Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Saat Hujan
Hujan di Lembang malam itu turun dengan irama yang monoton, menciptakan simfoni alam yang melankolis di atas atap rumah batu itu. Di dalam ruang tengah yang hanya diterangi lampu gantung berwarna kuning hangat, Andini duduk berhadapan dengan Farhady. Di atas meja, dua cangkir teh yang sudah mulai mendingin menjadi saksi keheningan yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Dini," suara Farhady memecah sunyi, rendah dan penuh pertimbangan. "Ayah rasa, sudah saatnya kamu tahu tentang sesuatu yang selama ini Keenan simpan dengan sangat rapi. Bukan karena dia ingin berbohong, tapi karena dia terlalu menghargai arti keluarga."
Andini mendongak, matanya yang bening menatap mertuanya dengan rasa ingin tahu. "Tentang apa, Yah?"
Farhady menarik napas panjang, tatapannya menerawang ke arah jendela yang berembun. "Tentang garis keturunan kami. Ayah bukan ayah biologis Keenan. Ayah adalah ayah sambungnya. Ayah menikahi ibunya saat Keenan sudah berusia tujuh tahun, menyelamatkannya dari kerasnya panti asuhan setelah ayah kandungnya pergi entah ke mana."
Andini tertegun. Meskipun ia pernah mendengar sepintas tentang masa lalu suaminya di panti, ia tidak pernah benar-benar menyadari bahwa secara hukum agama dan darah, Farhady dan Keenan tidak memiliki keterikatan langsung. "Jadi... Ayah dan Mas Keenan tidak memiliki hubungan darah?"
"Sama sekali tidak," jawab Farhady mantap. "Tapi cinta Ayah padanya melampaui ikatan darah mana pun. Begitu juga cinta Ayah padamu sekarang, sebagai amanah terakhirnya."
Percakapan mendalam itu terputus oleh suara ketukan pintu yang tergesa-gesa. Saat Andini membukanya, berdiri seorang pria dengan jaket kulit yang basah kuyup. Tony Santosa. Ia adalah teman akrab Keenan sejak masa kuliah, pria dengan pembawaan energik yang seringkali menjadi penghibur di masa-masa sulit Keenan dahulu.
"Andini, maaf aku bertamu malam-malam begini," ujar Tony sambil mengusap wajahnya yang basah. "Aku baru saja kembali dari proyek di luar kota dan langsung terpikir untuk mengecek kabarmu. Aku membawakan martabak manis dari kota, favoritmu dan... favorit Keenan dulu."
Andini tersenyum tipis, merasa terharu dengan perhatian sahabat mendiang suaminya. "Masuklah, Tony. Ada Ayah Farhady juga di dalam."
Kehadiran Tony seketika mengubah atmosfer ruangan. Jika Farhady membawa ketenangan yang dalam, Tony membawa energi yang sedikit "berisik" namun hangat. Namun, di balik tawa dan cerita-ceritanya tentang kenangan konyol bersama Keenan, ada sepasang mata yang tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Andini. Tatapan Tony bukanlah tatapan seorang sahabat biasa; ada kekaguman yang dipendam rapat-rapat, sebuah rasa yang sudah tumbuh jauh sebelum Keenan pergi, namun selalu ia kunci demi menghormati persahabatan mereka.
"Kamu terlihat lebih kurus, Din," celetuk Tony di sela kunyahan martabaknya. "Jangan terlalu banyak bersedih. Keenan pasti tidak suka melihat penulis kesayangannya kehilangan semangat."
Farhady hanya menyimak, namun sebagai pria yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, ia bisa menangkap getaran yang berbeda dari cara Tony menatap Andini. Ada semacam rasa posesif yang halus, sebuah kompetisi yang tak terucap. Farhady merasakan dadanya sedikit sesak, sebuah perasaan protektif yang muncul begitu kuat seolah ia tidak rela jika ada orang lain yang mencoba masuk ke dalam lingkaran duka yang sedang mereka sembuhkan bersama.
"Andini sedang berusaha sebaik mungkin, Tony," sela Farhady dengan nada suara yang sedikit lebih tegas dari biasanya. "Kami saling menjaga di sini."
Tony tersenyum kaku, menyadari keberadaan Farhady yang begitu dominan. "Tentu saja, Om. Saya hanya ingin memastikan Andini tidak kesepian. Kalau ada apa-apa, butuh bantuan apa pun, hubungi aku saja, Din."