Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Tanah Dua Hektar
#8
Beberapa hari kemudian, mobil mewah Agung sudah parkir dengan sempurna.
Pria itu bergegas turun untuk memenuhi panggilan dari Tuan Gusman. Entah ada hal apa, hingga Tuan Gusman memintanya datang.
“Gung, kok, tiba-tiba sekali?” sapa Nyonya Marina ketika Agung hendak menekan bel pintu.
“Eh, Nyonya. Assalamualaikum.” Agung membalas sapaan sang nyonya.
“Waalaikumsalam.”
“Tuan meminta saya datang, entah untuk urusan apa.”
Nyonya Marina terkekeh, “Yang sabar, ya? Tuanmu itu, semakin tua, pasti semakin ajaib tingkahnya,” ucap Nyonya Marina sambil menepuk pundak kiri Agung.
Senyum tipis menghiasi bibir Agung, “Saya sudah terbiasa, Nyonya. Lagi pula Anda dan Tuan Gusman, bukan sekedar atasan. Tapi orang tua bagi saya.”
Meski puluhan tahun telah berlalu, tapi sepertinya perasaan Agung pada dirinya dan sang suami masih sama. “Terima kasih, ya. Silahkan masuk saja, Papanya Rayyan ada di ruang kerja.”
“Terima kasih, Nyonya.”
Nyonya Marina pun melanjutkan langkahnya, ia hendak berziarah ke makam Nyonya Ana, dan Zidan sejenak, sebelum pergi ke dapur Miracle Hospital untuk evaluasi harian. Memastikan menu makan untuk para pasien tetap terjaga secara mutu, rasa, dan kualitasnya.
Sementara Agung, segera menghampiri ruang kerja Tuam Gusman, dan mengetuknya.
Tok!
Tok!
“Masuk.”
“Permisi, Tuan.”
“Ah, kamu sudah datang, duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Tuan Gusman segera berdiri, ia meraih tongkat yang biasa menjadi teman setianya ketika berjalan.
Melihat sang tuan yang kini akrab dengan tongkat, membuat Agung menyadari bahwa sang Tuan sudah berusia semakin senja. Untungnya beliau memiliki seorang putra yang luar biasa, hanya saja masih keukeuh dengan keegoisan dan ambisi masa mudanya, yang ingin sukses diatas kakinya sendiri.
Tuan Gusman berjalan perlahan, tidak tergesa-gesa, kemudian duduk di sofa yang biasa ia tempati saat menyambut tamu. Agung bergerak dari tempat yang ia duduki, niat hati ingin membantu, namun, Tuan Gusman memberikan tanda penolakan dengan salah satu tangannya.
“Kamu pikir aku sudah jompo?!”
Telinga Agung seperti mendengar suara rem mobil berdecit ketika pedalnya diinjak mendadak.
Ckiiit!
Hingga pria itu kembali duduk, melupakan niat baiknya sesaat yang lalu. “Tak usah dipikirkan, Tuan. Anda memang sudah tua. Akui saja hal itu.”
Jika saja bukan Agung yang bicara, tentu tongkat Tuan Gusman sudah melayang bebas di udara.
“Mulutmu masih saja gatal seperti dulu.”
“Sudah tahu mulutku gatal, tapi Tuan selalu rindu padaku. Karena itulah, Anda sering memanggilku kemari.”
Tuan Gusman tak lagi menyahuti, karena mereka bisa berdebat sampai sore jika tak ada salah satu yang mengalah. Di Senopati Group, hanya Agung yang berani bertingkah sedikit kurang ajar pada Tuan Gusman, si penguasa Senopati Group.
“Ada hal penting yang harus kamu lakukan.” Tuan Gusman segera masuk ke topik utama pembicaraan.
“Apa yang harus saya lakukan?”
Tuan Gusman menyerahkan dokumen yang nanti akan Agung butuhkan. “Untuk beberapa bulan kedepan, bisakah kamu melakukan meng-handle PT. CIPTA EKA SEMESTA. Pemiliknya baru saja menghubungiku untuk meminta bantuan.”
Agung segera membuka dokumen pemberian Tuan Gusman, pria itu sangat tanggap membaca situasi dan langsung mempelajari keseluruhan isi dokumen. “Secara garis besar tidak ada masalah yang serius, Tuan. Tapi saya perlu waktu untuk mendiskusikan laporan keuangan mereka bersama Burhan.”
“Mana saja yang menurutmu baik, lakukan saja, aku percaya pada kalian.”
“Baik, Tuan.”
“Oh, iya, sudah dapat kabar dari Rayyan?”
Agung menghentikan gerakan tangannya, tiga hari lalu, Burhan mengatakan Rayyan meminta sejumlah uang untuk membeli sebuah peternakan kecil. “Em— itu, begini Tuan—”
“Melihatmu terkejut, pasti ada yang kalian sembunyikan,” selidik Tuan Gusman.
Agung gelagapan, ia memang tak bisa menyimpan rahasia di hadapan Tuan Gusman, pria itu seolah punya penglihatan sakti yang bisa melihat isi hati lawan bicaranya. “Untuk seorang Rayyan, ini bukan hal yang aneh, sih, Tuan.”
“Maksudmu?”
“Burhan bilang, Rayyan meminta sejumlah uang untuk membeli sebidang tanah dengan luas 2 hektar di pedesaan.”
Tuan Gusman tercengang, bukan soal uang, toh sebidang tanah di pedesaan tidaklah mahal. Tapi yang membuat Tuan Gusman bertanya-tanya, apa yang akan lakukan dengan tanah tersebut?
“Tanah? Untuk apa?”
Agung hanya mampu mengangkat kedua bahunya.
•••
Sementara itu, kini secara resmi, Rayyan telah menjadi pemilik tanah seluas dua hektar, tapi dengan bantuan Nanang, Rayyan berhasil mengelabui si pemilik tanah, dan mengatakan bahwa ia hanyalah orang suruhan saja.
Tak hanya Nanang yang heran dengan keputusan Rayyan, tapi Bu Siti pun demikian. Namun, wanita itu mendukung penuh keinginan Rayyan yang ingin memuaskan rasa ingin tahunya soal cabai dan segala macam pernak perniknya.
Semalam saja, pria itu dan Nanang serius belajar tentang seluk beluk cabai, dari mulai menyiapkan media tanam, serta cara merawat hingga tiba waktu yang pas untuk dipanen. Tentunya Rayyan tak lupa dengan kambing-kambing yang ikut pula ia dapat dari Pak Kades secara cuma-cuma, karena Rayyan membeli tanah tanpa menawar ulang.
Setelah memastikan keaslian surat-surat tanah, Rayyan meminta bantuan Nanang untuk mencari orang-orang yang akan membantunya merapikan lahan peternakan tersebut. Tanah di peternakan tersebut, pasti sangat subur karena bertahun-tahun ada endapan kotoran kambing yang sudah terfermentasi secara alami dengan bantuan alam. Jadi Rayyan hanya ingin tanah tersebut digemburkan sebelum ditanami.
“Mana ada orang suruhan, tapi sikapnya ongkang-ongkang seperti majikan?” sindir Nanang, ketika melihat Rayyan sibuk memberi instruksi pada para pekerja yang bekerja di peternakannya.
“Berisik, kan aku orang suruhan paling berkuasa, jadi boleh, dong, aku bertingkah seperti majikan,” balas Rayyan sedikit congkak, namun menggelikan bagi Nanang.
Nanang tak menghiraukan, ia pun menurunkan sekarung besar rumput gajah, hasil membersihkan pematang sawah. “Tuh, buat makan kambing-kambingmu.”
Rayyan mengangkat jempolnya, tak lupa berterima kasih, “Oh, iya. Kalau biji cabai, apakah bisa di pesan di balai desa?”
“Tak usah, besok aku antar kamu ke pasar, di sana ada toko yang menjual bibit tanaman.”
Nanang tak diam begitu saja, pria itu segera membantu para pekerja yang sibuk dengan tanah milik Rayyan. Sementara Rayyan membawa karung berisi rumput segar untuk para kambingnya. Sambil berharap semoga kambing-kambing itu bisa bertambah gemuk.
•••
Sementara itu.
“Papa yakin, tak bisa menghubungi Rayyan?!” tanya Mitha makin gelisah.
Kekasihnya yang super bucin, tiba-tiba hilang tanpa kabar, jelas saja ia kelimpungan, tentu yang utama karena ia tak bisa meminta uang secara cuma-cuma. Kalau karena yang lain, sih, tidak ada. Karena Mitha tak bisa menjaga setia untuk satu pria.
“Yakin, Papa sudah coba menghubunginya berkali-kali, tapi panggilannya selalu dialihkan.”
“Hanya dialihkan? Bukan di blokir, kan?” Sekali lagi Mitha memastikan, karena dua hari yang lalu, ia baru menyadari bahwa nomornya telah di blokir oleh Rayyan.
“Nggak, tuh. Nomor Papa tidak di blokir.”
“Nomorku di blokir sama Rayyan, Pa,” rengek Mitha, “Gimana, dong, kan aku masih butuh uang dari dia.”
“Ya, sudah, kamu tenang dulu, nanti akan minta orang-orang Papa untuk mencari anak itu. Jangan merengek begitu, dong, seperti orang susah saja.”
“Aaahh, Papa nggak tahu, sih. Ini bukan sekedar soal uang, tapi Rayyan itu beda, Pa. Aku memang mengencani banyak pria, untuk bersenang-senang, tapi Rayyan tetap spesial.”
Oh, Mitha. Tingkahnya selalu mampu menggoda banyak pria mendekat, tapi lupa bahwa sudah memiliki pemuja paling setia. Hanya karena Rayyan jauh darinya.
###
Othor marah, nih, awas kau Mitha, sudah ku kasih pria sultan kaya raya dengan banyak rupiah, tapi kau tega bermain mata. Lihat saja, othor pastikan kamu cuma dapat hikmahnya saja! 😤
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭