UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ketika Aku Melihat Ayahku
Panas terik kota Bandung siang itu terasa seperti simulasi neraka bocor.
Mereka bertiga duduk berdesakan di dalam angkot jurusan Cicaheum-Ledeng yang sudah kelebihan kapasitas.
Bau bensin bercampur dengan aroma keringat matahari, parfum murah, dan asap knalpot.
Suara musik dangdut menghentak dari speaker modifikasi di belakang kursi sopir, membuat lantai angkot ikut bergetar.
Sinta duduk di pojok, memeluk buku-buku tebalnya di depan dada seperti tameng, wajahnya ditekuk habis-habisan.
"Angkotnya sudah penuh begini, kenapa sopirnya masih teriak-teriak cari penumpang sih?" gerutu Sinta.
Ia menggeser tubuhnya sedikit, mencoba menjauh dari ibu-ibu yang membawa keranjang belanjaan penuh sayur di sebelahnya.
Raka yang duduk di seberang Sinta, malah tertawa.
Pemuda itu duduk dengan sebelah kaki diangkat santai, lengannya bersandar pada besi jendela yang terbuka.
Angin meniup rambutnya yang berantakan.
"Namanya juga cari duit, Sin. Kalau mau lega, ya tadi kamu pulang naik sedan kating itu aja," goda Raka santai.
Sinta memelototinya tajam. "Diam kamu, ini semua gara-gara kamu main narik-narik orang."
Nara duduk tepat di sebelah Raka.
Ia sedari tadi hanya diam, mengamati interaksi dua orang di depannya.
Ia tidak merasa cemburu.
Jujur saja, melihat Sinta mengomel dan Raka yang membalas dengan seringai usil, malah terlihat seperti menonton sitkom komedi di televisi tabung. Raka tidak terlihat seperti pria yang sedang mabuk kepayang, ia lebih terlihat seperti anak kecil yang menemukan mainan favoritnya, yaitu mengganggu Sinta sampai perempuan itu meledak.
"Kiri, Mang! Kiri!" teriak seorang bapak di dekat pintu.
Sopir angkot, yang sepertinya merasa dirinya sedang balapan di sirkuit F1, membanting setir ke kiri dengan kecepatan tidak wajar.
Lalu, sebuah sepeda motor tiba-tiba memotong jalan dari arah gang.
CIIIITTT!
Sopir itu menginjak rem dalam-dalam.
Ban angkot berdecit keras beradu dengan aspal.
Hukum fisika langsung bekerja.
Semua penumpang terdorong ke depan dengan kasar.
Nara, yang duduk santai tanpa berpegangan pada tiang besi di atasnya, langsung kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya terlempar dari tempat duduk.
Ia bahkan tidak sempat berteriak, wajahnya meluncur lurus ke arah lantai angkot yang terbuat dari pelat besi bergerigi.
Namun, sebelum lutut atau wajahnya mencium lantai kotor itu, sebuah tangan bergerak secepat kilat.
Tangan itu mencengkeram lengan atas Nara, menariknya dengan sentakan yang sangat kuat.
Di saat yang bersamaan, sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menahan bobot tubuhnya.
Nara terhempas ke samping.
Bruk.
Ia tidak jatuh ke lantai.
Ia menabrak dada seseorang. Dada yang keras, dibalut kaus hitam dan jaket denim.
Dunia berhenti bergetar selama satu detik.
Musik dangdut di speaker seolah mendadak senyap.
Nara mendongak, napasnya terkesiap.
Wajah Raka berada tepat di atasnya, sangat dekat.
Pemuda itu menatapnya ke bawah, mata cokelatnya membesar.
Tangan Raka masih melingkar erat di pinggang Nara, menyisakan kehangatan yang menjalar langsung menembus kemeja kotak-kotak yang Nara pakai.
Napas Raka yang sedikit memburu menyapu puncak kepala Nara, aa keterkejutan yang nyata di mata pemuda itu.
Sesuatu yang intim, tertahan, dan tiba-tiba.
Jantung Nara seakan meledak di dalam tulang rusuknya.
Waktu terasa membeku.
"Woy, Mang! Kalau bawa mobil pelan-pelan atuh! Bawa nyawa ini!" omelan ibu-ibu berkeranjang sayur memecahkan gelembung keheningan itu.
Raka langsung mengerjapkan matanya.
Sihir itu pecah.
Ia segera menarik tubuh Nara kembali ke posisi duduk yang benar, lalu melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu.
Raka berdehem pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela luar. Ujung telinganya terlihat sedikit memerah, tetapi seringai usilnya dengan cepat kembali terpasang.
"Kalau mau meluk, bilang-bilang dong, Nar. Jangan pakai trik rem angkot segala," celetuk Raka santai, seolah jantungnya tidak baru saja berdetak di luar ritme normal.
Nara langsung menetralkan raut wajahnya.
Ia mengatur napasnya cepat, memasang kembali topeng sinisnya.
"Maaf ya," balas Nara ketus, sambil merapikan bajunya. "Tulang rusukmu tajam banget, nggak enak dipeluk udah kayak nabrak tiang listrik."
Raka menoleh, tertawa renyah mendengar balasan itu. "Besok aku makan lebih banyak biar empuk."
Di seberang mereka, Sinta sedang sibuk memunguti beberapa pulpennya yang jatuh ke lantai angkot, sama sekali tidak menyadari momen sepersekian detik yang baru saja menghentikan napas dua orang di depannya.
Nara membuang pandangannya ke luar jendela.
Ia tidak akan membiarkan hatinya goyah lagi, itu hanya kecelakaan.
Mereka turun di kawasan Alun-alun Bandung.
Area itu dipenuhi oleh pedagang kaki lima, anak-anak kecil yang berlarian, dan muda-mudi yang nongkrong menghabiskan sore. Matahari sudah mulai turun, meninggalkan semburat oranye di langit.
Raka membawa mereka ke sebuah gerobak batagor di pinggir trotoar.
Ia memesan tiga porsi tanpa bertanya.
Begitu piring plastik berisi batagor bersiram bumbu kacang pekat itu dihidangkan, Sinta langsung mengeluarkan sebungkus tisu dari tasnya. Perempuan itu mulai mengelap sendok dan garpu plastiknya dengan gerakan teliti dan sangat hati-hati.
Raka yang sudah menyuap satu potong batagor ke mulutnya, menatap kelakuan Sinta sambil mengunyah.
"Itu sendok udah dicuci, Sin. Bersih, nggak usah dilap sampai lecet gitu," tegur Raka santai.
"Air cucian gerobak di pinggir jalan itu nggak mengalir, Raka," balas Sinta tanpa menatapnya, masih sibuk menggosok garpunya. "Bakterinya cuma muter-muter di ember yang sama, aku nggak mau kena tipus besok pagi."
Raka memutar bola matanya, lalu menoleh pada Nara.
"Nona Kalkulator ini takut sama bakteri, kamu takut bakteri juga nggak, Nar?"
Nara menyuap batagornya dengan santai. "Bakterinya yang takut sama aku."
Raka tertawa keras. "Bagus, akhirnya aku punya teman makan yang nggak ribet."
Sinta hanya mendengus pelan dan akhirnya mulai memakan porsinya.
Suasana terasa sangat ringan, sangat normal.
Nara menikmati batagornya dalam diam.
Melihat Raka dan Sinta saling berdebat tentang hal-hal sepele, melempar argumen yang sama sekali tidak penting.
Tidak ada romansa yang dipaksakan, hanya tiga orang anak muda di sore hari yang damai.
Sampai sebuah suara menghancurkan segalanya.
"Bagus, jam segini masih luntang-lantung di pinggir jalan."
Suara itu berat, keras, dan sangat dingin.
Tangan Raka yang sedang memegang garpu, terhenti di udara.
Tawa yang baru saja akan keluar dari mulutnya, mati seketika.
Nara menoleh.
Berdiri tidak jauh dari gerobak batagor itu, adalah seorang pria paruh baya.
Ia mengenakan kemeja safari berwarna cokelat yang disetrika sangat rapi. Celana bahannya jatuh sempurna menutupi sepatu pantofel yang disemir mengkilap. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang kaku dan sorot mata yang mengintimidasi.
Nara menelan ludah, batagor di tenggorokannya tiba-tiba terasa seperti kerikil.
Itu kakeknya.
Ayah Raka.
Pak Arman.
Raka meletakkan piringnya di atas meja gerobak perlahan.
Postur tubuhnya yang sedari tadi santai dan sedikit membungkuk, kini berubah kaku.
Bahunya menegang.
"Bapak," sapa Raka, suaranya berubah. Tidak ada lagi nada usil, hanya ada kehampaan.
Pak Arman melangkah mendekat, matanya menatap Raka dengan kilat jijik lalu beralih menatap gitar yang tersandang di punggung Raka.
"Bapak dengar dari tetangga, semalaman kamu tidak pulang. Bapak pikir kamu akhirnya sadar dan cari kerjaan yang benar, ternyata masih jadi gembel di jalanan."
Nara membelalakkan matanya, kata-kata itu meluncur tanpa beban di tempat umum. Di depan penjual batagor, di depan teman-teman Raka.
"Saya cuma cari makan sebentar, Pak," jawab Raka pelan, ia menundukkan kepalanya. Pria yang tadi siang dengan gagah berani mengusir Danang di kantin kampus, kini menciut menjadi anak kecil yang ketakutan.
"Makan dari uang receh yang orang buang ke kotak gitarmu itu?" cibir Pak Arman tajam, suaranya cukup keras hingga beberapa orang di trotoar mulai menoleh.
"Sampai kapan kamu mau mempermalukan keluarga, Raka? Kakak-kakakmu sudah jadi sarjana, sudah kerja di kantor. Dan kamu? Cuma jadi pengamen, mau makan apa kamu dari gitar rongsokan itu? Mau jadi sampah masyarakat?"
Raka mengepalkan tangannya di sisi tubuh, buku-buku jarinya memutih. Tapi ia tidak membantah, ia membiarkan harga dirinya diinjak-injak di tengah alun-alun kota.
Nara menatap Raka dengan napas tertahan.
Dada Nara bergemuruh.
"Apakah ini yang harus Raka hadapi setiap hari?"
Pria tua yang egois ini sedang menghancurkan jiwa anaknya sendiri.
Nara bersiap membuka mulutnya untuk memaki, masa bodoh itu kakeknya, ia akan melawannya.
Namun, sebelum Nara sempat bersuara, sebuah suara lain memotong lebih dulu.
"Permisi, Bapak."
Suara itu tenang, jelas, dan tidak bergetar sama sekali.
Nara dan Raka menoleh bersamaan secara refleks.
Sinta telah meletakkan piring batagornya.
Perempuan itu berdiri tegak, membalas tatapan tajam Pak Arman tanpa gentar sedikit pun.
"Maaf kalau saya ikut campur," kata Sinta, nada bicaranya sangat formal dan sopan, tetapi kata-katanya setajam silet. "Tapi kesimpulan Bapak tidak logis."
Pak Arman mengerutkan keningnya marah. "Kamu siapa? Anak sekolah jangan ikut campur urusan keluarga orang."
"Nama saya Sinta, dan saya mahasiswi ekonomi, Pak," jawab Sinta dingin. "Bapak bilang Raka sampah masyarakat karena bermain gitar, kalau kita bicara soal kontribusi, musisi juga menciptakan nilai ekonomi. Tanpa karya seni, industri rekaman dan hiburan tidak akan berjalan. Raka punya bakat, musiknya bagus, dia sedang membangun nilainya sendiri."
Pak Arman mendengus kasar, meremehkan. "Bakat? Omong kosong."
"Bukan omong kosong," potong Sinta tegas, ia melangkah maju satu langkah, menempatkan dirinya sedikit di depan Raka, seolah menjadi perisai bagi pemuda itu.
"Bapak mungkin menilai sukses dari kemeja rapi dan jam kerja kantoran, tapi merendahkan pilihan hidup seseorang di tempat umum seperti ini, justru menunjukkan bahwa Bapak yang gagal. Gagal menghargai proses orang lain."
Hening.
Bahkan tukang batagor pun berhenti mengaduk bumbu kacangnya.
Pak Arman menatap Sinta dengan wajah merah padam.
Ia tidak terbiasa dilawan, apalagi oleh anak perempuan yang usianya jauh di bawahnya. Namun kata-kata Sinta terlalu rapi dan telak untuk dibantah dengan amarah murahan.
Pria paruh baya itu akhirnya menunjuk wajah Raka dengan telunjuknya.
"Pulang, atau tidak usah pulang sekalian selamanya."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Pak Arman berbalik dan berjalan pergi dengan langkah menghentak cepat, menghilang di keramaian alun-alun.
Angin sore berhembus pelan.
Suasana di sekitar gerobak batagor itu masih tegang.
Raka menunduk, tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.
Pemuda itu mencoba tertawa, sebuah tawa yang dipaksakan, tawa yang terdengar sangat menyedihkan.
"Wah... gila, tontonan gratis buat pengunjung alun-alun," gumam Raka, mencoba kembali pada nada usilnya. Ia menoleh pada Sinta. "Kamu nekat banget, Sin. Bapakku itu bisa makan orang kalau lagi marah."
Sinta menatap Raka, raut wajah Sinta tidak menunjukkan rasa kasihan melainkan rasa hormat.
"Kamu tidak perlu menunduk pada argumen yang tidak punya dasar," kata Sinta pelan.
Nara masih berdiri terpaku di tempatnya.
Telinganya berdenging.
Matanya tidak menatap Sinta, melainkan terkunci sepenuhnya pada wajah Raka.
Di balik senyum paksa dan tawa yang Raka buat-buat saat ini... Nara melihatnya.
Sebuah kehancuran yang tak kasat mata.
Sebuah jiwa yang terus-menerus digerus hingga mati rasa.
Tiba-tiba, seperti potongan film yang diputar paksa, memori dari masa depan berkelebat di kepala Nara.
Ayahnya, Arman Raka Pradipta.
Pria yang tidak pernah tersenyum, pria yang membuang gitarnya, pria yang memaksa Nara belajar mati-matian dan tidak pernah memuji apa pun yang Nara lakukan. Pria yang selalu bersembunyi di balik kemeja rapinya yang kaku,
selama dua puluh tiga tahun hidupnya, Nara membenci ayahnya.
Ia mengira ayahnya memang terlahir sebagai pria dingin tanpa perasaan.
Namun sore ini, menatap pemuda berjaket denim yang sedang berusaha menyembunyikan air matanya di balik tawa canggung... kebenaran itu menghantam dada Nara seperti palu godam.
Ayahnya tidak terlahir dingin.
Ayahnya dibunuh perlahan-lahan oleh kakeknya, lalu dibentuk menjadi monster yang sama.
Dan Raka di masa depan, tanpa sadar, mewariskan luka itu kepada Nara.
Kutukan.
Nara memegang ujung meja gerobak agar tidak terjatuh, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang luar biasa besar.
Ia telah membenci ayahnya sepanjang hidupnya, tanpa tahu bahwa pria itu pernah berjuang sekeras ini untuk mempertahankan sedikit kebebasannya.
Nara menatap Raka.
Bukan tatapan seorang gadis yang jatuh cinta.
Melainkan tatapan seorang anak yang baru pertama kali benar-benar melihat ayahnya.
Sebuah air mata jatuh tanpa izin membasahi pipi Nara.
Bukan air mata kecemburuan karena Sinta membela Raka.
Melainkan air mata duka, karena Nara tahu... tidak peduli seberapa keras Sinta membela Raka hari ini, pada akhirnya, Raka akan kalah.
Pria bebas ini akan mati.
Dan masa depan yang dingin itu, tetap akan menjemput mereka.