NovelToon NovelToon
Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Romantis / Mafia / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.

​Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PERJAMUAN PARA SERIGALA

Mansion Moretti malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Julian meletakkan sebuah kotak hitam di atas tempat tidurnya sore tadi. Isinya bukan gaun sutra yang lembut, melainkan setelan tuksedo wanita berwarna hitam pekat dengan potongan tajam yang memeluk tubuhnya seperti baju zirah.

Elara menatap pantulannya di cermin.

Tangannya dingin, dan napasnya terasa pendek setiap kali ia mengingat siapa yang akan ia hadapi di bawah sana. Ia bukan lagi mahasiswi yang bebas; ia adalah pusat badai.

"Gunakan luka itu sebagai peringatan, bukan kelemahan," ucap Julian yang muncul di ambang pintu. Pria itu sudah rapi dengan setelan formalnya, namun matanya memancarkan kegelisahan yang ia sembunyikan dengan sempurna.

Elara menyentuh luka gores di pipinya yang mulai mengering. "Kau ingin aku terlihat seperti martir, atau seperti monster?"

"Aku ingin kau terlihat seperti seseorang yang tidak bisa mereka beli," jawab Julian pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan protektif.

Ruang makan utama mansion diubah menjadi ruang sidang yang megah namun mencekam. Lima pria tua duduk di meja panjang, dipimpin oleh pria yang wajahnya paling ia benci—Baron Vane.

Saat Elara masuk mendampingi Julian, suasana seketika menjadi sunyi. Elara merasakan sensasi panas di tengkuknya, tempat microchip itu tertanam, seolah bereaksi terhadap ketegangan di ruangan. Kakinya sempat goyah, namun ia segera menguatkan diri.

"Duduklah, Aset 01," suara Baron Vane bergema, datar tanpa emosi.

"Namaku Elara," potong Elara. Suaranya sedikit bergetar di awal, namun berakhir dengan tegas. Ia tidak ingin mereka lupa bahwa yang berada di depan mereka adalah manusia, bukan sekadar perangkat keras.

Julian yang duduk di sampingnya tidak mencegahnya. Namun, Elara bisa melihat jari-jari Julian yang berada di atas meja bergerak sedikit, menunjukkan bahwa pria itu pun sedang berada di bawah tekanan besar.

"Malam ini adalah ujian," ucap Vane tanpa mempedulikan protes Elara. "Tunjukkan pada kami bahwa 'Silk' masih berada di bawah kendali Moretti. Aktifkan enkripsi data melalui impuls sarafmu sekarang."

Sebuah perangkat pemindai diletakkan di depan Elara. Waktu dimulai.

30... 25...

Elara memejamkan mata. Rasa sakit mulai menyerang tengkuknya, menjalar ke tulang belakang seperti ribuan jarum panas. Ia merasa mual. Peluh dingin membasahi keningnya. Aku bukan alat, aku bukan alat, bisiknya dalam hati.

10... 5...

Tepat pada detik terakhir, Elara berhenti melawan rasa sakit itu. Ia memeluknya, mengubah rasa perih itu menjadi amarah terhadap orang-orang yang telah merampas hidupnya.

Bip.

Lampu hijau menyala terang. Ribuan baris kode enkripsi meluncur di udara ruang makan tersebut, menciptakan cahaya biru yang memantul di mata para serigala yang haus kekuasaan itu.

"Aku sudah memberikan apa yang kalian mau," ucap Elara setelah proyeksi itu menghilang. Suaranya kini terdengar sangat rendah dan lelah, namun mematikan. "Tapi ingat satu hal. Jika kalian mencoba mengambilnya secara paksa... aku akan memastikan data ini hancur bersamaku."

Baron Vane menatap Elara dengan pandangan baru—bukan lagi sebagai mangsa, melainkan sebagai ancaman nyata yang harus diwaspadai.

Keheningan menyelimuti ruang makan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas, seolah takut suara sekecil apa pun akan memicu sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Baron Vane akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi. Jemarinya yang kurus mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan, penuh perhitungan. “Ancaman yang berani,” ucapnya, suaranya tetap tenang namun kini mengandung kehati-hatian.

“Ancaman seperti itu hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang tahu nilainya sendiri.”

Salah satu anggota Dewan mencondongkan tubuh ke depan. “Atau oleh seseorang yang terlalu naif untuk memahami konsekuensinya.”

Elara mengangkat dagunya. Tengkuknya masih berdenyut nyeri, namun ia tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan. “Aku sudah memahami konsekuensi sejak kalian menanamkan benda itu ke tubuhku,” jawabnya datar. “Sejak saat itu, hidupku bukan lagi milikku. Jadi jangan harap aku takut kehilangan sesuatu yang sudah kalian ambil.”

Julian akhirnya berbicara. Suaranya rendah, terkontrol, namun mengandung tekanan yang tajam. “Ujian sudah selesai. Aset berfungsi. Ancaman dari luar sudah cukup untuk satu malam.” Tatapannya menyapu seluruh anggota Dewan. “Atau kalian ingin menguji seberapa stabil enkripsi itu jika Elara berada di bawah tekanan tambahan?”

Baron Vane menyipitkan mata, menimbang. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat tangannya memberi isyarat halus. Perangkat pemindai ditarik pergi.

“Malam ini cukup,” putusnya. “Namun ingat, Elara. Serigala tidak melupakan mangsa yang berani menatap balik.”

Elara tidak menjawab. Ia berdiri perlahan, merasakan kakinya sedikit gemetar, namun tetap melangkah dengan punggung tegak saat meninggalkan ruangan bersama Julian. Baru setelah pintu tertutup di belakang mereka, Elara menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

“Ini baru permulaan,” ucap Julian pelan, tanpa menoleh.

Elara mengepalkan tangannya. “Aku tahu,” balasnya. “Dan mulai sekarang, aku tidak akan hanya bertahan.”

Di balik dinding-dinding mansion Moretti, para serigala mulai menghitung langkah mereka berikutnya. Namun untuk pertama kalinya, mereka sadar—badai yang mereka ciptakan kini telah memiliki kehendaknya sendiri.

1
YuWie
wis pasraho wae elara..
YuWie
hmm latar cerita luar negri ya
Cerrys_Aram: Iya, tadinya konsepnya Indo. Tapi setelah dipikir lagi, konflik dan karakternya lebih cocok kalau latarnya luar negeri.
total 1 replies
YuWie
mulai baca
Arifinnur12
Keren sih iniiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!