NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Aku menatap tajam ke arah Bram, rahangku mengeras menahan amarah.

"Talak aku sekarang, Mas! Aku tidak sudi kembali hidup bersama laki-laki seperti kamu!"

Bram justru tertawa keras. Tawanya penuh ejekan.

"Hahaha… Rania, Rania. Perempuan seperti kamu memang terlalu polos. Sedikit drama, sedikit tangisan, lalu merasa paling tersakiti."

Ia mendekat satu langkah. Tatapannya dingin menelanjangiku.

"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu," ucapnya tegas. "Setidaknya sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau."

Dadaku terasa sesak.

"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanyaku getir.

Bram tersenyum tipis, senyum yang membuat hatiku semakin muak.

"Keturunan."

Aku terdiam beberapa detik, lalu tertawa pahit.

"Jadi benar… aku cuma rahim pengganti untukmu?"

Bram tidak terlihat tersinggung sama sekali.

"Anggap saja begitu."

Kali ini air mataku benar-benar jatuh. Bukan karena lemah, tapi karena terlalu kecewa.

"Kamu menjijikkan, Mas."

Wajah Bram langsung mengeras.

Namun aku tidak peduli lagi.

"Kalau kamu pikir aku akan terus diam dan menuruti semua kemauanmu… kamu salah besar."

Aku menatapnya lurus, tanpa rasa takut.

"Mulai sekarang, hidupku bukan lagi milikmu."

Aku langsung membalikkan tubuhku. Kali ini benar-benar tanpa menoleh lagi padanya.

Di dalam dadaku hanya ada satu perasaan—benci.

Benci pada laki-laki yang dulu begitu aku cintai.

Dadaku terasa sesak. Sakitnya seperti ada sesuatu yang diremas kuat-kuat di dalam sana.

Ya Tuhan… kuatkan aku.

Aku menggigit bibirku keras menahan tangis yang semakin pecah.

Alea…

Nama anakku itu terlintas di kepalaku. Hanya dia yang membuatku masih berdiri sampai sekarang.

"Ya Allah…" bisikku lirih dengan suara bergetar. "Kalau ini memang takdir dari-Mu… tolong sabarkan aku."

Air mataku terus mengalir tanpa henti. Rasanya seperti tidak ada lagi yang tersisa dari hatiku selain luka.

Selama ini aku bertahan. Bertahan demi rumah tangga yang ternyata hanya aku sendiri yang memperjuangkannya.

Tapi sekarang… sudah cukup.

Aku menyeka air mataku dengan punggung tangan, meski tangis itu masih terus keluar.

"Aku akan urus surat cerai itu sendiri," gumamku pelan namun penuh tekad.

Meski Bram menolak menceraikanku… aku tidak akan menyerah.

"Tiga puluh juta…" suaraku hampir tak terdengar.

Jumlah itu terasa sangat besar bagiku.

Aku bahkan tidak tahu harus mendapatkannya dari mana.

Tapi satu hal yang aku tahu…

Demi Alea… aku harus kuat.

Meski aku harus bekerja siang dan malam… meski aku harus menahan lapar…

Aku akan tetap melakukannya.

Karena lebih baik hidup susah bersama anakku…

--

Keesokan harinya aku sudah bersiap sejak pagi.

Aku berdiri di depan cermin beberapa saat. Wajahku terlihat pucat dan mata ini masih sembab karena semalaman menangis. Rambutku aku ikat sederhana ke belakang.

Hari ini… aku akan mengakhiri semuanya.

Aku melangkah keluar rumah dengan hati yang berat, namun penuh tekad.

Aku sudah yakin untuk bercerai dengan Bram. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dari pernikahan yang hanya penuh luka itu.

Selama ini aku bertahan… berharap suatu hari dia akan berubah.

Tapi harapan itu ternyata hanya membuat hatiku semakin hancur.

Di depan rumah, Arumi sudah menungguku. Begitu melihatku, dia langsung mendekat dan menggenggam tanganku erat.

"Ran…" ucapnya pelan, menatap wajahku dengan khawatir.

Aku mencoba tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja, Rum," kataku, meskipun suaraku masih terdengar lemah.

Arumi menggeleng pelan.

"Kamu nggak perlu pura-pura kuat di depanku."

Dadaku kembali terasa sesak, tapi aku menahan air mata yang hampir jatuh.

"Aku sudah yakin, Rum," kataku lirih. "Aku mau bercerai dengan Bram. Sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan."

Arumi mengangguk lalu memelukku erat.

"Aku dukung kamu, Ran. Apa pun keputusanmu… aku selalu di pihakmu."

Pelukan itu membuat hatiku sedikit hangat di tengah semua rasa sakit ini.

Beberapa saat kemudian kami berjalan menuju kantor Pengadilan Agama.

Setiap langkah terasa berat, seolah semua kenangan bersama Bram sedang menarikku kembali ke masa lalu.

Namun aku terus berjalan.

Aku harus melakukannya.

"Aku akan urus semuanya," kataku pelan. "Aku juga akan cari cara untuk mendapatkan uang tiga puluh juta itu."

Arumi langsung menatapku serius.

"Kita cari bareng-bareng, Ran," ujarnya tegas. "Aku juga akan bantu kamu. Kita pasti bisa menemukan caranya."

Aku menatapnya haru.

Di saat hidupku terasa runtuh… setidaknya aku masih punya satu orang yang tidak meninggalkanku.

Aku menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam kantor Pengadilan Agama.

Hari ini mungkin adalah hari paling menyakitkan dalam hidupku.

Tapi juga… hari pertama aku berani mengambil kembali hidupku sendiri.

Sesampainya di kantor Pengadilan Agama, langkahku terasa semakin berat. Bangunan itu tidak terlalu besar, tapi entah kenapa rasanya begitu menekan dadaku.

Di tempat inilah… aku akan benar-benar mengakhiri pernikahanku dengan Bram.

Arumi menepuk pelan bahuku.

"Ayo Ran… aku temani kamu."

Aku mengangguk pelan, lalu berjalan masuk bersamanya.

Di dalam ruangan terlihat beberapa orang duduk menunggu giliran. Ada yang berbicara pelan, ada juga yang hanya menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Aku langsung menuju meja informasi.

"Permisi, Bu…" kataku pelan kepada petugas di sana.

"Iya, ada yang bisa dibantu?" tanya wanita itu ramah.

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Saya… ingin mengurus gugatan cerai."

Petugas itu mengangguk, lalu memberikan beberapa lembar formulir.

"Ibu isi dulu formulir ini. Nanti dilampirkan fotokopi KTP, buku nikah, dan kartu keluarga."

Tanganku sedikit gemetar saat menerima kertas itu.

Aku dan Arumi duduk di kursi yang tersedia.

Arumi membantuku membaca setiap bagian formulir itu.

Nama penggugat.

Nama tergugat.

Alamat.

Alasan perceraian.

Saat sampai di bagian alasan perceraian, tanganku sempat berhenti.

Rasanya sakit sekali harus menuliskan semuanya di atas kertas.

"Ran…" Arumi menatapku lembut. "Kalau kamu nggak kuat, aku yang tulis."

Aku menggeleng pelan.

"Tidak… ini hidupku. Aku harus berani."

Dengan napas berat, aku mulai menuliskan alasannya.

Setelah selesai, kami kembali ke meja petugas.

Petugas itu memeriksa berkas-berkasku satu per satu.

"Nanti ibu akan mendapatkan jadwal sidang pertama," jelasnya. "Biasanya ada proses mediasi dulu."

Aku hanya mengangguk pelan.

Lalu petugas itu menyebutkan biaya administrasi pengadilan.

Jumlahnya membuat dadaku terasa kembali sesak.

Jumlah itu sangat besar bagiku.

Tapi aku menggenggam tanganku sendiri, mencoba menguatkan hati.

Demi kebebasan.

Demi masa depan Alea.

Aku harus bisa.

Arumi langsung menggenggam tanganku erat.

"Kita cari caranya bareng-bareng, Ran," bisiknya.

Air mataku hampir jatuh lagi.

Di tempat ini… aku benar-benar menyadari sesuatu.

Hari ini bukan hanya tentang perceraian.

Hari ini adalah hari di mana aku mulai memperjuangkan hidupku sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang dari Pengadilan Agama, pikiranku terasa penuh.

Tiga puluh juta rupiah.

Jumlah itu terus terngiang di kepalaku.

Aku tahu usaha ayam geprekku sudah cukup ramai. Bahkan setiap hari pesanan online selalu berdatangan. Tapi tetap saja… mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat bukan hal yang mudah.

"Ran…" panggil Arumi pelan.

Aku menoleh.

"Kita hitung dulu pemasukan kamu selama ini."

Aku mengangguk pelan.

Sesampainya di rumah, Arumi langsung mengambil buku catatan keuangan warungku.

Ia membuka halaman demi halaman dengan serius.

"Kalau dihitung dari keuntungan bersih tiap hari… kamu sebenarnya bisa dapat cukup banyak," katanya sambil menunjuk angka-angka itu.

Aku duduk di sampingnya dengan perasaan campur aduk.

"Tapi tetap saja… tiga puluh juta itu besar sekali."

Arumi tersenyum kecil.

"Makanya kita cari cara supaya pemasukan kamu lebih besar."

"Maksud kamu?"

"Kita tambah menu."

Aku menatapnya bingung.

"Iya," lanjutnya. "Ayam geprek kamu sudah terkenal. Kalau kita tambah menu minuman, paket hemat, atau sambal botolan… pasti pembelinya makin banyak."

Aku mulai berpikir.

Mungkin Arumi benar.

Warung kecilku memang sudah ramai, tapi aku belum pernah benar-benar mengembangkannya.

"Selain itu…" kata Arumi lagi.

"Kita bisa buka pre-order katering kecil-kecilan. Banyak orang suka ayam geprek kamu."

Hatiku mulai terasa sedikit lebih ringan.

"Jadi maksud kamu… aku kumpulkan uang itu dari hasil usahaku sendiri?" tanyaku.

Arumi mengangguk mantap.

"Tentu saja. Kamu pasti bisa, Ran."

Aku menatap buku catatan itu lagi.

Warung ayam geprek itu…

Adalah satu-satunya hal yang benar-benar aku bangun dengan kerja keras sendiri.

Tanpa Bram.

Tanpa siapa pun.

Aku menarik napas panjang, lalu menutup buku itu dengan perlahan.

"Baiklah," kataku akhirnya.

"Kalau begitu… aku akan bekerja lebih keras lagi."

Demi Alea.

Demi kebebasanku.

Dan demi membuktikan…

Bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa Bram.

****

1
Kirana Sakira
semakin seru ceritanya....mantaaaappppp...👍👍👍👍👍
icha aghbath
udah bisa ngambil keputusan itu rania jgn banyak nga enakan lagi.. kan malah jadi emosi liat rania lelet bgt mikir kedepannya
Nur Janah
tuuhhh kaannn🤭🤭
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!