Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Penjelasan Barra
"Bagaimana kondisi putriku, Narendra?" Ulang Barra pertanyaannya, karena tidak mendapatkan jawaban.
"Kamu ingat putrimu, tapi kamu tinggalkan dia bersama Beni dan para penghianat itu." Narendra menjawab dengan kesal.
"Orang-orang Jimmy terus menargetkan Aku dan Laura. Aku menitipkan Meila pada Beni, karena Aku tahu, Aku tidak akan selamat, begitupun dengan Laura."
"Nyatanya kamu masih hidup hingga saat ini. Dan selama ini, tidak ada usaha dari kamu untuk menemui Arbie dan Meila. Mereka hidup sendiri, sedangkan kamu -."
"Aku koma selama sepuluh tahun setelah kecelakaan itu," potong Barra kemarahan Narendra.
"Ayah," panggil Arbie lirih. Tidak menyangka, ayahnya juga menderita.
"Setelah sadar Aku menderita amnesia, akibat benturan yang terlalu keras di kepalaku. Ingatanku kembali, saat Aku melihat pengumuman Beni yang telah mengeluarkan Meila dari keluarga Aksara."
Barra menjeda sejenak penjelasannya. Dia menggeser duduknya agar semakin nyaman. Kepalanya masih terasa sakit, begitu juga dengan lengannya yang terluka.
Arbie mendekat, dia membantu Barra agar nyaman. Arbie yakin, pria paruh baya yang ada di hadapannya ini adalah ayahnya. Ikatan batin, itu yang Arbie rasakan.
"Terima kasih Nak," ucap Barra.
Mendengar Barra memanggilnya nak, Arbie tidak bisa menahan haru. Matanya berkaca-kaca, dadanya bergejolak mendapatkan panggilan yang sangat ingin dia dengar selama ini. Sekuat apapun dirinya selama ini bertahan seorang diri, hati kecilnya tetap saja merindukan sosok pria yang dia panggil ayah.
"Kamu tidak ingin memeluk Ayah, Arbie?"
Arbie melihat Barra yang sudah merentangkan tangannya meskipun masih sakit. Tidak ingin mengabaikan kesempatan itu, Arbi mendekat dan memeluk ayahnya. Keduanya sama-sama saling merindukan dan menangis. Hingga akhirnya Arbie mengurai pelukan itu. Dia tidak ingin ayahnya menahan sakit lebih lama lagi.
"Bagaimana pengumuman paman Beni yang mengeluarkan Meila dari keluarga Aksara bisa membuat ingatan ayah kembali?"
Barra tersenyum mendengar pertanyaan Arbie. Dia mengenang wanita yang dia cintai, Laura. Senyum itu memudar, sebelum akhirnya Barra kembali melanjutkan penjelasannya.
"Beni menampilkan wajah Meila, saat itu. Wajah itu, wajah ibu kalian. Dia selalu hadir dalam mimpi ayah setiap malam. Senyumnya sangat lembut, tapi Ayah tidak bisa mengingat apapun tentang ibu kalian."
Barra kembali meneteskan air mata. Bagaimana tersiksanya dia dengan mimpi yang sering hadir dalam tidurnya itu, namun dia tidak mengerti apa-apa. Saat ingatannya berlahan kembali, Barra merasa sudah sangat terlambat. Meskipun begitu, dia tetap berusaha mencari informasi tentang Beni, untuk menemukan keberadaan Meila. Hingga akhirnya dia tahu Meila diangkat menjadi cucu keluarga Alamanda, dan sudah menikah dengan Abyan.
"Setelah itu, Ayah mencoba mencari tahu apa yang sudah terjadi, dibantu oleh anak buah keluarga angkat ayah. Dari mereka Ayah mendapat kabar pamanmu Beni di rawat di rumah sakit. Beni sakit setelah tahu perusahaan Aksara benar-benar bangkrut karena ulah anak adopsi itu. Bukan seperti skenario yang dia buat. Lucu sekali."
Barra tertawa kecil, mengingat yang terjadi pada kembarannya itu. Mengingatkan kita untuk tidak merencanakan sesuatu yang buruk, meskipun itu hanya 'pura-pura'. Karena itu bisa saja menjadi doa.
Arbie dan Narendra terus menyimak apa yang Barra sampaikan. Tidak ada niatan dari mereka untuk menyela. Terutama Narendra. Amarahnya mulai mereda. Dia mencoba menyelam kedalam mata Barra. Mencoba mencari kebohongan suami saudaranya itu, Tapi tidak dia temukan.
"Aku pergi ke rumah sakit untuk menemui Beni. Tapi Aku terlambat, sudah ada Arbie saat itu bersama Beni. Jadi, Aku urungkan niatku untuk menemuinya. Tapi Aku tetap berada di sana, mendengarkan penjelasan Beni. Dan itu, membuat Aku kembali ingat dengan kecelakaan yang menimpaku."
Barra menarik napas dalam, sebelum kembali bicara. Kenangan buruk yang belum lama ini kembali dalam ingatannya, harus dia ceritakan kembali. "Aku menitipkan Meila pada Beni, lalu memancing anak buah Jimmy untuk mengejarku. Seperti yang Aku duga, Jimmy mengejarku untuk mendapatkan Meila. Dia menginginkan putriku, agar bisa mengambil harta Danunevra yang disimpan di Swiss. Mereka terus melepaskan peluru ke arah mobilku. Aku kurang perhitungan, dia bukan hanya ingin mendapatkan Meila, tapi juga ingin menghabisi semua keturunan Danunevra. Mereka meledakan mobilku. Api menjalar sangat cepat. Setelah itu, Aku tidak ingat apa-apa lagi."
Dalam peristiwa itu ditemukan dua jenazah. Jenazah orang dewasa dan jenazah anak-anak. Jimmy mengira Meila ikut menjadi korban kecelakaan itu. Sehingga dia tidak lagi mencari keberadaan Meila.
Jimmy tidak tahu, kalau dalam mobil Barra saat mendapatkan serangan, Barra sudah membawa dua jenazah yang tidak memiliki keluarga. Dua jenazah itulah yang dikira sebagai Barra dan Meila.
"Mengapa kamu bisa menyelamatkan Meila?" Tanya Narendra.
"Anak buah keluarga angkatku memberi kabar Meila ada di rumah sakit untuk menemui Beni. Aku datang, karena Aku ingin memberitahu Meila. Yang ada di rumah sakit itu bukan Beni, tapi orang suruhan Jimmy. Saat mobilku akan masuk ke rumah sakit, Aku melihat Meila akan menyebrang. Aku juga melihat ada mobil yang melaju sangat kencang. Aku langsung turun dari mobil, mendorong gadis yang bersama Meila, lalu memeluk putriku untuk melindunginya."
"Jadi Ayah tahu orang itu bukan paman Beni?" Barra menggangguk.
"Bagaimana Ayah bisa tahu?" Tanya Arbie lagi.
Arbie cukup penasaran, apa saja yang ayahnya ini ketahui. Arbie sendiri tidak bisa mengenali saat pertemuan keduanya dengan Beni. Sampai dia memberitahu Meila, tentang Beni yang tidak mau dipindahkan ke rumah sakit. Di sanalah timbul kecurigaan Meila.
Bukan tanpa sebab Meila curiga. Dia tahu betul seperti apa sifat saudara kembar ayahnya itu. Rumah sakit itu milik keluarga Zayan, sedangkan Zayan orang yang membuat Beni seperti itu. Sedangkan Beni tidak suka kelemahannya diketahui oleh orang yang sudah membuat masalah dalam hidupnya. Tentu saja jadi hal yang aneh, bila Beni tidak mau dipindahkan ke rumah sakit keluarga Alamanda.
"Setelah kamu meninggalkan rumah sakit, anak buah Jimmy mengambil kesempatan tersebut untuk membawa Beni pergi, dan menggantinya dengan Beni palsu. Sepertinya Jimmy sudah tahu tentang keberadaan Meila. Tapi bukan itu yang jadi masalah." Barra kembali menarik napas dalam.
"Aku berhasil menyelamatkan Beni, dari orang-orang Jimmy. Kabar itu pasti sudah sampai di telinga Jimmy. Dia pasti tidak akan tinggal diam. Dia akan menyerang kita. Kita harus bersiap menahan serangan Jimmy dan sekutunya, Narendra."
"Ayah benar, Jimmy pasti akan menyerang kita untuk melenyapkan Meila. Ayah tidak perlu khawatir, Aku dan paman Naren, sudah mempersiapkan untuk datangnya hari itu." Ucap Arbie menjelaskan.
Barra melihat Narendra, menanyakan apakah yang Arbie itu katakan benar. Yang dilihat hanya diam saja. Narendra justru bertanya, "Dimana Beni sekarang?"
"Di mansionku," jawab Barra cepat.
"Aku sudah menciptakan sistem keamanan yang kuat, dan orang-orang yang terlatih."
"Jadi, bagaimana keadaan Meila?"
"Waktu kami tinggal, dia masih diruang operasi." Barra menganggukkan kepalanya, mendengarkan jawaban Arbie.
Di luar rumah sakit, Melisa meninggalkan rumah sakit dengan senyum bahagia. Dia baru saja merekam Zayan dan teman perempuannya itu yang sedang merencanakan sesuatu terhadap Meila.
"Melisa, Kamu sangat pintar. Kalau tuan Abyan mencari tahu siapa yang sudah menabrak istrinya, pasti yang akan menjadi terdakwa wanita tua itu. Karena dia yang selalu berhubungan dengan para preman itu. Kamu juga bisa memeras Zayan sudah merencanakan sesuatu yang buruk pada Meila."
Meila yang baru sadar, menatap sekelilingnya. Semua dinding terlihat putih.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Suara lembut Abyan memecah kebingungan Meila. Meila menatap Abyan yang duduk di sampingnya. Ingatannya kembali pada kejadian saat dirinya mau ditabrak mobil. Seorang pria paruh baya menyelamatkan dirinya dengan memeluknya erat.
"Sayang, Aku ada dimana?" Tanya Meila setelah mendapatkan kesadarannya sepenuhnya.
"Kamu sekarang sedang di rumah sakit. Tadi siang, kamu dan Mariska mengalami kecelakaan. Ingat?"
Meila mengingat Mariska dan orang yang sudah menyematkan dirinya, Meila mengedarkan pandangannya mencari adik iparnya itu. "Dimana Mariska dan orang yang sudah menyelamatkan Aku, Mas? Bagaimana kondisi mereka?"
"Mariska hanya mengalami cedera pergelangan kakinya dan luka goresan karena terjatuh. Dia sedang makan malam bersama Feri, di kantin. Sebentar lagi Mereka akan kembali. Tadi opa Alan, Oma Amanda, dan kakek Hasan ke sini menjenguk kamu. Begitu juga dengan Erik dan Dewi. Mereka baru saja pulang. Dan tidak lupa, Arbie dan paman Narendra juga ada di sini. Mereka berdua mendonorkan darah mereka untuk kamu."
Panjang sekali penjelasan Abyan. Menjawab pertanyaan Meila. Istrinya itu membalas dengan anggukan. Bersyukur, saat ini di kelilingi oleh orang-orang yang sayang padanya.
"Dimana kak Arbie dan paman?"
"Mereka masih menemani orang yang menolong kamu, sayang."
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Meila lagi.
"Dia juga di rawat di rumah sakit ini. Dia mengalami gegar otak ringan dan keretakan tulang."
Rasa bersalah menyelimuti hati Meila. Kalau bukan karena orang itu memeluknya, Meila tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Sayang, apa kita bisa ke kamar rawat dia? Aku mau melihat kondisinya dan memastikan sesuatu."
"Apa yang ingin kamu pastikan?"
"Matanya. Dia memiliki mata yang sama seperti bang Arbie."
Abyan tidak bisa membayangkan saat Meila tahu, bahwa orang yang sudah menolongnya adalah ayah Barra. Abyan sendiri masih belum bisa percaya, saat Arbie memberitahunya.
tp yg lemah siap2 dapet sisa ny aja ,,🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
rumit juga yx hidup sebagai bangsawan ,,
byk yg iri ,,
gx cuma org lain ,,
saudara sndri pun saling memburu ,,
next kakak ,,
makiin seruu cerita ny ,,
tar klian bs kmpul d dlm sel y.....😝😝😝.....
makin penasaran ma kelanjutan ny
zayan msh ngarep sm meila,tp knp mau bkin meila celaka????smp byar orng pula.....emng udh ga wras sih otaknya....
belum aj tu kena Batu ny si duo keket ,,
greget banget si liat mereka berdua ,,
Wahai org2 yg bermuka Dua ,,
ayoo kasih ke zayan , melisa Dan Alexa yg lgi cari muka ,,
biar adil hancur ny ,,
Apa meilia lagi Hamidun 🤔?
Smngttttt....
baru x baca cerita penasaran sama visualny ,,
🤭🤭😁😁😁
next kk ,,