Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Bertemu Bibi Ana
Kendaraan yang membawa Meila, Abyan dan Mariska tiba di sebuah bangunan sederhana khas pedesaan. Dari jauh Meila sudah bisa mengenali sosok wanita paruh baya yang dia rindukan selama ini. Tidak ada yang berubah dengan wanita paruh baya itu, meskipun usianya sudah bertambah.
Tepat Dave menghentikan kendaraan yang dia kemudikan, pintu penumpang bagian belakang langsung terbuka. Abyan hanya bisa memperhatikan istrinya yang langsung berlari setelah keluar dari mobil, tanpa mempedulikan orang-orang yang memperhatikan dirinya. Bahkan Narendra yang ikut menyambut kedatangan mereka tampak tak terlihat oleh mata heterochromia milik istrinya.
"BIBI!"
Teriakan Meila membuat hening seketika. Bahkan suara pohon yang bergesekan karena angin pun tak terdengar, seolah mengerti perasaan emosional yang kini Meila rasakan.
"Lala sayang," tangis bibi Ana pecah seketika. Dia yang sejak tadi menunggu dengan gelisah kini larut dalam tangisan sambil memeluk erat putri nyonyanya yang dia besarkan dengan kedua tangannya.
"Lala?" Gumam Abyan, mendengar bibi Ana memanggil nama kecil putri majikannya. Bibir Abyan terangkat. Dia suka nama itu untuk memanggil Meila.
Meila menangis haru dalam dekapan bibi Ana, wanita paruh baya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. Dari bibi Ana, Meila mendapatkan banyak pelajaran. Mulai dari dia belajar bicara, belajar berjalan lalu berlari. Bibi Ana mengajarkan banyak hal padanya, hingga mengasah kemampuan yang dimiliki oleh keturunan murni keluarga Danunevra. Membuat Meila kuat dan mampu bertahan dengan kakinya sendiri, ditengah badai keserakahan orang-orang atas apa yang dia dan keluarga Danunevra miliki.
Selama ini keluarga Meila, terutama Hana dan Melisa, mengetahui Meila bertahan hidup karena Zayan. Mengira Zayan yang memenuhi kebutuhan hidup Meila, setelah Hana tidak lagi memberikan uang bulanan pada Meila, yang sudah dijatahkan oleh Beni.
Beni sendiri baru mengetahui hal tersebut setelah Meila pergi dari keluarga Aksara. Lebih tepatnya, Narendra yang memberitahukan masalah itu pada Beni. Uang bulanan Meila justru Hana gunakan untuk kehidupan sosialitanya. Hal tersebut menyulut rasa kecewa Beni semakin besar pada Hana. Meskipun ada andil dia dalam hal tersebut, terlalu mempercayakan semuanya pada Hana, yang nyatanya orang yang sudah menghancurkan keluarganya.
"Lala sangat merindukan Bibi," ucap Meila di tengah isakan tangisnya setelah menceritakan semua yang dia alami setelah kepergian bibi Ana. Tangisan bahagia, bebanya terangkat setelah dia bisa mengadukan semuanya pada bibi Ana, seperti dulu ketika dia masih kecil.
Abyan sedetik pun tidak melepaskan pandangannya dari sang istri, selama Meila bercerita pada bibi Ana. Meila seperti anak kecil yang mengadukan banyak hal pada orang tuanya. Istrinya itu memang manja pada dasarnya, Abyan sudah melihatnya sendiri waktu mereka jalan-jalan di Tokyo.
Abyan mengepalkan tangannya sambil mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Meila yang mengadu pada bibi Ana. Akan dia pastikan membalas setiap luka Meila, atas semua perbuatan Hana dan kedua orang tuanya serta Melisa.
Abyan memalingkan wajah melihat kedua wanita beda usia itu menangis bersama. Sedangkan Mariska yang berdiri di samping Abyan, sudah ikut menangis sejak awal Meila bertemu bibi Ana. Dia sudah mendengar bagaimana perlakuan keluarga Aksara pada Meila. Mendengar langsung dari mulut kakak iparnya itu yang mengadu pada bibi Ana, Mariska seolah bisa merasakan sakitnya.
Sama seperti Abyan, Mariska akan membalaskan setia rasa sakit yang kakak iparnya dapatkan. Meskipun masih hitungan hari dia mengenal kakak iparnya itu, Mariska langsung jatuh hati dan sayang pada sosok Meila yang memiliki hati yang tulus. Pantas saja, Abang sepupunya itu bisa langsung jatuh cinta pada Meila. Kakak iparnya itu, satu-satunya perempuan yang membuat Abyan bisa berekspresi. Mampu mengobati luka yang juga pria itu miliki.
"Bibi juga merindukan Non Lala. Bibi minta maaf tidak bisa menempati janji Bibi waktu itu untuk menjemput Non Lala ikut bersama bibi."
Ada rasa penyesalan yang sangat dalam atas keputusannya meninggalkan Meila saat itu. Dia memang bisa melindungi Meila dengan mengirimkan pengawal, serta pelayan pengganti dirinya untuk menjaga Meila dan sebagai mata-matanya di keluarga Aksara. Namun semua itu tidak cukup. Meila butuh kasih sayang seseorang setiap kali dia rapuh.
Keadaan memaksa bibi Ana pergi demi Meila dan Arbie bisa merebut kembali apa yang menjadi milik mereka. Kehadiran Narendra diluar prediksi para pengawal setia. Mereka mengira Narendra sudah tiada menjadi korban kekacauan di kediaman Danunevra.
"Maafkan Bibi Lala," ucap bibi Ana lagi.
"Bibi tidak salah. Lala cerita bukan untuk menyalakan kepergian Bibi waktu itu. Lala hanya ingin Bibi tahu semuanya, seperti permintaan Bibi pada Lala dulu."
Meila mengurai pelukannya, dia memandang wajah bini Ana dengan penuh kerinduan. Bibi Ana mengusap wajah Meila. Putri nyonyanya sangat cantik. Wajahnya sangat mirip ibunya, nyonya Laura. Tangan bibi Ana bergetar, mengusap wajah Meila.
"Kamu semakin cantik, Sayang. Sangat mirip ibumu," gumam bini Ana.
Meila menjauhkan wajahnya. "Apa maksud Bibi?" Tanya Meila dengan bibir bergetar.
Selama ini Meila sadar, dia berbeda dengan kedua kakaknya. Terutama pada matanya. Namun Meila selalu menyakinkan bahwa dia benar-benar keluarga Aksara. Apalagi banyak orang mengatakan, dari ketiga keturunan Aksara yang mirip dengan Beni adalah Meila. Sedangkan Mirza sangat mirip dengan Hana, Dan Melisa tidak mirip dengan keduanya. Karena memang, mereka bertiga tidak bersaudara, tidak ada hubungan darah.
"Hemmm!"
Setelah membiarkan Meila mengeluarkan semua keluh kesahnya pada bibi Ana, akhirnya Narendra mencoba menarik atensi keponakannya itu.
Meila menoleh. "Om Narendra!"
Meila terkejut melihat keberadaan menantu keluarga Alamanda tersebut. "Sejak kapan Om ada di sini?" tanyanya sambil mendekat pada Narendra.
"Sejak kemarin," jawab Narendra setelah Meila mencium punggung tangannya.
"Om kenal bibi Ana? Oh... Aku tahu, Om yang menemukan tempat tinggal bibi Ana."
Abyan menggelengkan kepala mendengar istrinya itu menjawab pertanyaannya sendiri mengenai keberadaan Narendra di desa Mulya.
"Sayang, apa kamu tidak ingin mengenalkan Aku dengan bibi Ana?" Tanya Abyan setelah mendekat pada istrinya.
"Maaf Mas, Aku terlalu senang bertemu bibi, jadi lupa."
"Dimaafkan," balas Abyan.
Meila terkekeh, lalu dia mengenalkan Abyan pada bibi Ana. Sedikit menceritakan bagaimana mereka menikah, yang sebenarnya sudah diketahui bibi Ana. Tidak lupa, Meila juga mengenalkan Mariska.
Bibi Ana mengajak Meila dan yang lainnya masuk. Seorang wanita paruh baya yang usianya sama dengan bibi Ana menyuguhkan makanan ringan dan teh hangat.
"Ini saudara bibi yang sering Bibi ceritakan ke Non Lala. Dia yang merawat dan membesarkan anak laki-laki yang usianya sama dengan Non Lala."
"Yang tahun dan tanggalnya lahirnya sama dengan Lala ya," sambung Meila penjelasan bibi Ana.
"Benar Non. Namanya tuan Arbie." Saudara bibi Ana yang bernama Lusi itu yang menjawab.
"Dia dimana?"
"Sedang mengantar tante Anita dan Serli melihat desa." Narendra yang menjawab pertanyaan Meila.
"Tante dan Serli juga ikut?" Tanya Meila lagi. Narendra mengangguk.
"Meila, kedatangan Om ke desa ini, karena ada yang ingin Om, bibi Ana, dan bibi Lusi sampaikan pada kamu."
Meila menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar pada Abyan. Dia menoleh pada suaminya itu untuk meminta penjelasan dari pernyataan Narendra barusan.
"Ada hal penting yang harus kamu ketahui Sayang," ucap Abyan menjawab pertanyaan Meila yang tanpa kata-kata itu.
"Mei, lihat Om!"
Mengikuti permintaan Narendra, Meila kembali melihat pria paruh baya itu. Betapa terkejutnya Meila saat melihat sepasang mata Narendra yang sama dengannya. Narendra melepaskan lensa kontaknya saat Meila menoleh pada Abyan.
"Mata kita ...." Meila tidak melanjutkan ucapannya. Dia meminta penjelasan dari bibi Ana. Karena wanita paruh baya itu pernah memberitahunya, ada keluarga Meila yang memiliki mata yang sama dengan Meila.
Meila mengira matanya mirip kakek atau neneknya dari orang tua Beni. Apalagi, Beni tidak pernah mempermasalahkan mata Meila yang berbeda. Hanya saja, dia selalu menekankan pada Meila untuk selalu menggunakan lensa kotak. Sekalipun itu pada Melisa dan Mirza.
"Nona, tuan Narendra yang Bibi maksudkan. Dia saudara yang memiliki mata yang sama dengan Non Lala. Tuan Narendra, dia paman kandung non Lala, kakak dari ibu kandung non Lala."
Hening. Meila masih mencoba mencerna penjelasan bibi Ana. "Jadi mama Hana itu bukan ibu kandung Meila?" Tanya Meila untuk memastikan.
"Meila, biar Paman jelaskan." Meila kembali melihat Narendra yang sudah mengganti panggilannya itu menjadi paman.
"Beni, dia bukan ayah kandung kamu, melainkan saudara kembar ayah kamu, Bara. Bara menikah dengan Laura, adik paman. Kamu putri Bara dan Laura."
"Kenapa?" tanya Meila.
Tidak perlu di jelaskan, kenapa yang Meila pertanyakan adalah kenapa dia tidak diberitahu yang sebenarnya sejak awal. Sekarang Meila paham mengapa Hana dan keluarganya yang lain tidak suka dengan keberadaanya. Karena dia adalah benalu.
"Kisahnya sangat panjang Sayang," ucap bibi Ana.
Wanita paruh baya itu mengambil alih untuk menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga Danunevra. Meila kembali menangis mendengar cerita keluarganya yang terpaksa terpisah karena keserahkan seseorang. Tidak hanya sampai disana. Kedua orang tuanya ikut menjadi korban kejahatan orang tersebut. Dan itu demi menyelamatkan dirinya.
"Non Lala," panggil bibi Lusi.
"Apa ada yang ingin Bibi tambahkan?" tanya Meila. Bibi Lusi mengangguk.
"Tuan Arbie, dia...kalian saudara kembar."
Abs ni siapkn rncna buat bls mreka plus mrebut mlik kluarganya yg ydh d rmpas...smngttt.....
dtggu next episode ny yx kak
next kak ,,
udh nyktin,tp msih ngemis....
pdhl udh d ksih kmpensasi,jdga brhak gnggu meila lg....
Ternyata masih banyak rahasia dari asal usul keluarganya Melia...
dsni qta bisa belajar keserakkahan tdk akan bisa membuat kebahagian lebih lama bersama qta ,, tp kehancuran lah yg tiap detik mendekati qta ,,
lanjut kak ,,
penasaran sama kelanjutan ny,,
ga sbr nunggu meila ktmu sm bbi ana dn kmbaran'nya,dia pst bhgia bgt....trs ga sbr jg nunggu pra benalu jd gmbel.....
dtggu next episode ny yx kak
☺️☺️☺️
licik di balas licik ,,
ayoo melisa dari sekarang belajar jdi gembel yuuuk ,,
jgn mau ny hidup enk truus ,,
km bukan keluarga aksara ternyata🤭🤭l🤭🤭/Smug//Smug//Smug/ ,,
Selamat menikmatiii ibu Hana ,, ank yg km bangga2kan ternyata bukan ank km ,, 🤭🤭🤭/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Sly//Sly/
dfnisi kta adalh do'a.....pura2 bngkrut,eeehhhhh....bnrn bngkrut.....
siap2 jd gmbel kl ttp ga mau tobat....
puas bgt sm fkta yg trungkap....
Zayan kl mau nysel,silakan aja sih..tp ga guna....trs kl mau mrebut meila,mkir sribu kali sblm mkin hncur....