Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Mengasah Pisau Batin
Rumah Joglo itu tidak pernah sesunyi ini. Bahkan jangkrik di kebun belakang seolah menahan napas.
Di ruang tengah, Seno duduk bersila di lantai kayu ulin yang dingin. Di hadapannya, terhampar sebuah batu asah alam berwarna abu-abu kehitaman yang basah. Di tangannya, tergenggam sebuah pisau dapur besar—bukan pisau stainless steel pabrikan, melainkan pisau tempaan pandai besi Empu Gandring (versi modern) dengan motif pamor Beras Wutah di bilahnya.
Srek... srek... srek...
Suara gesekan logam dengan batu itu ritmis dan hipnotik. Seno tidak sedang menajamkan mata pisau untuk memotong daging. Dia sedang melakukan jamasan—membersihkan dan menyucikan alat tempurnya.
Alya duduk memeluk lutut di kursi rotan, memperhatikan punggung Seno yang tegang. Amplop hitam undangan maut itu tergeletak di meja, memancarkan aura dingin yang membuat udara di ruangan itu turun beberapa derajat.
"Pak," panggil Alya pelan. "Jumat Kliwon itu besok lusa. Kita... kita beneran mau ke sana?"
Seno berhenti mengasah. Dia mengangkat pisau itu, memeriksa ketajamannya dengan melihat pantulan cahaya lampu di mata pisau. Tajam. Sangat tajam. Bisa membelah rambut yang dijatuhkan di atasnya.
Seno meletakkan pisau itu, lalu mengambil papan tulisnya.
KITA TIDAK PUNYA PILIHAN. KALAU KITA TIDAK DATANG, MEREKA AKAN DATANG KE SINI. DAN RUMAH INI AKAN RATA DENGAN TANAH.
"Tapi Hutan Wanagama itu kan hutan lindung, Pak. Hutan beneran. Bukan pasar, bukan jalanan. Di sana pasti... hantunya lebih liar, kan?"
Seno mengangguk. Hantu kota (urban) biasanya terikat pada bangunan atau benda. Tapi hantu hutan (alam) terikat pada elemen purba. Mereka lebih buas, lebih lapar, dan tidak mengenal negosiasi.
Seno memberi isyarat agar Alya mendekat.
Dia menyerahkan sebuah baskom besar berisi beras putih. Beras kualitas terbaik, Rojolele. Bulir-bulirnya bulat dan wangi pandan.
CUCI BERAS INI. TAPI INGAT: JANGAN HANYA PAKAI TANGAN. PAKAI HATI.
Alya mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Seno menulis lagi.
AIR CUCIAN BERAS (LERI) ADALAH MEDIA PEMBERSIH PALING KUAT. TAPI HANYA JIKA DICUCI DENGAN NIAT SUCI. CUCI SAMPAI AIRNYA BENING SEPERTI AIR MATA YANG IKHLAS. JANGAN ADA PIKIRAN KOTOR, JANGAN ADA RASA TAKUT.
Alya menerima baskom itu. Berat.
Dia membawanya ke sumur timba di belakang dapur.
Alya mulai mencuci. Dia memasukkan tangannya ke dalam butiran beras, meremasnya pelan. Air berubah menjadi putih keruh.
Jangan takut, batin Alya. Jangan takut.
Tapi bayangan hantu tanpa kepala dan pria berjas hitam terus muncul. Air itu tetap keruh.
Alya membuang airnya, mengisi lagi. Cuci lagi.
Aku mau hidup. Aku mau bantu Pak Seno.
Pikiran tentang ayahnya yang jahat muncul. Rasa benci. Air tetap keruh.
Alya frustrasi. Sudah tujuh kali bilasan, airnya belum bening sempurna.
"Susah banget sih!" gerutunya.
Tiba-tiba, tangan kasar Seno memegang bahu Alya.
Seno berdiri di belakangnya. Dia tidak menyentuh berasnya. Dia hanya menempelkan telapak tangannya di punggung Alya, menyalurkan hawa hangat yang menenangkan.
Seno menatap mata Alya lewat pantulan air.
Lepaskan, isyarat matanya berkata. Lepaskan bebanmu. Kamu bukan lagi Alya yang dibuang. Kamu adalah Alya yang dibutuhkan.
Alya menarik napas panjang. Dia memejamkan mata. Dia membayangkan wajah Nisa (hantu mahasiswa) yang tersenyum setelah makan mie. Dia membayangkan Bagas (hantu anak kecil) yang tertawa makan telur gulung.
Rasa hangat menjalar di dadanya. Rasa berguna. Rasa memiliki tujuan.
Alya membuka mata, lalu mencuci beras itu sekali lagi.
Kali ini, gerakannya lembut. Seperti membelai, bukan meremas.
Dia membuang air bilasan kedelapan, lalu mengisi air baru.
Bening.
Air itu jernih, memperlihatkan butiran beras putih di dasarnya dengan sempurna.
Seno tersenyum. Dia menepuk kepala Alya. Lulus.
Malam itu, Seno tidak membuka Warung Tengah Malam di lokasi biasa. Dia meliburkan warungnya. Dia menempelkan tulisan "TUTUP: SEDANG TIRAKAT" di gerobaknya agar para hantu langganan tidak kecewa.
Mereka menghabiskan malam itu untuk persiapan "Perang Kuliner".
Seno membuka lemari rahasianya di ruang kerja. Dia mengeluarkan toples-toples yang belum pernah dilihat Alya.
Madu Hutan Baduy: Madu hitam pekat yang diambil tanpa mantra penjinak lebah, mengandung energi liar.
Terasi Udang Rebon Merah: Terasi yang difermentasi selama 10 tahun di dalam gua kapur. Baunya begitu kuat hingga bisa membangunkan orang mati (secara harfiah).
Gula Aren Lanang: Gula dari pohon aren jantan tunggal.
"Kita mau masak apa sih, Pak, pakai bahan-bahan serem gini?" tanya Alya sambil membungkus terasi itu berlapis-lapis plastik karena baunya menembus dinding.
Seno mengambil secarik kertas tua yang sudah rapuh.
Dia menunjukkannya pada Alya.
Itu adalah resep kuno yang ditulis dengan aksara Jawa Hanacaraka.
Alya menggeleng. "Saya nggak bisa baca Hanacaraka, Pak. Dulu pas pelajaran Bahasa Jawa saya tidur."
Seno mengambil pulpen, menuliskan terjemahannya di bawahnya.
SAMBAL GORENG ATI MAUNG (HARIMAU).
(Catatan: Bukan hati harimau sungguhan, tapi hati sapi yang diolah dengan teknik 'api amarah' untuk menundukkan jiwa yang buas).
"Untuk siapa makanan ini?"
UNTUK RAJA HUTAN WANAGAMA. PENJAGA GERBANG ORDO.
Seno kemudian duduk di kursi goyangnya lagi. Dia terlihat lelah.
Alya memberanikan diri mendekat. Momen ini terasa tepat.
"Pak," kata Alya pelan. "Wanita di foto itu... namanya Ratna, kan?"
Seno menoleh cepat.
Alya melanjutkan sebelum keberaniannya hilang. "Saya lihat ada tulisan 'Ratna' di belakang bingkai fotonya pas Bapak taruh di meja kemarin."
Seno menghela napas. Dia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
Dia mengambil buku sketsa Alya (Alya suka menggambar di waktu luang), lalu mulai menggambar dengan cepat. Seno ternyata pandai menggambar.
Dia menggambar seorang wanita cantik yang terbaring lemah di tempat tidur. Sakit parah.
Lalu dia menggambar dirinya sendiri (versi muda) yang putus asa, sedang bersimpuh di depan sosok bayangan tinggi besar (Sang Penagih).
Lalu gambar terakhir: Wanita itu sembuh, tersenyum, menikah dengan pria lain. Sementara Seno berdiri di kejauhan, di balik bayangan, tanpa suara, memegang sutil masak.
Alya menutup mulutnya. "Bapak menukar suara Bapak... supaya dia sembuh? Tapi... dia nggak nikah sama Bapak?"
Seno menulis di bawah gambar itu:
HARGA NYAWA ADALAH INGATAN. DIA SEMBUH, TAPI DIA LUPA SIAPA SAYA. DIA LUPA SAYA PERNAH ADA. BAGI DIA, SAYA ADALAH ORANG ASING BISU.
"Itu jahat..." bisik Alya, air matanya menetes. "Itu curang."
Seno tersenyum getir.
CINTA TIDAK BUTUH MEMILIKI, ALYA. YANG PENTING DIA HIDUP. DAN MAKANAN SAYA... ADALAH SATU-SATUNYA CARA SAYA "BICARA" PADANYA DULU.
Sekarang Alya mengerti. Kenapa masakan Seno begitu penuh perasaan. Karena selama puluhan tahun, dia menuangkan semua kata-kata cinta yang tak terucap ke dalam bumbu-bumbunya.
"Saya akan bantu Bapak," kata Alya tegas, menghapus air matanya. "Kita akan masak Sambal Goreng itu. Kita akan bungkam mulut orang-orang Ordo itu. Bapak harus hidup. Bapak harus lihat Bu Ratna lagi, walaupun dari jauh."
Seno menatap gadis kecil di depannya. Gadis yang kemarin ingin mati, kini berapi-api ingin mempertahankan hidup orang lain.
Seno mengangguk mantap.
Dia berdiri, mengambil pisau Beras Wutah yang sudah diasah tadi. Dia menyerahkannya pada Alya. Bukan untuk dipakai, tapi untuk disimpan.
INI UNTUK JAGA DIRI. JANGAN DIPAKAI UNTUK MEMBUNUH. PAKAI UNTUK MEMUTUS IKATAN JIKA KAMU TERTANGKAP.
Alya menerima pisau berat itu. Dia menyelipkannya di pinggang celana jeans-nya.
"Siap, Chef."
Subuh datang. Hari Jumat Kliwon telah tiba.
Mereka mengemasi barang-barang ke dalam keranjang motor tua Seno. Tidak ada gerobak kali ini. Ini adalah misi catering lapangan.
Langit berwarna merah darah di ufuk timur. Tanda alam yang kurang baik.
Tapi Alya tidak takut lagi. Dia punya pisau, dia punya garam, dan dia punya guru terbaik.
Motor dinyalakan. Suaranya menderu memecah keheningan pagi.
Mereka berangkat menuju Hutan Wanagama, menuju medan perang di mana wajan dan sutil akan beradu dengan kekuatan kegelapan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.