Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang yang Penuh Penghakiman
Ruang rapat utama Hartono Group selalu terasa megah.
Meja panjang dari kayu mahoni mengilap, kursi kulit hitam yang tertata rapi, dan jendela kaca besar yang memperlihatkan lampu-lampu kota di malam hari.
Namun malam ini, ruangan itu terasa seperti ruang pengadilan.
Dan Rania adalah orang yang sedang diadili.
Ia berdiri di ujung meja panjang itu dengan sikap tenang.
Namun di hadapannya, delapan orang anggota direksi duduk dengan ekspresi yang jauh dari ramah.
Beberapa dari mereka menatap dokumen di meja.
Beberapa lainnya menatap langsung ke arah Rania.
Di sisi kanan ruangan, Arsen berdiri dengan wajah serius.
Sementara Adrian berdiri sedikit lebih jauh dari meja, seperti seseorang yang tidak benar-benar termasuk dalam pertemuan ini.
Namun ia tetap berada di sana.
Ia tidak berniat pergi.
Ketua direksi, Pak Surya, menutup map dokumen di depannya dengan suara pelan.
Pria itu berusia sekitar enam puluh tahun, namun tatapannya masih tajam seperti elang.
Ia menatap Rania dengan serius.
“Jadi benar?”
Suaranya berat.
“Ada laporan analisis lain yang tidak pernah disampaikan kepada direksi.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Rania tidak langsung menjawab.
Ia tahu momen ini akan datang.
Hanya saja… ia tidak menyangka secepat ini.
Akhirnya ia berkata dengan suara tenang.
“Benar.”
Beberapa anggota direksi langsung saling bertukar pandang.
Salah satu dari mereka, pria berkacamata bernama Pak Darmawan, menghela napas panjang.
“Rania, kau sadar betapa seriusnya ini?”
Rania mengangguk sedikit.
“Saya sadar.”
Pak Surya membuka kembali map di depannya.
“Menurut laporan ini, proyek kerja sama dengan perusahaan Adrian sebenarnya memiliki risiko kerugian besar.”
Ia mengangkat matanya dari dokumen itu.
“Namun dalam rapat direksi kemarin, kau hanya menyampaikan bahwa proyek itu ‘tidak sesuai strategi perusahaan’.”
Nada suaranya berubah lebih tajam.
“Kenapa?”
Rania tidak menjawab selama beberapa detik.
Pertanyaan itu sebenarnya sangat sederhana.
Namun jawabannya tidak sesederhana itu.
Ia berkata pelan.
“Karena jika laporan lengkap itu dipresentasikan…”
Ia berhenti sebentar.
“…banyak pihak lain akan mengetahui kondisi perusahaan Adrian secara detail.”
Pak Darmawan langsung berkata,
“Lalu?”
Rania menatapnya.
“Jika itu terjadi, pasar akan bereaksi.”
Salah satu direktur lain menyela.
“Reaksi pasar bukan tanggung jawab kita.”
Rania mengangguk.
“Benar.”
Lalu ia menambahkan dengan suara yang tetap tenang.
“Tapi dampaknya bisa merusak lebih dari satu perusahaan.”
Ruangan kembali sunyi.
Pak Surya bersandar sedikit di kursinya.
“Jadi kau sengaja menyembunyikan informasi penting dari direksi… demi melindungi perusahaan lain?”
Kalimat itu terdengar hampir seperti tuduhan.
Rania tidak menolak.
Namun sebelum ia menjawab—
Adrian tiba-tiba berbicara.
“Saya yang memintanya.”
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arahnya.
Pak Surya mengerutkan kening.
“Kami tidak sedang berbicara dengan Anda, Tuan Adrian.”
Adrian berjalan beberapa langkah mendekati meja.
Namun sikapnya tetap tenang.
“Namun keputusan ini berkaitan langsung dengan perusahaan saya.”
Pak Surya menatapnya tajam.
“Kami tahu itu.”
Adrian melanjutkan,
“Jika laporan itu dipublikasikan, perusahaan saya memang akan terkena dampak besar.”
Ia tidak mencoba menyangkal.
“Namun Rania tidak menyembunyikan laporan itu karena alasan pribadi.”
Rania langsung menoleh padanya.
Ia tidak mengharapkan ini.
Pak Darmawan berkata dengan nada dingin,
“Lalu apa alasannya?”
Adrian menjawab tanpa ragu.
“Karena keputusan bisnis tidak selalu harus menghancurkan pihak lain.”
Beberapa anggota direksi tampak tidak puas dengan jawaban itu.
Pak Surya berkata pelan,
“Dunia bisnis tidak berjalan dengan logika seperti itu.”
Adrian tersenyum tipis.
“Mungkin itu sebabnya banyak perusahaan besar jatuh dengan cara yang sama.”
Ruangan kembali sunyi.
Ketegangan mulai terasa jelas di udara.
Arsen yang sejak tadi diam akhirnya maju satu langkah.
“Jika saya boleh menambahkan sesuatu.”
Semua mata beralih padanya.
Arsen meletakkan sebuah dokumen baru di meja.
“Tim analisis kami sebenarnya menemukan sesuatu yang lain.”
Pak Surya membuka dokumen itu.
Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah.
Pak Darmawan ikut melihat dokumen tersebut.
“Ini…”
Arsen berkata dengan tenang,
“Jika proyek itu tetap dijalankan, kemungkinan kerugian bukan hanya pada perusahaan Adrian.”
Ia menunjuk angka di dokumen itu.
“Hartono Group juga bisa kehilangan hampir empat puluh persen dari investasi awal.”
Beberapa anggota direksi langsung terdiam.
Pak Surya membaca dokumen itu lebih teliti.
“Kenapa laporan ini tidak muncul sebelumnya?”
Arsen menjawab,
“Karena analisis tambahan ini baru selesai malam ini.”
Pak Surya mengangkat matanya ke arah Rania.
“Apakah kau sudah mengetahui hal ini sebelumnya?”
Rania menggeleng.
“Belum.”
Namun sebenarnya ia sudah mencurigainya.
Ia hanya belum memiliki data yang cukup saat rapat kemarin.
Pak Darmawan menghela napas panjang.
“Jika ini benar…”
Ia menatap dokumen itu lagi.
“…maka keputusan Rania menolak proyek itu memang tepat.”
Namun Pak Surya belum terlihat puas.
Ia berkata pelan,
“Keputusan mungkin tepat.”
Ia menatap Rania.
“Tapi caranya tetap salah.”
Ruangan kembali menjadi tegang.
Rania mengangguk sedikit.
“Saya menerima itu.”
Pak Surya menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata,
“Kau tahu konsekuensi dari tindakanmu?”
Rania tidak terlihat ragu.
“Saya tahu.”
Pak Surya menutup dokumen di tangannya.
“Kami akan mengadakan rapat direksi resmi besok pagi untuk memutuskan apakah kau masih pantas memimpin proyek-proyek strategis perusahaan.”
Kalimat itu terdengar seperti hukuman yang sudah hampir diputuskan.
Beberapa anggota direksi terlihat tidak nyaman.
Namun tidak ada yang berbicara.
Pak Surya berdiri dari kursinya.
“Rapat malam ini selesai.”
Satu per satu anggota direksi mulai berdiri.
Beberapa dari mereka menatap Rania dengan ekspresi simpati.
Namun tidak ada yang benar-benar membelanya.
Dalam dunia bisnis, simpati jarang mengalahkan kepentingan.
Ruangan perlahan kosong.
Hanya tersisa tiga orang.
Rania.
Adrian.
Dan Arsen.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Arsen berkata pelan,
“Besok akan sulit.”
Rania tersenyum tipis.
“Aku sudah menduganya.”
Adrian menatapnya.
“Kenapa kau tidak melawan saja tadi?”
Rania menatapnya kembali.
“Melawan apa?”
“Keputusan mereka.”
Rania menggeleng pelan.
“Kadang dalam dunia bisnis… kamu harus menerima kesalahanmu meskipun niatmu benar.”
Adrian terdiam.
Ia belum pernah melihat Rania setenang ini menghadapi situasi seperti ini.
Akhirnya ia berkata,
“Aku bisa membantu.”
Rania langsung menggeleng.
“Tidak perlu.”
Adrian mengerutkan kening.
“Ini juga tanggung jawabku.”
Rania menatapnya dengan ekspresi lembut tapi tegas.
“Adrian.”
Ia berhenti sebentar.
“Tidak semua hal harus kau perbaiki.”
Kalimat itu terasa seperti pengakuan yang sangat jujur.
Adrian tidak tahu harus menjawab apa.
Arsen akhirnya berkata,
“Aku akan mencoba berbicara dengan beberapa anggota direksi malam ini.”
Rania tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Arsen mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Sekarang hanya tersisa Rania dan Adrian.
Hujan di luar sudah mulai reda.
Lampu kota terlihat lebih jelas melalui jendela kaca.
Adrian berkata pelan,
“Aku tidak tahu kau akan sejauh ini.”
Rania menatap ke luar jendela.
“Aku juga tidak tahu.”
Adrian berjalan mendekat sedikit.
“Jika besok mereka benar-benar menjatuhkanmu…”
Rania menoleh.
“…kau bisa bekerja denganku.”
Rania langsung tertawa kecil.
“Tawaran yang menarik.”
Adrian tidak tersenyum.
“Aku serius.”
Rania menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Aku tidak melakukan semua ini agar hidupku berakhir bekerja di perusahaan mantan suamiku.”
Adrian sedikit tersenyum sekarang.
“Setidaknya kau masih bisa bercanda.”
Rania mengangkat bahu.
“Kalau tidak, aku mungkin sudah panik.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri diam.
Akhirnya Adrian berkata,
“Rania.”
Wanita itu menatapnya.
“Aku tidak tahu bagaimana memperbaiki masa lalu.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi aku ingin mencoba.”
Rania menatapnya lama.
Lalu berkata dengan suara yang sangat tenang.
“Masa lalu tidak selalu perlu diperbaiki.”
Adrian mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Rania tersenyum tipis.
“Kadang… masa lalu hanya perlu diterima.”
Ia mengambil tasnya dari kursi.
Lalu berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
“Besok akan jadi hari yang panjang.”
Adrian menatapnya.
“Untukmu juga.”
Rania membuka pintu.
Namun sebelum keluar, ia berkata satu kalimat lagi.
“Dan Adrian…”
Pria itu menunggu.
“Jangan datang ke rapat direksi besok.”
Adrian mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Rania menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Karena jika kau datang…”
Ia berhenti sebentar.
“…aku mungkin akan kehilangan lebih banyak hal daripada hanya pekerjaanku.”
Setelah mengatakan itu, Rania keluar dari ruangan.
Meninggalkan Adrian berdiri sendirian.
Dengan satu pertanyaan yang terus berputar di pikirannya.
Apa sebenarnya yang Rania sembunyikan?
Dan kenapa wanita itu masih berusaha melindunginya… bahkan sekarang?