Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas yang Sepi
Jika rumah keluarga Adiwangsa di Menteng adalah etalase kemewahan yang berisik dan penuh drama, maka kediaman keluarga Pratama di kawasan Kebayoran Baru adalah benteng ketenangan yang dingin.
Rumah bergaya kolonial Belanda itu berdiri kokoh di tengah halaman luas yang dipenuhi pohon beringin tua. Tidak ada suara teriakan, tidak ada suara piring pecah. Hanya ada suara denting jam grandfather clock kuno dan gesekan halus pisau perak di atas piring porselen Royal Copenhagen.
Di ruang makan yang didominasi kayu mahoni gelap, tiga orang duduk mengelilingi meja panjang. Jarak antar kursi begitu jauh, seolah menyimbolkan jarak emosional di antara mereka.
Di ujung meja, duduk Pak Rahmat Pratama, ayah Adi sekaligus Komisaris Utama NVT Group. Pria tua itu makan dengan gerakan lambat namun presisi, tatapannya tajam meski keriput sudah menghiasi wajahnya. Di sebelahnya, Ibu Sri, wanita ningrat asal Solo yang anggun dengan sanggul dan selendang sutra, tapi senyumnya jarang sekali terlihat.
Dan di sisi lain, duduklah Adi. Sendirian.
Dia mengaduk-aduk sup krim jamurnya dengan lesu. Pikirannya melayang ke tumpukan dokumen merger perusahaan yang menunggunya di ruang kerja, dan... anehnya, ke wajah gadis berkacamata lakban yang dia temui di gudang tadi siang.
"Adi," suara berat ayahnya memecah keheningan, membuat Adi tersentak pelan.
"Ya, Pa?" Adi meletakkan sendoknya, menegakkan punggung. Etika makan di rumah ini sangat ketat; dilarang membungkuk.
"Papa dengar tadi ada insiden di gudang arsip? Katanya kamu marah besar sama Burhan?" tanya Pak Rahmat tanpa menatap anaknya, sibuk memotong steak wagyu-nya.
"Hanya masalah ketidakdisiplinan, Pa," jawab Adi tenang. "Sistem pengarsipan kita kuno. Burhan tidak becus mengurusnya. Dokumen kontrak 98 hampir hilang kalau tidak..."
Adi berhenti sejenak. Bayangan Sifa yang meniup debu dari map biru itu muncul lagi.
"...kalau tidak dibantu oleh seorang staf magang yang inisiatifnya bagus," lanjut Adi.
Pak Rahmat mendengus pelan. "Staf magang? Hati-hati, Adi. Jangan terlalu dekat dengan bawahan level rendah. Mereka biasanya cuma cari muka. Kamu itu CEO. Jaga wibawa."
"Dia berbeda, Pa," bantah Adi refleks, lalu buru-buru meralat nadanya agar tidak terdengar defensif. "Maksud saya, kinerjanya bagus. Itu saja."
Ibu Sri meletakkan serbetnya dengan anggun. "Sudahlah, Pa. Jangan ngomongin kantor terus. Mama pusing dengarnya. Adi, kamu sudah coba setelan jas buat pesta Golden Anniversary minggu depan? Desainer Biyan sudah kirim ke kamar kamu."
"Sudah, Ma. Pas kok," jawab Adi singkat. Baginya, pesta ulang tahun perusahaan hanyalah formalitas melelahkan. Harus senyum palsu, salaman dengan ratusan orang yang tidak dia kenal, dan mendengar pidato membosankan.
"Bagus," kata Ibu Sri. "Oh iya, Mama juga sudah mengundang putri dari Pak Hartono, pemilik Bank Swasta itu. Namanya Clara. Dia lulusan London, cantik, pintar main piano. Nanti di pesta, kamu harus berdansa sama dia ya."
Adi menghela napas panjang, meletakkan sendoknya. Nafsu makannya hilang total. "Ma... tolonglah. Berhenti jodoh-jodohin Adi. Adi bisa cari pasangan sendiri."
"Cari sendiri?" Ibu Sri menatap anaknya dengan alis terangkat. "Kapan? Kamu sibuk kerja terus. Umur kamu sudah 30, Adi. Teman-teman Mama sudah punya cucu semua. Mama malu kalau ditanya orang, anak tunggal Mama kok masih bujang."
"Ma, ini bukan soal malu atau nggak," Adi mencoba sabar. "Adi mau cari istri yang klik di hati. Bukan karena dia anak pemilik bank atau anak pejabat."
"Cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa, Adi," potong Pak Rahmat tegas. "Dalam bisnis dan keluarga kita, bibit bebet bobot itu nomor satu. Kamu pewaris tunggal. Kamu butuh istri yang bisa menopang posisi kamu, yang mengerti dunia kita. Bukan perempuan sembarangan yang cuma mau hartamu."
"Dunia kita..." Adi tersenyum miris. "Dunia yang isinya cuma angka, saham, dan citra publik? Dunia yang hampa?"
Pak Rahmat membanting pisau makannya pelan. Kling.
"Jaga bicaramu! Dunia ini yang membesarkan kamu! Yang bikin kamu bisa sekolah di Harvard! Jangan jadi anak durhaka yang tidak tau terima kasih!"
Suasana menjadi tegang. Pelayan yang berdiri di sudut ruangan menunduk ketakutan.
Adi memejamkan mata sejenak, meredam emosinya. Dia lelah. Sangat lelah. Di kantor dia harus menghadapi tekanan investor, di rumah dia harus menghadapi tekanan orang tua. Tidak ada tempat baginya untuk bernapas lega. Tidak ada tempat di mana dia bisa menjadi Adi biasa, bukan Adi Sang CEO.
"Maaf, Pa, Ma. Adi kenyang," Adi berdiri, menarik kursinya. "Adi mau lanjut kerja di kamar."
"Adi! Papa belum selesai bicara!" seru ayahnya.
Tapi Adi tidak peduli. Dia berjalan cepat meninggalkan ruang makan yang dingin itu, menaiki tangga melingkar menuju lantai dua kamarnya yang luas namun sepi.
Masuk ke kamarnya, Adi langsung melonggarkan dasinya dan melempar jasnya ke sofa. Dia berjalan ke balkon, membuka pintu kaca lebar-lebar. Angin malam Jakarta yang sedikit berpolusi menerpa wajahnya, tapi setidaknya terasa lebih bebas daripada udara di dalam rumah.
Dia menatap langit yang mendung. Pikirannya kalut.
Clara, Bella, Jessica... sederet nama wanita sosialita yang pernah disodorkan ibunya berputar di kepala. Mereka semua sama. Cantik, wangi, berpendidikan tinggi, tapi... kosong. Obrolan mereka hanya seputar tas branded, liburan ke Paris, atau gosip teman arisan. Tidak ada yang tulus. Tidak ada yang punya "nyawa".
Tiba-tiba, dia teringat kejadian siang tadi.
Gadis itu. Sifa.
Dia tidak cantik menurut standar majalah Vogue. Kacamatanya retak, bajunya kusam, rambutnya sedikit berantakan. Tapi matanya... mata itu hidup. Ada kecerdasan, ketulusan, dan keberanian di balik lensa kacamata tebal itu.
Adi ingat bagaimana Sifa gemetar saat berhadapan dengannya, tapi tetap berani bicara. Dia ingat tangan kasar gadis itu yang penuh debu saat menyerahkan map. Tangan pekerja keras. Tangan yang berjuang.
"Sifa Adistia..." gumam Adi pada angin malam.
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan HP. Dia membuka galeri foto. Di sana ada foto dokumen kontrak 98 yang tadi dia foto untuk dikirim ke tim legal. Di pojok foto itu, tanpa sengaja, tertangkap sedikit bagian tangan Sifa dan jam tangan hitam matte yang dipakainya.
Adi men-zoom foto jam tangan itu.
"Aneh," gumamnya. "Jam tangan model apa ini? Kelihatan murah tapi... layarnya kok kayak nyala biru?"
Dia menggelengkan kepala, merasa konyol sendiri. Masa dia terobsesi sama jam tangan anak magang?
Adi menutup pintu balkon, lalu duduk di tepi ranjang king size-nya. Dia membuka laci nakas, mengambil sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya ada cincin berlian peninggalan neneknya. Cincin sederhana dengan mata satu, bukan cincin glamour yang norak.
Neneknya pernah berpesan, "Adi, kasih cincin ini buat perempuan yang bisa bikin kamu ketawa pas kamu lagi capek. Perempuan yang bisa bikin rumah ini terasa anget, bukan kayak museum."
Sampai sekarang, cincin itu masih tersimpan rapi. Belum ada jari yang pantas melingkarinya. Clara? Tidak mungkin. Dia pasti akan menghina cincin kuno ini dan minta yang baru dari Cartier.
Adi menghela napas panjang. Dia menutup kotak cincin itu lagi.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari Bu Ratna, sekretarisnya.
Selamat malam, Pak Adi. Mengingatkan kembali jadwal besok: Meeting dengan Direktur Pemasaran jam 9 pagi. Lalu ada sesi fitting baju terakhir untuk pesta Sabtu besok.
Adi membalas singkat: Oke.
Lalu jarinya ragu-ragu mengetik pesan lain.
Ratna, tolong cek data karyawan magang bernama Sifa Adistia. Saya mau lihat CV-nya. Penasaran saja background pendidikannya.
Send.
Adi meletakkan HP-nya di meja, merasa sedikit bersalah. Apakah ini penyalahgunaan kekuasaan? Ah, biarlah. Dia cuma CEO yang penasaran dengan karyawannya yang berpotensi, kan? Itu wajar.
Adi merebahkan tubuhnya di kasur yang terlalu empuk dan terlalu besar untuk satu orang. Dia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan awan.
"Semoga Sabtu besok nggak ngebosenin," bisiknya sebelum memejamkan mata.
Dia tidak tahu, Sabtu besok akan menjadi hari paling kacau, paling gila, sekaligus paling bersejarah dalam hidupnya. Dan gadis berkacamata lakban yang dia pikirkan itu, akan datang membawa badai yang akan meruntuhkan tembok dingin di hatinya.
Di kamar yang berbeda, di bawah langit Jakarta yang sama, Adi dan Sifa sama-sama menatap kegelapan, menyimpan harapan masing-masing.
Dua dunia yang sangat jauh—Istana Menteng dan Gubuk Gang Senggol—sedang bergerak perlahan untuk bertabrakan. Dan ketika tabrakan itu terjadi, ledakannya akan mengubah segalanya.
semangat kakak