Tidak semua raja menaklukkan dunia dengan pedang.
Sebagian hanya meninggalkan jejak—di tanah yang pernah mereka pijak, di sumpah yang tak pernah ditarik, dan di kisah yang terus dibisikkan dari generasi ke generasi.
Di tengah zaman yang bergejolak, nama Prabu Munding Jayananta mulai disebut-sebut.
Bukan sebagai penakluk yang haus kuasa, melainkan sebagai raja yang menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di bawah satu panji,
Namun semakin luas persatuan terbentuk, semakin besar ujian yang datang.
Musuh tidak selalu datang membawa pasukan.
Sebagian hadir sebagai ambisi, dendam lama, dan kebenaran yang diperdebatkan.
Jejak Sang Raja adalah kisah tentang persatuan, legenda, dan harga yang harus dibayar ketika seorang raja memilih untuk dikenang—bukan sebagai penguasa mutlak, tetapi sebagai jejak yang mengubah arah sejarah.
Jejak sang raja adalah seri ke tiga, lanjutan dari 2 kisah sebelumnya ;
Tahta berdarah sang pangeran
Pendekar mesum berambut perak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lintang88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka Istana Martapura
Malam semakin larut , orang orang di dalam kompleks istana Martapura makin brutal.
Kekacauan juga terjadi di luar komplek istana, kekacauan merembes sampai pemukiman warga
Berawal dari sebuah pos ronda
" sialan...enak banget elu duduk duduk santai, gw dari tadi Keliling....gantian dong...!!"
" eh..setan...kan emang giliran elu yang keliling.."
" eh anjing...enak aja lue nyebut gw setan... bangsat lu .!!"
Di hari hari biasa ucapan ini hanyalah candaan tak bermakna, namun malam ini, ucapan itu jadi pemicu perkelahian, yang akhirnya berujung pada pembunuhan.
Berakhir dengan kekacauan
Martapura chaos, kerusuhan masal terjadi di tengah malam.
Kerusuhan selalu di temani pembakaran , mungkin itu sudah jadi satu paket..!! Kebakaran ..membuat langit kota Martapura memerah.
Dijalanan banyak orang dengan golok berlumuran darah, mereka berjalan tanpa arah bagai zombie, mencari lawan untuk di ajak berkelahi .
Martapura hancur dalam satu malam saja, sungguh dahsyat atau biadab serangan Basura ini..??
Malam terasa sangat panjang dan lama, Kokok ayam jantan sebagai penanda datang nya pagi tak juga terdengar.
Ayam jantan tak bisa lagi berkokok karena semua sudah mati..
Untunglah matahari tidak tergantung pada Kokok ayam, saat waktunya tiba , matahari tetap terbit.
Matahari tidak peduli masalah yang menimpa Martapura, tugas nya hanya menyinari dunia.
Jeritan setinggi langit sedalam lautan menyambut datang nya pagi ..
Jika matahari bisa sembunyi, dia pasti akan sembunyi lagi..
Saat terang, pemandangan kota Martapura bagai neraka...
Jalanan tergenang darah!! genangan darah bagai anak sungai yang mengalir
Bau anyir darah memenuhi udara.
Tubuh kaku ,orang tua ,anak anak bahkan hewan tak bernyawa tumpang tindih, Potongan kepala manusia berserakan di mana mana,
Di dalam istana
Nawang pinsan, embun dingin menyadarkan nya,
" uhuk..uhuk...dadaku sesak, tenaga ku lemas kenapa ini .? Semalam berbuat apa??.
Nawang celingukan hanya untuk mendapati pemandangan yang menusuk mata..
" kanda....kanda pangeran...!!! "
Nawang bangkit , berlari, tak jauh dia melihat pangeran giri terjengkang, bermandikan darah
Nawang memeluk tubuh dingin dan kaku pangeran giri ,
Dada pangeran giri tepat di bagian jantung terbuka selebar gagang pedang..
" kanda...kanda...duh sang hyang agung...apa yang terjadi...??"
" tolong....tolong...!! "
Sampai detik ini Nawang belum sadar akan kejadian semalam..
Jangankan Nawang, semua orang yang mengalami tragedi semalam juga tak sadar apa sebenarnya yang terjadi..
Yang mereka tau, saat terbangun , mereka mendapati pemandangan menusuk mata, menghancurkan hati..
Asal itu bukan kiamat, di setiap bencana, seberapa pun dasyat nya bencana selalu saja ada orang yang lolos dari maut, selamat dari dasyat nya bencana.
Demikian juga pada bencana di Martapura ini, masih banyak orang orang yang selamat baik lelaki maupun perempuan bahkan anak anak dan orang tua renta..
Inilah ke ajaiban dan rahasia takdir sang kuasa.
Mereka mereka yang selamat , sekarang sedang berkumpul di pendopo.
Seluruh keluarga istana tewas, hanya menyisakan putri Nawang dan mpu Gambir Anom.
Seorang Senopati bernama Arda , adalah satu satunya pejabat istana yang selamat.
Tiga orang ini menambahkan hati, memimpin semua yang selamat untuk bebenah.
" jenasah saudara saudara kita semua, kumpul kan disini..
jenasah gusti prabu, nyai ratu dan Gusti pangeran, bawa ke sana..
" kaum wanita, tolong buatkan makanan..kita berduka, tapi kita perlu makan, tugas kita masih banyak .
" kita harus bergegas...terus terang aku belum tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku merasa masalah ini belum selesai...
sebelum gelap ..semua harus selesai...kita harus meninggalkan kota..!
" ayooo ..!! "
Sambil menahan kepedihan,mereka bekerja.
yang pertama adalah mengurus jenasah,ke adaan sangat mendesak, tidak sempat membuat upacara, terpaksa di buat masal.
" maafkan kami saudara saudara ku semua, kami yang selamat tidak mampu berbuat lebih dari ini..
Damailah kalian semua disana ..! "
selamat tinggal saudara saudara ku !
" nyalakan...! "
mpu Gambir Anom berkata pelan, tak lama beberapa rumah terbakar..!!
" isak tangis pecah seketika.. suasana di liputi kepedihan.
, Raja dan pejabat gugur mpu Gambir Anom dipaksa mengambil alih pimpinan tertinggi.
Dengan berat hati , dia membakar mayat pada beberapa rumah.
Di langit tepat di atas kubah istana, terlihat gumpalan awan hitam
Awan hitam itu bulat sempurna, lingkaran nya besar , menutupi kubah istana.
Ditengah awan hitam ada bulatan kecil berwarna putih.
Penampakan awan hitam itu persis seperti mata yang besar.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian mpu Gambir Anom dan semua orang .
mpu Gambir Anom merasakan bahaya, dia kembali berteriak
" ayoooo...cepat... cepat....!!!.
selesaikan ...lalu kita pergi....
tinggalkan Martapura...!!"
Sekian lama menunggu, api padam, orang banyak berlari, mengumpulkan abu jenasah.
Nawang berdiri kaku, tertunduk dalam diam, matanya bengkak kebanyakan menangis, tapi dia memaksakan diri nya tabah .. sungguh tidak mudah..
" nyi mas... abu jenasah Nanda pangeran, Gusti prabu dan ibu ratu..akan kami simpan terlebih dahulu, maafkan kami..ke adaan nya darurat.."
" terimakasih uwak guru.."
Suara Putri Nawang pelan, nyaris tak terdengar, dia memandangi guci kecil berisikan abu jenazah itu sebelum dibawa pergi , dikumpulkan bersama yang lain .
" nyi mas...ayoo kita pergi , tinggalkan kota Martapura, uwak yakin bencana ini belum usai.."
Nawang mengangguk pelan , kemudian berjalan mengikuti langkah kaki mpu Gambir Anom..
"mohon melapor guru..."
" ada apa Senopati Arda..??"
" ini aneh guru...kita tidak bisa keluar kita tidak menemukan gerbang istana..!"
" apaa...apa.katamu..!! tidak bisa keluar??
' i..i..iya guru..kami hanya berputar putar di sekitar istana, tidak bisa keluar..!! "
" aiss... bagaimana mungkin...."
Semua orang sibuk, memeriksa setiap sudut jengkal demi jengkal, hingga pada akhirnya Mereka kembali berkumpul, mpu Gambir Anom berkata..
" apakah ada yang menyentuh benda keras?? Seperti tembok atau dinding atau apalah itu?
" tidak..tidak ada..kami berjalan sesuai arah tapi beberapa saat berjalan , kami malah kembali ke tempat semula..!!"
Mpu Gambir Anom dan orang banyak tertunduk lesu..
" apa apa an ..aku tau ini ilusi , tapi ilusi macam apa yang tidak meninggalkan tanda?
Jika ada tembok, mungkin bisa coba di hancurkan..ini tidak ada apa apa ..!!"
perbuatan siapa?? Apa sekte nirwana??"
aihhh... bagaimana ini..?
semua orang tertunduk , benak mereka terlintas berbagai macam pikiran.
" nyi gendis... nyi gendis ..datang ..datang kehadapan ku "
Beberapa saat menunggu,tidak ada jawaban,tidak ada yang datang...
" nyi gendis...nyi gendis...!! Dimana kamu??"
Nawang mencoba lagi, hasilnya sama, tidak ada jawaban tidak ada yang datang.
Ini tidak biasanya,pasti ada yang tidak beres
" uwak guru...kita terkurung disini..! "
Nawang berseru, suara nya agak tercekat,..
" apa!!... terkurung?? Bagaimana bisa..?"
" tenang ..tenang nyimas, semua tenang, ayoo duduk..duduk kita pikirkan pelan pelan.
Ketegangan menggantung di udara, raut wajah lelah sekarang bertambah cemas.
Sementara waktu tidak menunggu, perlahan lahan tapi pasti sinar mentari mulai suram, senja telah datang... sebentar lagi gelap..
Jika tidak ada jalan keluar, apakah malam.ini mereka akan kembali saling bunuh??.
nantikan kisah selanjutnya pd episode yg akan datang
SAMPAI JUMPA.....