Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: PERTEMUAN DENGAN KEPALA KLAN
Malam berikutnya, altar leluhur Klan Namgung berdiri sunyi di bawah sinar rembulan yang pucat.
Bangunan ini adalah salah satu yang tertua di kompleks klan. Dinding batunya ditumbuhi lumut di beberapa bagian, menunjukkan usianya yang mencapai ratusan tahun. Di dalam, puluhan tablet kayu berjajar rapi di altar bertingkat—para leluhur yang telah membangun dan mempertahankan nama Namgung selama bergenerasi.
Lilin-lilin menyala di kedua sisi, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Aroma dupa menguar lembut, bercampur dengan keheningan yang sakral. Di tempat seperti ini, siapa pun akan merasa kecil.
Namgung Jin berdiri tegak di tengah altar.
Ia telah memilih lokasi ini dengan sengaja. Altar leluhur adalah tempat paling netral di klan mana pun. Di sini, bahkan kepala klan tidak bisa bertindak sembarangan tanpa dianggap tidak menghormati arwah leluhur. Ini adalah papan catur yang aman—setidaknya untuk langkah pertama.
Pakaiannya hari ini rapi. Bukan karena ia pedaya pada penampilan, tapi karena ibunya—Nyonya Yoon—telah menjahit semalaman memperbaiki satu-satunya pakaian layak yang ia miliki. Wanita itu bahkan memaksanya makan bubur lebih banyak dari biasanya, meskipun itu berarti ia sendiri hanya minum air panas.
"Kau harus kuat, Jin-ah. Ini kesempatanmu."
Namgung Jin tidak tahu apakah kesempatan adalah kata yang tepat. Tapi ia tidak membantah. Membantah hanya akan membuat wanita itu cemas, dan kecemasan ibu itu mengganggu Simma di dadanya.
Pintu altar terbuka.
Namgung Cheon melangkah masuk, diikuti dua tetua klan. Kepala Klan Namgung itu adalah pria berusia lima puluhan, dengan postur tegap dan janggut tipis yang terawat. Matanya tajam—mata seorang pemimpin yang terbiasa membuat keputusan sulit. Jubah hitamnya bersulam naga perak, simbol Klan Namgung.
Di belakangnya, Tetua Namgung Kang—pria tua dengan alis putih tebal dan rahang keras yang menunjukkan sifat keras kepala. Dan Tetua Namgung Pyo—lebih kurus, lebih pendiam, tapi matanya tidak pernah berhenti mengamati.
Ketiganya adalah penguasa sejati Klan Namgung. Nama mereka saja bisa membuat pendekar kecil gemetar.
Namgung Jin tidak gemetar.
Ia menatap ayah kandungnya—pria yang dalam ingatan Namgung Jin asli selalu sibuk, selalu jauh, selalu menjadi bayangan yang tak terjangkau. Selama enam belas tahun, pria ini mungkin hanya melihatnya lima atau enam kali. Itu pun saat upacara klan tahunan, dari kejauhan.
Pria ini tidak jahat. Hanya... tidak pernah ada.
"Jin-ah." Suara Namgung Cheon dalam, berwibawa, persis seperti yang diingat ingatan Namgung Jin. "Kau minta bertemu. Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Tentang percobaan pembunuhan kemarin." Suara Namgung Jin datar. Tidak ada getar, tidak ada ragu. "Dan tentang masa depan Klan Namgung."
Tetua Namgung Kang—pria dengan alis putih itu—mengerutkan dahi. Alisnya yang tebal hampir menyatu. "Bocah, kau berbicara di luar porsimu. Urusan klan bukan untuk anak selir sepertimu."
Ini adalah ujian. Ujian pertama.
Namgung Jin menoleh perlahan, menatap Tetua Kang dengan mata yang... aneh. Tidak ada rasa takut di mata itu. Tidak ada penghormatan berlebihan. Yang ada adalah penilaian—seperti seorang pedagang menilai barang dagangan, atau seperti seorang ahli membedah lawan.
"Tetua Kang." Suaranya tetap datar. "Tiga puluh tahun lalu, kau nyaris menjadi kepala klan. Tapi kau kalah dalam sayembara karena satu kesalahan—kau meremehkan lawan yang kau anggap lebih rendah. Sepertinya kau tidak pernah belajar dari kesalahan itu."
Udara di altar tiba-tiba membeku.
Wajah Tetua Kang memerah—dari leher hingga ke ujung telinga. "Berani-beraninya kau—!"
"Cukup!"
Namgung Cheon mengangkat tangan. Gerakannya tegas, menghentikan Tetua Kang yang sudah setengah melangkah maju. Mata kepala klan itu menyipit, menatap putra haramnya dengan pandangan baru.
"Jin-ah, bagaimana kau tahu tentang sayembara tiga puluh tahun lalu?"
"Aku banyak mendengar." Namgung Jin tersenyum tipis—senyum yang tidak hangat, tapi juga tidak dingin. Senyum netral yang tidak memberikan informasi apa pun. "Orang-orang sering bicara tanpa sadar di sekitar pelayan. Dan aku, sebagai anak selir, dianggap tidak lebih dari pelayan."
Bohong. Tapi bohong yang masuk akal.
Ia melangkah maju, satu langkah kecil. Tubuhnya masih ringkih, tapi caranya bergerak menunjukkan sesuatu yang tidak biasa—seperti kucing yang berjalan di antara pecahan kaca tanpa menyentuh satu pun.
"Tapi ayah, kita tidak di sini untuk membahas masa lalu. Kita di sini karena seseorang mencoba membunuhku. Dan jika aku mati, itu bukan sekadar kematian anak haram."
Ia berhenti, membiarkan kata-katanya meresap.
"Itu adalah penghinaan pada Klan Namgung. Karena pembunuh itu tidak peduli aku haram atau putra mahkota. Mereka datang ke wilayah kita, menyerang anggota klan kita, dan pergi begitu saja. Yang mereka lihat adalah: 'Klan Namgung lemah, kita bisa menyerang mereka sesuka hati.'"
Keheningan menyambut kata-katanya.
Tetua Namgung Pyo—yang sejak tadi diam—menatapnya dengan mata menyipit. Tapi tidak ada kemarahan di matanya. Hanya... keingintahuan.
Namgung Cheon menghela napas panjang. "Kau benar tentang itu. Tapi apa hubungannya dengan masa depan klan?"
"Sederhana." Namgung Jin menatap ayahnya tepat di mata. "Dalang di balik percobaan pembunuhan ini adalah orang dalam. Seseorang di klan ini sendiri."
Udara kembali membeku.
Kali ini, bahkan Tetua Pyo terkesiap. Tetua Kang membelalak. Namgung Cheon diam, tapi rahangnya mengeras.
"Kau punya bukti?" suara kepala klan itu rendah.
"Bukti?" Namgung Jin tertawa—tawa kecil, tanpa humor. "Ayah, ini bukan pengadilan. Ini dunia Murim. Yang kita butuhkan bukan bukti, tapi kepastian."
Ia melangkah lagi, kini berjarak tiga langkah dari ayahnya.
"Pembunuh itu dari Yuhyanggok. Dua orang—nomor Tiga Belas dan Dua Puluh Empat. Mereka tidak akan bekerja untuk siapa pun di luar klan, karena bayaran untuk membunuh anak haram seperti aku tidak sebanding dengan risiko memicu kemarahan Klan Namgung. Tidak masuk akal secara bisnis."
"Kecuali..." Tetua Pyo angkat bicara, suaranya pelan, "...jika seseorang di dalam yang membayar."
"Tepat." Namgung Jin mengangguk ke arah Tetua Pyo—anggukan kecil yang menunjukkan pengakuan. "Dan siapa yang paling diuntungkan jika aku mati? Siapa yang paling takut jika aku hidup?"
"Jangan lancang, bocah!" Tetua Kang sudah tidak bisa menahan diri. "Kau menuduh—"
"Aku tidak menuduh siapa pun." Potong Namgung Jin cepat. "Aku hanya mengajukan pertanyaan. Tapi jika Tetua Kang merasa tertuduh, mungkin ada alasannya?"
"Kau!"
"DIAM!"
Namgung Cheon berteriak. Suaranya menggema di altar, membuat lilin-lilin bergetar. Kepala klan itu menatap putranya dengan ekspresi rumit—campuran antara kemarahan, keheranan, dan sesuatu yang mirip dengan... rasa hormat?
"Jin-ah." Suaranya kini lebih rendah. "Kau bilang kau ingin bicara tentang masa depan klan. Apa maksudmu?"
Namgung Jin tersenyum. Senyum yang sama—tipis, tidak terbaca.
"Aku ingin posisi."
"Posisi?"
"Bukan sebagai pewaris. Aku tahu posisiku—anak selir, tidak diakui, tidak punya hak." Ia mengangkat tangan, menghentikan protes yang mungkin muncul. "Tapi aku ingin diakui sebagai anggota klan. Dengan hak tinggal tetap, hak menggunakan fasilitas latihan, hak mengakses perpustakaan klan. Dan yang paling penting—hak untuk melindungi ibuku."
Keheningan.
Kali ini, bahkan Tetua Kang terdiam.
Permintaan ini... terlalu rendah. Terlalu sederhana. Untuk seorang anak yang baru saja selamat dari percobaan pembunuhan, permintaan ini hampir bisa dibilang... tidak ambisius.
Tapi Tetua Pyo—yang paling tajam di antara mereka—merasakan ada sesuatu yang ganjil. Bocah ini tidak meminta banyak. Tapi apa yang ia minta adalah fondasi. Dengan hak menggunakan fasilitas klan, ia bisa berlatih. Dengan akses ke perpustakaan, ia bisa belajar. Dengan status sebagai anggota yang diakui, ia tidak bisa lagi diserang sembarangan tanpa konsekuensi.
Ini bukan permintaan seorang bocah naif.
Ini adalah langkah pertama seorang pemain catur.
"Dan sebagai imbalannya?" tanya Namgung Cheon.
"Aku akan menemukan dalang di balik percobaan pembunuhan ini."
"Kau?" Tetua Kang tertawa mengejek. "Bocah belasan tahun yang bahkan tidak pernah latihan pedang dengan benar?"
Namgung Jin menatapnya. Lama.
"Tetua Kang." Suaranya pelan, tapi entah kenaja membuat bulu kuduk merinding. "Mau bertaruh?"
"Apa?"
"Bertaruh. Jika aku gagal menemukan dalangnya dalam satu bulan, aku akan meninggalkan klan ini selamanya. Tidak akan pernah kembali." Ia tersenyum. "Tapi jika aku berhasil, Tetua Kang harus mendukung permintaanku di depan dewan klan."
Tetua Kang tertegun. Ini adalah perangkap yang ia sendiri masuki.
"Jangan gegabah, Kang." Tetua Pyo memperingatkan.
Tapi sudah terlambat. Harga diri Tetua Kang—yang terluka tiga puluh tahun lalu dan belum sembuh—berbicara lebih keras daripada akal sehatnya.
"Kukira kau pengecut! Ternyata kau bodoh juga!" Tetua Kang tertawa. "Baik! Aku terima taruhan itu! Satu bulan!"
Namgung Jin mengangguk. "Terima kasih, Tetua Kang."
Di matanya, untuk sesaat, ada kilatan—kilatan yang hanya bisa dilihat oleh pengamat paling tajam. Kilatan puas.
Perangkap telah mengatup.
---
Setelah para tetua pergi, altar leluhur kembali sunyi.
Hanya Namgung Jin dan Namgung Cheon yang tersisa.
Kepala klan itu menatap putranya dengan pandangan yang sulit diartikan. Lama ia diam, seolah baru melihat anak ini untuk pertama kalinya.
"Jin-ah."
"Ya, Ayah?"
"Kau berbeda." Bukan pertanyaan. Pernyataan. "Aku ingat terakhir kali melihatmu, kau adalah bocah pemalu yang selalu menunduk. Sekarang..."
"Sekarang?"
"Sekarang kau berbicara seperti ular."
Namgung Jin tersenyum. "Ular yang baik bisa menjadi aset, Ayah. Mereka bisa merayap ke tempat yang tidak bisa dimasuki singa."
Namgung Cheon tertawa—tawa pertama yang pernah didengar Namgung Jin dari pria ini. Tawanya pendek, nyaris getir.
"Ular. Ya. Mungkin kau benar." Ia menatap putranya. "Tapi hati-hati, Jin-ah. Di klan ini, ada banyak ular. Dan beberapa di antaranya berbisa."
"Aku tahu, Ayah."
"Kau tahu siapa dalangnya?"
Namgung Jin diam sejenak. Kemudian ia mengangguk.
"Aku tahu."
"Siapa?"
"Maaf, Ayah. Itu akan merusak taruhanku dengan Tetua Kang."
Namgung Cheon mengerutkan kening. "Kau sungguh akan main taruhan dengan tetua? Dia bisa menghancurkanmu."
"Dia bisa mencoba."
Ada keyakinan dalam suara itu—keyakinan yang aneh, yang tidak seharusnya ada pada bocah enam belas tahun.
Namgung Cheon ingin bertanya lebih banyak. Tapi ia tahu, dari pengalaman puluhan tahun memimpin, bahwa ada saatnya bertanya dan ada saatnya diam.
Ini adalah saatnya diam.
"Baiklah." Ia berbalik menuju pintu. Tapi sebelum melangkah keluar, ia berhenti. "Jin-ah."
"Ya?"
"Ibumu... Nyonya Yoon. Aku lupa wajahnya." Suaranya pelan. "Tapi kusyukuri dia telah menjagamu dengan baik."
Dan kepala klan itu pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian di altar leluhur.
---
Namgung Jin duduk bersila di lantai altar, menatap tablet para leluhur.
"Namgung Cheon..." gumamnya. "Pria yang rumit. Tidak sepenuhnya jahat, tapi terlalu sibuk untuk menjadi ayah."
Ia menghela napas. Simma di dadanya berdenyut pelan—denyutan sedih, saat mengingat kembali semua momen ketika Namgung Jin asli menunggu ayahnya datang, dan ayahnya tidak pernah datang.
"Bocah sialan. Kau membuatku ikut sedih."
Tapi tidak ada waktu untuk bersedih. Satu bulan. Itu waktu yang ia punya.
Ia menatap tangannya. Meridian-meridiannya masih tersumbat, dantian-nya masih kosong. Tapi ia sudah punya rencana.
Langkah pertama: bersihkan meridian.
Langkah kedua: mulai kultivasi ulang dari awal—tapi dengan teknik Kitab Sembilan Jurang yang sesungguhnya.
Langkah ketiga: cari tahu siapa yang mengirim pembunuh.
Padahal ia sudah tahu jawabannya. Tapi untuk membuat taruhan dengan Tetua Kang menarik, ia harus bermain sesuai aturan.
Siapa dalangnya?
Namgung So-ho, tentu saja. Kakak tirinya yang tolol itu. Tapi Namgung So-ho hanyalah pion. Di belakangnya, ada yang lebih besar—Istri Utama, Nyonya Kim, yang tidak akan pernah membiarkan anak selir mengancam posisi putranya.
Dan di belakang Nyonya Kim, mungkin ada yang lebih besar lagi. Klan Kim—keluarga asalnya—adalah salah satu kekuatan di belakang tahta Klan Namgung.
Ini bukan sekadar masalah iri hati kakak-adik. Ini adalah politik klan.
Dan politik klan adalah sesuatu yang Cheon Ma-ryong kuasai dengan sempurna.
"Baiklah." Ia berdiri, menatap tablet para leluhur. "Leluhur Namgung, kalian mungkin tidak suka caraku. Tapi aku akan melindungi klan ini. Dengan atau tanpa restu kalian."
Ia membungkuk—sekali, singkat—lalu berbalik meninggalkan altar.
Di luar, rembulan masih bersinar pucat. Angin malam berbisik di antara dedaunan. Dari kejauhan, terdengar suara latihan pedang para pengawal malam.
Namgung Jin berjalan menuju paviliun reot di sudut belakang, tempat seorang ibu menunggu dengan hati cemas.
"Besok," bisiknya dalam hati. "Besok semuanya dimulai."
---