Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33.Surat jenderal Li.
Langit Perbatasan Utara berwarna kelabu pucat.
Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat dari lembah berbatu yang luas. Udara dingin menggigit sampai ke tulang, membawa aroma logam dari senjata yang terus diasah tanpa henti.
Di lapangan tanah keras, ratusan prajurit bergerak serempak.
Tombak diangkat.
Ditarik.
Dilempar.
Serempak seperti denyut nadi satu tubuh raksasa.
Di ujung lapangan, berdiri seorang pria tua dengan tubuh masih tegap meski usia telah memutihkan pelipisnya.
Jenderal Xi.
Tatapannya tajam mengawasi setiap gerakan bawahannya.
Ia tidak berbicara.
Tidak perlu.
Kehadirannya saja cukup membuat barisan itu disiplin tanpa cela.
Satu gerakan meleset.
Satu langkah terlambat.
Matanya langsung menangkap.
Dan perintah akan turun secepat kilat.
Namun pagi itu—
Perhatiannya teralih.
Bukan oleh prajurit.
Bukan oleh kesalahan latihan.
Tapi oleh sesuatu di langit.
Seekor burung kecil terbang rendah, menembus kabut.
Langsung menuju arahnya.
Jenderal Xi mengangkat tangan perlahan.
Burung itu mendarat di lengannya dengan patuh.
Ia mengenali burung itu.
Burung pembawa pesan pribadi.
Hanya satu orang yang biasa menggunakannya.
Jenderal Li.
Sahabat lamanya.
Sahabat yang sudah puluhan tahun tidak ada kabar, dan sekarang burung pesan milik jenderal Li datang menemuinya.
Alis Jenderal Xi sedikit mengernyit.
“Surat dari Li, ada apa?. ”gumamnya cemas.
Jenderal Li tidak pernah mengirim surat tanpa alasan besar, dan sudah lama dirinya tidak menerima kabar dari teman seperjuangannya itu.
Ia melepas tabung kecil dari kaki burung itu.
Membuka segelnya.
Kertas digulung rapat.
Tangannya yang kasar membuka perlahan.
Dan saat matanya membaca baris pertama—
Wajahnya berubah.
Tidak keras.
Tidak marah.
Tapi terdiam.
Sangat lama.
Angin dingin menyibakkan ujung jubah perangnya.
Ia membaca sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setiap kata terasa seperti palu yang menghantam pikirannya.
Putriku, Li Yun Lan, saat ini berada di Perbatasan Timur. Ia menyamar sebagai prajurit pria menggantikanku atas titah kaisar. Identitasnya tidak boleh terbongkar. Aku mempercayakan keselamatannya padamu seperti aku mempercayakan nyawaku sendiri di medan perang.
Jenderal Xi menutup mata sejenak.
Li Yun Lan.
Putri Li.
Dirinya tidak tahu kalau jenderal Li memiliki anak, karena saat kabar terakhir istrinya hamil tanpa tahu kalau istrinya melahirkan anak pria atau wanita.
Jenderal Xi sudah membayangkan seperti apa putri jenderal Li.
Dia pasti gadis yang keras kepala seperti sahabatnya.
Dia sudah bisa menilai seperti apa gadis pemberani itu, demi mengantikan ayahnya ke medan perang. Dirinya harus mengorbankan hidup nyaman sebagai seorang wanita.
Dan sekarang…
Tiba-tiba pikirannya terhenti pada satu nama.
Hong Lin.
Putranya.
Ia sendiri yang memerintahkan Hong Lin memimpin Perbatasan Timur sementara dirinya menyelesaikan konflik di utara.
Napas Jenderal Xi menjadi berat.
Ini bukan kebetulan.
Ini bukan kebetulan sama sekali.
Putri Li.
Di bawah komando Hong Lin.
Darahnya sendiri.
Dan satu hal lain yang tertulis di bagian akhir surat—
Kalimat yang membuat tatapannya mengeras.
Pasti mereka berdua sudah bertemu, tapi Hong lin pria yang penuh curiga.
Tangan Jenderal Xi perlahan mengepal.
Lalu dirinya ingat dengan janji mereka berdua, saat pertemuan terakhir kalinya.
Dimana mereka berdua berjanji, jika anak jenderal Li seorang pria maka akan dijadikan saudara Hong lin. Tapi jika wanita akan dijadikan istri masa depan Hong lin.
Lalu tawa keras jenderal Xi mengema di kamp pelatihan perbatasan utara, yang membuat para prajurit yang berlatih menghentikan latihannya dan melihat kearah jenderal mereka.
Komandan Zu berjalan mendekati jenderal Xi yang masih tertawa bahagia. “Jenderal, ada kabar apa yang dibawa oleh burung pembawa pesan itu. ”
“Zu, lanjutkan mengawasi mereka. Aku mau masuk kedalam dulu, karena hari ini aku mendapatkan kabar gembira. ”
“Baik jenderal. ”
Tanpa banyak tanya, Zu mengantikan tugas jenderal Xi. Sedangkan jenderal Xi, masuk kedalam baraknya.
Di dalam barak komando, udara terasa lebih hangat.
Bukan karena api perapian.
Tapi karena dada Jenderal Xi yang masih dipenuhi gelombang emosi yang belum sepenuhnya reda.
Ia menutup tirai pintu.
Menyisakan dunia di luar.
Menyisakan dirinya sendiri… dan surat dari sahabat lamanya yang masih tergenggam di tangan.
Perlahan, ia duduk di kursi kebesarannya.
Kursi kayu tua yang sudah menemaninya di puluhan pertempuran.
Kursi yang selalu menjadi saksi keputusan-keputusan besar yang mengubah nasib ribuan prajurit.
Namun kali ini—
Keputusan yang akan ia ambil bukan tentang perang.
Bukan tentang strategi.
Bukan tentang musuh.
Tapi tentang dua anak muda yang tidak tahu apa-apa.
Hong Lin.
Dan Li Yun Lan.
Jenderal Xi menghela napas panjang.
Matanya menatap kosong ke depan, tapi pikirannya bergerak jauh ke masa lalu.
Ia ingat hari itu.
Hari terakhir ia bertemu Jenderal Li sebelum berpisah ke perbatasan masing-masing.
Mereka duduk di depan api unggun.
Tertawa keras.
Minum arak murah.
Dan membuat janji yang terasa seperti lelucon pada saat itu.
“Kalau anakmu laki-laki, jadikan dia saudara angkat Hong Lin.”
“Kalau perempuan?”
“Jadikan saja istri masa depannya.”
Dan mereka tertawa keras.
Tertawa seperti dua prajurit yang merasa hidup mereka masih panjang.
Tidak ada yang menyangka janji itu akan benar-benar datang menghampiri mereka.
Jenderal Xi menatap meja kayu di depannya.
Lalu ia meraih kertas kosong.
Tinta.
Kuas.
Tangannya berhenti beberapa detik di atas kertas.
Bukan karena ragu.
Tapi karena ia tahu—
Surat ini akan mengubah banyak hal di Perbatasan Timur.
Kuas itu akhirnya menyentuh kertas.
Goresannya tegas.
Berwibawa.
Seperti perintah yang tidak boleh dibantah.
Hong Lin,
Surat ini hanya boleh dibaca olehmu. Tidak oleh perwira, tidak oleh pengawal, tidak oleh siapa pun.
Ia berhenti sebentar.
Menarik napas.
Lalu melanjutkan.
Prajurit bernama Li Yun Lan di pasukanmu bukanlah pria.
Ia adalah putri Jenderal Li.
Tangan Jenderal Xi tidak gemetar.
Tapi matanya mengeras.
Ia tahu betul bagaimana putranya.
Hong Lin bukan pria yang mudah dibodohi.
Jika instingnya mulai bekerja, identitas Yun Lan hanya tinggal menunggu waktu untuk terbongkar.
Dan jika itu terjadi di tengah kamp militer—
Akan ada kegaduhan.
Kecurigaan.
Dan bahaya.
Kuasnya bergerak lagi.
Ia berada di sana atas titah kaisar, menggantikan ayahnya.
Identitasnya tidak boleh terbongkar dalam keadaan apa pun.
Lalu kalimat yang paling berat.
Ia adalah gadis yang telah dijanjikan untukmu sejak kecil.
Jenderal Xi berhenti menulis.
Menatap kalimat itu lama.
Takdir benar-benar punya cara yang aneh untuk mempertemukan orang.
Dua anak muda itu mungkin sudah bertemu.
Sudah saling curiga.
Sudah saling menilai.
Tanpa tahu bahwa hubungan mereka jauh lebih dalam dari sekadar panglima dan prajurit.
Kuasnya kembali bergerak.
Keluarkan dia secara diam-diam dari pasukan reguler.
Jadikan ia di bawah pengawasan pribadimu.
Lindungi dia tanpa membuat siapa pun curiga.
Tinta di ujung kuas mulai menipis.
Tapi pikirannya semakin jernih.
Jangan biarkan dia tahu kebenaran ini dulu. Waktunya belum tepat.
Dan jangan biarkan siapa pun mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Kalimat terakhir ia tulis dengan tekanan lebih kuat.
Ini bukan hanya perintah sebagai jenderal. Ini permintaan seorang ayah.
Ia meletakkan kuas perlahan.
Menggulung surat itu dengan rapi.
Menyegelnya dengan cap pribadinya.
Segel keluarga Xi.
Segel yang hanya boleh dibuka oleh Hong Lin sendiri.
Jenderal Xi berdiri.
Langkahnya berat tapi pasti.
Ia membuka tirai pintu dan memanggil dengan suara tenang namun tegas.
“Zu.”
Tidak lama, Komandan Zu masuk dengan langkah cepat.
Ia berhenti dua langkah dari meja.
Membungkuk hormat.
“Jenderal.”
Jenderal Xi menatapnya lama.
Zu bukan hanya bawahannya.
Ia adalah tangan kanan yang sudah bersamanya lebih dari dua puluh tahun.
Pria yang tidak banyak bertanya.
Dan tidak pernah gagal menjalankan perintah.
“Ambil surat ini.”
Zu menerimanya dengan dua tangan.
Namun sebelum ia sempat bertanya, Jenderal Xi sudah berbicara lebih dulu.
“Surat ini harus sampai langsung ke tangan Hong Lin.”
Tatapannya tajam.
“Tidak boleh diwakilkan. Tidak boleh dibaca. Tidak boleh berhenti di mana pun.”
Zu mengangguk pelan.
Wajahnya serius.
“Saya mengerti.”
“Berangkat sekarang juga. Gunakan kuda tercepat. Jangan ambil jalur utama.”
Zu sedikit mengangkat wajahnya.
Ia tahu.
Jika Jenderal Xi sampai memerintahkan jalur rahasia, berarti isi surat itu bukan hal biasa.
“Tiba di Perbatasan Timur, temui Hong Lin secara pribadi. Pastikan ia membuka surat ini di depanmu.”
“Baik, Jenderal.”
Jenderal Xi melangkah mendekat.
Menepuk pundak Zu pelan.
Gerakan kecil yang jarang ia lakukan.
“Kesalahan sekecil apa pun tidak boleh terjadi.”
Tatapan Zu mengeras.
“Saya akan mempertaruhkan nyawa saya.”
Jenderal Xi mengangguk.
“Pergilah.”
Tanpa banyak kata, Zu berbalik.
Langkahnya cepat keluar dari barak.
Beberapa menit kemudian, suara derap kuda terdengar menjauh dari perbatasan utara.
Jenderal Xi berdiri di pintu baraknya.
Menatap ke arah selatan.
Ke arah Perbatasan Timur.
Ke arah tempat di mana rahasia besar sedang berjalan tanpa diketahui siapa pun.
Hong Lin.
Yun Lan.
Kalian berdua tidak tahu apa-apa.
Dan mungkin…
Itu yang membuat semuanya menjadi lebih berbahaya.
nanti bisa berubah tor dari geregetan jadi bosen