pun. Ia justru mendekat, menatap Kaffara yang kini sudah tertidur sangat pulas. "Kalau dia memang nyaman tidur di sini, biarkan saja. Kamu tidak perlu repot-repot membawanya turun-naik tangga hanya karena merasa tidak enak padaku."
Saliha terdiam, namun ia masih tidak berani menatap wajah Daviko. "Tapi ini kamar pribadi Bapak."
"Tapi, ini kamar Kaffara juga. Aku mengizinkanmu berada di sini selama itu demi kenyamanan Kaffara," lanjut Daviko. Matanya kini beralih menatap Saliha dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kerinduan yang ia coba sembunyikan di balik sikap tegaknya sebagai perwira.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya permisi ke dapur sebentar," Saliha mencoba menghindar secepat mungkin.
"Saliha," panggil Daviko lagi.
Langkah Saliha terhenti tepat di depan pintu. Ia tidak berbalik.
"Apakah... kamu masih marah padaku?" tanya Daviko tiba-tiba. Pertanyaan itu menggantung di udara, membuat suasana kamar menjadi sangat tegang.
Saliha meremas ujung bajunya. "Saya tidak punya hak untuk marah atau membenci Bapak. Saya hanya menjalankan tugas saya."
"Kamu bohong," bisik Daviko, kini ia sudah berdiri tepat di belakang Saliha, meski tidak menyentuhnya. "Dulu kita pernah berbagi mimpi yang sama di bawah langit yang sama. Apakah semuanya benar-benar sudah melupakannya?"
Saliha memejamkan mata erat-erat, menahan sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Saya tidak pantas mengharap mimpi itu lagi, Pak. Sebab, saya pernah menjadi kenangan terpahit untuk Bapak. Saat ini saya hanya pengasuh Kaffara, tidak lebih."
Tanpa menunggu jawaban Daviko, Saliha setengah berlari meninggalkan kamar itu. Ia masuk ke dalam kamar mandinya di bawah dan menyalakan kran air agar suara isakannya tidak terdengar.
Ia sangat benci pada dirinya sendiri karena di saat Daviko mencoba bersikap lembut, hatinya masih saja bergetar secara tidak tahu diri.
Hari-hari selanjutnya menjadi ujian bagi keteguhan hati Saliha. Karena Kaffara sering menghabiskan waktu di kamar atas, Saliha dan Daviko sering kali terjebak dalam keadaan berdua.
Saat Daviko pulang kerja lebih awal, ia akan langsung menuju kamar bayi, dan di sana ia selalu mendapati Saliha sedang sibuk dengan segala keperluan Kaffara.
Daviko sering mencoba memulai percakapan. Ia bercerita tentang pekerjaannya, tentang hobi barunya, atau sekadar menanyakan menu makan malam. Ia ingin bicara banyak, ingin menjembatani jarak yang selama ini memisahkan mereka.
Namun, Saliha selalu punya cara untuk menghindar.
Jika Daviko masuk ke kamar, Saliha akan segera mencari alasan untuk pergi. Jika Daviko bertanya, Saliha hanya menjawab dengan "Ya", "Tidak", atau "Terima kasih, Pak".
Batasan itu ia jaga dengan sangat ketat, seolah-olah jika ia lengah sedikit saja, ia akan jatuh ke dalam jurang yang sama untuk kedua kalinya.
Daviko hanya bisa menghela napas panjang setiap kali usahanya mendekati Saliha. Ia sadar, memenangkan kembali hati Saliha jauh lebih sulit daripada memenangkan misi militer tersulit sekalipun.
Namun, melihat betapa tulusnya Saliha merawat Kaffara, Daviko bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan menyerah. Ia akan menunggu, seberapa lama pun itu, sampai salju di hati Saliha mencair dengan sendirinya.
Di sisi lain, Saliha terus berdoa dalam setiap sujudnya. Ia meminta agar dikuatkan imannya, agar hatinya tetap membeku untuk pria itu. Sebab baginya, menjaga jarak adalah satu-satunya cara untuk tetap bisa berada di samping Kaffara tanpa harus kehilangan harga dirinya lagi.
semangat ya😚