‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Dari sampah
Pagi itu di kediaman Cabang Keluarga Lu, gerbang besi hitam yang biasanya tertutup rapat kini terbuka lebar, seolah mulut raksasa yang siap memuntahkan sesuatu yang kotor.
Lu Daimeng diseret keluar, bukan dengan rantai, tapi dengan tekanan Qi yang memaksanya berjalan. Di kiri dan kanannya, para pelayan yang biasanya menunduk hormat kini berani mengangkat wajah. Mata mereka tidak lagi menyiratkan kepatuhan, melainkan ejekan yang telanjang.
"Lihat," bisik seorang pelayan tua yang sedang menyapu halaman, suaranya sengaja tidak dikecilkan. "Akhirnya Patriark sadar. Sampah itu akhirnya dibuang."
"Tujuh belas tahun..." balas pelayan lainnya, meludah ke tanah tepat di dekat sepatu Lu Daimeng. "Tanaman spiritual mahal yang dia konsumsi harusnya bisa digunakan untuk memberi makan para penjaga."
Lu Daimeng menundukkan kepalanya. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi punggungnya. Dia ingin membalas, ingin berteriak bahwa dia adalah Tuan Muda mereka, tapi tenggorokannya tercekat oleh rasa malu dan kesadaran diri, ucapan mereka adalah Fakta dan kebenaran yang nyata.
Di balkon lantai dua paviliun utama, deretan sosok muda berdiri melihat ke bawah. Mereka adalah saudara-saudara kandungnya—darah daging yang sama, namun nasib yang berbeda langit dan bumi. Mereka mengenakan jubah sutra yang berkilauan oleh Qi, memegang kipas dan pedang pusaka.
"Hei, Sampah keluarga!" seru seorang pemuda dari balkon itu, tawa ringan mengiringi kalimatnya. "Jangan mati terlalu cepat di hutan. Aku bertaruh sepuluh batu roh kau bisa bertahan satu jam!"
"Satu jam? Kau terlalu optimis," sahut suara saudara perempuan di sebelahnya, tertawa merdu namun tajam. "Dia bahkan tidak bisa membunuh ayam. Kelinci hutan akan memakannya dalam sepuluh napas. Selamat tinggal, Aib Keluarga!"
"Kalian berdua buat apa bertarung untuk orang yang akan mati." Suaranya berat, duduk di atas sofa emas.
Tawa mereka meledak, riuh dan kejam, menggema di seluruh pelataran klan. Itu bukan tawa candaan keluarga. Itu adalah tawa predator yang melihat anggota kawanan yang sakit diusir pergi.
Suara tawa itu masih terngiang menyakitkan di telinga Lu Daimeng, bahkan setelah pemandangan gerbang rumahnya berganti dengan kabut tebal yang mencekik.
Kabut di Hutan Kabut Kematian tidak sekadar menghalangi pandangan; ia memiliki tekstur. Ia basah, lengket, dan berbau seperti logam yang sudah terlalu lama terendam dalam darah lama.
Lu Daimeng berdiri di tepi jurang kecil yang memisahkan dunia manusia dengan neraka ekologis ini. Kakinya gemetar hebat. Bukan hanya karena dinginnya angin pegunungan, tetapi karena teror murni yang merayap naik dari tulang punggungnya. Ejekan para pelayan dan tawa saudara-saudaranya tadi pagi kini terasa seperti ramalan kematian.
Di depannya, berdiri sosok yang menyeretnya ke sini. Seorang pria paruh baya dengan jubah sutra hijau zamrud yang menyala samar. Pria itu tidak menatap Lu Daimeng. Tatapannya tertuju pada cakrawala yang suram, seolah-olah sedang membuang kantong sampah yang merepotkan.
Dia adalah Patriark Cabang Keluarga Lu. Ayah kandung Lu Daimeng.
"Tujuh belas tahun," suara pria itu memecah keheningan hutan. Nadanya datar, namun setiap suku kata terasa seperti palu godam bagi Lu Daimeng yang sedang ketakutan. "Keluarga Lu telah menuangkan sumber daya setara dengan pendapatan tiga kota kecil ke dalam tubuhmu. Pil Sumsum Emas, Rebusan Akar Sembilan Yang, bahkan mengundang Tetua dari Paviliun Pil Jinting untuk memeriksa meridianmu."
Napas Lu Daimeng memburu. Matanya melebar, pupilnya bergetar mencari sedikit saja keraguan di wajah ayahnya. Tidak ada. Wajah itu keras seperti batu granit, sama dinginnya dengan tawa saudara-saudaranya di balkon tadi.
"Ayah..." Suara Lu Daimeng pecah. Itu adalah suara seorang anak yang menyadari bahwa dia benar-benar sendirian di dunia ini. "Aku... aku bisa mengurus pembukuan klan. Aku hafal semua jalur perdagangan di Jinting. Aku masih berguna. Jangan... jangan buang aku di sini."
Lu Daimeng melangkah maju, tangannya yang kurus terulur, mencoba meraih ujung jubah sutra ayahnya. Sebuah gestur memohon yang menyedihkan.
Sang Patriark mundur selangkah, menghindari sentuhan itu seolah-olah Lu Daimeng adalah penyakit menular.
"Hentikan omong kosongmu Daimeng," lanjut sang Patriark, mengabaikan permohonan putranya. Dia akhirnya menoleh, menatap putranya bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan kejijikan yang mendalam. "Kau tidak memiliki Dantian. Dan yang anehnya Kau juga tidak memiliki meridian. Kau... hanya makhluk Fana. Qi menolakmu. Alam semesta menolakmu. Kau akan mempermalukan kami jika tetap hidup."
Air mata dingin menggenang di sudut mata Lu Daimeng. Ketakutan akan kematian begitu nyata—kematian yang lambat, menyakitkan, dan sendirian. Dia bukan pahlawan. Dia hanyalah pemuda tujuh belas tahun yang tidak ingin mati.
"Keluarga tidak memelihara sampah," kata Patriark itu dingin, matanya menyipit tajam. "Kehadiranmu mencemari reputasi saudara-saudaramu yang jenius. Hutan ini adalah tempat pembuangan yang layak. Jika kau memiliki sedikit saja keberuntungan—yang kuragukan—kau mungkin akan mati cepat tanpa rasa sakit."
"Tidak! Ayah, tolong! Jangan tinggalkan aku!" Lu Daimeng berteriak, panik menguasai akal sehatnya.
Tanpa peringatan, Patriark itu mengentakkan kakinya. Gelombang kejut Qi yang tidak terlihat, namun padat, menghantam dada Lu Daimeng.
Bam.
Jeritan Lu Daimeng terpotong saat tubuhnya terlempar ke belakang. Dia melayang melewati batas aman, jatuh ke dalam semak belukar berduri di wilayah terluar Hutan Kabut Kematian. Tulang rusuknya berderak patah.
Rasa sakit yang tajam meledak di dadanya, membuatnya tersentak dan terbatuk darah. Dia mendarat keras di atas lumpur hitam yang berbau busuk. Rasa takut itu kini bercampur dengan rasa sakit fisik yang luar biasa, membuatnya meringkuk seperti udang, gemetaran tak terkendali.
Saat dia mencoba bangkit dengan panik, semak-semak di sekitarnya berdesir.
Mata merah menyala muncul dari balik kabut. Satu pasang. Tiga pasang. Sepuluh pasang.
Kelinci Iblis Bertandung Besi.
Monster-monster itu menatapnya. Gigi seri mereka yang seperti pisau berkilau dalam keremangan.
Lu Daimeng mundur, menyeret kakinya di lumpur, matanya terbelalak ngeri. "Pergi... pergi!" usirnya dengan suara serak, tapi suaranya tidak memiliki kekuatan. Dia hanyalah mangsa.
Sang Patriark masih berdiri di atas tebing, menatap ke bawah dengan tangan terlampir di punggung. Dia tidak pergi. Dia menonton. Dia ingin melihat putranya dimakan, seolah ini adalah tontonan terakhir untuk memastikan aib keluarga benar-benar hilang.
"Anggap ini pelajaran terakhir," suara Patriark menggema, diperkuat oleh Qi, menembus kabut dan rasa takut Lu Daimeng. "Dunia ini adalah tentang kekuatan. Tanpa kekuatan, kau hanyalah daging di atas talenan."
Seekor kelinci iblis yang paling besar melompat. Cepat. Mengerikan.
Lu Daimeng menjerit, mengangkat lengannya untuk melindungi wajahnya.
Graaghh.
Gigi kelinci itu menancap dalam di lengan bawahnya. Taring itu merobek kulit, daging, dan menggesek tulang. Darah menyembur, hangat dan merah, membasahi wajahnya sendiri.
"ARGGHHH!"
Sakitnya membutakan. Itu bukan rasa sakit yang mulia. Itu adalah rasa sakit yang merendahkan, yang membuat seseorang ingin memohon kematian. Tiga kelinci lagi melompat, menggigit betis dan pahanya.
Di tengah pembantaian itu, di antara jeritan dan bunyi daging yang dikoyak, Lu Daimeng menatap ke atas tebing. Dia melihat ayahnya berbalik.
"Biar kelinci itu menggigitmu biar kau mati lebih cepat," ucap sang Patriark dingin.
Punggung ayahnya menjauh. Jubah hijaunya menghilang dalam satu langkah cepat, meninggalkan Lu Daimeng sendirian di neraka.
Saat itulah, sesuatu patah di dalam diri Lu Daimeng.
Bukan tulangnya. Bukan dagingnya. Tapi kepolosannya. Harapannya bahwa dunia memiliki sedikit keadilan atau kasih sayang, hancur berkeping-keping. Tawa saudara-saudaranya dan tatapan dingin ayahnya menyatu menjadi satu titik api hitam di dalam benaknya.
Ketakutannya tidak hilang, tetapi tertimbun oleh sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih panas, dan lebih tajam.
'Kenapa langit begitu tidak adil padaku', batin Lu Daimeng, giginya bergemeretak menahan jeritan. 'Bahkan Ayahku membuangku. Saudara-saudaraku... menertawakanku'.
"Kenapa langit begitu pilih kasih!!" Teriak Lu Daimeng.
Tiba-tiba, kelinci yang menggigit lengannya melepaskan gigitannya. Binatang itu mundur, meludahkan potongan daging Lu Daimeng ke tanah dengan gerakan yang terlihat seperti... jijik.
Kelinci itu menggeram rendah, menggoyangkan kepalanya seolah baru saja memakan sesuatu yang busuk. Kelinci-kelinci lain yang menggigit kakinya juga melakukan hal yang sama. Mereka mundur, mengendus darah yang menggenang, lalu memalingkan muka.
Mereka tidak menginginkannya. Darahnya tidak memiliki Qi. Bagi mereka, dia lebih rendah dari sampah. Dia adalah makanan yang tidak berasa, seperti 'comberan'.
Para kelinci itu berbalik dan melompat pergi ke dalam kabut, meninggalkan Lu Daimeng yang hancur, berdarah, tapi anehnya... masih hidup.
Keheningan kembali menyelimuti hutan.
Lu Daimeng terbaring lemas, napasnya putus-putus. Air matanya bercampur dengan darah di pipinya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya begitu hebat hingga dia hampir pingsan.
Tapi dia menolak menutup mata.
Rasa takut yang tadi menguasainya perlahan membeku, mengeras menjadi es di dalam dadanya. Dia menatap ke arah tebing kosong di mana ayahnya tadi berdiri.
"Kalian membuangku..." bisiknya, suaranya parau penuh darah. "Kalian ingin aku mati..."
Tangan kanannya yang gemetar mencengkeram lumpur hitam, meremasnya hingga kuku-kukunya patah.
"Aku takut... aku sangat takut tadi," akuinya pada kegelapan. "Tapi sekarang... sekarang aku hanya ingin melihat kalian berlutut."
Dia tidak tertawa. Tidak ada humor dalam situasi ini. Hanya ada kebencian murni yang menjadi bahan bakar baru bagi jantungnya yang lemah. Dia tidak boleh mati di sini. Bukan karena dia mencintai hidup, tapi karena kematian berarti kemenangan bagi mereka yang menertawakannya.
Aku akan hidup, sumpah Lu Daimeng dalam hati. Aku akan merangkak keluar dari neraka ini, dan aku akan merobek segalanya dari tanganmu. Kekuasaanmu, kultivasimu, kebanggaanmu.
Dengan dorongan kebencian itu, Lu Daimeng membalikkan tubuhnya. Dia mulai merangkak.
Setiap inci pergerakan adalah siksaan. Luka di kakinya terbuka lebar, menyeret di atas akar pohon dan batu tajam. Tapi rasa sakit itu justru menjadi pengingat: Ingat rasa sakit ini. Ingat siapa yang memberikannya.
Berjam-jam dia menyeret tubuhnya yang setengah mati. Sampai akhirnya, dia melihat celah di dinding tebing batu kapur. Sebuah gua kecil yang tertutup jaring laba-laba tebal.
Tempat yang dihindari oleh kehidupan. Tempat yang sunyi seperti kuburan.
"Cocok," desis Lu Daimeng. "Tempat untuk orang yang tidak layak mati sepertiku."
Dia merobek jaring itu dan merangkak masuk ke dalam kegelapan.
Di dalam, keheningan absolut menyambutnya. Dia merangkak sampai punggungnya menyentuh dinding batu dingin. Dia sudah di batas kemampuannya. Pandangannya mulai gelap.
Dan saat itulah, kehadiran itu muncul.
Ruang di dalam gua bergeser. Sebuah Entitas Kosmik yang tidak berwujud, melayang dalam kegelapan. Tidak peduli, purba, dan mengerikan.
Jika Lu Daimeng yang lama akan merasa kagum atau bingung, Lu Daimeng yang sekarang—yang baru saja dibentuk ulang oleh pengkhianatan dan rasa sakit—merasakan koneksi yang berbeda.
Dia menatap kegelapan itu. Dia tidak melihat dewa. Dia melihat harapan.
"BERLUTUT."
Suara itu menghantam pikirannya. Mutlak. Otoriter.
Tubuh Lu Daimeng gemetar, ketakutan kembali muncul, tapi dia menekannya. Dia memaksakan tubuhnya yang hancur untuk bergerak, melipat kakinya yang terluka, dan menempelkan dahinya ke lantai.
Bukan penyembahan seorang hamba yang taat. Tapi penyerahan diri seseorang yang putus asa akan kekuatan.
"AKU SUDAH MENUNGGUMU, MURIDKU."
"Murid..." Lu Daimeng terbatuk, darah menetes ke lantai gua. "Kenapa... kau menginginkan sampah sepertiku?"
Entitas itu tidak menjawab seolah tersenyum dalam bahasa konsep yang tak terlukiskan.
"Mereka yang ditolak oleh jalan Dao, Harus keluar dari jalan Dao."
"Karena kau mamaksa masuk, maka kau akan semakin ditolak."
Kata-kata itu membakar jiwa Lu Daimeng. Itu adalah seperti kata kata kebenaran yang langsung terukhir di kepalanya.
Entitas itu lenyap, meninggalkan selembar kertas rapuh di lantai.
Lu Daimeng mengambilnya dengan tangan gemetar. Matanya yang merah menatap diagram-diagram aneh di atas kertas itu. Jalur kultivasi yang menyalahi aturan langit.
Lu Daimeng kembali berlutut, wujud penghormatan seorang murid kepada Gurunya. "Murid tidak akan melupakan kebaikan guru."
Dia tidak tersenyum. Wajahnya kini kaku, dingin, karena efek traumatik yang baru saja terjadi.
"Ayah..." bisiknya, suaranya penuh racun. "Kau bilang dunia ini tentang kekuatan? Terima kasih atas pelajarannya."
Dia mencengkeram kertas itu erat-erat, seolah itu adalah leher musuhnya.
"Terima kasih Guru, Aku akan membalasmu suatu saat."
Di dalam gua yang gelap, mata Lu Daimeng bersinar—bukan dengan cahaya Qi, tapi dengan tekad yang baru saja lahir.
Bersambung...