Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Antara Bedah dan Peluru
Pintu baja berat level bunker bergetar hebat. Suara dentuman logam yang dihantam bahan peledak shaped charge menggema di ruangan tertutup itu, menciptakan frekuensi yang menyakitkan gendang telinga.
Debu semen jatuh dari langit-langit, mengotori layar monitor yang kini menampilkan visual dari kamera lobi, sekelompok pria berseragam taktis abu-abu, pasukan khusus Luca, merangsek masuk melewati sisa-sisa pintu lift yang hancur.
"Enzo, sektor empat! Aktifkan gas saraf non-lethal di lorong masuk!" perintah Harry parau. Suaranya terdengar stabil meskipun keringat dingin membanjiri pelipisnya.
Kayra berdiri terpaku, jas medisnya yang tadinya putih bersih kini menyerupai kanvas abstrak berwarna merah kecokelatan. Ia melihat Harry mengokang pistol dengan gerakan yang begitu efisien, seolah senjata itu adalah perpanjangan dari lengannya sendiri. Pria ini sedang sekarat secara medis, namun secara insting, ia adalah mesin perang paling mematikan yang pernah Kayra lihat.
"Dokter, masuk ke bawah meja komando. Jangan keluar sampai aku yang memanggilmu," Harry memberikan perintah tanpa menoleh.
"Harry, luka jahitmu—"
"Masuk!" bentak Harry.
Tepat saat Kayra berlindung di balik panel baja meja komando, pintu bunker jebol. Keheningan pusat komando pecah oleh rentetan suara senapan serbu.
RATATATATAT!
Percikan api memercik dari peralatan elektronik yang tertembak. Kayra meringkuk, memeluk lututnya dengan tangan yang masih gemetar.
Di tengah desing peluru yang memantul di dinding baja, ia mendengar suara Harry. Pria itu tidak berteriak panik, ia melepaskan tembakan dengan irama yang tenang dan mematikan. Setiap letusan dari pistol Harry diikuti oleh suara tubuh yang jatuh berdebam di lantai beton.
"Tuan, sayap kiri ditembus!" teriak Enzo di sela-sela baku tembak. "Guntur terkena tembakan di leher!"
Guntur. Kayra mengenal nama itu. Pria raksasa yang tadi membantunya mengangkat brankar Harry saat evakuasi helikopter.
"Bawa dia ke belakang meja komando!" raung Harry.
Beberapa detik kemudian, tubuh raksasa Guntur diseret oleh rekan setimnya ke arah tempat Kayra bersembunyi. Darah menyembur dari leher pria itu, membasahi lantai beton dengan kecepatan yang mengerikan. Guntur terbatuk, mengeluarkan busa darah dari mulutnya.
"Dokter! Lakukan sesuatu!" Enzo berteriak sambil terus membalas tembakan ke arah pintu.
Ketakutan Kayra seolah terputus seketika. Amarah dan protesnya tentang "hidup tenang" menguap, digantikan oleh mekanisme pertahanan yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun, insting menyelamatkan nyawa. Ia merangkak keluar dari tempat persembunyiannya, mengabaikan peluru yang mungkin saja menyerempet kepalanya.
"Tekan lukanya dengan kain ini! Sekarang!" Kayra memerintah asisten taktis yang menyeret Guntur.
Kayra merobek tas medis darurat yang tersampir di meja. Guntur mengalami trauma tembus pada arteri karotis atau vena jugularis. Wajah pria raksasa itu mulai membiru karena darah menyumbat jalan napasnya.
"Aku butuh klem! Dan cahaya!" teriak Kayra di tengah kebisingan perang.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik kerah baju seorang penjaga untuk berdiri di depan Kayra sebagai tameng manusia, sementara tangan lainnya mengarahkan senter taktis ke leher Guntur. Itu Harry. Ia berdiri tegak di tengah hujan peluru, melindunginya.
"Lakukan, Kayra," bisik Harry di tengah desing mesiu. "Selamatkan dia, seperti kau menyelamatkanku."
Di bawah cahaya senter yang bergoyang, Kayra bekerja. Jarinya yang mungil masuk ke dalam lubang peluru di leher Guntur, mencari pembuluh darah yang pecah di tengah genangan darah yang licin. Suara tembakan di sekelilingnya seolah menjadi suara latar yang jauh. Ia menemukan arterinya, menjepitnya dengan klem vaskular darurat, dan mulai melakukan trakeostomi darurat dengan pisau bedah kecil agar Guntur bisa bernapas.
Crrrk.
Udara masuk ke paru-paru Guntur dengan suara siulan tajam. Pria itu mulai bernapas kembali.
"Dia stabil untuk sementara. Tapi dia butuh ruang operasi segera!" lapor Kayra, wajahnya kini sepenuhnya berlumuran darah pasiennya.
"Kerja bagus, Dokter," gumam Harry.
Namun, saat ia hendak kembali menembak, tubuh pria itu terhuyung. Harry jatuh bertumpu pada satu lutut, tangannya mencengkeram dadanya sendiri. Perban putihnya kini hitam sepenuhnya oleh darah.
"Harry!" Kayra menangkap bahu pria itu.
"Aku ... tidak apa-apa," desis Harry, giginya bergeletuk menahan nyeri yang luar biasa. "Enzo ... ledakkan sektor lima. Kita gunakan jalur pembuangan darurat menuju dermaga bawah tanah."
"Tapi Tuan, itu berarti kita meledakkan seluruh mansion di atas kita!"
"Lakukan!" perintah Harry mutlak.
Enzo menekan tombol pada panel kontrol. Sebuah hitungan mundur dimulai. Sepuluh detik.
Harry menatap Kayra. Di tengah kekacauan, ledakan, dan bau belerang yang menyengat, pria itu meraih tengkuk Kayra dan menariknya hingga dahi mereka bersentuhan. Napas Harry terasa panas dan pendek.
"Kau lihat, Kayra?" bisik Harry dengan senyum tipis yang tampak sangat berbahaya di wajahnya yang pucat. "Duniaku adalah api. Dan kau baru saja membuktikan bahwa kau bisa menari di dalamnya tanpa terbakar."
BOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh bunker. Mansion mewah di atas mereka runtuh, mengubur pasukan Luca di bawah ribuan ton beton. Namun, lantai bunker itu terbelah, menyingkap jalur rahasia menuju terowongan yang mengarah langsung ke laut.
Harry menarik Kayra berdiri, memaksanya untuk terus melangkah di sampingnya melewati terowongan gelap yang lembap. Kayra merasa kakinya lemas, namun genggaman tangan Harry di pergelangan tangannya terasa seperti satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak tenggelam dalam kegilaan ini.
Saat mereka mencapai ujung terowongan, aroma laut yang asin menyambut mereka. Sebuah kapal cepat berwarna hitam legam dengan mesin yang sudah menderu menunggu di dermaga tersembunyi.
"Naik!" perintah Harry.
Kayra menoleh ke belakang, ke arah reruntuhan mansion yang mengepulkan asap hitam di kejauhan. Hidupnya, ketenangannya, dan identitasnya sebagai dokter desa telah lenyap sepenuhnya. Ia kini berdiri di atas kapal milik seorang buronan internasional, bersiap menembus ombak menuju antah berantah.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Kayra parau.
Harry berdiri di buritan kapal, menatap laut lepas dengan pandangan yang tak terbaca. "Ke tempat di mana Luca tidak bisa menjangkaumu. Dan tempat di mana kau tidak punya pilihan selain tetap berada di sisiku."
Kapal itu melesat membelah ombak, meninggalkan daratan Elara yang kini hanya menjadi memori berdarah. Kayra duduk di samping Harry, memperhatikan pria itu yang mulai kehilangan kesadaran lagi akibat kelelahan dan pendarahan. Ia meraih tangan Harry, memeriksa denyut nadinya, dan menyadari sebuah kenyataan pahit.
Ia telah menyelamatkan nyawa iblis ini berkali-kali dalam satu malam. Dan sekarang, ia mulai menyadari bahwa mungkin, hanya sang iblis inilah yang sanggup melindunginya dari iblis lain yang lebih kejam di luar sana.
"Harry ...," bisik Kayra pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu pria itu yang keras. "Kau berjanji akan menjagaku tetap bernapas. Jangan berani-berani mati sekarang!"
Harry hanya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, namun ia mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Kayra, sebuah perjanjian tanpa kata di atas aspal dan air yang berdarah.