Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tidak Pernah Dianggap Nyata
Aula pesta itu telah berubah menjadi medan pertempuran yang sunyi namun kejam. Semua mata tertuju pada Aresha pada lututnya yang gemetar, pada wajahnya yang pucat, pada amarah yang kini tak lagi ia sembunyikan.
“Apakah ini keluarga, apakah kalian akan meenuduhku lagi seperti empat tahun lalu?” Tanya Aresha dengan wajah muak.
Pertanyaan itu seperti tamparan yang menggema di dinding aula. Reno terdiam sesaat, rahangnya menegang.
“Aku mengalami cidera di kaki kiriku, aku sudah pincang sejak masuk, kalian semua dapat melihatnya dengan jelas.” Teriak Aresha menunjuk semua tamu dengan berputar marah.
Beberapa tamu refleks menghindari tatapannya. Mereka memang melihatnya pincang saat datang, namun memilih diam.
“Aku hampir tidak kuat berdiri diam, kekuatan apa yang aku miliki untuk mendorongnya.” Aresha melangkah maju mendekati Reno dengan tatapan marah.
“Jika kamu berpura - pura, siapa yang tahu.” Jawab Reno gugup.
“Aku terluka seperti ini hanya pura - pura jadi Rhea hanya terluka seperti itu kalian menuduhku sengaja menyakitinya dulu?” Aresha menunjuk Rhea dengan gemetar menahan marah.
Rhea semakin mendekat ke Delon, berpura - pura takut. Ia menyembunyikan wajahnya di balik dada pria itu.
“Apakah kalian buta! Jadi bagaimanapun kebenarannya semua ini salahku?” Teriakan Aresha menggema di seluruh aula.
Reno semakin kesal melihat Aresha semakin berani.
diluar luar tanpa orang - orang sadari, terdengan gemuruh sesorang yang tiba.
“Srittt… brum… brumm.” Rombongan mobil mewah parkir di halaman keluarga Hartono. Suara mesin yang berat. Ajudan dan pengawal turun lebih dulu, berbaris rapi mengawal mobil utama. Mereka bergerak cepat dan terlatih.
Dari dalam mobil, Samba dan Stefani terdiam dengan tatapan dingin.
“Klek…” Aspri membuka pintu mobil untuk mereka. Samba menurunkan kakinya, berdiri tegak, membenarkan mantelnya dengan gerakan tenang namun berwibawa. Ia menatap sejenak kediaman Hartono di depannya, lalu berjalan mantap menuju pintu masuk. Di kanan kirinya, para pengawal membungkuk hormat.
Stefani yang didorong menggunakan kursi roda mengikuti di belakangnya. Tatapannya sangat tajam dan dingin, menatap rumah itu seolah melihat luka lama yang belum sembuh.
Kembali ke aula pesta.
“Bahkan jika bukan kamu yang mendorong Rhea, dan melihatnya dia jatuh, apakah kamu tidak bisa menolongnya?” Jawab Reno melihat Aresha yang semakin berani.
“Kenapa kamu sangat kesal sekarang? Apa karena kamu tidak bisa melihat Rhea pergi?” Tambah Reno masih memojokkan Aresha.
“Kamu akan sangat puas kalau sudah mempermalukan dia kan?” Tambah Reno meninggikan suaranya dengan kesal.
“Maafkan aku kakak, aku sendiri yang tidak berdiri dengan benar, hiks,.. hiks.” Sahut Rhea dengan merenggek.
“Aku merusak pesta yang sudah kamu persiapkan untukku.” Tambah Rhea masih menangis memegang erat pelukan Delon, sambil membenarkan tali kebayanya yang putus kemudian menutupnya dengan jas Reno.
“Ketika kamu melihat hadiah yang berisi kebaya di mobilku, aku melihat wajah jijik dan cemburu, pasti kamu diam - diam merusak kebaya itu.” Tuduh Reno melihat kebaya Rhea yang rusak.
“Haaaaah, pasti ada dashcam di mobil tuan Reno, sekarang kamu dapat membuka HP-mu untuk memeriksa pengawasan.” Hela napas Aresha yang muak, sambil menyibakkan rambutnya dengan kesal.
“Lihatlah apa aku menyentuhnya, tahu isi dalamnya saja tidak, aku tahu saat kamu memberikannya di saat aku akan masuk ke rumah Hartono ini!” Tambah Aresha.
Reno diam tanpa bisa menjawab.
“Atau kamu akan menghapus bukti pengawasan seperti yang akan seseorang lakukan empat tahun lalu?” Aresha menjawab dengan nada tinggi dan semakin menekannya, sembari menoleh ke arah Mama.
Mama terdiam dengan gugup.
*Empat tahun lalu.*
Pesta investor yang mewah. Musik, gelas kristal, dan tangga tinggi yang menjadi saksi jatuhnya Stefani.
Aresha dipegang oleh dua orang petugas keamanan. Dia sangat takut dan berusaha memberontak.
“Mama, Rhealah yang mendorong Stefani dari lantai dua, kenapa kamu menghilangkan buktinya?” Tanya Aresha dengan kesal dan marah.
Mama berdiri di depannya, wajahnya pucat, matanya bergetar antara ragu dan keputusan.
“Hahhh, Rhea adalah putri kandungku, tidak mungkin dia berbohong padaku, aku tidak bisa melihat Rhea masuk penjara.” Jawab mama ragu.
“Bagaimana dengan aku?” Tanya Aresha.
“Apakah itu cinta seorang ibu yang telah kamu berikan selama bertahun - tahun ini?” Tambah Aresha dengan suara pecah.
“Apakah semuanya palsu?” Tambah Aresha.
“HIks..hiks..hiks, Aresha, meskipun ibumu melakukan ini, tolonglah ingat keluarga Hartono telah membesarkanmu selama bertahun - tahun, akui saja bersalah.” Mama menangis hendak berlutut di depan Aresha namun ditahan Rhea.
“Tolong jangan bawa masalah ini kemana - mana lagi oke?” Mohon mama.
“Ini penjara.” Jawab Aresha putus asa.
Rhea menatap Aresha dengan senyuman licik.
“Lepaskan, lepaskan.” Teriak Aresha saat dua petugas menyeretnya ke pintu keluar.
“Aku telah kehilangan Rhea sekali, aku tidak bisa kehilangan dia kedua kalinya.” Ucap mama lirih sembari memeluk Rhea.
*Kembali ke aula pesta.*
Rhea tersadar dengan ucapan Aresha. Tubuhnya gemetar, wajahnya gugup.
“Mama.” Rhea memanggil dan memberi kode halus, agar semua tidak menyadarinya.
“Ah, Reno, tidak masalah jika kebayanya rusak, mari selesaikan dengan kekeluargaan, aku percaya Aresha tidak akan melakukan hal semacam ini.” Ucap mama sembari menatap Aresha tajam.
“Bahkan jika semua ini benar kamu pasti tidak akan melakukannya dengan sengaja.” Tambah mama.
“Aresha ini semua hanya salah paham, lihatlah Rhea dan juga Bibi Lin sangat peduli denganmu.” Delon mencoba membujuk.
“Aku sebenarnya tidak ingin menyakitimu, kita selesaikan saja ini.” Tambah Delon.
“Mengapa kamu sangat peduli dengan kebaya Rhea, tapi tidak peduli dengan kebenaranku sampai di penjara dan sekarang juga seperti itu?” Jawab Aresha kesal.
“Kamu selalu memasang wajah yang dingin dan kejam di wajahmu, tidak membalas tatapan dengan menyenangkan.” Sahut Reno.
“Itu menyakiti mama kamu tahu?” Bentakny.
“Keluarga Hartono kami benar - benar memanjakanmu.” Tambah Reno dengan cepat menarik tangan Aresha dengan kasar.
“Kamu tidak hanya membawa aib bagi keluarga, sekarang kamu berlagak dan main - main merusak pesta Aresha.” Tambah Reno semakin memaki Aresha.
Rhea menatap puas.
“Sekarang berlutut dan minta maaf.” Reno menarik Aresha dengan kasar, menendang lutut Aresha dan dengan kasar mendorongnya maju.
“Akhhhhhh.” Teriak Aresha. Lutut yang cedera menjadi tumpuan dan menghantam lantai.
“Aku hanya menendangmu dengan pelan, kenapa kamu berpura - pura sangat menyedihkan?” Tanya Reno masih memegangi tangan Aresha.
“Ahkk..ahhkk.” Aresha menunduk merasakan sakit luar biasa.
Rhea berdiri tepat di depannya tersenyum puas.
Delon terbelalak melihat lutut Aresha mengeluarkan darah. Dia berlari.
“Hei, lepaskan.” Dia melepaskan pegangan Reno dengan kasar.
Rhea kaget ketika Delon menyingkirkannya.
“Aresha, buat apa susah - susah seperti ini? Kenapa kamu tidak mengakui kesalahanmu saja?” Tangkap Delon memegang Aresha yang hampir tumbang.
“Kenapa kamu membuat masalah seperti ini, dan membuat orang penuh dengan tanda tanya? Ini sangat memalukan.” Tambah Delon.
“Hah, hah, aku tidak salah.” Teriak Aresha dengan napas terengah menahan rasa sakit.
Delon menatapnya kecewa. Perlahan dia melepas pegangannya, berdiri, dan meninggalkan Aresha yang masih berlutut di bawah.
Dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Aresha menyadari di rumah sebesar ini, dengan keluarga sebesar ini, dia tetap sendirian.
“Delon.” Delon berbalik ketika suara Aresha kembali terdengar, lemah namun jelas. Langkah pria itu terhenti sesaat, tetapi ia tidak menoleh.
“Empat tahun lalu kamu juga berjalan pergi seperti itu.” Tambah Aresha
“Berhenti memainkan perasaan orang lain, Aresha.” Reno mendengus kesal.
“Memainkan? Sejak kapan aku punya kesempatan untuk bermain?” Aresha tertawa pelan meski napasnya masih tersengal.
“Cukup, jangan perpanjang lagi. Malam ini sudah cukup memalukan.” Mama menggenggam tangan Rhea erat.
“Memalukan bagi siapa?” tanya Aresha tajam.
“Bagiku, atau bagi keluarga Hartono?” Tambah Aresha.
“Kakak, aku tidak pernah ingin semua ini terjadi…” Rhea menggeleng pelan, air matanya kembali jatuh.
“Jangan panggil aku kakak.” Suara Aresha dingin.
“Kamu tidak pernah menganggapku seperti itu.” Aresha memalingkan wajahnya.
“Kamu benar-benar tidak tahu diri.” Reno melangkah maju lagi.
“Aku tahu diri,” balas Aresha lirih.
“Karena itulah aku tidak pernah meminta apa pun lagi dari keluarga ini.” Jawab Aresha. Suasana kembali sunyi.
Beberapa tamu mulai merasa tidak nyaman.
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Aresha?” Delon akhirnya menoleh, suaranya berat.
“Kebenaran. Hanya itu.” Aresha mengangkat wajahnya perlahan.
***