NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Pelayan Berjas Armani dan Rahasia Nampan Perak

Hari yang dinantikan tiba dengan hembusan angin laut yang cukup kencang di Pelabuhan Marina. Sebuah kapal pesiar mewah bernama The Golden Horizon bersandar dengan angkuh, lampunya berkelap-kelip memantul di permukaan air yang gelap. Para tamu undangan mulai berdatangan dengan gaun-gaun menjuntai dan jas tuksedo yang kaku, semua wajah tersembunyi di balik topeng-topeng artistik yang menambah kesan misterius sekaligus mencekam.

Nika berdiri di dalam kabin persiapan dengan gaun berwarna biru malam yang bertabur payet mikro—gaun yang telah ia desain khusus untuk memantulkan bukti-bukti digital saat terkena cahaya. Ia tampak seperti dewi malam, anggun namun mematikan. Namun, ketenangannya pecah saat ia mendengar suara geraman frustrasi dari balik tirai pembatas.

"Nika... kenapa topengku bentuknya seperti kepala kelinci dengan kumis panjang?" suara Devan terdengar sangat rendah dan berbahaya.

Nika menoleh dan membelalak. "Hah? Kelinci? Seharusnya itu topeng Venetian klasik dengan ukiran perak mikroskopis, Mas!"

Devan keluar dari balik tirai. Di wajahnya yang tampan dan rahangnya yang tegas, kini bertengger sebuah topeng plastik murah berbentuk kelinci putih yang terlihat sangat konyol, lengkap dengan telinga yang bisa bergerak jika dipencet.

"Ini tertukar! Kotak kiriman dari butik tadi pasti tertukar dengan paket mainan Arga atau pesanan Lulu!" seru Nika panik sambil memeriksa kotak kosong di atas meja. "Mas, jangan bilang topeng rahasia kita sekarang ada di tangan Arga?"

"Atau lebih buruk lagi, sekarang sedang dipakai oleh salah satu pelayan di kapal ini karena mereka mengira itu barang inventaris yang tertinggal," Devan memijat keningnya. "Kita tidak punya waktu lagi, Ni. Kapal sudah mulai bergerak."

Tepat saat itu, seorang pelayan pria masuk ke kabin mereka untuk mengantarkan sampanye. Pelayan itu mengenakan seragam rompi hitam dan kemeja putih standar... dan di wajahnya, bertengger topeng perak eksklusif milik Devan yang berisi semua data kejahatan paman Nika.

"Itu dia!" bisik Nika sambil menunjuk pelayan tersebut.

Rencana darurat pun dijalankan. Dalam waktu kurang dari lima menit, dengan kemampuan "persuasi" (dan sedikit ancaman halus tentang pemecatan) yang dimiliki Devan sebagai pemilik saham di beberapa anak perusahaan pengelola kapal, Devan berhasil "bertukar posisi" dengan pelayan tersebut.

Kini, pemandangan paling luar biasa terjadi: Devan Adiguna, CEO paling berpengaruh di Jakarta, berdiri tegak mengenakan rompi pelayan yang sedikit kekecilan di bahu lebarnya, membawa nampan perak berisi gelas-gelas kristal, dan mengenakan topeng rahasia yang ia cari.

"Mas, kamu terlihat... sangat seksi sebagai pelayan," goda Nika sambil merapikan dasi kupu-kupu Devan yang miring. "Tapi tolong, jangan menatap para tamu seolah kamu ingin mengakuisisi perusahaan mereka. Ingat, kamu sedang menyamar."

"Aku akan mengawasimu dari balik nampan ini, Ni. Jangan jauh-jauh dariku. Pamanmu sudah ada di ballroom utama," bisik Devan sambil menyesuaikan posisi topeng peraknya.

Nika melangkah masuk ke ballroom dengan kepala tegak, sementara Devan mengikutinya dari belakang dengan jarak beberapa meter, berakting menjadi pelayan pribadi yang setia.

Begitu Nika masuk, ia langsung dikerubungi oleh dua pamannya, Paman Hendra dan Paman Agus, yang mengenakan topeng singa dan serigala. Mereka tersenyum lebar, namun senyum itu tidak sampai ke mata.

"Nika, keponakanku yang malang. Berani sekali kamu datang ke sini setelah mengirim Ayahmu ke penjara," ucap Paman Hendra dengan nada sinis. "Di mana suamimu? Apa dia terlalu takut untuk menunjukkan wajahnya setelah saham Adiguna hampir hancur?"

Nika tersenyum manis, sebuah senyum yang telah ia latih di depan cermin bersama martabaknya. "Mas Devan sedang... sibuk melayani kepentingan yang lebih besar, Paman. Lagipula, aku cukup kuat untuk menghadapi kalian sendirian."

Operasi "Dansa dan Kilat" dimulai. Nika memberikan isyarat pada Devan yang sedang berdiri di dekat pilar. Devan berjalan mendekat dengan nampan peraknya, menawarkan minuman kepada para paman tersebut.

"Minumannya, Tuan?" suara Devan dibuat sedikit serak agar tidak dikenali.

Saat kedua pamannya meraih gelas, Nika sengaja menyenggol nampan Devan sedikit. Ting! Gelas-gelas itu berdenting nyaring, menarik perhatian fotografer pesta yang sedang berkeliling.

"Oh! Maafkan pelayan saya yang ceroboh ini!" seru Nika dengan nada dramatis.

Cring! Cring! BLITZ!

Fotografer itu secara otomatis mengambil beberapa foto momen "insiden" tersebut. Cahaya lampu kilat menyambar permukaan topeng perak yang dipakai Devan dan gaun yang dipakai Nika. Seketika, pantulan cahaya itu membentuk pola-pola digital yang hanya bisa dibaca oleh sensor kamera khusus yang sudah diatur Devan di server pusat.

"Apa itu tadi? Kenapa mataku sakit melihat topeng pelayan itu?" keluh Paman Agus sambil mengucek matanya.

"Hanya pantulan berlian di gaunku, Paman. Mungkin Paman sudah terlalu tua untuk melihat sesuatu yang sangat berkilau," balas Nika dengan nada merendahkan yang elegan.

Namun, situasi menjadi rumit ketika seorang sosialita kelas atas yang juga menjadi pemegang saham minoritas, Nyonya Linda, tiba-tiba memanggil Devan.

"Heh, Pelayan! Sini! Tuangkan anggur ke gelasku!" perintah Nyonya Linda.

Devan membeku. Ia tidak pernah menuangkan minuman untuk orang lain seumur hidupnya (kecuali untuk Nika, dan itu pun sering tumpah). Dengan kaku, Devan mendekat dan mulai menuang. Tangannya yang biasanya stabil saat menandatangani kontrak triliunan rupiah, kini sedikit gemetar karena menahan amarah.

"Pelayan, kenapa tanganmu gemetar? Dan jam tanganmu... apakah itu Patek Philippe asli? Bagaimana mungkin seorang pelayan memakai jam tangan seharga rumah mewah?" Nyonya Linda memicingkan mata, curiga.

Nika melihat bencana di depan mata. Ia segera berlari mendekat dan pura-pura tersandung ke pelukan Devan. "Aduh! Kakiku sakit sekali! Pelayan, bawa aku ke balkon sekarang juga!"

Tanpa menunggu jawaban, Devan langsung menangkap pinggang Nika dan menggendongnya keluar menuju balkon kapal, meninggalkan Nyonya Linda yang melongo kebingungan.

Di balkon yang sunyi dengan hembusan angin laut yang menerpa wajah, Devan menurunkan Nika dan langsung melepas topeng peraknya dengan napas memburu.

"Aku benci menjadi pelayan, Ni. Wanita tadi hampir saja membuatku meledak," gerutu Devan sambil melonggarkan rompinya yang sesak.

Nika tertawa terbahak-bahak sampai air mata menetes di pipinya. "Tapi Mas, kamu sangat profesional! Jam tanganmu itu memang sedikit berlebihan untuk profesi ini, tapi aksimu menyelamatkanku tadi benar-benar seperti di film-film romantis."

"Bagaimana dengan datanya? Berhasil?" tanya Devan kembali ke mode serius.

Nika memeriksa ponsel kecil yang tersembunyi di balik kipas tangannya. "Berhasil! Semua foto tadi sudah terunggah. Dan tebak apa? Paman Hendra tertangkap kamera sedang memegang dokumen palsu yang ia bawa di saku jasnya. Pantulan dari topengmu menyorot tepat ke sana."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu balkon yang gelap. Paman Hendra muncul dengan wajah yang kini tidak lagi tersenyum. Di tangannya, ia memegang sebuah pistol kecil.

"Permainan yang bagus, Nika. Devan. Aku tidak menyangka sang CEO bersedia menjadi pelayan demi menjatuhkanku," ucap Paman Hendra dengan suara dingin. "Tapi kalian lupa satu hal. Di tengah laut ini, akulah kaptennya. Dan foto-foto itu tidak akan pernah sampai ke daratan karena aku sudah memasang jammer sinyal di seluruh kapal ini."

Nika tertegun, lalu ia melirik ke arah Devan. Devan justru tersenyum miring—sebuah senyum yang biasanya berarti lawan bicaranya sedang berada dalam masalah besar.

"Paman Hendra," ucap Devan sambil melangkah maju, menghalangi tubuh Nika. "Anda pikir aku hanya mengandalkan Wi-Fi kapal? Aku menggunakan satelit pribadi Adiguna Group yang terhubung langsung ke topeng ini melalui sensor panas tubuh. Sinyal Anda tidak berguna."

Paman Hendra memucat. Saat ia hendak menarik pelatuknya, Nika melakukan hal yang paling tak terduga. Ia melempar sepatu hak tingginya yang tajam ke arah tangan pamannya dengan akurasi yang luar biasa.

Buk!

Pistol itu terjatuh, dan di saat yang sama, Devan meluncurkan pukulan telak yang membuat pamannya tersungkur.

"Mas! Sepatuku!" seru Nika sedih melihat sepatu mahalnya jatuh ke laut.

"Akan kubelikan satu toko sepatu besok pagi, Ni," jawab Devan sambil menarik Nika ke dalam dekapan hangatnya. "Tapi untuk sekarang, mari kita selesaikan pesta ini sebagai tamu, bukan sebagai pelayan."

Devan melepas rompi pelayannya, menyisakan kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian dada, memberinya kesan bad boy yang sangat menawan. Ia mengambil tangan Nika dan mengecupnya.

"Nyonya Adiguna, apakah Anda bersedia berdansa denganku? Kali ini tanpa martabak, dan tanpa paman-paman jahat yang mengganggu."

Nika tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Devan saat musik dari dalam ballroom mulai terdengar lagi. "Tentu, Mas Bos. Tapi janji ya, setelah ini kita makan martabak beneran di pinggir jalan. Aku lapar sekali gara-gara jadi mata-mata."

Malam itu, di bawah taburan bintang di tengah samudera, mereka berdansa dengan langkah yang paling ringan yang pernah mereka rasakan. Topeng-topeng telah jatuh, rahasia telah terbongkar, dan di antara ombak yang berderu, mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, namun selama mereka bersama, setiap rintangan hanyalah bumbu dalam cerita cinta mereka yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!