NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Dua Garis di Tengah Badai Salju

Suhu di luar kabin mencapai minus lima belas derajat Celsius. Angin utara menderu, membawa butiran salju yang menusuk kulit. Namun, kegelisahan di hati Antares jauh lebih dingin. Ia menatap Zea yang mulai tenang setelah serangan mualnya, lalu mengusap pipi istrinya lembut.

"Zea, saya keluar sebentar ya? Saya mau cari es krim cokelat yang kamu minta tadi di kedai depan kompleks," ucap Antares, memberikan alasan yang paling masuk akal bagi Zea yang sedang craving makanan manis.

Zea mengerucutkan bibirnya. "Lama nggak? Jangan lama-lama, Mas. Di sini gelap, aku takut."

"Hanya sebentar, Sayang. Sepuluh menit saya sudah kembali," bohong Antares lagi. Ia mengecup kening Zea, lalu memakai jaket gunungnya dan menerjang badai salju menuju apotek kecil yang terletak di pusat informasi turis.

Dua Puluh Menit yang Menentukan

Antares kembali ke kabin dengan napas terengah dan butiran salju yang menempel di bulu matanya. Di tangannya ada kantong plastik berisi es krim, namun di balik jaketnya, ia menyembunyikan sebuah kotak kecil berisi tiga merek testpack berbeda.

Begitu pintu kabin terbuka, ia disambut oleh suara tangisan yang pecah.

"Hwaaaa! Mas Antar jahat! Katanya cuma sebentar!" Zea sedang duduk meringkuk di atas kasur dengan selimut melilit tubuhnya. Matanya sembap, hidungnya merah. "Mas mau tinggalin aku di sini ya? Mas mau cari cewek Norwegia yang lebih dewasa ya?"

Antares langsung melempar kantong es krim ke meja dan memeluk Zea erat. Jaketnya yang masih dingin membuat Zea sedikit berjengit, tapi gadis itu justru makin erat memeluk pinggang Antares.

"Zea, tenang... saya cuma pergi dua puluh menit. Antreannya panjang tadi," ucap Antares sambil mengusap punggung Zea yang bergetar. Ia merasa bersalah sekaligus gemas. Perubahan emosi Zea benar-benar sudah di luar nalar.

"Dua puluh menit itu lama! Aku sendirian liat Aurora, takut diculik alien!" racau Zea tidak logis.

Antares melepaskan pelukannya perlahan. Ia merengkuh wajah Zea dengan kedua tangannya. "Zea, dengar saya. Es krimnya sudah ada. Tapi sebelum kamu makan, saya ingin kamu melakukan satu hal untuk saya."

Antares mengeluarkan kotak testpack itu dari balik jaketnya.

Zea terpaku. Matanya yang basah menatap benda itu dengan horor. "Mas... itu apa? Itu alat buat cek itu... kan?"

"Iya. Alat tes kehamilan," jawab Antares mantap. "Nyeri yang kamu rasakan saat kita berhubungan tadi, mual hebat, dan sensitivitas bau... itu semua gejala yang tidak bisa saya abaikan sebagai ilmuwan."

Zea menggeleng kuat-kuat. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar. "Nggak mungkin, Mas! Mas kan selalu pakai... pakai pengaman! Aku belum mau punya bayi sekarang! Maket aku gimana? Ujian akhir gimana?!"

"Zea, tenang. Kita hanya cek. Mungkin saja hasilnya negatif dan kamu memang cuma masuk angin," Antares mencoba menenangkan, meski di dalam hatinya ia sudah hampir 100% yakin. "Bawa ini ke kamar mandi. Saya tunggu di sini."

Dengan tangan gemetar, Zea mengambil alat itu. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang gontai. Di dalam sana, suasana terasa begitu sunyi. Zea menatap alat itu dengan tangan yang berkeringat dingin.

Ya Tuhan, kalau beneran hamil, gimana kuliahku? Bagaimana kalau Mas Antar nggak suka punya anak secepat ini?

Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Zea keluar dengan wajah yang kosong, tangannya disembunyikan di balik punggung. Antares langsung berdiri dari kursinya.

"Zea?"

Zea tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat ke arah Antares, lalu memberikan alat itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Antares, tidak sanggup melihat kenyataan.

Antares mengambil alat itu. Di sana, di bawah cahaya lampu kabin yang temaram, terlihat jelas dua garis merah yang sangat tegas.

"Zea..." suara Antares terdengar serak. Ada getaran emosi yang aneh dalam suaranya—campuran antara kebahagiaan yang meluap dan kemarahan yang tertahan pada ibunya.

"Garisnya dua ya, Mas?" suara Zea teredam di dada Antares, mulai terisak lagi.

"Iya. Dua garis merah, Sayang," Antares memeluk Zea sangat erat, mengangkat tubuh mungil istrinya dan menciumi wajahnya berkali-kali. "Kamu hamil. Ada anak kita di sini."

Zea menangis kencang, kali ini bukan karena manja, tapi karena rasa takut dan haru yang bercampur aduk. "Mas... aku takut... aku masih mau jadi arsitek... aku belum siap jadi Ibu..."

"Sshh... jangan takut. Saya ada di sini. Saya akan urus semuanya. Kuliahmu, maketmu, semuanya," janji Antares dengan nada yang sangat posesif sekaligus melindungi. "Siapa pun yang sudah berani menyabotase kita, mereka harus bertanggung jawab. Tapi untuk sekarang, terima kasih, Zea. Terima kasih sudah membawa anak saya."

Malam itu, di tengah badai salju Norwegia, sebuah babak baru dimulai. Zea tertidur karena kelelahan menangis, sementara Antares menatap alat tes itu dengan tatapan tajam. Ia tahu persis siapa yang harus disalahkan atas "kebocoran" pengamannya, dan ia tidak akan membiarkan ibunya lolos begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!