Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alma melahirkan
"Ini, ini kunci lemari pakaian aku, kak." Jawab Alma setengahnya gugup.
Zahrin yang tidak tahu menahu terkait kunci apa itu percaya saja ke Alma. Dan Zahrin juga tidak memperpanjang nya.
Alma kemudian menarik tangan Zahrin untuk diajaknya ke bawah. Armand yang sembunyi di balik pintu mendengarkan semuanya. Dimana terlihat Alma gugup jika kunci pintu ruangan rahasia nya sampai jatuh ke tangan orang lain.
Dua bulan kemudian.
Rasanya baru kemarin, Alma mengadakan acara tujuh bulanan. Namun malam itu, perut Alma mengalami kontraksi hebat dan kemungkinan melahirkan beberapa hari lebih awal dari tanggal yang sudah dijadwalkan oleh dokter. Armand segera membawa Alma ke rumah sakit bersalin. Dimana Alma yang kesakitan dan Armand juga tidak tega melihat Alma kesakitan seperti itu. Armand yang sedikit panik berusaha menghubungi ibu Olivia dan pak Hanung. Armand memberi tahu keduanya jika Alma kemungkinan akan melahirkan malam itu atau mundur esok paginya.
"Kalau begitu mama dan papa kesana." Jawab ibu Olivia yang setelahnya memberi tahu pak Hanung untuk segera pergi ke rumah sakit.
"Iya, ma. Saya tunggu." Jawab Armand yang kemudian menutup ponsel nya. Setelahnya Armand menuju ruangan Alma. Sesaat setelah Armand kembali ke ruangan Alma, dokter memeriksa kembali kondisi Alma. Alma yang terus-terusan meringis kesakitan membuat Armand jujur tidak tega kepada istrinya.
Setelah tiga puluh menit berlangsung. Ibu Olivia dan pak Hanung datang. Melihat Alma yang demikian kesakitan, lagi-lagi pak Hanung tidak tega kepada putrinya.
"Mas, aku sudah tidak kuat, sakit. Sakit." Rintihan Alma sembari memegangi perutnya yang mulas-mulas hebat saat Armand berusaha membuat Alma tenang dan meyakinkan Alma kalau dia akan baik-baik saja.
"Sabar ya, Al. Sebentar lagi dokter datang." Armand yang seakan ikut merasakan sakitnya Alma.
Akhirnya dokter datang. Karena tidak ada perkembangan untuk dapat melahirkan normal. Dokter menyarankan untuk sebaiknya dilakukan operasi Caesar. Baik dari ibu Olivia dan pak Hanung berikut Armand langsung menyetujuinya. Mengingat mereka tampaknya kasihan terhadap Alma yang sudah beberapa jam merintih kesakitan.
Tepatnya pukul tujuh pagi, Alma masuk ke ruangan operasi. Armand yang mendampingi Alma dan memegangi tangan Alma supaya Alma tidak khawatir terhadap operasi nya. "Kamu tidak perlu khawatir, ya, aku akan di sampingmu. Kamu, bayi kita akan baik-baik saja." Ujar Armand sembari mengelus-elus kening Alma. Menenangkan Alma, supaya dokter melaksanakan tugasnya. Selama kurang lebih empat puluh lima menit, terdengar suara bayi menangis. Armand terharu melihat putra nya diperlihatkan dokter padanya yang kemudian diperlihatkan ke Alma. Alma lega sekaligus menangis haru, melihat bayi mungilnya lahir ke dunia. Alma bahkan hampir tidak percaya, jika sebentar lagi dia akan dipanggil mama oleh anak nya. Alma yang memandangi bayi mungilnya yang masih menangis dalam gendongan perawat.
Operasi Caesar Alma selesai. Alma dipindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Armand, dia segera menemui dokter Vanya di ruangan nya.
"Silahkan masuk." Sahut dokter Vanya dari dalam ruangan. "Dengan bapak Armand, ya?" Tanya dokter Vanya.
"Iya." Jawab Armand yang tidak bersemangat. Armand lalu duduk di hadapan dokter Vanya.
Dokter menyodorkan map hijau tua diatas meja kepada Armand. "Jika bapak perlu waktu, bapak bisa baca di rumah. Karena jujur tes DNA seperti ini butuh kesiapan mental. Mengingat bapak ragu terhadap anak dalam kandungan istri bapak. Jadi semisal hasil tes DNA ini tidak sesuai yang bapak harapkan, minimal bapak sudah berbesar hati untuk menerima nya."
"Saya sudah siap, dok." Jawab Armand.
"Sekali lagi saya tanya, apakah bapak benar-benar sudah siap? Atau mungkin bapak mau berpikir kembali?" Dokter Vanya meyakinkan lagi kepada Armand.
"Saya siap, dok. Lebih cepat lebih baik." Jawab Armand tak ada keraguan meskipun jantungnya deg-degan. Dia hanya ingin memastikan jika Alma benar-benar mengandung anak nya. Terlebih selama dia berada di Amerika, Alma tidak pernah sekalipun memberitahunya terkait kehamilan nya. Terlebih dengan pria yang bernama Regi, Alma bahkan memiliki ruang khusus untuk menyimpan kenangan apapun tentang pria itu.
Armand yang sudah siap berjalan menuju ruangan laboratorium. Seperti yang disarankan oleh dokter Vanya. Armand menyerahkan berkas berisi lembaran persetujuan terkait tes DNA yang dia ajukan. "Maafkan aku, Al." Lirih Armand yang membubuhkan tanda tangan diatas lembaran kertas terkait tes DNA yang dia lakukan. Selesai tanda tangan, Armand tampak gusar. Benar kata dokter Vanya, Armand memang harus menyiapkan hatinya untuk bisa menerima segala kemungkinan hasilnya. Armand duduk di depan ruangan laboratorium dengan perasaan bimbang. Terlihat sedikit stress, menyandarkan kepalanya pada dinding, sekelebat membayangkan wajah putra nya yang masih mungil tanpa dosa. Armand mulai diserang rasa takut, jika dan jika anak yang dikandung Alma bukanlah darah dagingnya. Armand yang kemudian pergi dan meminta izin ke perawat untuk melihat putranya di ruangan bayi. Armand menggendong bayi itu dan memperhatikan dengan seksama. Menimang-nimang bayi itu dengan rasa bersalah, mengapa dia harus mengajukan tes DNA? "Maafkan papa ya, nak. Papa harus lakukan itu, supaya tidak ada keraguan papa lagi terhadap mu." Batin Armand berbicara.
Langkah Armand semakin bimbang. Antara ingin menarik kembali berkas tes DNA yang sudah dia ajukan atau tetap meneruskan. Langkahnya gontai, tidak bersemangat dan wajahnya mulai kusut memikirkan langkah berani sekaligus Armand tidak tahu apa yang harus dia lakukan semisal hasilnya tidak sesuai harapan.
Sekembalinya Armand dari ruang laboratorium. Pak Hanung yang menarik tangan Armand untuk tidak membuka pintu ruangan Alma. "Papah." Armand terkejut. "Ada apa, pah?" Lanjutnya.
"Alma masih tidur, sebaiknya kamu tidak masuk dulu. Kamu dari mana?" Tanya pak Hanung.
"Em, Armand dari toilet, pah."
"Benarkah? Apa kamu tidak bohong?"
"Maksud papah?" Armand yang bingung.
"Kalian kenapa ngobrol di depan ruangan Alma? Ngobrolnya kan bisa di kantin rumah sakit. Sambil minum teh hangat." Ibu Olivia yang kemudian mengajak kedua nya ke kantin rumah sakit sembari menunggu Alma bangun dari tidur.
"Kamu mau makan apa, Armand?" Tanya ibu Olivia yang menyodorkan gambar menu.
"Aku apa aja, ma." Jawab Armand yang masih diliputi rasa bersalah sekaligus kebimbangan.
"Yaudah, bakso tulang lunak ya, Mand. Mama juga mau coba, nih. Bakso halilintar. Hehehe. Seperti apa coba rasanya?" Ibu Olivia melemparkan tawa kecil ketika mau coba pesan bakso halilintar. "Kalau papah mau pesan apa?" Ibu Olivia yang menoleh ke suaminya.
Namun yang ada seperti kemarahan. Pak Hanung yang kemudian berdiri tanpa menjawab pertanyaan ibu Olivia terlebih dahulu. "Papah mau ke toilet." Jawab pak Hanung, bersamaan ibu Olivia dan Armand serentak menatap ke arah pak Hanung.
Ibu Olivia agak heran dengan suaminya. Karena tidak biasanya suaminya bersikap seperti itu.
Beberapa detik kemudian Armand menerima panggilan di ponselnya yang tidak lama itu. "Papah." Batin Armand saat memeriksa ponsel nya.
Ya, sengaja pak Hanung hanya telepon Armand sebentar lalu dimatikan, supaya Armand melihat ponselnya yang sudah dikirimi dia pesan.
Papa mau bicara serius. Papa tunggu di halaman parkir belakang rumah sakit. Pesan pak Hanung kepada Armand.
"Papah mau bicara serius? Apa?" Batin Armand.
Bersambung