𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 10
...왕신...
...ー...
𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰!
.
.
“Sepertinya aku mencium aroma cinta segitiga di antara kalian.”
“Maksudmu?” Shin menanggapi.
“Ya ... kau, Sol Gibaek, dan wanita itu,” terang Aiko.
Aiko cukup baik di intuisi. Shin tidak menyangkal, terkaan wanita itu hanya disenyuminya biasa saja, tanpa untaian kata.
“Apa karena Gibaek ketua dari kalian lalu kau mengalah?” sambung Aiko. Segelas minuman merah ditimang di tangan kanan, sedang tangan lain melingkari perut, berdiri santai di satu sisi bagian acara, berdampingan Shin. “Tapi ... sepertinya kau bukan tipe orang yang akan membiarkan begitu saja. Apa aku salah?”
Senyum tipisnya masih berbekas, Shin merunduk sebentar sebelum kemudian menaikkan wajah lurus ke depan. “Nona Aiko, kau mungkin benar, tapi bisa juga salah,” katanya.
“Ya?”
“Maksudku ... aku adalah orang yang bisa mengacak apa saja, termasuk pikiran orang. Baik Ana, Gibaek, bahkan kau sendiri ... aku bisa merubah kalian jika kumau.”
Aiko terdiam, tapi perlahan, senyumannya melebar secara naluriah. “Wah ... kurasa aku harus bertepuk tangan.”
“Lakukan!”
Aiko kalah, hanya berdendang dengan kekehan kecilnya.
Saat yang sama, sejurus tatapan Shin tercuri. Sesuatu yang lebih menarik dibanding hanya obrolan ringan dengan seorang wanita cantik.
Aiko ingin bicara lagi, tapi urung saat dia menemukan Shin memasang keruh bola matanya. “Ada apa?”
“Aku pergi dulu!”
“Tung ... gu.” Gerak Aiko terhenti, Shin sudah mencelat meninggalkannya. Namun sejurus kemudian ... “Wah!” Senyumnya merekah saat mengerti alasan di balik Shin melanting seperti penumpang ketinggalan kereta, dia juga melihat pemandangan itu. “Sepertinya akan ada perang kecil-kecilan,” cibirnya.
Tanpa dia sadari, Takeda datang menghampirinya membawa kening berkerut-kerut. “Ada apa?” tanyanya ingin tahu.
“Paman!” Aiko menyambutnya. “Aku rasa akan ada dua singa saling menggigit demi satu betina.”
“Maksudmu?”
Berubah ekspresinya dalam sekejap, Aiko menyadari sikapnya terlalu rusuh di hadapan orang kepercayaan ayah angkatnya itu. “Tidak ada, lupakan saja. Ayo kembali ke hotel. Aku ingin tidur.”
“Kenapa? Di mana Shin?”
“Dia pergi.”
ー
Shin berlari, membelah kerumunan orang-orang yang sedang berjoged mengikuti irama DJ.
“SHIN! MAU KEMANA, KAU?!”
Teriakan Namdong 'tak dihiraukannya. Yang ada di pikiran sekarang adalah kemana Gibaek akan membawa Ana.
Setelah berhasil meraih jarak yang dekat dan memelankan langkah, ternyata mereka masuk ke markas utama Venom.
“Sial!” umpatnya. Ternyata tidak untuk pulang mengantar Ana.
“Apakah Ana sangat mabuk? Kenapa rela begitu saja digandeng keparat itu padahal aku ada di sini?”
DRRTTT!
Saat begini memang selalu ada-ada saja. Gangguan datang dari ponsel yang bergetar di dalam saku celana. Mulanya Shin tidak peduli dan terus mengendap mengikuti kemana Sol GIbaek menyusupkan Ana, namun ponsel sialan tidak mau mengalah juga.
“Polisi sialan ini.”
Ternyata dari Park Junwon. Mau tak mau dia mengangkatnya.
“Cepat katakan intinya!”
Beberapa patah kata terlontar dari mulut kepala polisi itu setelah mengatai Shin, ‘Dasar tidak sabaran!’
“Aku tidak ada urusan dengan dokumen apa pun, tugasku hanya melapor padamu dan kalian menjaga keselamatanku! Jangan berulah lebih dari itu ... Park Junwon!”
Panggilan ditutup sepihak dengan emosi oleh Shin.
Sialnya gangguan kedua datang dari ponsel yang baru saja akan masuk ke dalam saku.
“Ah, Shit!” Namun umpatannya tak jadi keras saat nama lain terpampang di layar itu.
“Aiko.”
Tanpa buang waktu diangkatnya lagi.
“Ya, Nona Hart.”
Yang dikatakan Aiko adalah, dia pamit pulang ke hotel lebih dulu, menyusul pesan agar Shin jangan lupa menghadiri pelepasan barang di dermaga esok harinya sebelum dia dan Takeda benar-benar pulang ke negara mereka.
“Oke, aku mengerti. Hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantar kalian.”
Sesingkat itu, telepon ditutup dan ponsel bena-benar disusupkan ke dalam saku. Lanjut dengan cepat dia meneruskan langkah menyusul ke ruangan mana Gibaek membawa istrinya.
Lantai dua, ruangan Sol Gibaek, ternyata di sana.
Shin menemukan merekaーGibaek dan Ana, duduk berdua di sofa dalam posisi rapat.
Demi apa pun, hanya disela waktu untuk mengangkat panggilan Junwon dan Aiko saja, bajingan Gibaek sudah menorehkan prestasi kecepatan bertindak.
Ana ada di pelukannya, bertatap wajah mendalam menikmati puncak kerinduan yang tertimbun sekian tahun.
“Keparat!”
Sret!
Namun gerak yang mulanya rusuh ingin menegur mereka, seketika urung membeku. Sedikit kesan menyentil isi kepala.
“Tidak!” katanya menekan diri sambil pasang kakinya mundur perlahan, untuk kembali ke persembunyian.
“Aku bisa menghajarnya sekali mati, jika itu hanya dari sudut pandang Sol Gibaek, tapi Ana ....” Sesaat menjeda hanya untuk menguatkan isi pikirnya. “Dia tidak akan melakukan hal itu hanya untuk kepura-puraan, kan?ーBahkan di saat aku 'tak melihatnya.”
Seorang wanita yang benar-benar setia akan membuat alasan sebanyak mungkin untuk menolak. Cukup jauhi Gibaek dan biarkan suaminya bekerja sesuai mestinya. Tapi Ana malah membiarkan dirinya tertelan sampai ke dalam, artinya bukan hanya sekedar kata: Ingin melihat bagaimana Gibaek dibekuk, tapi kebalikannya.
“Apakah Ana justru berniat menyelamatkan keparat itu?”
Langkah pasti membawanya kembali keluar tanpa menoleh lagi.
“Seharusnya kau tidak melakukan itu, Ana. Kau benar-benar suka dalam posisi terpuruk.”