NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Api Hitam dan Cahaya yang Terluka

Ledakan energi dari benturan antara Siwa dan pedang api hitam Mahesa menciptakan lubang menganga di atap kuil Kertawana.

Serpihan genting dan debu kayu beterbangan, namun bagi kedua petarung itu, dunia seolah berhenti berputar.

Wira bisa merasakan hawa panas yang tidak wajar dari pedang Mahesa, sebuah panas yang tidak membakar kulit, melainkan mencoba mengeringkan suksma di dalam tubuhnya.

Mahesa tertawa, suaranya kini berlapis-lapis seperti geraman ribuan binatang buas. Mata hitamnya yang tanpa pupil berkilat dalam kegelapan.

"Kau merasa kuat karena telah menyatu dengan tongkat kayu itu, Wira? Kau pikir latihanmu di Ayodya Pala cukup untuk menahan murka dari dimensi bawah?" Mahesa menekan pedangnya lebih keras, membuat percikan api hitam memercik ke wajah Wira.

Wira menahan tekanan itu dengan satu tangan pada Siwa, sementara kakinya sedikit tertanam ke lantai batu kuil.

Ia tidak lagi memakai topeng pedagang ubi yang penuh candaan. Kini wajahnya menjadi wajah sosok seorang penyeimbang yang tenang.

"Mahesa, kau bicara soal kekuatan, tapi kau sendiri sudah kehilangan jati dirimu. Kau bukan lagi ksatria Kerajaan. Kau hanyalah wadah kosong yang diisi oleh sampah energi," ucap Wira dengan suara yang stabil.

"Diam kau!" Mahesa menghentakkan kakinya, melepaskan gelombang api hitam yang memaksa Wira melompat mundur ke udara.

"Wira, hati-hati!" suara Siwa memperingatkan di dalam batinnya.

"Pedang itu adalah Nandaka Kala, senjata yang ditempa dari tulang iblis tingkat tinggi. Setiap kali kau beradu dengannya, ia akan mencoba meracuni aliran energiku." jelas Siwa sedikit khawatir.

Meskipun ia adalah senjata dewa, namun di dunia manusia ini kekuatannya sangat terbatas.

"Aku tahu, Siwa. Tapi aku tidak bisa terus menghindar. Sekar dan Guntur sedang bertaruh nyawa di sisi lain kota ini," jawab Wira sambil memutar tongkatnya di udara, menciptakan pusaran cahaya biru langit untuk menetralkan hawa panas yang menyengat.

Sementara itu, di pinggiran kota Kertawana, Sekar dan Guntur sedang menghadapi situasi yang tak kalah pelik.

Mereka berhasil menyusup ke dalam gudang energi, sebuah bangunan bawah tanah yang dulunya adalah lumbung padi rakyat.

Namun, di dalamnya bukan padi yang mereka temukan, melainkan tabung-tabung kristal berisi asap ungu pekat yang berdenyut seperti jantung.

"Ini adalah inti kehidupan rakyat Majapatih yang diculik," bisik Sekar dengan amarah yang membara. "Guntur, berapa banyak bahan peledak yang kau bawa?"

Guntur, yang kini tak lagi berpura-pura bisu, memeriksa tas pinggangnya.

"Hanya cukup untuk meruntuhkan bangunan atasnya, Sekar. Tapi jika kita meledakkan tabung-tabung ini tanpa menetralisirnya, energi ini akan meledak dan menghancurkan seluruh kota." jawabnya dengan serius.

Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang tabung kristal, muncul sesosok makhluk yang mengerikan.

Tubuhnya terdiri dari gumpalan daging yang tidak sempurna, dengan banyak tangan yang memegang berbagai macam senjata tajam. Ini adalah Mandala, monster buatan Kalingga yang diciptakan dari gabungan jasad-jasad pendekar yang gagal dalam ritual.

"Guntur, urus penetralan energinya. Makhluk buruk rupa ini bagianku!" teriak Sekar sambil mencabut sepasang pedang pendeknya yang kini berpendar perak.

Sekar bergerak dengan kelincahan yang luar biasa, hasil dari latihannya di Ayodya Pala selama bertahun-tahun.

Meski kekuatannya waktu itu telah meningkat pesat, ia sadar jika ingin mengikuti Wira, ia harus terus menjadi lebih kuat, bahkan kekuatannya saat ini belum bisa di samakan dengan Wira.

Ia kemudian melompat di antara tabung-tabung kristal, menghindari tebasan tangan-tangan Mandala. Namun, makhluk itu seolah-olah bisa beregenerasi dengan cepat setiap kali Sekar berhasil menebas salah satu lengannya.

"Kau harus menghancurkan inti di dadanya, Sekar!" teriak Guntur sambil sibuk memasang segel penawar pada tabung pusat.

Sekar menarik napas panjang, ia teringat pada teknik yang pernah diajarkan Wira saat mereka berlatih di bawah sinar rembulan Ayodya Pala.

"Jurus Rembulan Perak, Penembus Jiwa!"

Sekar memutar tubuhnya seperti gasing, berubah menjadi kilatan perak yang tajam. Ia menembus pertahanan Mandala dan menghujamkan kedua pedangnya tepat ke kristal merah yang bersembunyi di balik tumpukan daging di dada makhluk itu.

PYARR!

Makhluk itu melolong memekakkan telinga sebelum akhirnya luruh menjadi tumpukan daging tak bernyawa yang membusuk dalam sekejap.

Kembali ke kuil, pertarungan antara Wira dan Mahesa telah mencapai puncaknya.

Wira menyadari bahwa ia tidak bisa mengalahkan Mahesa dengan kekuatan kasar selama Mahesa masih terhubung dengan bola kristal raksasa di tengah kuil yang terus menyuplai energi hitam.

"Siwa, kita harus memutuskan koneksi energinya," ucap Wira.

"Gunakan teknik 'Pemutus Rantai Dunia', Wira. Tapi itu akan menguras separuh energimu dalam sekejap," jawab Siwa cepat.

"Lakukan sekarang!"

Wira melempar Siwa ke udara. Tongkat kayu itu berputar dengan sangat cepat, menciptakan pilar cahaya biru yang menjulang tinggi hingga menembus awan ungu di langit.

Wira kemudian melompat, menangkap Siwa di puncak pilar tersebut, dan menghujamkannya ke bawah dengan posisi vertikal.

"Jurus Sapu Jagat, Pemurnian Takdir!"

Gelombang energi suci menyebar dari titik jatuhnya Siwa, menghancurkan bola kristal ungu di tengah kuil hingga berkeping-keping.

Seketika itu juga, pasokan energi hitam ke tubuh Mahesa terputus. Mahesa menjerit saat sisik-sisik hitam di tubuhnya mulai mengelupas secara paksa, menampakkan kulit manusianya yang penuh luka bakar.

"Tidaaak! Tuan Kalingga... ampuni aku..." rintih Mahesa sambil berlutut, pedang api hitamnya padam dan hancur menjadi abu.

Wira mendarat dengan napas sedikit terengah. Ia berjalan mendekati Mahesa yang kini tampak sangat rapuh.

Tidak ada lagi keinginan untuk membunuh di mata Wira, yang ada hanyalah rasa iba.

"Kau telah dikhianati oleh ambisimu sendiri, Mahesa," ucap Wira pelan.

Namun, sebelum Wira bisa bicara lebih jauh, sebuah tawa dingin menggema dari arah pintu kuil yang hancur.

Sesosok bayangan berjubah emas dengan wajah yang sangat dikenal muncul, Adipati Kalingga telah berdiri di sana. Namun, ini bukan tubuh aslinya, melainkan bayangan energi tingkat tinggi.

"Luar biasa, Wira. Kau berhasil menghancurkan salah satu pion terbaikku," ucap bayangan Kalingga dengan nada meremehkan.

"Tapi kau terlambat. Penghancuran bola kristal ini justru memicu pelepasan energi yang akan membuka pintu gerbang bagi Dia di ibu kota Majapatih. Kertawana hanyalah pengalihan isu, Hahaha.." lanjut ucapnya dengan diiringi sebuah tawa.

Wira mengepalkan tangannya.

"Kalingga! Berhenti menggunakan rakyat sebagai tumbalmu!"

"Bicaralah pada angin, Bocah. Aku menunggumu di Istana Majapatih. Jika kau bisa sampai ke sana sebelum matahari terbit, mungkin kau bisa melihat rajamu mati dengan cara yang terhormat," setelah berkata demikian, bayangan Kalingga menghilang.

Wira segera berbalik arah dan melihat ke arah gudang energi.

Sebuah ledakan cahaya putih terjadi di sana, tanda bahwa Guntur dan Sekar berhasil menetralisir energi rakyat secara aman.

Wira terduduk sejenak di lantai kuil, energinya benar-benar terkuras. Ia merogoh kantong bajunya dan menyentuh jimat melati dari Ratnawati.

Aroma melati yang samar itu seolah memberikan dorongan tenaga baru baginya.

"Wira!" teriak Sekar yang baru saja sampai di kuil bersama Guntur. Keduanya tampak kelelahan namun selamat.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Wira sambil berusaha bangkit.

"Kami berhasil menyelamatkan energi rakyat, tapi Kertawana kini dalam bahaya karena pasukan Wungkul yang tersisa mulai mengamuk tanpa kendali," lapor Guntur.

Wira menggelengkan kepalanya.

"Biarkan rakyat di sini diurus oleh pasukan gerilya Ayodya Pala yang mengikuti kita secara rahasia. Kita harus segera ke ibu kota. Kalingga sedang memulai ritual terakhirnya di istana pusat."

Sekar mendekati Wira, ia melihat wajah Wira yang pucat. Tanpa ragu, ia menggenggam tangan Wira, mengalirkan sedikit energinya untuk membantu Wira pulih lebih cepat.

"Kau terlalu memaksakan diri, Wira. Ingat, kau tidak harus menanggung semuanya sendirian," bisik Sekar dengan lembut

Wira menatap Sekar dan tersenyum tipis. "Maafkan aku Sekar, sepertinya aku memang butuh bantuan sedikit. Tapi tenang saja, setelah ini selesai, aku janji akan mentraktir kalian makanan paling mahal di seluruh benua." jawabnya dengan sedikit candaan.

Guntur hanya bisa geleng-geleng kepala. "Dalam keadaan begini pun kau masih sempat bicara soal makanan."

Wira tertawa kecil, tawa yang sedikit memulihkan suasana tegang di antara mereka.

Ia kemudian berdiri tegak kembali, memegang Siwa yang kini kembali tampak seperti tongkat kayu biasa.

"Siwa, apa kau siap untuk mengakhirinya?"

"Tentu saja, Bocah. Tapi ingat, di istana nanti, kita tidak akan melawan manusia atau iblis biasa. Kita akan melawan sesuatu yang telah mengincar jiwa kita sejak tujuh tahun lalu," suara Siwa terdengar sangat waspada.

"Aku tahu. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan Dia menang." jawab Wira dengan tegas

Wira, Sekar, dan Guntur pun segera meninggalkan Kertawana, memacu kuda-kuda mereka menembus kegelapan malam menuju Ibu Kota Majapatih.

Di langit, awan-awan hitam mulai membentuk pusaran raksasa tepat di atas istana raja, menandakan bahwa sang dewa kegelapan yang diramalkan Dewi Shinta mulai menembus batas dimensi.

Perang yang sesungguhnya baru saja akan dimulai, dan nasib seluruh benua kini berada di tangan seorang pemuda yang pernah menjadi yatim piatu karena kesalahpahaman, namun kini berdiri sebagai penjaga terakhir dari keseimbangan semesta.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!