Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Febi Karindra
Febi Karindra, baru dua tahun lulus dari sekolah taruna Akpol dan sudah menyandang gelar Ipda. Sudah ada beberapa kasus krimimal yang dia tangani. Kasus terakhir mempertemukannya dengan Jetro.
Baru kali ini dia agak menperhatikan seorang laki laki yang merupakan pihak terlapor. Laki laki itu tidak sendiri, ada beberapa laki laki lainnya juga. Mereka semua tampan tampan dengan kekhasan masing masing. Tapi yang menarik perhatiannya hanya Jetro, bukan karena yang lain kalah tampan.
Laki laki itu hanya berbicara seperlunya, temannya malah yang banyak bicara. Tapi entah mengapa, tiap dia bicara, laki laki itu selalu menatap tajam manik matanya, membuat jantungnya berdebar cepat.
Febi menghela nafas panjang. Kenapa saat dia bersama tunangannya bertemu laki laki itu, dia merasa bersalah? Apalagi tatap laki laki itu berubah dingin. Hatinya merasa menggigil tiba tiba.
Padahal di antara mereka tidak ada hubungan apa apa.
Tapi malam itu dia berani mengajaknya berdansa, bahkan menci um lehernya.
Saat itu Febi merasa diterbangkan ke langit, tapi kemudian dihempaskan karena laki laki itu pergi meninggalkannya begitu saja.
Febi merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan diri laki laki itu. Mereka seperti terikat tapi jalinan itu tidak terlihat.
Untung tunangannya tidak melihat dia sedang berdansa dengan laki laki itu. Dia tersadarkan ketika mendengar langkah tunangannya, Cakra, yang mendekat.
"Kamu ngapain ke sini?" tegur Cakra.
"Emm.... Aku lagi nyari kamu....." Untung Febi sudah menyiapkan jawabannya.
"Nunggu di tempat tadi aja. Tadi hampir aku tinggal pulang," ketus Cakra sambil melangkah duluan.
"Maaf." Febi hanya bisa mengikuti laki laki itu dengan agak tertunduk.
Dia sudah membiasakan dirinya sejak setahun ini dengan sikap ngga menentu Cakra. Terpaksa menerima karena papanya mengharapkan perjodohan ini.
Febi mengalami dilema. Dia tidak bisa menolak permintaan papanya. Kakaknya yang seharusnya dijodohkan dengan Cakra menolak, jadi dia alternatif terakhir papanya karena beliau hanya memiliki dua anak saja.
Cakra yang merupakan atasannya sepertinya kecewa karena yang dia inginkannya kakaknya. Febi dapat melihat perbedaan sikap Cakra terhadapnya dan kakaknya. Tunangannya lebih lembut jika berbicara dengan kakaknya.
"Kalo menikah nanti, aku tidak ingin seheboh ini. Cukup di kua saja. Ngga perlu pake tradisi pedang pora." Suara Cakra terdengar lagi. Mengintimidasi.
Febi terdongak, menatap punggung laki laki itu yang terus berjalan tiada henti.
Ngga mungkin, sanggahnya dalam hati. Papanya pasti mengharap tradisi itu ada di dalam acara pernikahan mereka.
Tapi Febi tidak mendebatnya. Biar saja Cakra yang mengatakan sendiri pada papanya.
Febi agak celingukan mencari keberadaan laki laki tidak sopan itu di tengah kerumunan banyaknya tamu.
Sayangnya dia harus membuang nafas kecewa karena tidak menemukan keberadaan laki laki itu.
*
*
*
Setahun yang lalu.
Papanya seorang purnawirawan jendral di kepolisian, memintanya dengan penuh harap agar dia mau menjadi istri Cakra.
Cakra Bayu Sumirat adalah anak tunggal dari bawahan papanya dulu di kepolisian. Dulu, di saat keduanya masih muda, papanya Cakra-Danu Sumirat, pernah menyelamatkan papanya-Anggareksa.
Om Danu, begitu dia dan kakaknya-Fiola Adelin memanggilnya, sampai terluka cukup parah. Untungnya masih bisa diselamatkan, tapi membawa akibatnya hingga sekarang. Sebelah kaki Om Danu agak pincang.
"Bagaimana Febi? Kamu mau, kan?"
Febi menatap kakaknya yang mendelikkan mata padanya. Secara umur, usia kakaknya tidak jauh beda dengan Cakra. Hanya selisih dua tahun. Sedangkan dengannya berjarak empat tahun.
"Kak Fio sudah menolak. Papa hanya bisa berharap denganmu, nak," ucap papanya lembut seakan mengerti apa yang ada di pikiran Febi.
Febi menatap kakaknya lagi dengan tatapan aneh. Keheranan memenuhi isi kepalanya. Selama ini kakaknya dan Cakra sangat akrab. Cakra sering menemani acara kakaknya, demikian juga Cakra. Keduanya sudah dilabeli menjadi pasangan yang sangat serasi.
Cakra tampan dan kakaknya yang pramugari sangat cantik. Dia aja iri dengan kecantikan kakaknya yang sudah mendekati level sempurna menurutnya.
"Tapi.... Belum tentu Mas Cakra mau denganku, pa," tolak Febi takut takut. Takut mengecewakan papanya, juga takut menikah dengan orang yang jelas jelas menyukai kakaknya.
"Dia pasti mau. Om Danu Sumirat dari awal menyetujui perjodohan anaknya dengan putri papa. Bahkan Om Danu dan istrinya pasti lebih suka dengan kamu yang sama profesinya sebagai poli si. Kalian akan sering bersama."
"Tapi pa---."
"Papa yakin, Cakra pasti akan mencintai kamu nanti. Kamu sangat cantik, sayang," potong papanya saat putrinya mau membantah lagi.
Fiola berdecak halus saat mendengar kata kata pujian papanya untuk adiknya.
"Mau, ya, sayang," bujuk Anggreksa lagi.
Febi hanya bisa menghela nafas panjang. Tatapan papanya sangat memohon, membuat dia tidak bisa menolaknya.
Akhirnya Febi mengangguk ragu membuat papanya tersenyum bahagia.
"Terimakasih, sayang."
Febi hanya mematung saat papanya memeluknya. Pikirannya masih mengambang. Cita citanya untuk medapat suami yang mencintainya lenyap sudah.
Setelah papanya pergi meninggalkan mereka berdua, Fiola menghampirinya.
"Saatnya kamu membalas kebaikan papa dan aku," ucap Fiola sinis.
Febi menatap kakaknya penuh tanya.
"Karena melahirkan kamu, mama meninggal. Papa kehilangan istri. Aku kehilangan mama. Jadi kamu bisa membalas perbuatan jahat mu sekarang," jelasnya sinis membuat sepasang mata Febi terbelalak. Hatinya seperti ditusuk pisau. Sakit tapi tak berdarah.
Tanpa menunggu jawaban Febi. Fiola melangkah enteng meninggalkan adiknya.
Febi memegang dadanya yang terasa sakit. Dia ngga menyangka kakaknya masih membencinya, seperti waktu mereka masih kecil dulu.
Lagi pula bukan pintanya dilahirkan, apalagi sampai mengorbankan nyawa mamanya.
*
*
*
Om Danu dan istrinya-Tante Marlena bahagia mendengar keputusan Febi.
"Terimakasih, sayang." Tante Marlina langsung merangkul Febi ketika dia bersama papa dan kakaknya datang ke rumah Cakra.
Febi bersyukur dengan sambutan hangat mama dan papanya Cakra. Dia melirik Cakra yang hanya tertunduk saja. Febi yakin kalo Cakra kecewa dengan perjodohan ini, karena yang Cakra mau adalah kakaknya.
Pasti ngga bisa menerima, kan? batin Febi.
Sama, lanjutnya lagi dalam hati.
"Biarkan mereka saling mengenal dulu, Danu, Marlina. Kasih mereka waktu setahun. Setelah itu kita cari tanggal pernikahan," ucap Anggreksa saat mereka sudah berada di meja makan.
"Siap, komandan," jawab Danu kemudian terkekeh.
Anggareksa juga tertawa meresponnya bersama Marlina.
Cakra melirik Fiola yang tampak tenang menikmati makanannya. Tidak ada perasaan bersalah karena sudah menolak dirinya. Malah menyodorkan adiknya. Rahang Cakra mengeras.
Febi melirik interaksi Cakra dan kakaknya, tapi sentuhan lembut Tante Marlina membuat dia mengalihkan tatapnya
"Tambah lagi, Febi, nasinya?" ucap Tante Marlina lembut. Mengerti yang diperhatikan Febi.
"Sudah cukup, tante," tolaknya sopan.
Tante Marlina tersenyum lembut.
"Nanti Febi bilang aja mau makan apa. Tante masakin."
Febi mengangguk haru. Tante Marlina selalu membantu merawat dia dan kakaknya Fiola jika papanya dan Om Danu bertugas ke daerah.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,